
Warning! episode ini mengandung gore, dan tidak untuk ditiru. Kepada anak di bawah umur dan yang merasa tidak nyaman dengan adegan darah-berdarah dilarang membaca!
...-----...
Kemarahan memang sulit dikendalikan, apalagi jika ada devil di samping kita.
***
"Xiao!" Chan memekik untuk memberikan kesadaran Xiao. Alhasil Xiao pun tersadar dari lamunannya.
"Cepat lebih baik kau pergi cari orang tuamu secepatnya! kalau terjadi apa-apa sama mereka baru tahu rasa!" gerutu si wanita paruh baya sembari berbalik dan langsung beranjak pergi.
"Xiao! wanita itu memberikanku sebuah foto!" Brian berjalan mendekat dan memberikan foto yang tadi diberikan oleh sang wanita paruh baya.
Xiao menilik foto itu, terdapat gambar dirinya dan sang ayah tengah memegang senapan. Latar tempat yang ada di foto adalah hutan, yaitu tempat dimana Xiao dan Hongli berlatih menembak.
"Aku tahu mereka ada dimana!" gumam Xiao yakin. Dia baru teringat bahwa kedua orang tuanya memiliki beberapa markas tersembunyi, dan salah satunya adalah di hutan tempat Xiao sering berlatih tembak saat kecil.
"Ayo kita pergi!" titah Xiao, yang langsung di ikuti oleh yang lain. Langkah mereka terhenti seketika saat melihat empat mobil perlahan mendekat. Mobil-mobil tersebut mengepung Xiao, Chan, Brian dan Al yang sedang berdiri membentuk formasi lingkaran.
"Mereka orang-orang Tao!" yakin Brian. "Al siapkan pemantikmu!" perintahnya, yang sontak membuat Al dengan cekatan memberikan benda yang di inginkan Brian.
"Oke! saat Brian sudah mengeluarkan api, kita lebih baik langsung menyerang mereka, Chan apa kau bisa?" ujar Xiao, yang dilanjutkan dengan tatapannya ke arah Chan.
"Xiao apa kau lupa? aku cukup lihai dengan ilmu bela diriku!" tegas Chan dengan dahi yang mengernyit.
"Sudahlah! serahkan saja semuanya kepadaku. Kalian bisa kabur dengan mudah!" titah Brian yang percaya diri. Xiao yang mendengar lantas menyeringai.
"Aku juga lelaki! dan aku bukan pecundang!" ketus Xiao. Brian pun merespon dengan gelengan maklum.
Semua orang Tao yang mengepung sudah keluar dari mobil. Mereka sudah siap dengan senjatanya masing-masing.
"Sumpah Bri, aku sudah lelah melakukan kekerasan!" keluh Al yang merasa malas.
"Tugas kami hanya ingin menangkap orang-orang Wong. Terutama lelaki yang bernama Xiao. Jadi orang selain itu, harap minggir! sebelum kami melayangkan serangan!" ujar salah satu bawahan Tao berbadan besar yang dilengkapi dengan tato naganya.
Bress!
Brian sudah menyalakan apinya. Semua orang Tao tersentak kaget. Tanpa ba bi bu, Xiao dan yang lain langsung melakukan serangan.
__ADS_1
Al tampak bekerjasama dengan Brian. Gadis tersebut hanya menembak ke bagian kaki. Untuk urusan membunuh, dia menyerahkan semuanya kepada Brian. Sedangkan Chan tampak lihai berkelahi, dia memang sudah biasa hidup sendiri. Karena itulah dia bisa menjaga dirinya dengan baik.
Xiao mengambil pisau kesayangannya dari saku, lalu melayangkannya ke arah musuh dengan sigap.
Jleb! Jleb! Jleb!
Xiao menusuk puluhan kali dengan tempo cepat seolah sudah sangat terlatih. Darah mulai berhamburan di jalanan. Suara erangan kesakitan sahut menyahut dari mana-mana.
Chan yang hampir saja mengalahkan lawannya mulai mengeluarkan keringat. Hingga tanpa disadari dia pun lengah. Gadis tersebut harus rela terkena dua butir peluru di perutnya.
Dor! Dor!
Chan pun sontak terjatuh ke aspal.
"CHAAAANN!!!" pekik Xiao dengan keadaan mata yang membelalak. Amarahnya menggebu. Wajahnya mulai memerah, bahkan urat-urat lehernya terlihat menegang.
"Kurang ajar! mereka menembak gadismu Xiao!" teriak Devgan yang juga ikut-ikutan marah.
"Chan!!" Al ikut khawatir dengan keadaan Chan. Dia segera menghampiri tubuh Chan yang sudah terbaring lemah.
"Al! cepat bawa dia ke rumah sakit!!!" titah Brian yang masih bergumul dengan api dan musuhnya.
"Cepatlah!!!" teriak Brian, yang sontak membuat Al langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
"Bertahanlah Chan!" ujar Al sembari menyodorkan kain yang kebetulan ada di depannya. "Ini pakailah, agar darahmu tidak banyak keluar!" lanjutnya. Chan tampak meringiskan wajahnya karena menahan sakit, peluh mulai membanjiri tubuhnya.
Brian telah selesai mengalahkan musuhnya. Dia hanya perlu menghabisi lawannya hingga tidak bernafas. Berbeda dengan Xiao, dia masih menggeluti satu-satunya orang Tao yang masih tersisa. Sebab dialah tersangka yang sudah menembakkan peluru kepada Chan.
Bruk! Bruk! Bruk!
Xiao menendangnya puluhan kali. Amarahnya masih belum padam.
"Sudahlah Xiao!" tegur Brian dengan nada penuh penekanan.
"Aku tidak akan mengampuninya semudah itu!" sahut Xiao. Sekarang dia menggenggam erat pisaunya.
"Xiao! lebih baik kita pergi sekarang, sebelum tempat ini kedatangan polisi atau orang-orang banyak!" Brian kembali mencoba mengingatkan Xiao. Namun usahanya sama sekali tidak diacuhkan.
"Bunuh saja aku sekarang!!!" pekik orang Tao yang sedang duduk bersimpuh karena paksaan Xiao.
__ADS_1
"Xiao, kau tidak akan membunuhnya dengan mudah kan?" Devgan mencoba mempengaruhi.
"Tentu!" Xiao menyeringai. Perlahan ia melayangkan tusukannya ke kedua paha lelaki yang mengenakan setelan jas itu.
Jleb! Jleb!
Cairan merah kental merembes dari kakinya, erang demi erangan terdengar dari mulut sang lelaki berjas. Selanjutnya, Xiao mendongakkan kepalanya dengan cara menarik rambutnya. Bawahan Tao tersebut mulai merengek dan gemetaran. "Ke-ke-kenapa kau melakukan ini?" tanya-nya dengan tatapan getir.
"Apa?! kenapa?! kau tanya kenapa?!" Xiao melayangkan pelototan tajam. Lalu mencongkel salah satu mata lelaki itu.
"Aaaaaaarrggghh!!!" teriaknya karena merasakan sakit yang teramat sangat.
"Xiao! hentikan!" Brian mencoba mencegah dengan memegangi kedua bahu Xiao. Namun Xiao malah melayangkan mata pisaunya ke bagian dada Brian tanpa sengaja.
"Kurang ajar! kau berani menyerangku!" protes Brian yang mulai menampakkan ekspresi masam. Tetapi untung saja luka yang mengenai Brian segera pulih kembali karena bakat yang ia miliki.
"Makanya! jangan pernah mencoba menghentikanku!!!" pekik Xiao yang mendekatkan wajahnya ke wajah Brian. Keduanya saling menatap tajam.
"Bukankah kau seharusnya memperdulikan Chan? kekasihmu itu sedang sekarat!" timpal Brian. Xiao berpikir sejenak dan baru tersadar, perlahan pisau terlepas dari genggamannya.
"Kalau kau sudah sadar, lebih baik kita pergi sekarang!" ujar Brian. Dia langsung memasuki mobil yang ada di sampingnya. Xiao lantas melangkahkan kaki untuk mengikuti Brian. Namun sebelum itu, dia tidak lupa untuk menghabisi orang Tao yang masih tertinggal.
Dor!
Kali ini Xiao menggunakan pistol yang tergeletak di aspal. Setelahnya dia pun segera masuk ke dalam mobil bersama Brian. Keduanya bergegas menyusul Chan dan Al ke rumah sakit.
***
"Nona Yenn! kami menemukan Xiao!" ujar salah satu bawahan Yenn yang tiba-tiba datang. Ibu kandung dari Xiao tersebut sontak berdiri dari tempat duduknya.
"Apa? dimana dia?!" tanya Yenn yang sudah tidak sabar.
"Di rumahmu! tetapi tadi mereka dikepung oleh orang-orang Tao!" jelas sang bawahan.
"Apa?!! kenapa kau tidak membantu?" timpal Yenn dengan mata yang melotot.
"Aku tidak bisa! karena aku tadi kebetulan sendirian. Toh aku juga melihat manusia api yang akhir-akhir ini muncul di berita, dia sangat mengerikan!" bawahan Yenn tampak bergidik ngeri.
"Kalau begitu, aku akan turun tangan sendiri!" yakin Yenn sambil bergegas keluar ruangan.
__ADS_1