Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 54 - Klan Tao (Naga)


__ADS_3

Bagi masyarakat Asia Timur, naga adalah makhluk yang biasanya digambarkan menyerupai ular yang panjang, bersisik, berkaki empat dan bertanduk. Melambangkan kekuatan dan tuah.



"Keputusan tepat untuk membuat tato Tuan, toh sekarang kau harus memimpin untuk menggantikan ayahmu yang menghilang!" ujar seorang pria yang tampak sibuk mengukir gambar naga di lengan Shuwan. Dia tahu, sebuah tato dalam klan Tao sangat bermakna untuk penegasan jati diri.


"Benar bukan?" Shuwan berseringai. "Aku juga harus menyusun strategi yang tepat untuk menghancurkan orang-orang Wong!" tambahnya sembari meringiskan wajah karena menahan sakit dari jarum yang menggeliat di lengannya.


"Apa kau sudah menemukan keberadaan mereka?" tanya sang lelaki pembuat tato.


"Sebenarnya sudah. Beberapa bawahanku berhasil mengintai mereka. Dan aku mengetahui satu hal, kalau ternyata gadis yang bernama Chan itu istimewa!" tutur Shuwan sambil menggerakkan kedua bahunya ke belakang. Pahatan tato di lengannya sudah selesai.


"Benarkah? apa kau menyukainya?"


"Sangat! sangaaat menyukainya!" tegas Shuwan, dia bangkit dari tempat duduknya.


"Haha! di umur yang masih semuda ini, ternyata kau sudah hebat bermain perempuan!" si pria tukang tato tergelak. Membuat Shuwan lantas menatap bingung.


Lelaki pembuat tato yang merasa terancam dengan tatapan Shuwan, langsung menerangkan. "Maksudku, bukankah kau sekarang sedang bersama gadis bernama Mei itu? tetapi malah sudah memikirkan gadis yang lain, itu namanya bermain-main bukan?"


"Obsesiku memang Mei. Gadis yang bernama Chan lah yang ingin aku jadikan mainanku!" sahut Shuwan yang menyunggingkan mulutnya ke kanan. Selanjutnya ia segera beranjak pergi menuju sebuah ruangan yang berisi seorang tawanan.


Ceklek!


Saat sudah masuk, Shuwan langsung memusatkan atensinya kepada lelaki berbadan besar yang sudah babak belur. Dialah Feng, yang masih dibiarkan hidup oleh Shuwan, demi mendapatkan informasi penting mengenai Anming.


"Dia masih belum memberitahu dimana klan Wong menyembunyikan ayahku?" tanya Shuwan dengan gaya berkacak pinggang, seolah memang sengaja menunjukkan sikap arogan-nya.


"Belum Bos!" jawab salah satu bawahan Shuwan yang dikhususkan untuk menginterogasi Feng.


"Sebelum aku memotong bagian anggota tubuhmu, aku akan bicara baik-baik." Shuwan mengangkat kepala Feng dengan paksa. Sekarang lelaki pemilik wajah yang sudah dipenuhi lumuran darah tersebut terpaksa menatap ke arah Shuwan.


"Cepat katakan dimana kalian sembunyikan ayahku?!!!" pekik Shuwan tepat ke wajah Feng.


"Dasar bodoh. . . sudah aku bilang, aku tidak tahu. . ." lirih Feng, jujur saja dirinya berusaha menahan sakit di sekujur tubuhnya. "Harusnya kalianlah yang semestinya mengatakan dimana Hongli. . ." tambahnya, sedikit merintih.


"Apa?! kau menuduh kami menangkap tuanmu? tidak masuk akal! jelas-jelas kalianlah yang telah menculik ayahku!!!" Shuwan membentak histeris.


"Dia selalu mengatakan kalau kita-lah yang sudah menawan tuannya!" bawahan Shuwan ikut bersuara.

__ADS_1


Tak! Tak! Tak!


Salah satu bawahan Shuwan yang lain tiba-tiba datang. Dia memberikan kabar mengenai dimana keberadaan Anming yang sebenarnya.


"Oh tidak, maafkan aku. Sepertinya selama ini kau berkata jujur. Tetapi bukan berarti aku akan melepaskanmu dengan mudahnya!" ujar Shuwan pelan yang sengaja mendekatkan mulut ke telinga Feng.


***


Xiao dan Yenn masih membicarakan topik mengenai pencarian Hongli.


"Mereka mau imbalan apa?" tanya Xiao dengan dahi yang berkerut.


"Mereka menyuruh kita membunuh salah satu politisi yang ada di negara ini!" sahut Yenn.


Xiao yang mendengar langsung menyeringai dan menggelengkan kepala. "Itu bodoh! lebih baik kita saja yang pergi ke Jepang untuk melakukan pencarian!" ujarnya, yang membuat Yenn sedikit tertarik.


"Xiao benar! lebih baik turun tangan, dari pada harus membuang waktu untuk memberikan imbalan kepada mereka!" Brian menyetujui usulan Xiao.


Yenn akhirnya mengangguk pelan, diteruskan dengan menghisap rokok yang sedari tadi bertautan di jarinya. "Ada benarnya juga. Kalau begitu kita harus bersiap untuk pergi ke Jepang!" ucapnya sembari berderap menuju mobil.


"Tunggu! aku punya tambahan." Xiao mencegat sang ibu. "Biarkan aku dan Brian saja yang pergi. Toh kalau terlalu banyak yang ikut malah akan jadi kentara," tuturnya.


"Kau yakin?" Yenn menatap serius.


"Ya sudah kalau begitu," respon Yenn. Dirinya berusaha mempercayai keinginan putra semata wayangnya. Setelahnya mereka pun segera pergi ke markas rahasia. Brian yang merupakan orang baru, tidak diperbolehkan ikut. Alhasil dia hanya bisa mendengus kasar, lalu pergi membelikan ponsel untuk Al. Sekarang benda tersebut sudah beralih tangan ke orang yang seharusnya. Al tampak sangat senang menerimanya.


"Jadi, kapan kau pergi?" tanya Al.


"Mungkin besok. Hanya aku dan Xiao yang pergi!" balas Brian seraya melayangkan pantatnya pada kursi panjang yang tepajang di dekatnya.


"Kalau begitu aku dan Chan boleh iku--"


"Tidak! kalian di sini saja!" Brian menyambar kalimat yang belum selesai di ucapkan Al.


"Justru diam di sini lebih berbahaya! bagaimana kalau orang-orang Tao menemukan kami?" Al mengulurkan kedua tangannya bingung.


"Tenang saja, Xiao menyuruh ibunya untuk mengirim orang yang bisa menjaga kalian."


"Wah, aku merasa seperti seorang putri kalau begitu." Al bermaksud sarkas.

__ADS_1


"Bukan kamu putrinya, tetapi Chan! kau hanya dayang yang ditugaskan untuk menemaninya," ejek Brian. Al yang mendengar sontak melayangkan tatapan geram.


Plak!


Pukulan tangannya berhasil mengenai kepala Brian. "Dasar sialan!" sumpahnya sembari menggertakkan gigi. Namun lelaki yang dipukulnya hanya merespon dengan mengangkat kedua alisnya.


Di sisi lain, Chan yang sudah terbaring di kasurnya masih tidak mampu terpejam. Pikirannya terus berkalut. Bahkan keinginan untuk kembali menghilang dari dunia mulai muncul menghantuinya.


"Chan. . ." seru Viera lembut, yang tiba-tiba datang dari arah jendela.


"Viera!" Chan mengubah posisinya menjadi duduk.


"Kau masih bersedih karena Xiao?" tanya Viera pelan.


"Entahlah. . . yang jelas aku sangat kecewa sekarang. Aku merasa sendiri lagi," ungkap Chan.


"Sudahlah! lelaki berengsek seperti Xiao tidak pantas untuk ditangisi!" kata Viera dengan nada penuh penekanan. Glitch tiba-tiba saja terjadi pada tubuhnya. Hal tersebut sontak membuat Chan cemas.


"Viera? kau tidak apa-apa? kondisimu tampak mengkhawatirkan!" Chan melebarkan matanya.


"Aku hanya kekurangan energi Chan." Viera menjelaskan secara singkat.


"Benarkah? kalau begitu ayo kita lakukan ritual pengikat yang kau bicarakan tempo hari."


"Tapi itu berbahaya untukmu Chan. Aku sudah memikirkan baik-baik, kalau aku tidak ingin membuatmu kesusahan," Viera bertutur kata lembut.


"Tidak!" Chan menggeleng yakin. "Aku tidak akan membiarkanmu begini! ayo, kita lakukan ritual itu sekarang!" sambungnya penuh tekad.


"Kita membutuhkan seorang cenayang untuk melakukannya," kata Viera.


"Cenayang?" Chan terlihat berpikir, dengan meliarkan biji matanya kemana-mana. "Bagaimana kalau Al?" ujarnya.


"Astaga Chan, dia masih tidak berpengalaman. Yang aku maksud adalah seorang cenayang berpengalaman!"


"Lalu dimana aku bisa menemukannya?" Chan bertanya seraya menyeka aliran air mata yang membekas di pipinya.


"Aku tahu seorang cenayang yang tinggal paling dekat. Meski dia berada di desa agak terpencil, tetapi tempatnya tidak begitu jauh!"


"Ya sudah, ayo kita pergi!" Chan bangkit dari kasurnya.

__ADS_1


"Sekarang?" Viera memastikan.


"Ya iyalah Vier! toh aku juga tidak bisa tidur," jawab Chan yakin. Dia segera bersiap-siap untuk pergi.


__ADS_2