Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 59 - Aokigahara Jukai


__ADS_3

Tidak ada hidup tanpa adanya resiko, bahkan mengakhiri hidup pun seseorang harus menerima resikonya.


***


Chan mematung, dia hanya terpaku menatap wajah yang sangat tidak asing untuk penglihatannya.


"I-ibu. . . " respon Chan lirih. Wanita yang sedang berdiri di hadapannya itu tersenyum lembut. Ia segera ikut berjongkok untuk menyamakan posisinya dengan Chan.


"Aku mencarimu kemana-mana!" ucap wanita yang sering di panggil Nuan tersebut. Tangannya menyentuh pelan bahu gadis di hadapannya.


"Omong kosong!" Chan menjauhkan genggaman Nuan dari bahunya, lalu segera berdiri dengan tatapan penuh kebencian. Dia juga menilik pakaian yang tengah dikenakan Nuan. Wanita tersebut tampak mengenakan dress di atas lutut yang dilengkapi dengan mantel panjang dan tebal. Lipstiknya merah menyala seperti warna darah yang segar. Gayanya terkesan seperti seorang pelac*r.


"Kau tidak percaya Chan? hiks!" Nuan ikut berdiri, kemudian terlihat mengeluarkan cairan bening dimatanya. "Kau tidak tahu, selama bertahun-tahun aku mencarimu. Tetapi tak kunjung bertemu, aku harus bagaimana?"


Chan terdiam sejenak, sebenarnya dia merasa sedikit senang bisa menyaksikan wajah ibunya lagi. Tetapi jujur saja, ia tidak ingin dengan mudah mempercayai wanita yang ada di hadapannya sekarang. Alhasil tanpa sepatah kata pun, Chan beranjak pergi meninggalkan Nuan.


"Chan!"


Tak! Tak! Tak!


Nuan bergegas mengejar Chan. "Jika kau berubah pikiran, kau bisa datang ke tempat ini!" dia memberikan sebuah catatan kecil yang bertuliskan alamat suatu tempat.


"Terima kasih, tetapi aku tidak akan berubah pikiran!" ujar Chan yakin. Dia pun kembali melangkah dan berjalan semakin jauh.


"Aku akan menunggu. . ." Nuan berseringai setelah puas melakukan aksinya.


Di sisi lain Xiao dan Brian masih dalam perjalanan menuju gunung fuji.


"Kalau kau menuntun ke jalan yang salah, awas saja!" ancam Xiao tanpa menatap lawan bicaranya.


"Kalau benar, bagaimana? kau akan memberi imbalan?" balas Brian yang menatap Xiao dengan sudut matanya. Namun Xiao hanya mengerutkan dahinya.


"Kau saja tidak menyebutkan tempat spesifiknya, bagaimana aku bisa percaya?" Xiao meragu.


"Apa kalian akan ke tempat wisata? kalian ingin berhenti dimana?" sang sopir taksi bertanya, karena lokasi mereka sudah memasuki wilayah gunung fuji.


"Bilang terus jalan saja!" bisik Brian ke telinga lelaki yang duduk di sampingnya. Xiao lantas terpaksa melakukan apa yang disuruh Brian kepadanya. Sang sopir taksi yang bernama Hiroto itu hanya memanggut-manggutkan kepala.


"Lebih baik aku coba cari-cari di internet saja," Xiao merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel. Kemudian menunjukkan beberapa lokasi gunung fuji kepada Brian. Hingga pilihannya terhenti pada satu tempat yang lumayan terkenal di Jepang. Tempat tersebut bernama Aokigahara Jukai yang artinya adalah hutan bunuh diri.

__ADS_1


Ilustrasi hutan Aokigahara Jukai :



"Kau yakin?" Xiao memastikan.


"Aku merasa tempat itu benar-benar menarik perhatianku, dan aku yakin ayahmu ada disana!" tutur Brian.


"Maksudmu ayahku bunuh diri?" tebak Xiao, yang langsung mendapatkan tepisan dari Brian.


"Tidak! pokoknya kita akan tahu kalau sudah berada di sana, percayalah padaku!" sahut Brian yakin.


"Tempat itu mengerikan Xiao, kau harus berhati-hati!" Devgan angkat bicara. Devil tersebut terlihat terus menyentuh bagian lehernya.


"Kau kenapa?" tanya Xiao dengan kening yang mengernyit. Dia merasa aneh dengan pergerakan Devgan akhir-akhir ini.


"Entahlah, setelah aku membunuh Viera, aku merasakan sesuatu yang bergerak dalam tubuhku." Devgan menjelaskan sambil memegangi bagian perutnya.


"Apa?" Xiao membulatkan mata.


"Xiao, jangan berbicara dengan devilmu saat berada di hadapan orang awam. Lihat sopir itu, dia keheranan melihat tingkah anehmu!" kritik Brian, hingga akhirnya membuat Xiao berusaha bersikap senormal mungkin. Selanjutnya ia segera memberitahukan Hiroto arah tujuannya dan Brian.


"Iya, memangnya kenapa?" Xiao berbalik tanya.


"Emmm. . . tempat itu agak sensitif, jadi kalian harus berhati-hati!" Hiroto menyarankan.


"Sensitif? maksudnya?"


"Pokoknya jangan masuk ke hutan terlalu dalam ya! kalian tidak hanya akan menemukan pembunuh, dan juga. . ." Hiroto menjeda kalimatnya lalu melanjutkan dengan memelankan nada, "hantu. . ."


"Itu sudah jelas Pak!" respon Xiao, yang terkesan biasa saja.


"Kau percaya hantu kan?" Hiroto menatap Xiao melalui cermin cembung di depannya.


"Tentu, tetapi aku sudah tidak takut lagi dengan mereka." Xiao berucap yakin.


"Yang paling penting kau harus berhati-hati dengan hantu di hutan itu. Mereka mungkin tidak membunuhmu, tetapi membuatmu membunuh dirimu sendiri," terang Hiroto sembari memainkan alat kemudinya.


"Terima kasih sudah mengingatkan!" sahut Xiao.

__ADS_1


Tidak beberapa lama kemudian tibalah Xiao dan Brian di lokasi yang mereka cari. Suasana di tempat itu benar-benar terasa gelap dan mencekam. Bahkan Brian sempat mematung untuk mengedarkan pandangannya ke segala penjuru.


"Kenapa? sekarang kau ragu dengan firasatmu?" tukas Xiao yang bingung kala menyaksikan raut wajah Brian.


"Tidak! hanya saja tempat ini membuatku. . ." Brian menyelesaikan kalimatnya dengan garukan di kepala.


"Apa?" Xiao penasaran dengan kalimat lanjutan Brian.


"Tempat ini membuatku bergidik ngeri, tetapi aku sangat yakin ayahmu ada di sekitar sini!"


"Ya sudah, kalau begitu ayo kita telusuri tempat ini!" ajak Xiao.


"Kenapa kau terlihat biasa saja? apa kau tidak melihat apapun di tempat ini?" Brian mengerutkan dahi.


Xiao hanya membisu, ia sebenarnya melihat banyak hantu. Namun menurutnya penampakan para hantu tersebut terlihat biasa saja, dan terkesan tidak menakutkan.


Xiao dan Brian mulai melangkah memasuki hutan. Entah kenapa langit yang awalnya cerah mendadak gelap. Tetapi keadaan itu tidak menghentikan penelusuran mereka.


"Bri, kita sudah di sini. Sekarang kita harus bagaimana?" Xiao yang berjalan di depan menoleh untuk bicara dengan lelaki di belakangnya.


"Xiao, kita batalkan saja melakukan pencarian ini. Lebih baik kita menyuruh bawahan ibumu saja. Oh iya, dua orang yang mengikuti kita. Aku tidak melihat keberadaan mereka lagi!" Brian kembali celingak-celingukan.


"Mungkin mereka kehilangan jejak kita saat di Tokyo!" Xiao berpendapat. "Ayo!" sambungnya seraya kembali melanjutkan langkahnya.


"Xiao!" panggil Brian, hingga menyebabkan Xiao terpaksa menolehkan wajahnya lagi.


"Apa?!"


"Sudah ku-bilang batalkan saja!" jelas Brian.


"Apa-apaan? bukankah kau yang menuntun jalan ke sini? sekarang kau ingin membatalkannya?!" Xiao melayangkan tatapan tajamnya.


"Bukan begitu, sekarang aku punya firasat buruk kalau kita melakukan pencarian di tempat ini. Apalagi kita hanya berdua sekarang!"


"Sudahlah Bri, tidak akan terjadi apa-apa!" bantah Xiao. "Iyakan? kau sependapat denganku kan Dev?" dia sekarang mengubah lawan bicara, tepatnya kepada devil yang ada di sampingnya.


"Setuju, tetapi kau harus tetap berhati-hati. Aku tidak bisa menolongmu dari bisikan," sahut Devgan.


"Baguslah, yang penting kau setuju denganku!" balas Xiao, lalu kembali berderap maju. "Bri, kalau kau tidak mau ikut aku bisa melakukannya sendiri!" tambahnya yang sekarang berbicara kepada Brian.

__ADS_1


"Xiao! kau--" Brian mengacak-acak rambut frustasi. Dia tampak kebingungan untuk memilih antara pilihan Xiao dan jalan di belakangnya. Dengan hela nafas kasarnya, ia pun akhirnya berjalan mengekori Xiao.


__ADS_2