Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 21 - Rencana Xiao dan Chan


__ADS_3

Terkadang kepura-puraan bisa mengantarkan kita kepada realita.


***


Shuwan perlahan menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah rumah mewah. Ada banyak pengawal berbadan kekar langsung menyambut kedatangannya.


"Selamat datang Kenai, ini adalah tempat yang dinamakan surga dan neraka!" ucap Jay pada Xiao sembari turun dari mobil.


"Ayo Chan, setelah ini aku tidak bisa memprediksi apapun. . . " bisik Xiao kepada Chan yang tengah terdiam dan menundukkan kepala.


"Xiao, ini mustahil! apa kau tidak lihat pengawal-pengawalnya Shuwan?" Chan menatap Xiao dengan nanar.


"Kenai! apa yang membuatmu lama? hah! apa kau mencumbu gadis sialan itu?" Shuwan mendesak Xiao keluar. Mendengar hal itu, Xiao pun bergesak-gesak turun dari mobil sambil menyeret Chan untuk ikut bersamanya.


"Hai Jia." Shuwan mengangkat dagu Chan dengan paksa. "Cantik juga, tetapi aku tidak bernafsu dengan seorang pembual! sepertinya hanya Kenai yang bersemangat," ujar Shuwan, yang kemudian menatap Xiao dengan sudut matanya.


"Shuwan! aku juga mau!" Jay menyahut karena tak ingin kalah dari Xiao. Sontak Shuwan pun tertawa geli dan berkata, "Sepertinya kita akan sangat bersenang-senang hari ini, haha!"


Kala itu Xiao memberikan isyarat kepada Chan agar segera kabur. Lantas gadis tersebut pun mendorong tangan Shuwan dan segera berlari. Namun usahanya sia-sia, karena Chan tidak mampu melawan banyaknya pengawal Shuwan yang sedang berjaga.


"Dasar bodoh!" pekik Shuwan seraya tertawa geli, yang juga di ikuti oleh ke-empat temannya.


"Bawa dia ke kamar!" titah Shuwan kepada dua pengawalnya yang berhasil mencegah pelarian Chan.


"Lepaskan! Shuwan, lepaskan aku!!!" Chan mulai menampakkan rengekannya. Tetapi Shuwan hanya membalas dengan tatapan jijik dan seringainya.


'Chan, aku tidak menyangka aktingmu bisa sehebat itu!' gumam Xiao dalam hati sambil berjalan mengekori Shuwan dan yang lain masuk ke rumah.


Bruk!


Shuwan mendorong Chan ke lantai, kemudian menampar pipinya dengan keras. Devil di sampingnya mulai menggebu-gebu untuk berusaha mempengaruhi Shuwan melakukan lebih dari itu.


"SHUWAN!" pekik Xiao yang merasa tidak tahan lagi melihat Shuwan menyakiti gadis yang dicintainya. Alhasil Shuwan pun menghentikan aksinya dan berbalik menatap Xiao. Tanpa pikir panjang Xiao pun melangkah dengan tempo cepat menghampiri Chan.


"Kau kenapa Kenai!" Shuwan mengerutkan dahinya.

__ADS_1


"Shuwan, aku tidak bisa menikmatinya kalau kau membuatnya terluka!" imbuh Xiao seraya mengajak Chan bangkit untuk berdiri. Namun tangannya dengan cekatan mencengkeram erat lengan Chan.


"Kenai kau--"


"Tinggalkan saja kami berdua di sini!" Xiao sengaja memotong perkataan Shuwan. Dia bermaksud mendesak.


Shuwan hanya membulatkan mata, perlahan seringai terukir dari wajahnya. "Baiklah Kenai, kau memang selalu cekatan. Ayo kita keluar dari sini!" suruh-nya kepada ke-empat temannya.


"Tapi Shuwan, aku--"


"Sudahlah Jay! kau sudah sering, sekarang biarkan anggota baru kita menikmatinya!" jeda Shuwan pada Jay yang tidak terima.


Trak!


Pintu kamar tertutup dengan pelan, Shuwan dan yang lainnya sudah berada di luar kamar. "Tunggu, bukankah kita sepertinya pernah melihat adegan itu?" tanya Jay, dia merasa tidak asing dengan pemandangan yang dilihatnya barusan.


"Jay, bersabarlah! setelah ini giliranmu." Shuwan merangkul pundak Jay, lalu menepuk-nepuknya dengan pelan.


"Tapi--"


***


Setelah Shuwan keluar dari kamar, Xiao segera menghentikan aksinya. "Maafkan aku," ujar-nya sambil mengusap sedikit darah yang keluar dari bibir Chan akibat tamparan Shuwan.


"Chan, aku tidak menyangka Shuwan akan memperlakukanmu dengan kasar!" ucap Xiao lagi yang merasa tak percaya. Chan sempat terpaku dengan perlakuan Xiao kepadanya.


Xiao yang menyadari keterpakuan Chan, lantas membalas tatapannya. Sekarang lelaki itu membidik bibir ranum milik Chan. Xiao pun mencoba mendekatkan dirinya.


Mata Chan membulat sempurna, dia mulai melangkah mundur ketika Xiao semakin bergerak maju. Hingga pada akhirnya Xiao membuat Chan jatuh ke atas kasur. Xiao langsung memposisikan diri berada di atas badan Chan yang sedang telentang.


Di sisi lain, Mei tiba-tiba datang menghampiri Shuwan yang tengah bermain kartu. "Shuwan! lihat apa yang ku-bawa!" kata Mei dengan nada tinggi seraya mendorong seorang gadis tepat ke arah meja. Seketika botol-botol miras dan gelas-gelas segera berjatuhan ke bawah.


"Mei! aku tidak salah apapun. Bukankah Qibo yang mengadukan semuanya kepada Pak Huan?" rengek Zhu yang tengah menahan rasa sakit akibat terhantam meja.


"Mei! kau menghancurkan permainan kami!" kritik Jay yang merasa terganggu dengan kedatangan Mei.

__ADS_1


"Terima kasih Mei, apa kau-membawakan dia untukku?" imbuh Shuwan yang menatap Mei dengan penuh bangga. Dia tidak memperdulikan keluhan Jay.


"Tentu saja." Mei melangkah maju mendekati Shuwan, dan baru saja menyadari bahwa dirinya sama sekali tidak melihat keberadaan Xiao. "Shuwan, kemana Kenai?" tanya-nya.


"Oh, dia sedang bermain dengan Jia!" sahut Shuwan santai.


"Apa?!" mata Mei membulat sempurna. "Dimana mereka?" tanya Mei sambil menggertakkan giginya.


"Kau-mau apa? jangan ganggu mereka!" titah Shuwan.


"Tidaak!!!" pekik Mei, lalu segera berlari mencari keberadaan Xiao. "MEI!" panggil Shuwan yang segera bergegas mengekori Mei.


***


Xiao tersenyum, dan mencoba mendekatkan bibirnya pada bibir Chan. Tangan nakalnya perlahan menyingkap rok yang sedang dikenakan Chan. Namun Chan segera mencegah tangan Xiao dengan sigap.


"Jangan coba-coba!" tegas Chan dengan keadaan mata yang melotot. Dia tidak terima dirinya diperlakukan semena-mena. Meski Xiao adalah lelaki yang dicintainya.


Dug! Dug! Dug!


"Kenai! apa kau-di dalam? ini aku Mei! cepat buka pintunyaa!!!" Mei menggedor pintu dengan teriakan yang begitu histeris.


"CEPAT!!! jangan sentuh gadis itu! KENAI!!" Mei memekik sekali lagi seraya memainkan gagang pintu yang terkunci.


"Tunggu! bukankah pintunya tidak di kunci?" Xiao mengernyitkan dahi sembari berusaha bangkit, dan saat dirinya berbalik ke belakang, dia segera dikejutkan dengan keberadaan Viera. Xiao dan Chan pun membelalakkan mata secara bersamaan.


"Vi-vi-viera, Sejak kapan kau di sana?" tanya Chan dengan tergagap.


"Sejak awal!" jawab Viera dengan senyum mengejek. "Oh, dan aku tidak sendiri!" Viera menunjuk ke arah dua hantu yang juga berada di dalam kamar.


"Berarti kau-yang mengunci pintunya!" tebak Xiao.


"Ding! salah! hantu tua itu yang melakukannya, aku hanya diam dipojokan menontoni kalian." Viera tampak manggut-manggut angkuh. Chan yang baru menyadari keberadaan para hantu segera menutupi wajahnya dengan tangan, dia merasa sangat malu.


"Hampir saja ya!" komentar Viera terhadap kejadian yang terjadi beberapa menit lalu.

__ADS_1


"Sekarang lebih baik kita lakukan rencana kita untuk kabur!" ujar Xiao sambil melangkahkan kaki mendekati sebuah lemari. Dia tidak peduli dengan sindiran Viera terhadapnya. "Sepertinya ini hari keberuntunganku!" sambungnya sembari tersenyum simpul, dia menatap ke lemari yang berisi beraneka ragam kunci.


__ADS_2