Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 28 - Kerusuhan di Stasiun


__ADS_3

Perjalanan memang selalu memunculkan peristiwa tak terduga.


***


Viera tampak terdiam sejenak. Setelah beberapa saat dia pun berbicara. "Berjanjilah padaku satu hal, Xiao!" ucapnya dengan tatapan serius.


"Apa?" tanya Xiao.


"Kau tidak akan menyakitiku setelah mendapatkan senjatanya!" terang Viera.


"Tentu saja, lagi pula untuk apa aku menyakitimu?" Xiao menggeleng tak percaya.


Veira pun memberitahu letak senjata yang Jonas sembunyikan. Namun parahnya keberadaan benda itu disembunyikan di sebuah toko barang bekas. Tepatnya di kota Guanxi, tempat Xiao tinggal saat sepuluh tahun yang lalu. Kota tersebut ada di bagian barat Ding Yang.


"Ayo kita pergi!" ujar Xiao dengan penuh tekad. Dia memakai pakaian serba hitamnya kembali. Serta tidak melupakan ranselnya, yang berisi harta karun miliknya dan Chan.


"Aku dan Brian ikut!" Al tiba-tiba muncul dari belakang.


"Benarkah? tetapi aku yakin kalian pasti punya alasan untuk melakukannya." Xiao menatap serius.


"Yah. . . mungkin saja," Al menggidikkan bahu.


"Lagi pula kau juga sedang dikejar para komplotan mafia kan?" Brian menyahut, dia sudah terlihat siap untuk berangkat.


"Iya! toh aku yakin kalian lebih hebat dariku," ungkap Xiao.


"Aku yakin kau butuh benda ini untuk berjaga-jaga!" Brian memberikan sebuah pistol kepada Xiao.


"Kau benar!" Xiao mengukir seringai diwajahnya.


"Ingat Xiao! semakin banyak orang yang kau bunuh, maka semakin besar juga devil yang akan kau miliki," jelas Al sembari menyilangkan tangan di dada.


"Memangnya jika semakin membesar, apa akan membahayakanku?" tanya Xiao memandangi Brian dan Al secara bergantian.


Brian menghela nafas, dia menyalakan sebilah rokok. "Entahlah, hanya dirimu yang mengetahuinya. Yang jelas kau harus secepatnya temukan senjata Jonas!" ucapnya seraya mengeluarkan asap rokok dari mulut.


***

__ADS_1


Feng dan bawahannya mencoba mencari keberadaan Hongli dengan menyerang gerombolan kecil orang Tao.


"Cepat katakan! apa bos kalian yang menangkap Tuan Hongli?" ancam Feng sambil melingkarkan tangannya ke leher salah satu pengawal Tao yang tersisa.


"Dasar sialan! cuih!" bukannya menjawab lelaki bawahan Tao itu malah bersumpah serapah.


"Kurang ajar!" geram Feng yang segera melayangkan tinjunya.


"Bos! li-li-lihat!" bawahan Feng mencoba memperingatkan. Dikarenakan melihat orang-orang Tao semakin bertambah dan mengelilingi keberadaan Feng dan bawahannya.


"Kampreett!!!" pekik Feng, yang segera menggunakan pistolnya untuk ditembakkan. Namun dirinya harus menerima kekalahan ketika dua butir peluru menghantam kakinya. Hal terakhir yang Feng lihat hanyalah tumbangnya semua bawahannya dalam sekejap. Pandangan lelaki berbadan kekar itu menggelap seketika.


Di sisi lain, Shuwan tengah duduk santai di kolam renang yang ada di hotel sewaannya. Lelaki tersebut langsung mendapatkan kabar dari bawahan terkuatnya yang diberi gelar Max.


"Tuan, ada kabar yang sangat menarik!" ucap Max.


"Apa?" Shuwan menatap bawahan kesayangannya itu dengan sudut matanya.


"Lihat foto lelaki ini, bukankah dia orang yang sedang Tuan cari sekarang?" Max menunjukkan foto yang ada di ponsel. Terpampang jelas wajah Xiao dalam gambar itu.


"Dari orang-orang Wong!" sahut Max, yang sontak membuat Shuwan mengukir seringai diwajahnya.


***


Xiao, Brian, Al dan Viera sedang berjalan menuju stasiun. Benar saja, ada banyak orang-orang Tao yang masih berkeliaran. Namun itu bukanlah menjadi penghalang untuk seorang Xiao yang telah membulatkan tekad. Ketiganya berhasil melewati jalanan, toh mereka bisa membaur sangat mudah dikarenakan tersamarkan dengan banyaknya orang.


"Aku tidak menyangka kita bisa sampai ke stasiun dengan mudahnya!" tutur Xiao yang menyunggingkan mulutnya ke kanan.


"Jangan senang dahulu, lihat itu!" Brian menunjuk ke arah gerombolan orang Tao. "Itu, itu, dan itu!" sambungnya, dia melakukan isyarat tubuh yang sama.


"Kami akan menarik perhatian mereka, saat mereka teralihkan kau bisa menaiki kereta!" imbuh Al, kemudian segera pergi bersama Brian.


Xiao bersembunyi dibalik air mancur. Dia memperhatikan gelagat kedua teman barunya. Al tiba-tiba saja menyalakan api.


"Apa yang mereka lakukan Viera?" Xiao bertanya-tanya.


"Itu salah satu kekuatan yang dimiliki Brian," sahut Viera yang juga sedang mengamati Brian dan Al.

__ADS_1


Api tampak semakin membesar. Hal tersebut tentu membuat atensi semua orang teralihkan kepada Al dan Brian yang sedang berdiri di dekat api. Pihak keamanan yang melihat keadaan itu, sontak berlarian. Namun semua orang langsung takjub tatkala melihat Brian menceburkan diri ke dalam api. Bahkan pihak keamanan tidak bisa melakukan apapun untuk menghentikan ulah lelaki berusia tiga puluh tahun tersebut.


Orang-orang Tao yang berada di stasiun mulai lengah. Perhatian mereka hanya terpusatkan kepada Brian yang bermain api.


"Aku rasa ini saatnya!" Xiao mulai melakukan aksinya. Dia berjalan dengan santai melewati puluhan orang Tao. Sambil memegangi topinya, Xiao bisa berjalan mulus ke tempat pengambilan tiket.


Nasib memang selalu tak terduga, hingga salah satu orang Tao tidak sengaja melihat Xiao. Sebelum beraksi, lelaki berstelan jas itu mencoba melihat ke ponsel untuk memastikan penampilan orang yang sedang dia kejar. Matanya membelalak ke arah Xiao. "Dia di sana!!!" pekiknya lalu berusaha berlari menghampiri Xiao.


"Astaga, mereka mengetahui keberadaanmu. Cepat lari Xiao!" kata Viera dengan nada tinggi. Alhasil Xiao pun segera berlari secepat yang dia bisa. Beberapa kali dirinya harus menabrak orang tanpa kesengajaan. Orang-orang Tao yang mengejar semakin bertambah. Sehingga menciptakan kerusuhan yang lumayan parah di stasiun.


"Tuan muda, dia ada di stasiun!" salah satu pengawal Tao memberikan kabar kepada atasannya. Shuwan yang mendengar berita tersebut lantas bergegas menuju stasiun.


Xiao terus berlari, sampai dirinya harus kembali menjatuhkan topi untuk yang kedua kali. Langkahnya pun terhenti saat orang-orang Tao berdiri lebih dahulu di depan. Xiao mencoba berbalik arah, tetapi semua orang Tao sudah berdiri mengepung dirinya.


"Menyerahlah! kau tidak akan bisa melawan kami sendiran!" ujar seorang pengawal berbadan besar. Dia menodongkan pistol ke arah Xiao, yang sontak membuat semua kawanannya ikut-ikutan melakukannya.


"Baiklah, aku menyerah!" ujar Xiao sembari mengangkat kedua tangan ke atas. Salah satu orang Tao pun maju untuk menangkap Xiao.


"Hentikan!!!" pekik Brian yang berjalan dengan keadaan tubuh masih dikelilingi api.


Tanpa pikir panjang, orang-orang Tao segera menembakkan peluru ke arah Brian. Namun Al tiba-tiba muncul dari belakang Brian. Gadis itu lebih cekatan menembaki para pengawal Tao. Dia tampak begitu lihai menggunakan dua pistol yang tergenggam di kedua tangannya.


Dor! Dor! Dor!


Al menembaki dengan mudahnya. Sedangkan Brian juga tengah sibuk melawan orang-orang Tao yang semakin banyak berdatangan.


Bug! Dhuak!


Xiao menyerang orang yang sedang membekuk kedua tangannya. Dia menyerang ke bagian kaki terlebih dahulu, lalu melayangkan tinjunya ke wajah lelaki berbadan besar itu. Namun orang yang dilawannya tidak ingin mengalah dengan mudahnya. Dia mencoba menyerang balik Xiao, tetapi usahanya gagal akibat tusukan di dada kirinya. Iya, Xiao menggunakan pisaunya untuk yang pertama kali.


Setelah puas menusuk ke bagian dada, Xiao melanjutkan tusukannya ke mata.


"Aaarrkhhh!!" pengawal berbadan besar tersebut tumbang dalam sekejap.


Prok! Prok! Prok!


"Hebat Kenai! atau apa perlu aku memanggilmu Xiao?" Shuwan muncul tepat dari belakang Xiao. Dia juga membawa dua pengawal di sisi kiri dan kanannya.

__ADS_1


__ADS_2