Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 53 - Persahabatan Baru


__ADS_3

Waktu terus berjalan, dan semuanya akan terus berubah.


***


"Chan!" seru Xiao, dia mengernyitkan kening karena bingung dengan wajah cemberut yang ditunjukkan Chan.


"Ayo Al! lebih baik kita biarkan mereka berdua menyelesaikan masalahnya sendiri!" Brian menyeret Al untuk ikut bersamanya.


"Chan, kami pergi. . ." suara Al terdengar sayup-sayup di telinga Chan. Dikarenakan dia melangkah dalam tempo cepat ke arah Xiao. Tanpa basa-basi lagi, kepalan tinjunya berhasil mengenai wajah lelaki tampan berambut pirang yang tengah dibencinya.


Buk!


Xiao langsung oleng, dia tidak menyangka dengan serangan tersebut. Dirinya hanya bisa mengusap sedikit darah yang keluar dari ujung bibirnya.


"Pergilah! dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku!!" geram Chan dengan nada tinggi.


"Pergi? bukankah kau sudah mempercayaiku, dan bilang tidak akan pergi?!" Xiao terperangah. Dia benar-benar kebingungan dengan tingkah gadis di depannya.


"Hehh!" Chan mendekatkan wajahnya. "Aku tidak mau lagi berdekatan dengan seorang pembunuh sepertimu!" tegasnya, yang sontak membuat mata Xiao membola dan berseringai.


"Ibuku benar. . ." Xiao melangkah mundur. "Baiklah kalau itu keinginanmu, mungkin adalah yang terbaik malah. Seharusnya sejak awal kau pergi!" lanjutnya yang segera berbalik badan dan beranjak pergi.


"Sialan kau Xiao!!!" pekik Chan dengan nafas yang ngos-ngosan akibat amarahnya sendiri. Dia sudah sangat kesal kepada Xiao, sekarang semakin bertambah karena menyaksikan respon lelaki tersebut yang cenderung biasa saja. Alhasil kali ini Chan tidak bisa membendung air matanya lagi.


"Haaah! lihat, gadis itu membuat Xiao menjauh!" keluh Brian dengan dengusan kasarnya.


"Aku tahu. Kalau begini, lebih baik kita menyusun rencana," Al tampak memikirkan sesuatu. Terlihat dari pose menekan bagian jidatnya sendiri dengan jari telunjuknya.


"Perlukah kita bicara langsung kepada Xiao? selagi dia sedang sendirian sekarang?" usul Brian. Al lantas menoleh dan menganggukkan kepala pertanda setuju.


"Kalau begitu, kau lebih baik jaga Chan. Aku akan menyusul Xiao!" lanjut Brian lagi. Dia segera pergi menyusuri jalan yang telah dilewati Xiao. Sedangkan Al bergegas mendekati Chan, yang masih meratapi kekecewaannya.


"Ayo Chan, ikut aku!" ajak Al seraya merangkul pundak Chan lembut. Lalu mencoba membawanya kembali pulang.


Di sisi lain Brian tiba-tiba mencegat langkah Xiao. Dia mencengkeram kuat lengan lelaki tersebut.


"Apaan kau!" ketus Xiao sembari melepaskan paksa genggaman Brian.


"Hei tenanglah! jangan biarkan Devil itu terus mengendalikanmu!" tukas Brian dengan gaya mengulurkan kedua tangannya.


Xiao hanya memutar bola mata jengah. "Terus apa maumu?" tanya-nya.


"Apa kau masih mengharapkan Chan bersamamu?" Brian berbalik tanya.


"Entahlah. Kepergian Chan mungkin juga ada baiknya, aku tidak ingin dia celaka lagi!"

__ADS_1


"Sudah terlambat bro! semua orang tahu dia gadis yang berharga untukmu. Bagaimana jika suatu hari dia akan dijadikan umpan oleh orang-orang Tao? atau ibumu mungkin?" Brian menampakkan mimik wajah serius.


Xiao yang mendengar terlihat tertarik. Dia terdiam dan seakan sedang berpikir dengan pernyataan yang diucapkan lelaki berbadan jangkung di hadapannya. "Kalau begitu jagalah dia untukku," ungkap-nya, melembut.


Brian melebarkan matanya dan terkekeh. "Itu bisa di atur, tetapi. . ."


"Cih! ternyata tujuanmu mengatakan ini karena ada maunya?" Xiao menimpali.


"Kau tahu, di dunia ini tidak ada yang gratis!" Brian tersenyum singkat.


"Cepat katakan apa keinginanmu?"


"Menjadi temanmu!" Brian menyodorkan tangan terbuka ke arah Xiao.


"A-apa kau bilang?" Xiao memiringkan kepalanya, dan diteruskan dengan gelak tawanya.


"Bukankah menguntungkan untukmu? jika aku berada di sisimu? aku berjanji akan selalu membantumu. Anggap saja aku melakukan ini karena ingin membalas budi kepada Jonas!" terang Brian yang masih menawarkan salam persahabatannya. Menyebabkan Xiao kembali berpikir.


"Aku juga akan membantu menjaga Chan. Atau kalau mau, aku bisa membuatnya kembali kepadamu!" tawaran Brian semakin membuat Xiao tergoda.


"Baiklah!" Xiao akhirnya saling bersalaman dengan Brian. Keduanya bertatapan dalam sesaat.


"Sebelum itu, aku ingin mendengar alasanmu. Kenapa kau melakukan semua ini? bukankah kau membenci orang tuaku?" ujar Xiao.


"Itu orang tuamu, tetapi tidak untukmu!" sahut Brian yakin. Xiao pun tersenyum miring sambil menggerakkan biji matanya ke kanan.


"Ibumu kan?" tebak Brian.


"Iya!" sahut Xiao, seraya berjalan mendekati mobil sang ibu. Sebelum itu Yenn dan Fa tampak keluar lebih dahulu dari mobil.


"Oh! lihat siapa yang kembali lagi," Yenn menatap ke arah Brian. Namun lelaki yang ditatapnya hanya terdiam dan membuang muka.


"Ada apa?" tanya Xiao malas.


"Ini mengenai ayahmu. Ibu sudah menghubungi mafia tambang neraka di Jepang, dan mereka bersedia membantu melakukan pencarian, tapi--"


"Tambang neraka? bukankah itu orang yang membayar nyawa-nya Jonas?" Brian menyambar ucapan Yenn, karena mendengar nama yang sangat sensitif di telinganya.


"Iya!" Yenn mengangguk pelan. Dia juga menyilangkan tangan di depan dada.


"Lalu, apa mereka menemukan keberadaan Ayah?" tanya Xiao.


"Itulah masalahnya, mereka menginginkan imbalan!" balas Yenn.


***

__ADS_1


Prang!


Chan melampiaskan kekesalannya pada benda-benda yang ada di rumah. Dia juga sudah beberapakali mengacak-acak rambut frustasi.


"Sudahlah Chan. . . kau sebaiknya tenang dan bicarakan keluh kesahmu kepadaku." Al mencoba menenangkan. Namun Chan tak menghiraukannya sama sekali. Dia malah terduduk di lantai sembari menyenderkan badan ke dinding.


"Chan. . ." Al memposisikan dirinya duduk di sebelah Chan.


"Padahal dia satu-satunya harapanku. . . hiks! hiks! aku mempercayainya sebagai penyelamat hidupku, hiks!" rengek Chan seraya menutupi wajahnya.


"Yang terpenting kau tenangkan dirimu dahulu, oke?" Al menganjurkan dengan nada pelannya.


"Bagaimana aku bisa tenang?! hatiku sangat sakit Al!" cetus Chan, sepertinya dia juga melampiaskan kekesalannya kepada Al. Sekarang dia bangkit dan segera mengurung diri di kamar.


"Haaah! Astaga. . ." Al hanya bisa menghela nafas berat.


Ceklek. . .


Pintu depan tiba-tiba terbuka dengan pelan. Muncullah Brian yang sedang melambaikan tangan ke arah Al. Dia menyuruh gadis tersebut untuk menghampirinya.


"Ada apa?" Al sudah berdiri di depan pintu.


"Ayo ikut aku sebentar, ada yang ingin aku bicarakan. . ." Brian berbicara dengan cara berbisik, agar Chan tidak mengetahuinya. Alhasil Al pun langsung mengikuti kehendak Brian. Keduanya sekarang berada di area pekarangan rumah sewaan mereka.


"Kenapa?" Al bertanya dengan mengangkat dagunya.


"Aku harus pergi!" jawab Brian.


"Apa pembicaraanmu dengan Xiao berhasil?"


"Iya! dan aku akan berada di sisi-nya untuk sementara. Kau lebih baik tetap berada di samping Chan, oke?"


"Baiklah!" Al menganggukkan kepala.


"Aku akan sesering mungkin menemuimu, dan ambillah ini!" Brian memberikan Al smarthphone baru keluaran ter-anyar. "Kita bisa lebih sering berbicara, dan buanglah ponsel error-mu itu!" tambahnya.


"Wah Bri! terima kasih sudah mau menggunakan uangmu hanya untuk ini!" Al menampakkan raut wajah girangnya seraya terus menilik kotak yang berisi alat komunikasi canggih di tangannya.


"Anggap saja ini permintaan maafku, karena pertengkaran kita tempo hari!" Brian berterus terang.


"Bisa juga. Oh iya, sekarang aku sudah tidak iri lagi dengan Chan dan Xiao!" Al tiba-tiba mengubah topik pembicaraan. Brian lantas mengerutkan dahi keheranan dan bertanya, "Kenapa?"


"Karena melakukan perjalanan dengan orang yang kau cintai itu lebih merepotkan dari yang aku duga!" Al menggeleng sembari meringiskan wajahnya.


"Haha! bilang saja kau merasa beruntung bisa memiliki teman se-perjalanan sepertiku kan?" Brian menyimpulkan penuturan Al.

__ADS_1


"Cih!" respon Al, yang dilanjutkan dengan tawa kecilnya.


__ADS_2