
Semua pilihan ada ditangan kita. Terutama untuk memilih pergi atau tidak.
***
Chan sudah sampai di terminal, dia tinggal mencari transportasi khusus untuk mengantarkannya ke desa Chi Wang. Gadis itu sedang duduk di sebuah kursi tunggu. Dia mengistirahatkan diri untuk sejenak.
"Chan!" Viera tiba-tiba datang dari samping. Menyebabkan Chan agak terkaget.
"Vier! ku-mohon berhentilah datang dengan cara mengejutkan seperti itu!" protes Chan sembari sedikit mengernyitkan kening.
"Maaf! kebiasaan." Viera tersenyum canggung.
"Sekarang aku tinggal pergi ke desa itu untuk menemui cenayang yang kau maksud, iyakan?" Chan memastikan.
"Kau benar, ayo! lebih cepat semakin baik!" desak Viera yang sudah melayang lebih dahulu untuk menunjukkan jalan. Chan pun otomatis bangkit dari tempat duduknya.
"Tempat ini sepi banget ya," ungkap Chan seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat.
"Memang, sudah ku-bilang agak terpencil!" tutur Viera. "Oh iya, aku tahu jalan pintas ke desa itu, jaraknya tidak jauh kok. Tetapi masuk area hutan sih!" tambahnya.
"Benarkah?" Chan menatap heran. Dia merasa ada yang aneh dengan perilaku Viera. Hantu wanita tersebut seolah mendesak dirinya untuk melakukan ritual.
"Vier, apa kau sedang dikejar-kejar sesuatu? kau terlihat gelagapan."
"Dikejar? eh, tidak kok!" Viera menegaskan dengan gelagat canggungnya. "Kenapa? kau meragukanku? kalau tidak mau jujur saja Chan, toh aku tidak memaksa," sambungnya yang perlahan menundukkan kepala.
"Bukan begitu maksudku. Tetapi aku cuman menebak, apa kau sedang dikejar makhluk jahat atau apapun itu?" Chan kembali bertanya.
"Xiao sedang mengejarku Chan." Viera berterus terang.
"Hah? kenapa?"
"Dia dipengaruhi oleh Devgan. Sekarang dia menganggapku makhluk yang jahat!" tutur Viera dengan nada ciutnya.
Chan menggertakkan gigi, dia kembali kesal terhadap Xiao. "Ayo tunjukkan jalannya sekarang!" titahnya, yang langsung dilakukan oleh Viera dengan senang hati. Namun langkah Chan reflek terhenti karena menyaksikan mobil yang melaju tepat ke arahnya.
__ADS_1
Syuuuut!!!
Sekarang mata Chan membulat sempurna, karena mobil tersebut hampir menabrak badannya. Dia juga melihat Brian dan Xiao yang tengah berada di dalam mobil.
Xiao bergegas keluar dari mobil. Sedangkan Chan masih terdiam di tempat karena merasa begitu syok.
"Aku akan biarkan Xiao saja yang mengurusnya sendiri. . ." gumam Brian santai sambil menyandarkan diri ke kursi, lalu dilanjutkan dengan memejamkan mata se-tenang mungkin.
"Ayo ikut aku!" Xiao menarik paksa lengan Chan.
"Apa-apaan kamu!!" geram Chan, dia berusaha melepaskan cengkeraman Xiao. Matanya tentu saja menyalang pada lelaki berambut pirang itu. Berbeda dengan Viera, yang tengah berusaha menjaga jarak dari Xiao. Tepatnya dari devil yang ada di samping lelaki tersebut.
"Kau tahu betapa bodohnya dirimu!!!" pekik Xiao, dia membalas pelototan Chan.
"Iya, terus kenapa? apa pedulimu? bukankah kau mau aku pergi hahh?" tukas Chan, yang sontak membuat Xiao melepaskan genggamannya.
"Ayo Vier, kita pergi!" ujar Chan. Dia berjalan semakin menjauh.
Xiao memang mematung, tetapi sebenarnya dirinya sedang memikirkan sesuatu untuk membawa Chan pergi bersamanya.
"Haha! kenapa tidak dari dulu Tuan, itu sangat mudah!" sahut Devgan, dia pun segera melingus sangat cepat tepat ke arah Viera. Tangan besar makhluk itu langsung melingkar di leher Viera.
"Viera kau kenapa?!" mata Chan terbelalak, kala menyaksikan keadaan Viera yang seolah tercekik. Tetapi matanya sama sekali tidak mampu melihat makhluk apa yang sedang menyerang hantu wanita tersebut.
Xiao menggunakan kesempatan itu untuk menghampiri Chan. Kemudian mengangkat gadis tersebut bak sebuah karung di atas pundaknya.
"XIAOO!!!" teriak Chan yang tak terima. Dia menggelepar bagaikan ikan yang tertangkap dalam sebuah jaring.
"Aaaaarkkkhh! seseorang tolong!" Chan masih belum putus asa berteriak dan menggerakkan badannya sebisa mungkin.
"Sialan!" geram Xiao yang tidak ingin mengalah, dia malah semakin mengeratkan pegangannya. Selanjutnya ia pun segera membuka pintu mobil belakang.
Devgan masih bergumul dengan Viera. Tenaganya yang lebih kuat, membuatnya mampu mendapat kemenangan telak.
"Kkkkk. . . lepaskan aku. . . ingat, aku juga awalnya devil sepertimu. . . cepat atau lambat Xi-xiao akan menemukan senjatanya, dan kau tidak bisa berbuat apapun. . ." lirih Viera dengan suara seadanya. Energinya semakin habis.
__ADS_1
"Hahaha! aku tahu, tetapi penjelasanmu tidak ada hubungannya dengan nasibmu sekarang!" ujar Devgan, kemudian langsung melahap Viera dengan mulutnya seolah memakannya hidup-hidup. Keberadaan hantu wanita itu pun menghilang seketika. Devgan segera kembali menyusul Xiao, yang jaraknya tidak begitu jauh darinya.
Chan terus berusaha kabur, dia mencoba mengerahkan semua kekuatannya untuk melawan Xiao. Termasuk melayangkan kuku panjangnya ke wajah Xiao.
"CHAN!" Xiao memekik kesal, dia pun segera mengunci kedua tangan Chan. Lalu menutup mulut gadis tersebut. Sekarang Chan dalam posisi meringkuk tak berdaya.
"Tenanglah Chan! Xiao sedang berusaha menolongmu!" Brian akhirnya bersuara.
"Mmmmphh! Mmmpphh!" Chan mengeluarkan bulir-bulir air matanya.
"Apa benar kau mau menjadi temanku hah?!!" bentak Xiao dengan mata menyalang ke arah Brian.
"Tentu saja!" Brian menjawab sambil menoleh ke belakang.
"Kalau begitu, cepat ambilkan tali di bagasi!" suruh Xiao yang masih dalam keadaan menyekap gadisnya. "Maafkan aku Chan, kaulah yang membuatku harus berbuat begini. . ." Xiao berbisik ke telinga Chan. Hingga ia menyadari gadis itu ternyata tengah menangis.
"Kau menangis?" tanya Xiao seraya memutar bola matanya.
"Nih!" Brian menyerahkan seutas tali tambang kepada Xiao. "Apa perlu kau sampai berbuat begini? bukankah berlebihan? kau memperlakukan Chan seperti--"
"Apaa?!" Xiao memotong kalimat Brian. Dia tidak ingin mendengarkan kata yang membuatnya tambah geram. Alhasil Brian pun mengalah dengan mengangkat kedua tangannya seakan menyerah.
"Ayo kembalilah menyetir, aku akan duduk di belakang bersama Chan!" kata Xiao sembari memposisikan dirinya duduk di sebelah Chan yang sudah terikat dengan tali.
"Oke. Aku juga akan mengarahkan cermin di depanku ke arah lain ya. Jadi anggap saja aku tidak ada, ahaha!" Brian tampak mencoba menggeser cermin yang ada di hadapannya. Tetapi sebenarnya dia malah mengarahkan cermin cembung itu tepat ke arah dimana Xiao dan Chan berada.
"Bisakah kau diam!" kritik Xiao sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Kemudian memandangi wajah Chan yang sudah berlinang akan carian bening. Tangannya pun otomatis mencoba mengusap linangan air mata di pipi gadis itu.
"Cuih!" serangan saliva Chan menyebabkan Xiao harus menghentikan niatnya. Dia kembali harus menerima pelototan Chan yang tampak seperti sebuah kilatan penuh akan kebencian. Alhasil Xiao hanya bisa mundur seraya mengusap saliva yang mengenai wajahnya.
"Pfffft!" Brian yang melihat keributan tersebut berusaha menahan tawanya.
"Kau sepertinya sangat membenciku. Apa semuanya karena aku sudah membunuh banyak orang?" Xiao bertanya tanpa menatap Chan. Namun gadis yang dia ajak bicara hanya terdiam, dia sama sekali tidak menggubris pertanyaan Xiao.
"Haaah. . ." Xiao menghela nafas panjang. Lalu ia pun kembali mendekati Chan, dan menangkup wajah gadis itu. Sekarang keduanya saling bertukar tatapan tajam.
__ADS_1
"Pergilah Xiao!. . . pergilah dari kehidupanku!" Chan berbicara pelan namun penuh akan ketegasan.