
Terdapat adegan yang tidak layak untuk ditiru. Harap bijak dalam membaca!
...-----...
Jika sudah terlanjur terperangkap, maka akan sulit untuk keluar lagi.
***
Al tengah duduk di ujung kasur. Dia membolak-balikkan lembaran sebuah buku. Di sebelahnya ada Chan, yang sedang tertidur pulas dengan headset menutupi kedua telinganya.
Tok! tok! tok!
Terdengar suara ketukan pintu. Al bergegas untuk membukakan. Ia menyaksikan Fa berdiri di hadapannya sekarang. Salah satu bawahan Yenn itu, masih tidak menyukai kehadiran Al dan Brian di markas.
"Minggir! bukan dirimu yang mau aku temui!" Fa mendorong Al menjauh dari jalannya. Al yang tidak menduga dengan perlakuan tersebut sontak menggertakkan gigi kesal.
Fa tidak peduli, dia berjalan lurus menghampiri Chan. Dia langsung mengguncang badan gadis yang sedang asyik terlelap itu.
"Woy, gadis penguntit! bangun!" ujar Fa.
"Dia baru saja tidur, jangan mengganggunya!" geram Al.
Chan yang merasakan adanya guncangan pada badannya sontak terbangun. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali. Kemudian mengubah posisi menjadi duduk sembari melepaskan headset yang terpaut di kedua telinganya. Al yang menyaksikan Chan sudah terbangun akhirnya mengalah.
"Ada apa?" tanya Chan dengan kerutan kecil di dahinya.
"Ada wanita yang mencarimu, dia mengaku-ngaku sebagai ibumu!" terang Fa, yang tentu membuat Chan semakin dirundung kebingungan.
"Ibu?" Chan mencoba menjelajahi seluruh memorinya. Hingga nama ibu kandungnya muncul dalam kepalanya. "Apa namanya Nuan?" tanya-nya memastikan.
"Mungkin, aku tidak menanyakan namanya. Tetapi yang membuatku yakin, wajahnya sangat mirip denganmu!" terang Fa.
"Dimana dia?" Chan tampak menunjukkan raut wajah kesalnya.
"Ayo, ikut aku!" Fa berjalan memimpin keluar dari kamar. Chan pun segera bangkit dan mengikutinya dari belakang. Tidak lama kemudian, tibalah mereka tepat di depan markas. Benar memang, wanita yang mencari Chan adalah Nuan. Dia bahkan terlihat berinteraksi dengan Yenn.
"Chan, kau tidak pernah bercerita mengenai ibumu!" sapa Yenn tatkala sudah melihat Chan datang.
"Dia bukan ibuku!" Chan menegaskan.
__ADS_1
"Kenapa kau bicara seperti itu pada ibumu, aku yang juga seorang ibu merasa ikut tersinggung!" balas Yenn.
"Dia telah--"
"Aku memang pantas diperlakukan dengan kasar. Aku dengar kau akan menikah. . ." Nuan sengaja memotong kalimat yang hendak di ucapkan Chan. Dia berjalan semakin mendekati keberadaan Chan. "Terserah kau mau memperlakukanku seperti apa, tetapi ijinkan aku ikut hadir dalam acara pentingmu. Bukankah pihak orang tua wajib berada di sampingmu?" tambahnya seraya menunjukkan ekspresi sedihnya.
Chan membisu, seolah apa yang telah dikatakan Nuan berhasil merubah pikirannya. Apalagi ketika dirinya juga mendengar Yenn sepertinya berada di sisi Nuan.
"Baiklah, tetapi setelah acara selesai, jangan pernah lagi muncul di hadapanku!" ucap Chan dengan nada penuh penekanan. Kemudian berlalu pergi begitu saja.
Nuan yang mendengar persetujuan Chan tampak terenyuh. Dia memegangi area dadanya sembari menunjukkan mimik wajah teduhnya.
"Jangan berlebihan, manfaatkan saja kesempatanmu agar bisa berbaikan dengannya!" tukas Yenn seraya melingus pergi. Nuan yang pada akhirnya ditinggalkan sendirian perlahan mengukir seringai diwajahnya. Dia pun melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam markas Klan Wong.
***
Malam telah tiba. Ruang tengah didekor sedemikian rupa oleh orang-orang suruhan Yenn. Dia hanya memakai konsep yang sederhana, paling utama baginya adalah kemeriahan dan kelancaran acara.
Chan sekarang sedang dirias. Dia ditemani oleh Al dan seorang wanita yang bertugas merias penampilannya.
Chan mengenakan gaun berwarna putih keemasan. Gaun itu berhasil memperlihatkan lekuk tubuh indahnya yang ternyata selalu disembunyikan. Rambutnya tergerai indah atas permintaan Xiao. Satu penjepit berbentuk bunga sakura yang terbuat dari permata, menghiasi sisi rambut bagian kirinya. Bibirnya dihiasi dengan warna lipstik merah jambu nan mengkilap.
"Al, kenapa kau baru mengatakannya sekarang. Lihat! aku tidak bisa melarikan diri lagi darinya!" sahut Chan sembari tertawa kecil. Alhasil Al pun ikut terkekeh bersamanya.
Ceklek!
Pintu mendadak terbuka, hingga menyebabkan atensi Chan dan Al tertuju kepada seorang lelaki yang baru masuk. Dialah Xiao, yang mana pendangannya langsung tertuju ke arah Chan. Lelaki itu tampak semakin gagah dan tampan dengan balutan jas dan tuxedo hitamnya. Hanya kantong mata saja yang mengganggu penampilannya. Dia segera berderap menghampiri kekasihnya.
"Stop! sekarang kau tidak boleh menyentuhnya!" Al berusaha menghalangi jalan Xiao. Dia merentangkan kedua tangannya.
"Apa-apaan kau Al!" Xiao meringiskan wajahnya.
"Al benar! kau lebih baik tunggu di luar saja!" ujar Chan. "Ugh ini memalukan," gumamnya yang sekarang berusaha menutupi wajahnya. Jujur saja, ia masih tidak percaya diri dengan tampilan wajahnya sekarang. Make up membuat gadis tersebut agak risih.
"Chan! kau tega sekali," balas Xiao sambil menampakkan ekspresi kecewanya. Al pun memakai peluang itu untuk mendorong Xiao keluar dari ruangan.
Acara hampir di mulai. Semua orang telah berkumpul di ruang tengah. Para undangan yang datang kebanyakan berpenampilan sangar. Terlihat sekali bahwa tidak ada satu pun orang yang benar dalam pesta tersebut. Terkecuali untuk orang seperti Brian, Al dan Chan. Mereka hanya tiga orang yang terpaksa memilih untuk terus berada di dekat Xiao.
Chan sudah keluar dari ruangan. Ditemani oleh Yenn di sampingnya. Sepertinya ibu kandung Xiao itu mencoba memperkenalkan Chan kepada beberapa tamu pentingnya.
__ADS_1
Perasaan Chan sendiri campur aduk. Namun perasaan gugupnya lebih mendominasi. Sedari tadi dia harus memaksakan diri untuk tersenyum. Apalagi sepatu high heels yang dikenakannya sekarang begitu menyiksa.
"Aku tidak pernah melihat pesta dihadiri oleh orang-orang aneh begini," komentar Brian yang sedang berdiri bersebelahan dengan Al. Mereka berada di lantai dua, mengamati suasana pesta dari atas.
"Benar, kalau bukan karena Xiao. Aku tidak akan mau ada di sini." Al menggidikkan bahunya.
"Lihat Chan, aku merasa kasihan dengannya!" ungkap Brian sembari memperhatikan Chan dari jauh.
"Huhh! aku rasa, kita sudah kehabisan cara untuk membujuk Xiao!" ungkap Al dengan dengusan kasarnya.
Xiao dan Chan dipersilahkan untuk berdiri di tengah ruangan agar dapat menjadi pusat perhatian semua orang. Keduanya sekarang saling menatap satu sama lain. Selanjutnya mereka pun bergantian memakaikan cincin. Semua orang langsung bertepuk tangan dan bersorak.
Tanpa diduga, Xiao menarik Chan untuk lebih dekat dengannya. Jarak wajah keduanya hanya beberapa senti. Mata Chan sontak terbelalak. Pipinya menjadi merah merona. Apalagi semua pasang mata para undangan sekarang tertuju kepada mereka.
"Xiao! kumohon jangan. . ." Chan mencoba memperingati Xiao. Dia merasakan malu yang teramat sangat. Tangannya perlahan mendorong wajah Xiao agar dapat sedikit menjauh. Sedangkan Xiao masih terpaku menatap gadis yang sedang berada dalam dekapannya.
"Jadi, kalian akan melakukannya atau tidak?" tegur Yenn yang sudah tidak sabar.
Xiao yang mendengarnya lantas berkata kepada Chan, "Sudahlah Chan, semua tamu di sini rata-rata tidak ada yang benar!" selanjutnya ia pun langsung mengecup bibir Chan.
"Ugh! aku selesai. Lebih baik aku keluar!" respon Al seraya mengangkat kedua tangannya. Lalu beranjak pergi entah kemana. Sedangkan Brian masih betah berdiri di posisinya.
Chan yang masih merasakan malu tak tertolong, hanya mampu pasrah dan memejamkan matanya. Namun untung saja Xiao tidak terbawa suasana. Dia segera menjauhkan diri dari Chan. Sebab ia sadar Chan terlihat tidak nyaman.
Musik elegan terdengar dimainkan. Sepertinya Yenn memilih lagu itu karena ingin mengimbangi suasana yang ada. Wanita tersebut tampak menaiki tangga yang lokasinya berada di tengah ruangan.
Yenn menghentikan langkahnya di sebuah anak tangga. Tangannya menggenggam sebuah tas misterius. "Perhatian semuanya!" Yenn bersuara dengan lantang, sehingga atensi semua undangan tertuju kepadanya.
"Aku ingin mengatakan bahwa hari ini bukan hanya sebuah acara pertunangan. Tetapi juga perayaan kejayaan Klan Wong. Karena aku mau menyatakan secara resmi bahwa bisnis Klan Tao akan di ambil alih Klan Wong!" ujar Yenn lagi. Semua orang yang hadir lantas saling berbisik satu sama lain.
Tiba-tiba seorang lelaki mengangkat sebelah tangan. Aksinya berhasil membuat semua orang terdiam. Dia bertanya, "Apa buktinya kalau Klan Tao telah jatuh?"
Yenn lantas tersenyum, dan segera membuka tas yang sedari tadi di pegangnya. Dia mengeluarkan kepala utuh Anming yang berlumuran darah beku, kemudian memperlihatkannya kepada seluruh tamu undangannya.
Anehnya, respon semua orang terlihat senang. Mereka terlihat berseringai, bahkan ada yang bertepuk tangan seakan kegirangan.
"Tenang saja, ini tidak bau. Aku sudah melumurinya dengan formalin. Apakah ada yang berminat membelinya?" ucap Yenn sambil merekahkan senyuman.
"Sint*ng!" komentar Brian, yang menggeleng tak percaya.
__ADS_1
*To be continued. . .