Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 14 - Rencana Baru


__ADS_3

Terkadang yang tertindas tidak selamanya diam.


Mereka akan bangkit, dan bisa menjadi lebih kuat.


***


Mentari bersinar cerah, cahayanya yang menyilaukan berhasil menembus jendela kamar Xiao. Lelaki itu lantas segera terbangun dari tidurnya, dan bersiap untuk pergi ke sekolah.


Ceklek!


Xiao keluar dari kamar, atensinya langsung tertuju kepada Chan yang sedang memasak di dapur. Alhasil wajahnya mengukir senyuman lebar, dia segera berjalan menghampiri gadis yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya tersebut.


"Chan! sudah mau berangkat?" tegur Xiao, yang berhasil membuat Chan tersentak kaget.


"Pffft. . . apaan sih! kaget betul! memangnya aku Viera, yang selalu ngagetin?" timpal Xiao.


"Terserah Xiao!" balas Chan singkat, dia hanya menatap Xiao sekilas.


"Chan. . . kenapa kamu jadi gugup begitu?" Xiao mengernyitkan dahi.


"Gugup? ngapain aku. . ."


"Pssst. . ." Xiao menjeda, dengan menempelkan jari telunjuknya ke mulut Chan. Kemudian dia melanjutkan dengan tawa gelinya, seakan memang sengaja menggoda gadis yang sedang berada di depannya.


"Nggak lucu!" Chan menggertakkan gigi. Lalu berbalik melanjutkan aktivitasnya.


"Chan, kamu punya cara untuk merebut warisan yang akan dimiliki Shuwan?" Xiao mulai berbicara serius.


"Apa? warisan? apa kamu berubah pikiran? bukankah niat awal kita adalah mencuri uangnya?" Chan mengerutkan dahi.


"Memang! tetapi rasanya uang curian tidak akan bisa mencukupi perjalanan kita dengan mudah! jadi . . ."


"Xiao! kita ini sudah jadi buronan! kamu ingin menjadi buronan untuk yang kedua kalinya?. . . Apalagi keluarga Shuwan bukanlah orang-orang biasa, mereka pasti akan melakukan apapun untuk mendapatkan hak mereka kembali!"


"Percayalah Chan! kita bisa melakukannya! aku yakin!" Xiao menyilangkan tangan di dada.


Chan memutar bola mata malas dan berkata, "Tetapi kita hanya berdua!"


"Karena itulah kita harus menciptakan kubu!"


"Maksudmu?" Chan menatap Xiao dengan penuh rasa penasaran.

__ADS_1


"Kamu ingat dengan devil yang berdiri di samping Shuwan?" kata Xiao, yang segera mendapatkan anggukan kepala dari Chan.


"Seperti yang kau bilang, Shuwan memiliki devil itu di sampingnya karena dia pernah membunuh. Sekarang kita harus cari hantu yang telah menjadi korban pembunuhannya! dari gelagat Shuwan dan perangainya, aku yakin dia tidak hanya membunuh satu orang!" imbuh Xiao dengan tatapan penuh tekad.


"Tetapi, bagaimana caranya hantu bisa membantu kita? . . . itu pasti sulit!"


"Tenang saja, serahkan semuanya padaku!"


"Ya sudah. . ." balas Chan ciut dan kembali melanjutkan, "Oh iya! bukankah kita melihat hantu di dekat toilet, mungkin kita bisa bertanya padanya,"


"Ide bagus! kita bisa mulai dari sana! aku juga melihat hantu lainnya di toilet pria!"


"Oke!" balas Chan singkat.


"Ya sudah! aku mandi dulu!" Xiao pun melangkah menuju kamar mandi dengan santainya.


Chan perlahan melirik Xiao dengan sudut matanya. 'Hah? begitu saja? dia bersikap seolah-olah tidak ada apapun yang terjadi semalam. Bodoh sekali aku! kenapa aku membiarkannya begitu saja, harusnya aku tampar saja wajahnya!. . . ini benar-benar menjengkelkan!. . . baiklah! jika itu maumu Xiao, aku juga akan bersikap seolah tidak ada apapun yang terjadi di antara kita!' batin Chan seraya menggeleng-gelengkan kepala.


***


"Hei Jia. . . boleh aku duduk di sebelahmu?" tanya Zhu sembari memegangi bekal di tangannya.


Mei dan kedua temannya baru memasuki kantin, mata gadis berambut hitam tersebut tertuju pada Zhu yang sedang menikmati makanannya. "Wah. . . El, Liu! lihat ternyata si cupu itu punya teman baru!" ujar Mei yang segera melangkah mendekati Zhu dan Chan, sambil membawa nampan yang berisikan makanan.


"Wah! wah! wah! hei Zhu, aku tidak menyangka kamu membuang teman lama demi teman yang baru, apa kamu tidak memikirkan betapa sedihnya aku?" kata Mei, yang sudah duduk di hadapan Zhu. El dan Liu sontak ikut-ikutan duduk di sampingnya.


"Te-te-teman? kau menganggapku teman?" tanya Zhu dengan terbata-bata, karena merasa tidak yakin dengan pernyataan Mei.


"Tentu dong! iyakan guys?" sahut Mei seraya menatap ke arah El dan Liu secara bergantian.


"Tetapi. . . seorang teman tidak akan pernah menyakiti temannya!" imbuh Zhu, perlahan dia mendongakkan kepalanya yang sedari tadi tertunduk. Sekarang dia menatap ke arah Mei.


Melihat tingkah Zhu, lantas Mei pun menyeringai dan memutar bola mata malas. "Cih! baru punya satu teman aja sudah belagu!. . . Jia pun belum tentu menganggapmu teman! iyakan Jia?" Mei menatap Chan, berharap mendapatkan jawaban yang di inginkannya.


"Aku menganggapnya teman kok!. . . memangnya kenapa kalau Zhu punya teman? apa itu mengganggumu? masalahmu apa?" Chan menatap Mei dengan tajam.


"Berani sekali kamu!" timpal Liu, yang tidak terima Mei mendapatkan perlawanan.


"Oh. . . jadi, itu pilihanmu Jia? ya sudah, tunggu saja nanti!" balas Mei dengan mata melotot, lalu bangkit dari tempat duduknya. Dia segera melanjutkan makan siang di meja yang berbeda.


"Jia. . . kamu beneran menganggapku teman?" tanya Zhu yang merasa tidak percaya.

__ADS_1


Chan mengangguk dan berkata, "Lebih baik berteman denganmu dari pada orang-orang jahat itu!"


Zhu langsung mengukir senyuman, kala mendengar kalimat dari Chan. Dia sangat senang bisa memiliki teman baru. Keduanya pun kembali melanjutkan makan siang mereka.


Bruk!


Mei memukul meja dengan keras, dia kembali datang menghampiri Zhu dan Chan, lalu berucap, "Zhu! ikuti aku!"


"Apa maumu Mei!" pekik Chan dengan dahi yang berkerut.


"Kamu tidak usah ikut campur Jia!" sahut Mei seraya menarik paksa lengan Zhu. Merasa tidak terima, Chan pun dengan cekatan mencengkeram tangan Zhu agar tidak diseret oleh Mei.


"Teman-teman!" Mei memberi isyarat kepada El dan Liu dengan bola matanya yang memutar ke arah Chan.


Bruk!


Chan seketika terjatuh ke lantai, akibat di dorong oleh El. Selanjutnya Liu mengguyur kepala Chan dengan jus jeruk sisa minumannya.


"Rasakan tuh!" sinis Liu, yang kemudian segera beranjak pergi meninggalkan Chan tanpa rasa bersalah.


Kala itu Chan hanya bisa terdiam, dan terpaksa membiarkan Zhu dibawa oleh Mei. Dia berusaha bangkit dari lantai dengan pelan, sambil mengusap wajahnya yang basah dengan jus jeruk. Tragisnya, semua orang di kantin tampak tak acuh dengan kejadian nahas yang menimpa Chan dan Zhu.


***


"Kenai! kau-bisa memperlakukan si gendut ini sesuka hatimu!" ungkap Shuwan. Dia menyuruh Xiao ikut menindas seorang siswa berbadan gemuk yang bernama Qibo.


"Kumohon lakukan apa saja! tetapi jangan ambil semua buku catatanku!" ujar Qibu yang tengah bersimpuh.


"Apa? jangan di ambil?. . . justru karena buku-buku itulah kami mengganggumu, hah!"


Bruk!


Shuwan menendang Qibo dengan kasar. Setelahnya dia segera membuka tas milik Qibo, dan mengeluarkan semua isinya. Seketika barang-barang yang ada di dalamnya berjatuhan ke lantai. Dia berniat merampas buku catatan Qibo.


"Katakan padaku! DIMANA BUKUNYA? HAH?" bentak Shuwan yang sekarang membungkuk, dan mendekatkan wajahnya untuk mengintimidasi Qibo.


"Katakan saja dimana bukunya, atau kami akan menyakitimu. . ." ucap Xiao sembari menyilangkan tangan di dada.


"Kenai!" Shuwan menatap Xiao bangga. Dia merasa sangat senang Xiao mau berada di sisinya.


'Aku harus sebisa mungkin mengambil hati Shuwan, karena itu satu-satunya cara untuk mendapatkan warisan yang akan segera dimilikinya. Tetapi aku harus mulai dari mana? aku tidak bisa berlama-lama bersekolah di sini. Lambat laun pasti ayah dan ibuku akan segera menemukanku!' ujar Xiao dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2