Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 93 - Membujuk Xiao


__ADS_3

Manfaatkanlah waktu yang ada sebaik mungkin.


***


Setelah selesai berbicara dengan Yenn, Xiao pun segera membawa Chan keluar ruangan. Sedari tadi kegelisahan Chan masih belum pudar. Tangannya bahkan reflek berpegangan erat di lengan Xiao.


"Kau kenapa sangat ketakutan? apa karena hantu-hantu di sini?" tanya Xiao yang sontak menghentikan langkah kakinya.


"Iya, apa kau tidak takut? Xiao, aku tidak mau tinggal di sini!" ungkap Chan dengan dahi yang berkerut.


"Tenanglah, lama-kelamaan kau akan terbiasa." Xiao berusaha menenangkan. "Kalau kau sangat takut, tidur denganku saja!" tambahnya.


"Tidak!" tegas Chan. Xiao yang mendengar malah tertawa kecil.


"Kenapa?"


"Aku ingin tidur bersama Al saja, ayo bawa aku ke tempatnya sekarang!" Chan berusaha berjalan lebih dahulu. Dia tidak menggubris sama sekali pertanyaan Xiao. Sekarang keduanya sudah tiba di ruangan dimana Al berada. Kebetulan di tempat tersebut juga ada Brian yang lagi-lagi memegangi sebotol whisky-nya. Xiao yang melihat segera merebut minuman beralkohol itu.


"Berhentilah menghabiskan whisky milik ibuku Bri!" ucap Xiao sembari menggertakkan gigi kesal.


"Hei!" protes Brian yang tak terima. "Kenapa kau tidak mengajak Chan ke kamar saja langsung!" sambungnya yang memang sengaja mengejek kedatangan Xiao.


Chan yang mendengar lantas ikut tersinggung. Dia segera menginjak kaki Brian sekuat tenaga. Xiao yang melihat tersenyum puas.


"Aaa!" Brian mengerang kesakitan. Matanya melotot ke arah gadis yang masih belum berhenti menginjak kakinya.


"Sepertinya kelakuan Xiao sudah menular kepadamu ya!" tukas Brian seraya menarik sekuat tenaga kakinya. Hingga pada akhirnya membuat Chan menghentikan aksinya.


"Bagaimana aku tidak marah! perkataanmu tadi secara tidak langsung telah menyebutku sebagai gadis murahan!" terang Chan. Kemudian melayangkan pantatnya ke sofa yang berada di sebelah Al.


"Aku setuju dengan Chan. Omonganmu itu terkadang harus dijaga!" Al menyahut sambil menatap tajam ke arah Brian.


"Kenapa malah aku yang dipojokkan, padahal aku sama sekali tidak bermaksud menyinggung siapa pun!" Brian menghela nafas panjang. Namun tidak ada satu pun yang menyahut pembelaan darinya.


Xiao memposisikan diri duduk di samping Chan. Dia menenggak bir yang tadi berhasil direbutnya dari Brian.


"Apa benar kalian akan menikah?" tanya Al seraya menatap Xiao dan Chan secara bergantian. Berharap bisa mendapat jawaban dari salah satunya.

__ADS_1


"Aku tidak tahu, menurutku itu hanya kegilaan Xiao!" Chan melirik selintas ke arah Xiao yang tengah duduk di dekatnya. Jawabannya langsung menyebabkan Brian tergelak sesaat.


"Kenapa kau tertawa?" timpal Al kepada Brian.


"Aku jelas mentertawakan Xiao. Karena dia memang gila sejak awal, rumah sakit jiwa saja yang tidak berhasil mengidentifikasi ketidakwarasannya!" jelas Brian.


"Terserah apa katamu Bri, tetapi Chan sangat mencintaiku!" ucap Xiao percaya diri sambil merebahkan diri ke pangkuan Chan.


"Ugh!" Al meringiskan wajah saat menyaksikan perilaku Xiao.


"Cih! menyebalkan!" Brian merespon penuturan Xiao.


Chan tampak dibuat kaget dengan tingkah Xiao. Keningnya mengukir kernyitan. Al yang tidak sengaja melihat ekspresi jengkel Chan lantas berucap, "Chan, jewer saja telinganya!"


"Kau tidak akan melakukannya kan?" Xiao menjangkau rambut Chan dengan sebelah tangannya. Dia membelai lembut helaian rambut panjang kekasihnya. Chan lagi-lagi terpaku menatap wajah kekasihnya.


"Ya ampun, jangan bilang kalian akan nekat bermesraan di hadapan kami?!" tukas Brian sambil meringiskan wajah.


Mendengar ucapan Brian, Chan lekas-lekas mengalihkan pandangannya. Kelakuannya sontak membuat Xiao terkekeh.


Kala itu, Brian dan Al saling bertukar pandang. Mereka melemparkan ekspresi mencurigakan secara bergantian. Seolah saling tidak mau berbicara lebih dahulu. Hingga pada akhirnya Al pun mengalah dan memberanikan diri untuk bicara.


"Hmm?" respon Xiao yang masih asyik memainkan rambut panjang milik Chan.


"Kau sama sekali tidak berminat mencari senjata gaib Jonas?. . ." Al bertanya dengan nada enggan.


"Sialan!" gerutu Devgan yang akhirnya bersuara saat mendengar senjata gaib kembali dibicarakan.


Xiao terdiam, bahkan ia langsung bangkit untuk duduk. Dia menatap ke arah Al serius, dan bertanya, "Bagaimana? dimana aku akan menemukannya?"


"Kita bisa memulainya dari mana pun, kau tidak perlu khawatir karena Brian pasti akan mengetahui letaknya!" Al menjelaskan dengan tenang.


"Al ada benarnya!" Chan menyetujui pendapat Al.


"Oke, sekarang biarkan aku bertanya kepada Brian." Xiao sekarang menoleh ke arah Brian dan melanjutkan, "dimana aku harus mencarinya?"


Brian tampak terheran. "Sialan! kau pikir firasatku langsung bekerja begitu saja? aku bahkan tidak tahu kapan aku bisa merasakan firasat yang akan datang. Mereka sering muncul di waktu yang tidak terduga!" tegasnya dengan panjang lebar.

__ADS_1


"Nah! itu yang akan menghabiskan banyak waktu!" ujar Devgan, mencoba mempengaruhi tuannya.


"Aku ingin mengurus urusan ayahku terlebih dahulu, baru aku akan berpikir untuk mencari senjatanya!" balas Xiao seraya bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan keluar dari ruangan. Sebelum itu, dia berkata, "Chan, tinggallah bersama mereka. Aku ada sesuatu yang harus diselesaikan."


Xiao langsung berlalu pergi begitu saja. Al memanfaatkan kesempatan tersebut untuk duduk lebih dekat dengan Chan.


"Karena kau sudah kembali berbaikan dengan Xiao, maukah kau membujuknya untuk mencari senjata Jonas?" Al menatap Chan penuh harap.


"Aku sudah berusaha Al, tetapi responnya masih seperti yang ditunjukkannya tadi," sahut Chan.


"Masalahnya, jika dia terus berada di lingkungan ibunya ini, aku yakin cepat atau lambat devilnya akan semakin besar dan bertambah kuat!" Brian menerangkan.


"Aku tahu, itulah salah satu alasanku berada di sampingnya sekarang!" ungkap Chan. "Oh iya, Xiao ada bercerita kepadaku mengenai mimpi buruk yang sering mengganggunya akhir-akhir ini," ucapnya lagi.


Chan pun menceritakan semuanya kepada Brian dan Al. Dia bahkan memberitahu mengenai kejadian aneh di sekolah. Termasuk mengenai makhluk aneh di gudang yang telah berhasil mempengaruhi banyak orang.


"Al, apa kau mengetahui sesuatu perihal makhluk gaib yang berkaitan dengan kutukan?" tanya Chan.


"Yang aku tahu, makhluk itu sangat bergantung dengan makhluk yang lebih kuat darinya. Lalu, bagaimana dengan sekolahmu?" ujar Al serius.


"Mulai hari ini kami diliburkan. Dan akan kembali lagi saat ujian akhir saja," jawab Chan. Al pun hanya merespon dengan anggukan kepala. "Ngomong-ngomong, makhluk yamg lebih kuat yang kau maksud tadi, apakah mungkin itu devil?" tanya-nya.


"Aku rasa begitu, apa mungkin Xiao. . ." Brian menduga dengan perasaan meragu.


"Chan, apa Xiao bersikap mencurigakan?" Al memastikan.


"Entahlah, aku masih merasa tidak yakin," balas Chan.


"Sudahlah, yang paling penting setelah ujian kau tidak tidak akan bersekolah lagi. Jadi lebih baik kau pikirkan saja bagaimana cara menaklukkan soal ujian nanti!" saran Al sembari melipat sebelah kakinya.


"Hahh! itulah masalahnya, aku tidak ahli dalam belajar!" Chan menghela nafas berat.


"Minta ajari sama pacarmu saja!" Brian mengusulkan.


"Benar, tetapi aku rasa Chan tidak akan fokus belajar jika di ajari oleh Xiao, pfffft!" sahut Al yang di akhiri dengan cara menahan tawanya. Chan yang mendengar sontak menepuk pundak gadis berusia dua puluh lima tahun tersebut.


...-----...

__ADS_1


*Catatan Author : Aku mau promosi novel terbaru, Dengan genre Romantis/Misteri/Komedi. Kalau kalian penasaran, langsung cek aja*.



__ADS_2