
Mungkin masalah yang kau kira sebagai ujian, adalah akibat karma dari kesalahanmu di masa lalu.
***
Dengan lidah yang berdecak kesal, Shuwan akhirnya memutuskan meminta bantuan Xiao. Dia benar-benar tidak punya pilihan lain.
"Xi-xiao! tolonglah aku!" Shuwan tampak begitu panik.
"Hahaha! Hahaha!" bukannya menyahut, Xiao malah tertawa terbahak-bahak. Dia sampai memegangi bagian perutnya.
"Hei!! aku serius!!!" Shuwan mendesak, dahinya mengukir kerutan.
"Haha! kau terlihat seperti orang gila! apa kau sedang melarikan diri dari rumah sakit jiwa?" sarkas Xiao masih dengan tawa gelinya, namun sama sekali tidak mendapat hirauan. Shuwan hanya mementingkan keselamatannya sekarang.
"Xiao! aku sedang dikejar oleh anak buah Yakuza!" Shuwan menjelaskan dengan nada tergesak-gesak. Kepalanya sesekali menoleh ke belakang.
"Apa-apaan kau--"
"Lihat! itu mereka! aku harus sembunyi!" Shuwan reflek memotong kalimat Xiao, karena sudah melihat penampakan orang-orang Yakuza dari kejauhan. Dia segera bergegas mencari tempat persembunyian. Tepatnya di balik sebuah banner besar yang ada di dekat tempat tersebut.
"Xiao, tolong jangan beritahu mereka!" Shuwan memperingatkan Xiao terlebih dahulu, sebelum dirinya menyembunyikan badan sepenuhnya.
Tak! Tak! Tak!
Para anak buah Yakuza mendekat. Kepala mereka terus celingak-celingukan karena mencoba mencari sasarannya.
"Apa kau ada melihat lelaki yang hanya mengenakan celana pendek berlari lewat sini?" salah satu lelaki itu bertanya kepada Xiao.
Xiao terdiam sejenak sambil melirik ke arah tempat persembunyian Shuwan. Di sana dia dapat melihat Shuwan memunculkan kepala, dan memohon dengan tegas agar keberadaan dirinya tidak diberitahukan. Lelaki itu tampak menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Aku melihatnya, dia tadi berlari lurus ke sana!" Xiao menjelaskan sambil menunjuk ke arah jalan yang sudah dilewatinya. Alhasil para bawahan Yakuza pun berlari bergesakan menuju arah yang ditunjukkan Xiao.
"Mereka sudah pergi. Kau berhutang kepadaku, pecundang!" pekik Xiao kepada Shuwan yang tengah bersembunyi.
Shuwan perlahan keluar dari tempat persembunyiannya. Kedua tangannya terus berusaha menutupi dada bidangnya.
Xiao berseringai, karena dirinya tidak saja melihat Shuwan melemah, tetapi juga devilnya. Ukuran Devgan lebih besar dari pada devil milik Shuwan.
__ADS_1
'Tunggu, kenapa devil milik Shuwan menyusut? apa yang terjadi? apa karena dia sudah tidak pernah membunuh lagi akhir-akhir ini? atau karena dia merasa takut?' Xiao bertanya-tanya dalam benaknya. Dia masih tidak mengetahui seluk-beluk mengenai devil.
"Apa kau punya baju? aku merasa sangat kedinginan sekarang!" Shuwan memeluk tubuhnya sendiri karena merasa kedinginan dengan udara pagi yang menusuk.
"Kau serius bukan? meminta pertolongan kepadaku?" timpal Xiao tak percaya, dan langsung mendapat anggukan dari Shuwan.
"Aku benar-benar berada di situasi mendesak. Aku kehilangan barang-barang, anak buah dan tidak dapat menemukan ayahku!" Shuwan menjelaskan dengan bibir yang bergetar dan sudah membiru.
"Kau tenang saja, aku sudah menemukan ayahmu!" balas Xiao seraya memasukkan kedua tangan ke saku celananya. Dia juga tidak lupa tersenyum miring.
"Benarkah?!" mata Shuwan membulat sempurna. Dia mulai dirundung rasa gelisah. Segala praduga mengobrak-abrik pikirannya. Termasuk menuduh Xiao telah melakukan sesuatu kepada ayahnya.
"Ayah kita bernasib sama. Sial!" ujar Xiao yang di akhiri dengan cibirannya. Bola matanya reflek memutar malas.
"Apa maksudmu?" Shuwan bertanya sekali lagi, karena penjelasan Xiao terdengar ambigu.
"Sudahlah. Aku mau pergi!" Xiao tak acuh, kemudian mencoba menggerakkan kakinya. Namun Shuwan dengan sigap mencegahnya.
"Aku bilang, aku butuh bantuanmu! puas!!" pekik Shuwan, yang sudah tidak punya pilihan lain lagi. Teriakannya berhasil menarik atensi semua orang yang berlalu lalang. Hingga semakin membuat Shuwan ciut dan malu.
Xiao memundurkan badan dan menunjukkan ekspresi kaget yang dibuat-buat. Seolah dirinya memang sengaja mengejek Shuwan. "Kenapa orang yang butuh bantuan malah marah-marah?! itu malah membuatku tidak berniat sama sekali membantumu!" balasnya angkuh.
"Hmmm. . . kalau begitu bersimpuh dan ciumlah kakiku!" ujar Xiao sambil mengalihkan pandangannya. Mata Shuwan terbelalak kala mendengar permintaan Xiao. Bagaimana bisa dia melakukannya di tempat umum? ditambah dirinya sedang berpenampilan tidak pantas sekarang.
"Apa kau bercanda? aku tidak bisa melakukannya dalam keadaan begini?" tukas Shuwan dengan kening yang mengernyit.
"Fiuhh. . . ya sudah, aku pulang saja. Selamat menikmati hidupmu yang baru ya!" respon Xiao santai. Dia kembali melanjutkan langkahnya.
Shuwan mulai gelagapan, matanya meliar kemana-mana. Membuktikan betapa bingungnya dia sekarang. Sekali lagi ia harus terpaksa pada pilihan gilanya dengan decakan kesal.
"XIAO!" panggilan Shuwan membuat Xiao tersenyum. Dia pun berbalik ke belakang dan sudah menyaksikan Shuwan duduk bersimpuh lalu menyentuh bagian kakinya sebentar saja.
"Hanya begitu?!" Xiao menyalangkan matanya.
"Aku sudah melakukannya!" tegas Shuwan yang telah berdiri lagi.
"Lihat! apa kau lihat luka ini?" Xiao menunjukkan bekas luka tembakan di kakinya. Yang mana pelakunya adalah Shuwan sendiri.
__ADS_1
Amarah Shuwan mulai naik karena melihat Xiao semakin bertingkah. Dia berusaha menahannya dengan cara memejamkan mata dan kepalan tangan.
"Apa kau marah?!" Xiao terperangah melihat isyarat tubuh yang ditampakkan Shuwan. "Bukannya kau yang membutuhkan bantuanku. Cih! harusnya dari awal aku tidak usah memperdulikanmu!" lanjutnya.
"Oke, oke! kalau itu maumu!" Shuwan terpaksa mengalah dan berusaha mencegah kepergian Xiao. Alhasil dia pun kembali bersimpuh dan mencium kaki Xiao.
"Kau tahu harus mengatakan apa!" kata Xiao sembari menyilangkan tangan di dada.
Shuwan menggertakkan gigi kesal. Sebenarnya dia tidak ingin melawan kehendak dirinya sendiri, namun keinginan bertahan hidupnya sangatlah tinggi. Dia tidak ingin mati lebih cepat, jadi dia rela melakukan apapun.
"Ma-ma-maaf. . . " lirih Shuwan dengan terbata-bata.
"Kau bilang apa? katakan dengan jelas!" bentak Xiao, dilanjutkan dengan seringainya.
"Maafkan aku!" Shuwan memperjelas ucapannya.
Dari jauh Brian dapat menyaksikan Xiao sedang bersama seorang lelaki yang hampir tidak mengenakan pakaian. Brian pun mempercepat laju kakinya menuju ke arah Xiao.
Buk!
Setibanya di hadapan Xiao, dia langsung melayangkan kakinya untuk melakukan tendangan. Nafasnya tampak naik turun dalam tempo cepat. Brian marah dengan apa yang telah dilakukan Xiao terhadap Hiroto. Ditambah sekarang, ia juga melihat Xiao memperlakukan seseorang semena-mena.
Xiao sekarang terjatuh ke tanah. Brian pun langsung menindihnya dan mencoba berbicara dengan keadaan pitam yang semakin bergejolak. Adegan tersebut tentu menjadi bahan tontonan orang yang kebetulan lewat.
"Sialan kau Xiao! kenapa kau tega! hah!!" geram Brian sambil mencengkeram erat kerah baju Xiao.
"Uhuk! uhuk! uhuk!" Xiao hanya merespon dengan batuknya, akibat menahan rasa sakit dari hasil tendangan Brian di perutnya tadi.
"Kenapa kau diam saja? hah!!" Brian semakin mengencangkan cengkeramannya.
Shuwan yang melihat kejadian itu kembali berdiri, dan celingak-celingukan seperti orang bodoh. Dia bahkan menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.
"Bri, aku sudah melakukan yang seharusnya!" Xiao mencoba melepaskan cengkeraman di kerah bajunya. Namun Brian tidak membiarkannya begitu saja. Alhasil Xiao harus mengandalkan jurus rahasianya, yaitu dengan cara menendang area pribadi Brian.
Buk!
"Aaaaa!" Brian sontak melepaskan cengkeramannya, dan langsung memegangi bagian tubuhnya yang sakit. "Kurang ajar kau Xiao!" gerutunya.
__ADS_1
"Harusnya kau bicara baik-baik Bri, kan aku tidak harus melakukan serangan itu!" ujar Xiao yang sudah kembali berdiri.