
Rasa benci dan cinta itu memang berlawanan. Namun kebanyakan rasa tersebut sering kali tertukar.
***
Xiao langsung terdiam, matanya segera mencari-cari jawaban dibalik tingkah aneh Shuwan sekarang. Dan ia dapat melihat sekitar tiga orang bawahan Yakuza sedang berkeliaran.
"Mereka tidak akan menemukanmu, kau tenang saja bodoh!" ujar Xiao sembari berdiri di depan jejeran baju, agar keberadaan Shuwan semakin tersembunyi. Benar saja, para bawahan Yakuza tampak berlalu begitu saja.
"Fiuh!" Shuwan mendengus lega. Dia sudah keluar dari tempat persembunyiannya.
"Kalau ditolong harus bilang apa?" Xiao melirik ke arah Shuwan. Dia ingin mendengarkan jawaban yang diharapkannya.
Shuwan yang hampir tidak pernah mengucapkan kalimat 'Terima kasih' dalam hidupnya sontak merasa kesal. Matanya tampak memicing lama dengan disertai kepalan tangan di kedua tangannya.
Xiao menyilangkan tangan di depan dada. "Ayo katakan pecundang! atau aku akan menelantarkanmu di sini!" titahnya seraya melayangkan tatapan tajam.
'Sialan sekali Xiao! dia sangat memanfaatkan ini!' Shuwan menggerutu di dalam hatinya. Namun ia tidak punya pilihan lain selain harus menuruti apa keinginan Xiao. Lagi pula dirinya juga sudah terlanjur bersepakat.
"Te-terima kasih. . ." ungkap Shuwan malas, matanya memutar jengah.
Xiao menggeleng-gelengkan kepala sambil mendecak beberapa kali. Sebab dirinya tidak habis pikir dengan tingkah angkuh Shuwan, yang jelas-jelas sekarang bergantung kepadanya.
"Terserah! aku tidak peduli lagi dengan sikapmu itu Shuwan, karena yang penting kau sudah menyepakati keinginanku!" Xiao berseringai.
'Mati-lah sudah kau Shuwan, jika aku bawa ke markas ibuku!' ucap Xiao dalam hati, dia telah menyusun rencana mengenai apa yang akan dilakukannya terhadap Shuwan.
Dari balik ruang ganti, Brian muncul dengan mengenakan pakaian pilihannya. Mulutnya melengkung membentuk sebuah senyuman. "Wah, lebih nyaman juga kalau begini!" imbuhnya sembari memperbaiki baju yang dia kenakan.
"Sudah?" tanya Xiao. Dia tengah berpose berkacak pinggang dan menatap serius kepada Brian.
"Yup!" Brian mengangkat jempolnya pertanda dirinya memang sudah benar-benar siap.
"Kalau begitu ayo kita kembali ke habitat!" Xiao berjalan lebih dahulu untuk memimpin. Mereka melanjutkan perjalanan untuk kembali pulang ke Hongkong.
__ADS_1
Sekarang Xiao, Brian dan Shuwan sedang duduk di ruang tunggu untuk menunggu keberangkatan pesawat mereka. Kala itu Shuwan meminta ijin untuk pergi ke toilet.
"Jangan kelamaan! karena aku tidak akan menunggumu!" tegas Xiao, hingga mengharuskan Shuwan menganggukkan kepala.
"Aku tidak percaya kau mau membantu musuhmu sendiri Xiao!" celetuk Brian, yang menatap Xiao dengan sudut matanya.
"Tidak ada salahnya kan berbuat baik?" sahut Xiao. Dia sengaja menunjukkan senyuman seolah tak berdosa. "Lihat senyumanku, terlihat tulus bukan?" tanya-nya dengan senyuman yang masih belum memudar.
"Mengerikan!" Brian menggidikkan bahunya.
Xiao yang merasa tersinggung dengan respon Brian, lantas berdiri dan mencoba mengangkat sebelah kakinya, seolah hendak melayangkan tendangan. "Kau mau lagi hah?" ancamnya sambil mengarahkan kakinya ke area bawah perut Brian.
"Kurang ajar kau Xiao! aku ini lebih tua darimu! tolong jaga sikapmu!" geram Brian yang tak terima. Namun Xiao merespon hanya dengan memutar bola mata jengah dan senyuman remeh.
***
Chan telah selesai melakukan pendaftaran ke sekolah. Dia mendapatkan seragam dan juga beberapa buku. Gadis tersebut akan diperbolehkan bersekolah mulai esok hari.
"Al, terima kasih untuk bantuanmu tadi!" ujar Chan. Sebab dia tidak akan bisa mendaftarkan diri ke sekolah tanpa adanya seorang wali murid.
"Hah?" Chan terperangah.
"Kau tahu kan, pekerjaan menjadi cenayang itu maksudnya adalah menipu. Aku sudah melakukannya bersama Brian bertahun-tahun di sini." Al bercerita sambil terus menggerakkan kakinya ke depan.
"Tetapi kau kan juga indigo, jadi menurutku itu pekerjaan yang cocoklah untukmu. Kau memanfaatkan kelebihanmu itu kan?" Chan menyamakan laju langkahnya dengan Al.
"Hanya terkadang. Tetapi beberapa ritual yang kami lakukan, sebagian besarnya cuman asal-asalan!" sahut Al, kali ini raut wajahnya tampak serius.
"Oh begitu, aku kira kau memang tahu banyak tentang ritual."
"Memang! tetapi aku tidak berani melakukan ritual yang asli kalau tidak dalam keadaan terpaksa!"
"Benarkah? kalau begitu, apakah kau tahu mengenai ritual pengikat?" tanya Chan. Sebenarnya dia masih penasaran dengan ritual yang hampir saja dilakukannya bersama Viera tersebut.
__ADS_1
Al yang mendengar langsung membulatkan mata. "Bagaimana kau tahu mengenai ritual itu?" dia malah berbalik tanya.
"Viera yang memberitahuku, tetapi dia sekarang sudah tidak pernah muncul lagi..." ucap Chan yang diakhiri nada lirih. Dia merasa sedih dengan apa yang sudah terjadi kepada Viera. Terbayang dalam ingatannya betapa tersiksanya Viera. Chan menduga Viera diserang oleh devil milik Xiao. Makanya kebenciannya semakin bertambah kepada lelaki tersebut.
"Jadi kau pergi bersama Viera karena itu?!" Al kembali melebarkan mata. Chan langsung menganggukkan kepala dan menatap Al penuh tanya.
"Itu ritual yang sangat berbahaya Chan! kenapa kau mau saja melakukannya!" lanjut Al sembari memegangi kedua bahu Chan. Dia hanya ingin meyakinkan.
Chan menenggak saliva-nya sekali, dia merasa tidak percaya dengan penuturan Al. "Memangnya bahayanya apa?" ujarnya.
"Jika kau berhasil melakukan ritual pengikat, maka hantu yang sudah terikat denganmu itu akan sangat bergantung pada hidupmu. Kemungkinan besar dia akan menyerap energimu dan menguasai tubuhmu dengan mudahnya!" jelas Al. Hingga membuat mata Chan membola.
"Jadi maksudmu Viera membohongiku?" Chan masih tak percaya.
Al mengangguk yakin. "Iya Chan! dia menipumu!" tegasnya.
Chan melangkah mundur seraya memegangi bagian kepalanya. "Tidak! itu tidak mungkin Al! Viera selalu menolongku!" dia bersikeras.
"Chan! aku berkata jujur. Aku lupa memberitahumu kalau Viera awalnya adalah devilnya Jonas! jadi kemungkinan sifat jahatnya masih ada!" Al menerangkan secara pelan. Sedangkan Chan masih terlihat syok. Dia menyandarkan badannya ke dinding untuk menenangkan diri.
"Kenapa kau tidak mengatakannya dari awal Al!" tukas Chan dengan dahi yang mengerut.
"Aku sudah memperingatkanmu kalau Viera adalah hantu yang tak bisa dipercaya. Aku pikir itu cukup untukmu." Al menatap Chan iba. Dia merasa bersalah dan kembali berucap, "untung saja Xiao berhasil menyelamatkanmu. Sepertinya dia sudah tahu perihal kelicikan Viera!"
Chan terdiam seribu bahasa. Kilas balik memori saat dia dan Xiao bertengkar di dalam mobil menghantuinya. Dia sudah bersikap berlebihan kepada lelaki itu.
"Sudahlah Chan, sepertinya hatimu memang ditakdirkan untuk tidak membenci Xiao!" Al menepuk-nepuk pundak Chan.
"Kau tahu, aku membalas pertolongan Xiao dengan cara meludahi wajahnya." Chan berterus terang dengan keadaan kepala yang menunduk.
"Apa?!" Al merasa sedikit terkejut.
"Kau ngeri juga ya Chan! aku rasa Xiao yang akan membencimu sekarang!" tutur Al, dia hanya bermaksud menggoda Chan. Namun gadis yang diajaknya bercanda tersebut terlihat masih membisu.
__ADS_1
'Aku sedikit merasa bersalah kepada Xiao, tetapi bukankah dia masih punya kesalahan kepadaku? dan hingga sekarang dia masih bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi!' batin Chan, sebenarnya rasa bencinya masih ada. Sebab dia sangat ingat ciuman Xiao dengan dua orang wanita yang bersamanya saat di hotel.