Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 90 - Dua Pilihan


__ADS_3

Pilihan yang disertai imbalan memang lebih menarik. Tetapi, apakah akan berakhir dengan baik?


...-----...


[Flashback On]


Ketika Xiao berada di dalam gudang. Dia menyaksikan Lien sedang berdiri sendirian. Tatapan gadis tersebut terlihat sangat berbeda. Agak tajam dan mengancam. Mulutnya tersenyum dan sedikit memperlihatkan giginya.


Lien memegangi pundak Xiao dengan sebelah tangannya. "Bergabunglah denganku, agar pencarian energimu lebih mudah!" ujarnya dengan nada suara penuh penekanan. Devgan yang mendengar lantas tersenyum.


"Dia benar Xiao, tanganmu tidak perlu ternodai dengan darah!" Devgan mencoba mempengaruhi Xiao.


"Jadi kau makhluk yang mengutuk tempat ini? kau bersembunyi dalam badan gadis ini?" tanya Xiao. Namun hanya dibalas dengan senyuman oleh Lien.


"Aku tidak berniat membunuh terang-terangan!" ungkap Xiao seraya melepaskan tangan Lien dengan paksa, kemudian mencoba melangkahkan kakinya menuju pintu.


"Kau sepertinya masih belum paham!" ucap Lien. Hingga berhasil membuat Xiao menghentikan pergerakan kakinya. Dia menoleh kembali.


"Akulah yang akan membunuh, tetapi kaulah yang akan memilih orang-orang untuk dibunuh. Energi otomatis akan masuk ke tubuhmu jika kau menyentuh darah dari orang yang sudah terbunuh!" jelas Lien.


"Itu mudah Xiao, ayolah. Kau tidak perlu membuang tenaga untuk mencari energi, cukup gadis ini saja yang melakukannya!" Devgan kembali memohon persetujuan tuannya. Xiao terdiam, karena tengah memikirkan keputusan yang tepat.


"Ayolah Xiao!" Devgan memohon kembali.


"Baiklah, kau--"


"Ahahahaha!" Lien malah tertawa lepas, dan berhasil memotong kalimat yang hendak di ucapkan Xiao.


"Siapa korban pertama yang kau inginkan Xiao?" tanya Lien yang mendadak mengubah ekspresinya menjadi serius.


"Aku menginginkan orang yang lebih dewasa." Xiao menyilangkan tangan di dada. Lien yang mendengar kembali tersenyum sambil berjalan melingus pergi melewati Xiao.


"Hanya begitu?" Xiao mengerutkan dahi. Dia bertanya kepada Devgan.


"Mungkin dia tidak butuh hal spesifik Xiao!" sahut Devgan yang tampak tersenyum girang.


[Flashback Off]


...-----...


Xiao bangun dengan nafas ngos-ngosan, karena lagi-lagi mimpi buruk yang dia alami tempo hari kembali datang. Dia sekarang sedang berada di rumah Chan. Tidur bersama gadis yang telah kembali kepadanya tersebut.

__ADS_1


"Mimpi itu datang lagi? hehh! sudah kuduga, keberadaan Chan masih belum mampu menghentikan mimpinya!" kata Devgan, yang badannya makin hari semakin besar. Sekarang tubuhnya sudah mencapai langit-langit pelafon, bahkan lebih.


Xiao yang mendengar hanya menoleh ke arah Chan. Gadis itu terlihat masih tertidur pulas. Xiao sekarang memegangi area kepalanya karena mencoba menenangkan diri.


"Lalu, bagaimana caranya menghentikan mimpi ini, bukankah kemarin kau bilang tahu caranya?" Xiao bertanya kepada Devgan.


"Dengan berbicara kepada Lien, atau lebih tepatnya makhluk yang sedang berada dalam tubuhnya." Devgan memberitahu.


"Benarkah dia bisa?" Xiao meragu.


"Aku sangat yakin dia bisa!"


"Sepertinya dia makhluk yang sangat kuat, mungkinkah dia lebih kuat darimu?"


"Entahlah!" Devgan tidak berniat menjawab. Dia sebenarnya merahasiakan sesuatu dari tuannya.


Xiao sekarang tak bisa tidur lagi. Padahal waktu masih menunjukkan jam 01.00 dini hari. Dia pun beringsut duduk di ujung kasur. Chan yang merasakan adanya pergerakan pada akhirnya tak sengaja tebangun. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali dan menoleh ke arah Xiao.


"Xiao? kau tidak tidur?" Chan langsung mengubah posisinya menjadi duduk.


"Chan?" Xiao berbalik menatap Chan. "Maaf membangunkanmu," tambahnya.


"Apa kau memimpikan pria itu lagi?" tanya Chan, dia segera mendapat anggukan kepala dari Xiao. Chan mendekati Xiao, dan duduk di sampingnya.


"Tapi bagaimana Chan? aku bahkan tidak tahu senjatanya ada dimana?" balas Xiao.


Chan memeluk Xiao lembut. Dia berharap caranya mampu menenangkan kekasihnya. "Mungkin karena itulah alasan Brian berada di sampingmu. Sebab dialah yang akan menunjukkan jalannya kepadamu," ungkapnya.


"Merepotkan! kau akan memakan terlalu banyak waktu jika menggunakan caranya. Lakukan caraku saja Xiao! lebih cepat dan mudah!" Devgan menegaskan.


"Entahlah Chan, Devgan juga mengusulkan sebuah cara kepadaku," ungkap Xiao.


"XIAO! kenapa kau memberitahunya! aku tidak jadi membantumu jika kau memberitahu caraku kepada Chan!" Devgan memekik lantang. Dia sangat serius dengam ucapannya. Hingga Xiao yang mendengar langsung melotot tajam ke arahnya.


"Cara apa?" tanya Chan penasaran.


"Chan aku mau keluar dahulu, kau lanjutkan tidur saja lagi." Xiao bangkit dan berdiri. Dia tidak menjawab pertanyaan Chan.


"Aku ikut!" ujar Chan seraya ikut bangkit dari kasur.


"TIDAK! tidurlah!" Xiao menolak mentah-mentah.

__ADS_1


"Tapi--"


"Chan, aku ingin kau istirahat, jangan membantah!" tegas Xiao. Alhasil Chan pun hanya bisa mendengus kasar dan kembali mendudukkan dirinya.


Xiao keluar dari rumah Chan karena berniat ingin bicara serius dengan Devgan.


"Dev! apa masalahmu?! hah?!!" timpal Xiao dalam keadaan mata yang menyalang ke arah devilnya.


"Aku hanya melakukan yang seharusnya! rencana kita dan makhluk itu harus dirahasiakan sebisa mungkin! bukankah kau tidak mau Chan marah kepadamu karena itu hah?!" balas Devgan yang juga ikut geram.


"Mentang-mentang sudah bertambah besar, kau malah semakin berani ya! aku rasa Chan benar! aku harus menemukan senjata gaib secepat mungkin!"


"Sialan kau Xiao! bukankah sekarang aku semakin membuatmu kuat?!" tukas Devgan. Hingga berhasil membuat Xiao langsung terdiam seribu bahasa. Dia tak dapat membantah pernyataan Devgan. Sebab Xiao kadang menikmati energi yang diberikan devilnya.


"Pikirkanlah baik-baik Xiao, kau hanya akan semakin lemah tanpa diriku!" Devgan kembali menimpali.


"Hai anak muda, kau sedang apa tengah malam berceloteh sendirian?" tiba-tiba seorang wanita menegur Xiao. Dia ternyata sudah sedari tadi berdiri di dalam kegelapan, tepatnya di teras rumahnya yang sengaja tidak diterangi dengan lampu. Perlahan wanita itu keluar dari kegelapan dan menampakkan diri. Ternyata dia adalah Nuan. Dia sepertinya tertarik kepada lelaki yang sedang dekat dengan putrinya tersebut.


"Siapa kau?" tanya Xiao dengan kening yang mengernyit. Dia kesal ketika seseorang berhasil memergokinya bicara dengan Devgan.


"Aku Nuan," jawab Nuan sembari menghisap sebilah rokok yang sedari tadi terpaut di antara jari-jemarinya.


"Sejak kapan kau melihatku di sini?!" Xiao mengangkat dagunya sekali.


"Sejak awal kau dan pacarmu tiba ke rumah ini. Tepatnya ketika kau mencumbu mesra putriku di depan pintu!" Nuan mengeluarkan kepulan asap rokok dari mulutnya.


"Putrimu?" Xiao menoleh ke rumah Chan karena berusaha mencerna baik-baik perkataan Nuan. "Maksudmu Chan?" tanya-nya.


"Memangnya siapa lagi?" balas Nuan.


"Oh, jadi kau wanita jahat itu?" Xiao berseringai sambil mengamati Nuan dari ujung kaki hingga kepala. "Terlihat sangat jelas!" komentarnya.


"Hahaha! jangan menghinaku anak muda, kelakuanmu bahkan tidak sebaik itu!" balas Nuan setelah puas tergelak.


"Kau bahkan tidak mengenalku!" Xiao menyahut angkuh.


Ceklek!


Pintu rumah tiba-tiba terbuka, nampaklah Chan yang sepertinya cemas dengan keadaan Xiao. Namun dia malah dikejutkan dengan kehadiran Nuan, yang tampaknya berhasil mengajak Xiao berbicara.


"Xiao!" Chan bergegas meraih tangan Xiao. "Ayo kita masuk!" titahnya, yang sekarang membawa Xiao ikut bersamanya.

__ADS_1


"Chan, kau ternyata tidak jauh berbeda denganku!" ucap Nuan yang dilanjutkan dengan tawa kecilnya. Setelah Xiao dan Chan masuk ke rumah dan meninggalkannya sendirian, dia pun melanjutkan berucap, "Gadis nakal."


__ADS_2