Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 111 - Ledakan Bom!


__ADS_3

Apa yang sudah kita miliki bisa menghilang dalam sekejap.


***


Xiao sudah masuk ke halaman markasnya. Tentu saja di ikuti oleh Chan dari belakang. Mereka melajukan jalannya hingga menuju markas.


Xiao dan Chan langsung menutupi hidung mereka masing-masing, ketika sudah berada di dalam markas. Sepertinya mayat-mayat yang ada, sudah mulai mengeluarkan bau busuk. Bahkan suara dengung lalat begitu mendominasi suasana.


Xiao awalnya biasa saja saat menyaksikan satu mayat anak buahnya. Tetapi setelah kakinya dilangkahkan lebih dalam lagi, dia tentu sangat terkejut. Matanya membelalak dan merasa tidak percaya. Karena jasad semakin bertambah banyak. Darahnya pun hampir memenuhi ruangan.


"Apa-apaan ini?!" mata Xiao bergetar. Perasaan marah dan sedih mulai memuncak dalam dirinya. Selanjutnya ia segera bergegas mencari ibunya.


"Xi-xiao. . ." panggil Chan yang sedari tadi tak kuasa melihat pemandangan mengerikan di hadapannya. Dia jelas ragu untuk melangkah.


"Aaaaaagghhh!!!"


Chan langsung tersentak kaget saat mendengar teriakan Xiao yang begitu histeris. Matanya sontak membulat sempurna. Alhasil Chan memaksakan diri untuk melangkahkan kakinya. Dia berlari sambil mengabaikan keadaan mengerikan di sekitarnya. Chan hanya berusaha sebisa mungkin memeriksa keadaan Xiao. Apalagi setelah mendengar suara benda-benda yang dihempaskan ke lantai.


Brian, Al, dan Fa tentu juga mendengar keributan yang ditimbulkan Xiao. Mereka akhirnya lekas-lekas masuk ke dalam markas. Namun tidak untuk Al. Dia langsung menghetikan jalannya, tatkala baru teringat kalau dirinya masih tidak kuasa melihat darah dan potongan tubuh berserakan. Alhasil Al pun memilih untuk menunggu di luar saja.


Xiao terlihat mengamuk di ruangan Yenn. Dia melemparkan benda-benda yang ada di sekelilingnya. Kemarahannya benar-benar memuncak.


"Sekarang aku yakin kau akan membutuhkan energiku untuk balas dendam," ujar Devgan percaya diri. Dia juga dapat merasakan pitam dan kesedihan dalam diri Xiao.


"Ini benar-benar keterlaluan! aku yakin Shuwan pasti terlibat dengan semua ini!!" gumam Xiao sambil menggertakkan gigi kesal.


"Xiao! kau tidak apa--" Chan langsung menutup mulutnya dengan tangan, ketika melihat kepala Yenn tergeletak seperti sebuah bola di lantai. Tubuhnya mematung seketika. Ia menatap nanar ke arah Xiao yang tampak marah.


"Chan! apa yang terjadi?" tanya Brian, datang menghampiri. Di belakangnya ada Fa yang melajukan langkahnya untuk masuk ke dalam ruangan Yenn.

__ADS_1


"Xiao!" Fa menghampiri Xiao.


"Hahh! apa kau tahu siapa yang melakukan semua ini?" tanya Xiao dengan tatapan berapi-api.


"Aku tidak tahu." Fa terdiam sejenak. Hingga terbersit dalam pikirannya tentang sesuatu hal. "Ah benar! aku belum memeriksa kamera pengawas!" sambungnya, yang segera berlari menuju ruang keamanan. Xiao lantas mengikuti dari belakang. Hal yang sama juga dilakukan oleh Chan dan Brian.


Setelah berada di ruang keamanan, Fa lekas-lekas memutar rekaman beberapa jam sebelumnya. Tepat saat penyerangan dilakukan ke markas Klan Wong. Hingga tepampanglah video Spiderblood dan bawahannya sedang beraksi. Shuwan bahkan juga menjadi salah satu orang yang ikut andil dalam penyerangan.


"Kurang ajar! harusnya kita langsung bunuh saja dia dari awal!!" geram Fa kesal.


"Dasar keparat!" Xiao menghempaskan kepalan tangannya ke atas meja.


Hanya Chan satu-satunya orang yang tidak berani menyaksikan video rekaman. Dia merasa itu sangatlah mengerikan. Badannya langsung bergidik ngeri. Berbeda dengan Brian yang sedari tadi terpaku menatap benda aneh di atas lemari loker. Dia lantas berusaha meraih benda tersebut.


Xiao dan Fa masih fokus menonton rekaman CCTV. Mereka dikejutkan dengan Spiderblood yang mendadak berjalan mendekati salah satu kamera pengawas. Dia berdiri menatap kamera dan berkata, "Bagaimana hadiahku? inilah yang aku lakukan jika seseorang mengabaikanku seperti sampah. Selamat menikmati kehidupan baru Xiao. Oh iya, aku punya hadiah lagi. Kau bisa memeriksanya di atas lemari loker yang ada di ruang keamanan. Mungkin tempat dimana sekarang kau berada kan? Hahaha!"


"Lemari loker?" Xiao mengernyitkan kening. Perlahan ia menoleh ke arah lemari yang dimaksud Spiderblood.


"Apa itu Bri?!!" tanya Xiao dengan suara lantang.


"Bom! beberapa detik lagi akan meledak. Kita tidak punya waktu! AYO!" desak Brian yang segera berlari secepat mungkin. Apalagi letak ruang keamanan lumayan jauh dengan pintu keluar.


"Sialan!" umpat Xiao yang harus ikut melajukan larinya. Namun ia mendadak menghentikan langkahnya karena merasa harus mengambil kepala utuh Yenn. Xiao lantas berbalik sejenak untuk mengambilnya.


"XIAO!!" Chan yang mengetahui Xiao kembali ke belakang, dirundung perasaan khawatir. Dia reflek berhenti berlari.


Kepala utuh Yenn sekarang sudah berada dalam genggaman Xiao. Selanjutnya ia langsung melanjutkan larinya. Dan Xiao merasa sangat kesal ketika melihat Chan sedang menunggunya.


"Apa yang kau lakukan hah?! dasar bodoh!!" geram Xiao seraya menarik tangan Chan untuk lari bersamanya.

__ADS_1


"Kau yang bodoh!!" balas Chan yang tengah berusaha menyamakan kelajuan larinya dengan Xiao.


19, 18, 17, 16, 15, 14. . .


Detik terus berjalan. Xiao dan Chan masih berada di dalam markas. Dari kejauhan Brian dan Fa sudah berhasil keluar.


Bruk!


Chan mendadak terpeleset, karena dia tidak sengaja menginjak lantai yang licin akibat genangan darah. Ia sekarang dalam keadaan tersungkur. "Aaa!" erangnya yang sepertinya merasakan ada yang sakit di bagian tubuhnya.


"CHAN!" Xiao semakin diterpa rasa cemas. Wajahnya menunjukkan semburat kemarahan. Dia mendesak Chan untuk segera berdiri, lalu kembali memaksanya untuk berlari. Namun Chan malah melepaskan genggaman tangannya.


"Xiao! aku tidak bisa. Kau pergi saja!" ujar Chan dengan keadaan mata yang sudah berkaca-kaca. Dia terlihat memegangi kaki bagian kanannya.


"Xiao! Chan! cepat!" Al berteriak dari luar. Dia dan yang lain merasa sangat khawatir.


Karena Xiao dan Chan belum keluar juga, Brian pun tidak punya pilihan selain kembali masuk ke dalam markas.


"Hei! apa yang kau lakukan?!" Fa mencoba mengingatkan Brian.


"Tenang saja, Brian akan baik-baik saja!" kata Al yang mengetahui pasti badan Brian tidak akan terluka jika mengenai api.


Xiao akhirnya berusaha menggendong Chan ke punggungnya. Kemudian berlari menuju pintu yang hanya beberapa langkah lagi. Lari Xiao melambat karena membawa beban dipunggungnya.


4, 3, 2, 1. . . BOOMM!


Ledakan perlahan menghantam ruang demi ruang yang ada di markas. Brian yang baru saja masuk reflek mendorong Xiao dan Chan keluar dari markas. Semuanya terjadi seperti kilatan slow motion yang apik. Sedangkan Brian sendiri sudah tidak sempat lagi untuk menjauhi ledakan.


Xiao dan Chan sedang dalam posisi tiarap sambil menutupi telinganya rapat-rapat. Puing-puing sisa bangunan markas betebaran kemana-mana. Keadaan bangunan kebanggaan Klan Wong tersebut sekarang sudah hancur lebur dan rata dengan tanah.

__ADS_1


"Oh tidak, Brian tidak sempat menyelamatkan--" Fa menjeda ucapannya saat menyaksikan Brian masih baik-baik saja. Lelaki itu berusaha berjalan melewati api yang ada di hadapannya, namun tanpa adanya keluhan sedikit pun.


__ADS_2