Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 66 - Apa Yang Terjadi, Jika...


__ADS_3

Jika kau memendam sesuatu, bicaralah kepada seseorang. Meski tidak langsung terselesaikan, setidaknya kau merasa lega.


***


"Maafkan aku, Tuan Hiroto, aku tidak bermaksud memarahimu!" Xiao berusaha mengendalikan diri, dan akhirnya mengalah.


"Tidak masalah. Sekarang apa kau ingin makan bersamaku?" Hiroto kembali menawarkan.


"Bri, dia menawarkan kita makan. Menurutmu--"


"Tentu aku mau!" Brian menyambar ucapan Xiao, karena saking bersemangatnya. Sebab sejak kedatangannya ke sini, dia dan Xiao sama sekali belum memasukkan sedikit pun makanan ke dalam perut.


"Baiklah kalau begitu, temanku juga setuju untuk makan bersama," ujar Xiao, yang sontak membuat Hiroto mengukir senyuman lebar diwajahnya.


Hiroto membawa Xiao dan Brian ke salah satu kedai makanan populer di Tokyo. Wajah lelaki yang bekerja sebagai sopir taksi itu tampak semringah. Dia juga tidak berhenti membicarakan mengenai putrinya.


"Aku bekerja keras seperti ini demi Ashumi. Aku harus memberinya semangat, karena dia selalu di bully di sekolah." Hiroto bercerita.


"Benarkah? terus bagian mana dalam dirinya yang mirip denganku, sepertinya malah sangat terbanding terbalik!" komentar Xiao sembari melipat tangannya di atas meja. Matanya terfokus pada lelaki di hadapannya.


"Aku tidak ikut pembicaraan kalian ya, aku hanya akan makan!" celetuk Brian yang sedang asyik bergumul dengan semangkuk ramen-nya. Xiao hanya melirik sinis untuk merespon pernyataan Brian.


"Emosinya sering berubah-ubah, tepat sepertimu. Kadang dia lembut, dan kadang juga memarahiku karena hal kecil." Hiroto menjelaskan dengan pelan.


"Apa yang kau lakukan jika kehilangan dia?" tanya Xiao. Hiroto yang mendengar lantas melebarkan mata, raut wajahnya seketika berubah menjadi serius.


"Apa maksudmu? kumohon jangan berkata yang tidak-tidak!" sepertinya Hiroto tersinggung dengan pertanyaan Xiao.


"Aku hanya ber-andai, dan penasaran sepenting apa Ashumi dalam hidupmu?" Xiao bersikeras bertanya.


"Sangat penting! dia-lah yang membuatku bersemangat bekerja. Aku melakukan semuanya demi masa depannya, dan aku tidak akan pernah membayangkan sekali pun mengenai ada atau tidaknya dia!" tegas Hiroto dengan dahi yang berkerut.


"Berarti sekarang kau sedang mengalami masalah keuangan yang sulit?" Xiao kembali menuntut jawaban.

__ADS_1


"Apakah sangat kentara?!" Hiroto menatap dengan binar getir di sorot matanya. "Karena itulah Ashumi dibully teman-temannya. Aku bahkan tidak mampu membelikannya laptop, akibat harus membayar hutang," lanjutnya, matanya mulai berembun.


Xiao menghela nafas panjang. Dia menekan kepalanya untuk sesaat, karena tengah memikirkan sesuatu.


"Apa kau berpikir mau membunuhnya?" Devgan tiba-tiba mengganggu.


'Aku memang berniat membunuh Hiroto, agar dia tidak merasakan penderitaannya lagi. Apalagi jika mengetahui putrinya sudah meninggal,' pikir Xiao.


"Apa kau mau berkunjung ke rumahku dan menemui Ashumi?" tawar Hiroto.


Xiao menggeleng. "Tidak perlu, kami harus bersiap untuk kepulangan besok!" jawabnya seraya tersenyum tipis.


***


"Ya sudah, ini terakhir kali aku memberimu kesempatan Al!" Chan menegaskan.


"Tentu!" Al merasa lega. Sekarang rencananya dan Brian telah berantakan. Namun setidaknya dirinya sudah berbuat dengan maksimal.


"Al, aku ingin memberitahumu kalau ada hantu yang aku suruh untuk mengetahui gerak-gerikmu. Jadi jika kau berkhianat lagi aku pasti tahu!" tutur Chan serius. Hingga menyebabkan Al terperangah.


Chan mendekatkan wajahnya. "Karena mulai sekarang, aku tidak mau lagi bertemu dengan Xiao!" ucapnya dengan nada penuh penekanan.


"Kau sepertinya sudah sangat membencinya." Al berpendapat.


"Aku akan sekolah lagi, Al. Jadi besok kita tidak hanya mencari rumah sewaan!" ujar Chan, yang sengaja mengubah topik pembicaraan.


"Bagus deh, gadis seumuranmu memang harusnya fokus dengan sekolah. Bukannya bermain-main dengan penjahat dan hantu!" tukas Al memberikan nasehat secara menohok.


"Ish! kenapa malah menyindir?" balas Chan seraya sedikit terkekeh.


"Bukankah itu fakta?" Al mengangkat kedua tangannya ke depan.


"Itu semua karena Xiao!" ungkap Chan, ekspresinya berubah menjadi cemberut.

__ADS_1


"Dia memang bersalah, tetapi menurutku kau saja yang menceburkan diri ke dalam masalah. Bukankah dari awal kau tahu dia seorang anak psikopat?"


"Iya, aku tahu. Tetapi aku hanya khawatir saat dia ketakutan dengan makhluk-makhluk yang seharusnya tidak dilihatnya. Jadi aku memilih untuk berada di sampingnya. Hingga. . ." Chan tidak menyelesaikan ucapannya.


"Hingga kau dan Xiao akhirnya dimabuk cinta?" Al mencoba menebak kalimat yang tidak di ucapkan Chan.


"Al!" geram Chan, pipinya mendadak memerah bak kepiting rebus. Dia sebenarnya sangat malu membicarakan hubungan romantisnya.


"Menurutku kau belum membenci Xiao. Lihat! saat memikirkannya saja pipimu jadi merah begitu!" Al menimpali sambil sedikit tergelak.


Chan menggeleng tegas, dia segera merebahkan dirinya. Kemudian membelakangi Al begitu saja. Jujur saja, Chan sebenarnya menyetujui pendapat Al. Dirinya memang masih memperdulikan Xiao, jantungnya bahkan berdebar-debar hanya karena mengingat momen-momen romantis kala bersama lelaki itu.


'Chan, jangan menjadi bodoh! untuk kali ini jangan memikirkannya lagi. Otakku, pikirkanlah hal yang lain! pikirkan kita akan sekolah lagi, oh mungkin saja aku bisa jatuh cinta dengan seseorang yang baru!' Chan berusaha mencuci otaknya sendiri. 'Mungkin aku bisa bertemu lelaki tampan yang--' ujaran dalam hati Chan berhenti seketika, karena dia tidak sengaja membayangkan wajah Xiao akibat menyebut kata tampan.


'Ya ampun! hiks!' Chan mengacak-acak rambutnya sendiri. Badannya digerakkan dengan menggila, hingga akhirnya membuat Al yang sudah rebahan di sampingnya terganggu.


"Chan! kau kenapa menggeliat-menggeliat seperti cacing kepanasan?! lihat wilayah rebahanku jatahnya jadi sedikit!" protes Al dengan kening yang mengernyit. Badannya memang benar-benar terhimpit sampai ke ujung kasur. Alhasil Chan pun kembali bergeser dan memberikan ruang untuk Al.


Chan dan Al sama-sama dalam keadaan telentang. Chan terlihat mengeluarkan nafas beratnya dari mulut dan berkata, "Aku harap nanti saat di sekolah, semua pikiranku bisa teralihkan dan melupakan makhluk bejat itu!"


Al menggerakkan kepalanya ke samping untuk menatap, dia tahu betul siapa sosok yang tengah dibicarakan Chan. "Dia memang makhluk bejat yang tampan. Kalau kau tidak mau, untukku saja ya?" goda-nya sembari berusaha menahan tawa.


Chan reflek melayangkan tatapan tajam, seakan memberikan ketegasan kalau dirinya tidak akan membiarkan apa yang di inginkan Al terjadi.


"Bukankah, kau tadi bilang ingin melupakannya?" Al mengangkat kedua alisnya. Chan sontak terdiam seribu bahasa, lalu mengalihkan pandangannya ke langit-langit pelafon.


"Sebenarnya, aku melihat dia berciuman dengan wanita lain. . ." Chan tiba-tiba mengungkapkan.


"Benarkah?" Al menatap penuh tanya.


"Dia bahkan mencium dua wanita sekaligus. Saat itulah aku merasa harus menjauh darinya. . ." Chan mengepalkan salah satu tangannya.


"Jadi karena itu kau sangat marah kepadanya? aku pikir karena pembunuhan yang dilakukannya." Al membalas dengan gidikkan bahunya. "Tapi, aku yakin dia hanya bermain-main Chan, dia--"

__ADS_1


"Bermain-main?" Chan memutar bola mata, dia sengaja menyambar kalimat Al. "Tidak ada seseorang di dunia ini yang mau dipermainkan! dan aku merasa seperti itu sekarang. Dia seolah memperlakukanku seperti wanita murahan!" ujarnya dengan perasaan kesal dihatinya.


Al menepuk-nepuk pundak Chan, kemudian memeluknya dengan lembut. "Sudahlah Chan, dia pasti mendapat balasannya. Aku yakin hukum karma selalu beroperasi layaknya waktu!" tuturnya, yang mencoba menenangkan.


__ADS_2