
Naluri seseorang bisa mempengaruhi orang lain. Bak sebuah virus yang menyebar luas dalam hitungan milidetik.
***
Al membuka matanya pelan. Dia sempat tertidur setengah jam setelah pesawat lepas landas. Suara desiran mesin pesawat lebih hening dibandingkan saat dalam proses menukik ke atas. Al menengok ke arah Feng yang tengah asyik tertidur dengan keadaan mulut ternganga. Lelaki berbadan besar tersebut mengeluarkan dengkuran yang lumayan keras. Hingga menyebabkan Al merasa geli kala melihatnya.
Al bangkit dari tempat duduknya, dia mengedarkan pandangannya ke sekitar. Mencoba memeriksa keadaan, dan dirinya menyaksikan semua orang tengah asyik terlelap. Terkecuali Xiao dan Chan, Al sama sekali tidak melihat keberadaan dua sejoli itu. Pergerakan kakinya dilanjutkan maju menuju area kokpit.
Brian terlihat melamun memandang ke arah depan. Dia berada di kursi kendali. Sedangkan Fa tampak bersitirahat dengan cara menjelajahi mimpi, matanya terpejam rapat tanpa dengkuran.
"Bagaimana? apa perjalanan kita masih jauh?" tanya Al yang sudah memposisikan diri berada di belakang tempat duduk Brian.
"Ya ampun Al, kita baru saja berangkat. Dan kau sudah menanyakan seberapa jauhnya? tentu saja masih jauh bermil-mil!" jawab Brian sembari menggeleng heran.
"Aku hanya memastikan. Kenapa kau jadi sensitif," Al tekekeh sejenak, kemudian mendekatkan mulut ke telinga Brian dan berbisik, "Apa Fa menularkan sifat pemarah itu kepadamu?"
Brian yang mendengar segera memukul kepala Al dengan tenaga sedang. Dia tentu membantah tegas perkataan Al.
"Pffft!" Al hanya tertawa kecil untuk merespon pukulan Brian yang tidak sakit. "Ngomong-ngomong Chan dan Xiao kemana? aku kira tadi mereka di sini?" sambungnya sambil mencelingak-celingukan kepala ke kiri dan kanan.
"Hei! kenapa kau bertanya kepadaku? jelas-jelas kau juga berada di kelas bisnis bersama mereka!" geram Brian yang dilanjutkan dengan dengusan kasar. "Oh iya, kalau kau sedang tidak punya kerjaan, mending buatkan segelas kopi untukku," tambahnya.
"Hehh! dasar!" Al memanyunkan mulut kesal, namun ia tidak berniat menolak suruhan Brian. "Ya sudah aku akan buatkan. Tetapi aku mau ke toilet dahulu," tambahnya, kemudian berbalik badan dan berjalan menuju pintu keluar dari area kokpit.
"Baiklah," sahut Brian yang sekilas menengok ke belakang.
Al sudah berada di depan pintu toilet. Akan tetapi dia tidak bisa membuka pintunya, karena sedang dikunci dari dalam.
'Tunggu, apa Xiao dan Chan...' batin Al menduga-duga. Pikirannya tanpa sengaja membayangkan Xiao dan Chan sedang bermesraan. Namun ia langsung menyadarkan diri dengan cara menggeleng tegas. 'Menjijikan, kenapa aku malah berpikiran mesum? arrghh!' sambungnya sambil memukul-mukul kepalanya sendiri.
Tok. . . tok. . . tok. . .
Al mengetuk dengan pelan pintu toilet, dan berucap, "Hei. . . apa ada orang di dalam? cairan urine-ku sudah di ujung tanduk." Al perlahan menempelkan telinganya ke pintu.
__ADS_1
Ceklek!
Pintu mendadak terbuka, untung saja Al bisa menyeimbangkan diri dan tidak terjatuh. Di hadapannya ada Xiao yang menatap Al dengan dahi berkerut.
"Sejak kapan kau berada di sini?" tukas Xiao datar.
"Baru saja," balas Al dengan kening yang sedikit mengernyit bingung.
"Syukurlah!" respon Xiao, yang sama sekali tidak dimengerti oleh Al. Perlahan dia menutup pintu toilet kembali.
"Menyingkirlah! aku mau masuk!" ujarnya, namun Xiao malah semakin menghalangi jalannya.
"Xiao! kau mau aku kencing di celana?!" timpal Al geram.
"Chan masih di dalam." Xiao berterus terang.
"A-apa?!" Al merasa tidak percaya. Matanya sontak terbelalak. Ternyata dugaan pertamanya tadi memanglah benar. "Bukannya kalian sudah putus ya?" tanya-nya penasaran.
"Bukan urusanmu!" balas Xiao ketus. Al yang menyaksikan tingkahnya langsung meringiskan wajah.
"Tidak, terlalu jauh." Al menolak mentah-mentah.
Ceklek!
Chan sudah membuka pintu. Pupil matanya langsung membesar tatkala menyaksikan kehadiran Al. Ia merasa tertangkap basah. Respon wajahnya pun tidak mampu menyembunyikan rona merah malunya.
"Al. . ." Chan menyapa dengan enggan.
"Menyingkirlah Chan, aku sudah tidak tahan!" ucap Al seraya mendorong Chan menjauh dari pintu. Dia pun segera masuk ke dalam toilet.
Chan sekarang menatap ke arah Xiao dengan keadaan mata yang masih membola. "Apa dia tahu?" tanya-nya memastikan.
"Mengenai apa?" jawab Xiao yang berlagak tidak tahu. Dia merasa lucu dengan raut wajah tegang yang ditunjukkan Chan.
__ADS_1
"Mengenai. . ." Chan tidak kuasa melanjutkan ucapannya akibat terlalu malu. Sedangkan tangannya tampak merapikan rambutnya yang sedikit acak-acakan. "Ah, sudahlah!" tambahnya yang telah memutuskan untuk tidak melanjutkan pembicaraan lebih jauh. Dia berlalu pergi dengan jalan pincangnya.
"Kau mau aku gendong?" tawar Xiao yang sedang mengiringi Chan dari belakang.
"Tidak perlu, rasanya sudah tidak terlalu sakit," sahut Chan menolak. Lagi pula posisi toilet tidak begitu jauh dengan kursi pesawat.
Xiao sekarang sudah kembali duduk bersebelahan dengan Chan. Dia mencoba menyalakan televisi yang ada di depannya. Xiao mencoba mencari perkembangan berita mengenai pembantaian Spiderblood.
Deg!
Jantung Xiao serasa di sambar petir ketika mengetahui tidak hanya kota Metropolis yang diserang. Melainkan puluhan kota yang ada di dunia. Matanya membulat sempurna saat menyaksikan sebuah video yang menunjukkan potongan tubuh manusia berhamburan dijalanan kota Tokyo, Las Vegas, London dan lainnya.
"Pemberontakan besar-besaran terjadi di berbagai kota penjuru dunia. Dikabarkan pelaku-pelaku pemberontakannya adalah sekelompok orang yang memiliki komunitas dark web. Mereka tidak saling mengenal, namun memiliki visi misi yang sama. Yaitu Membunuh semua orang yang mereka temui. Tanpa memandang umur beserta jenis kelamin. Rencana pembunuhan pada setiap kota pun berbeda-beda. Yang paling parah sendiri terjadi di Kota Metropolis, di sana listrik mati total semenjak jam 03.30 am." Begitulah penuturan seorang pembawa berita dalam sebuah stasiun televisi yang kebetulan ditonton Xiao.
"Semakin mengerikan saja." Chan ikut membelalakkan mata. Sedari tadi dia ikut menonton bersama Xiao. Sebelah tangannya reflek menutup mulutnya sendiri.
"Semuanya akan menjadi semakin parah dari hari ke hari," James mendadak bersuara. Dia memposisikan diri duduk tidak begitu jauh dari Xiao.
"Kau tahu mengenai semua ini kan? tetapi kenapa tidak dari awal kau berusaha menghentikannya?!" timpal Xiao menatap tajam kepada James.
"Aku memang sudah berusaha dari awal. Kabar perkumpulan rahasia yang aku kirimkan kepada kalian, adalah bentuk usahaku. Tetapi aku membatalkannya karena sebuah alasan," sahut James seraya perlahan menundukkan kepala.
"Alasan apa?" tanya Chan penasaran.
"Karena Xiao memiliki devil di sampingnya!" James mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Xiao.
"Maksudmu, kau menyalahkanku?" Xiao tidak terima. Karena merasa dirinya disalahkan atas apa yang telah terjadi.
"Aku tidak bisa membantahnya, tetapi yang pasti sekarang aku sudah mempercayaimu!"
Xiao yang mendengar lantas memutar bola mata malas dan bertanya, "Mempercayaiku untuk apa?"
"Menghancurkan raja devil, kau sudah tahukan mengenai hal ini?"
__ADS_1
"Aku tahu, tetapi bukankah aku harus menemukan senjata Jonas terlebih dahulu?" Xiao mencoba membuang rasa kesalnya jauh-jauh. Agar dapat berinteraksi dengan lancar dengan James.
"Iya, karena itulah aku membawa kalian ke tempatku!" balas James yakin. Xiao pun terdiam dan mendenguskan nafasnya melalui mulut. Berusaha menenangkan diri dengan cara yang sederhana.