
Setiap orang bisa berubah, jika sudah memiliki tekad dalam dirinya.
***
Xiao tengah memegang sebuah samurai berlumuran darah. Bahkan bajunya sudah dipenuhi dengan bercak berwarna merah dan berbau amis. Nafasnya tersengal-sengal akibat merasa kelelahan. Dia sudah kewalahan membunuh.
Terlihat beberapa jasad manusia yang terkapar penuh darah disekeliling Xiao berdiri sekarang. Dari jauh, Xiao dapat menyaksikan seorang lelaki berjalan mendekat. Lelaki tersebut memiliki kumis dan janggut.
"Hai anak muda!" sapa lelaki itu.
"Siapa kau?!" tanya Xiao dengan dahi berkerut. Dia mengarahkan samurainya ke arah lelaki asing yang sudah berdiri di hadapannya.
"Kau sudah bertindak berlebihan. Cepat cari senjata gaibmu, sebelum raja devil muncul. Kau harus menghancurkan Devgan untuk selamanya. Jika tidak, kau hanya akan menjadi penghancur!" ucap sang lelaki misterius. Suaranya terdengar berdengung.
Cahaya menyilaukan reflek membuat mata Xiao terpejam. Kalimat akhir yang diucapkan sang lelaki asing terus menggema di telinganya.
...'Kau hanya akan menjadi penghancur.'...
...'Kau hanya akan menjadi penghancur.'...
...'Kau hanya akan menjadi penghancur.'...
Kalimat yang terus menghantui tersebut mengharuskan Xiao terpaksa melepaskan samurainya, dan menutup telinganya rapat-rapat. Tidak lama kemudian, Xiao pun terbangun dari tidurnya. Dia langsung merasa ngos-ngosan, dadanya terasa begitu sesak.
"Kau bermimpi buruk?" tanya Devgan.
"Entahlah." Xiao menjawab singkat. Setelah terbangun, Xiao tidak berniat tidur kembali. Dia malah mengambil laptopnya.
"Tidur siang itu memang terkadang tidak begitu baik!" ujar Devgan berpendapat.
Semenjak memiliki akun dark web, Xiao mulai sering menghabiskan waktunya di dalam kamar bersama laptopnya. Sama halnya dengan sekarang, lelaki itu tengah asyik menantengi layar komputernya. Dia mencoba melupakan mimpi buruknya dengan menjelajahi laman berbahaya tersebut.
Ceklek!
Pintu perlahan terbuka, Mei melangkahkan kakinya masuk dan mendekati Xiao.
"Apa yang sedang kau--"
Mendengar kedatangan Mei, Xiao bergegas keluar dari laman dark web. Dia langsung menoleh ke belakang untuk menatap sang gadis berponi.
"Mei!" sapa Xiao seraya tersenyum enggan.
__ADS_1
"Apa kau lupa? dengan janjimu yang akan membawaku ikut denganmu ke sekolah? aku sudah bosan tau!" ujar Mei sambil melayangkan pantatnya untuk duduk di atas kasur. Tangannya mengelus pelan salah satu paha Xiao.
"Benar! aku bahkan hampir lupa kalau kau masih ada di sini," balas Xiao seraya melayangkan tatapan tajam.
"Lalu?" Mei mendekatkan wajahnya.
"Bagaimana kalau kau berlatih saja bersama Fa. Agar keberadaanmu di sini lebih berguna!" Xiao memegangi dagu Mei geram.
"Xi-xiao kau menyakitiku!" Mei berusaha melepaskan cengkaraman tangan Xiao dari dagunya. Namun ia sama sekali tak mampu.
"Bagaimana? kau setuju atau tidak? jika tidak aku akan--"
"Baiklah! aku mau!" Mei langsung menyambar ucapan Xiao, sebelum lelaki itu mengatakan hal yang tidak-tidak. Alhasil Xiao pun langsung melepaskan dagu Mei begitu saja.
"Apa kau tidak tertarik menghabiskan waktu denganku?" Mei sekarang menggandeng lengan Xiao manja. Seolah melupakan tindakan kasar yang Xiao lakukan tadi kepadanya.
"Xiao, aku punya ide. Bagaimana kalau kita buat dia berdarah! bukankah akhir-akhir ini kau sangat menyukai cairan berwarna merah itu?" goda Devgan sambil mengukir seringai diwajahnya.
Xiao yang mendengarkan usulan Devgan, langsung menghempaskan tubuh Mei ke atas kasur. Gadis tersebut tampak kegirangan. Apalagi kala melihat Xiao sudah memposisikan diri di atas badannya. Mei mulai menggigit bibir bawahnya, padahal lelaki di hadapannya belum melakukan apapun.
Xiao mengambil sesuatu dari saku celananya. Benda yang selalu tak pernah lupa untuk dibawanya. Yaitu sebuah pisau lipat.
Mei yang tadinya menyangka akan mendapatkan perlakuan menggairahkan sontak membelalakkan matanya. Sebab Xiao mengarahkan pisau ke arahnya.
"Hahaha! tenanglah Mei, aku tidak akan mengambil nyawamu. Tetapi hanya membuatmu sedikit berdarah!" ucap Xiao setelah puas tergelak. Sebelah tangannya segera memekap mulut Mei. Sedangkan tangan yang satunya tengah menggores leher Mei dengan pisau. Perlahan darah mulai meleleh dari luka yang sudah terukir di leher Mei. Xiao lagi-lagi terpaku menatap cairan merah kental tersebut.
...'Kau hanya akan menjadi penghancur.'...
Tanpa diduga Xiao mulai mengingat mimpi buruk yang baru saja di alaminya. Kalimat yang membuatnya khawatir terus terngiang-ngiang di indera pendengarannya. Tangannya yang sedang membekap pun melemah, dan dapat dilepaskan Mei dengan mudah.
Mei segera menyentuh lehernya yang terluka. Raut wajahnya sudah terlihat masam karena ingin menangis. Tetapi batal, sebab luka yang dia alami tidak sesuai dugaannya. Hanya sebuah goresan kecil.
"Setidaknya kau tidak separah Shuwan!" ungkap Mei. Dia menarik kerah baju Xiao, namun ditolak mentah-mentah. Xiao menjauh dari Mei, dan duduk di pinggir kasur. Dia terlihat meremas rambutnya sendiri seakan frustasi.
"Kau masih tidak mau?! apa darah itu masih belum cukup membuatmu berminat menyentuhku? aku bersedia jika kau mau melukaiku lebih parah dari ini!" tutur Mei.
"Dia benar! kau kenapa Xiao?!" Devgan ikut melakukan protes.
"Pergilah!" suruh Xiao sembari menundukkan kepala dan memejamkan mata. Dia berusaha menenangkan diri.
"Tapi--"
__ADS_1
"PERGI!!!" tegas Xiao yang melotot sangar ke arah Mei. Hingga membuat gadis yang dipelototinya terperanjat ketakutan. Dia pun segera berlari keluar kamar.
"Kau kenapa membuang kesempatan emas begitu saja hah?! jangan bilang kau tidak mau melakukannya karena Chan!" timpal Devgan sambil menunjukkan ekspresi kesal.
"Mimpi buruk tadi sangat menggangguku!" jawab Xiao seraya mengacak-acak rambutnya sendiri.
"Itu hanya mimpi. Kenapa kau sangat menganggapnya serius?"
"Karena mimpinya terasa sangat nyata." Xiao berterus terang.
"Sudahlah Xiao!" Devgan mencoba menenangkan.
Ketika tidur di malam hari, Xiao kembali mengalami mimpi yang sama. Bahkan saat dia mencoba kembali tertidur, mimpi buruk tersebut datang lagi. Akhirnya malam itu tidur Xiao menjadi tidak karuan.
"Memang mimpinya tentang apa? bolehkan aku tahu?" tanya Devgan.
"Tidak." Xiao menyahut tegas. Dia sedang mengamati kantong matanya di pantulan cermin.
"Lihat! gara-gara kurang tidur wajah tampanmu sedikit terganggu," ejek Devgan, yang sama sekali tidak diacuhkan Xiao.
Setelahnya Xiao pun segera berangkat ke sekolah. Di saat baru turun dari mobilnya, Xiao tidak sengaja berpapasan dengan Chan. Gadis tersebut tiba-tiba menyeret Xiao untuk ikut bersamanya. Tepatnya ke tempat yang jauh dari keramaian.
"Kau kenapa Chan?" tanya Xiao sambil terkekeh senang. Dia merasa percaya diri kalau rencananya untuk membuat Chan cemburu telah berhasil.
"Xiao, aku ingin kau jujur mengenai alasanmu bersekolah ke sini?" tanya Chan.
"Tentu saja untuk belajar. Ibuku memaksaku untuk sekolah lagi." Xiao menjawab sambil memutar bola mata malas.
"Bukan itu yang aku tanyakan. Tetapi kenapa harus sekolah ini?!" Chan mendekatkan wajahnya agar tatapan tajamnya mampu mengancam Xiao.
"Benarkah Chan? itukah yang mau kau dengarkan dari mulutku. Kalimat seperti, 'aku bersekolah di sini karena kau." begitukah?" Xiao mempertemukan jidatnya dengan jidat Chan. Sekarang jarak di antara keduanya hanya beberapa senti.
Chan yang merasa kesal dengan kalimat ejekan tersebut sontak mendorong Xiao menjauh. "Kau kenapa selalu berbelit-belit!"
"Justru kau yang begitu! bukankah kemarin-kemarin aku sudah melakukan tindakan langsung dengan cara mengigit bibirmu yang manis itu!" Xiao memegangi bibir bawah Chan dengan kasar. Namun Chan dengan sigap memukul tangan nakal itu.
"Bilang saja kau cemburu dengan hubunganku dan Olive kan?!" sambung Xiao percaya diri.
"Xiao aku sudah lelah!" tanpa sengaja Chan mulai mengeluarkan cairan bening dari matanya. Dia tidak bisa membendung rasa sesak yang sudah menghantam indera penglihatannya.
Xiao langsung terdiam seribu bahasa. Dia merasa iba kala menyaksikan Chan menangis. Pada akhirnya ia membawa gadis tersebut masuk ke dalam dekapannya. Sekarang entah kenapa Chan merasa sangat nyaman ketika Xiao memeluknya dengan lembut.
__ADS_1
"Xiao kenapa kau memperlakukannya dengan lembut!" kritik Devgan sambil menggertakkan gigi.