
Terkadang kesalahan bukanlah sebuah kebetulan.
***
Di sebuah pulau kecil nan sunyi, terdapat sebuah bangunan yang tampak seperti rumah tua. Terdapat lelaki misterius sedang berdiri di depannya. Dia menatap ke arah cakrawala yang terlihat menggelap dengan awan hitam. Tidak jauh dari tempat lelaki itu, ada hamparan lautan yang luas.
Seorang wanita yang baru saja datang dengan perahunya segera berderap menuju rumah tua. Penglihatannya lantas disambut oleh penampakan dari seorang lelaki berkumis yang tengah termenung.
"Hai James! apa yang sedang kau lakukan? menyesali keputusanmu?" sapa si wanita sembari tersenyum tipis.
James hanya terdiam dengan senyuman ambigunya.
"Kau harusnya menemui anak lelaki itu. Dia juga sedang di masa mencari jati diri." wanita yang sering di sapa Eva tersebut memposisikan dirinya berdiri di sebelah James.
"Aku tidak pernah menyesali keputusanku!" ucap James dengan keadaan kedua tangan di belakang badannya.
"Aku tidak menyangka Jonas memberikan bakatnya kepada anak lelaki psikopat seperti itu," balas Eva dengan hela nafas panjangnya.
"Aku paham, Jonas sedang dalam keadaan terdesak. Dia tidak punya pilihan lain." James melakukan pembelaan terhadap Jonas.
"Ini gila James, jika salah satu indigo menjadi bagian dari para penghancur maka kita tidak bisa berbuat apa-apa." Eva berpendapat.
"Karena itulah aku membatalkan perkumpulan rahasia, aku tidak akan membiarkan anak itu menyakiti orang-orang kita."
"Bakatmu bisa melihat masa depan, seharusnya dari awal kau tidak perlu mendatangi beberapa orang melalui mimpi, hanya karena ingin memberitahukan tentang perkumpulan rahasia."
"Aku memang bisa melihat masa depan Eve, tetapi bukan berarti aku bisa mengendalikannya!" James melayangkan tatapan serius. Pembicaraan keduanya berakhir, kala James berlalu pergi meninggalkan Eva.
...__________________________...
...***...
"Aaaaarkkhhh!!!" Shuwan hanya bisa mengerang kesakitan kala Mei menekan bagian kakinya yang sakit.
"Mei, sudahlah!" Xiao mencoba menghentikan tindakan Mei. Dia terlihat memegangi kedua bahu Mei dengan lembut.
__ADS_1
Mei lantas mengalihkan atensinya kepada Xiao. Gadis itu kembali terpaku karena dapat menyaksikan wajah tampan Xiao dari dekat. Xiao berusaha memanfaatkan kesempatan tersebut dan berkata, "Mei, bisakah kau memberitahu Feng ada dimana? aku akan sangat berterima kasih jika kau mau bekerja sama denganku."
"Tentu saja aku mau!" sahut Mei seraya tersenyum lebar, lalu berusaha memikirkan lelaki yang dimaksud oleh Xiao. "Hmm... Feng ya? ayo ikut aku!" sambungnya sambil memimpin jalan masuk ke markas.
"Ikat dia dan masukkan ke dalam mobil! dua orang harus menjaganya!" titah Xiao kepada dua orang bawahannya. Dia melakukan penjagaan ketat terhadap Shuwan.
"Bri! kau juga sebaiknya di sini saja!" sekarang Xiao mengubah lawan bicara. Brian pun merespon perintah Xiao dengan anggukan kepala.
Sekarang Xiao dan Yenn memasuki markas klan Tao. Keadaan tempat tersebut tidak jauh berbeda dengan markas milik klan Wong. Hanya saja tempatnya lebih besar. Tidak lama kemudian, Mei terlihat berhenti di depan pintu sebuah ruangan. Dia segera membuka pintunya dengan sebuah kunci.
"Kenai, teman besarmu itu memang masih hidup, tetapi dia sepertinya sedang sekarat karena disiksa oleh Shuwan." Mei berterus terang.
"Kenapa dia memanggilmu Kenai?" Yenn berbisik ke telinga Xiao.
"Itu nama samaranku saat membodohi Shuwan!" sahut Xiao.
Klik! Ceklek!
Pintu perlahan terbuka. Tampaklah Feng sedang terikat lemah di sebuah kursi. Sekujur badannya sudah dipenuhi luka dan darah. Xiao segera bergegas melepaskan tali yang menjerat tubuh lelaki besar itu. Selanjutnya mereka pun membawa Feng keluar dari markas Tao.
"Xiao! kau pulang lebih dahulu saja. Ibu akan mengurus markas ini!" pinta Yenn kepada sang putra.
"Serahkan semuanya pada Ibu, lagi pula kau belum beristirahat sama sekali setelah kepulanganmu dari Jepang!" balas Yenn seraya menyalakan sebatang rokok dengan pemantiknya.
"Baiklah kalau begitu!" Xiao mencoba menggerakkan kaki untuk berjalan menuju mobil. Namun panggilan seorang gadis berhasil mencegahnya.
"Kenai! terima kasih. Tetapi kau tidak akan seperti Shuwan kan, yang tidak pernah membiarkanku pulang ke rumah?" tanya Zhu yang menunjukkan raut wajah sendunya.
"Pulanglah!" suruh Xiao.
"Benarkah? tidak apa-apa kan?"
"Tenang saja, toh aku tidak memerlukan gadis lemah sepertimu untuk membantuku," sarkas Xiao dengan ekspresi datarnya.
"Kemana Jia? dia tidak bersamamu?" Zhu menanyakan perihal Chan. Sebab terakhir kali dia melihat gadis tersebut pergi bersama Xiao.
__ADS_1
"Maksudmu Chan?" Xiao mengerutkan dahi.
"Oh jadi nama aslinya Chan." Zhu memanggut manggutkan kepalanya.
"Dia tidak bersamaku untuk saat ini." Xiao terdiam dalam sesaat karena membayangkan wajah cantik Chan. "Ya sudah, selamat tinggal!" sambungnya, dia hendak masuk ke dalam mobil. Namun lagi-lagi niatnya kembali dicegat oleh seorang gadis lainnya. Dialah Mei yang sedang mengatur deru nafasnya akibat berlari mengejar Xiao.
"Kenai! boleh aku ikut bersamamu?" Mei memegangi lengan Xiao. Dia menatap dengan binar penuh harap. Alhasil Xiao pun menoleh dan membalas tatapannya.
"Kau tidak mau kembali bersama keluargamu?" Xiao berbalik tanya.
Mei langsung menggeleng. "Tidak! mereka tidak pernah peduli kepadaku!" ujarnya.
"Lalu, apa yang kau harapkan jika ikut denganku?"
"Tidak ada, aku hanya ingin berada di sampingmu. Dan kau bisa menyuruhku melakukan apapun." Mei menuturkan.
"Kau yakin?" Xiao mendekatkan wajahnya. Hingga membuat mata Mei membulat sempurna, jantungnya semakin berdebar tidak karuan.
"Sebab pernah ada seorang gadis yang menyesal karena terus berada di sampingku." Xiao melanjutkan.
"Te-te-tentu saja aku yakin!" balas Mei dengan terbata-bata karena merasakan sensasi gugupnya.
"Kalau begitu, masuklah ke dalam mobil!" perintah Xiao yang masuk ke dalam mobil lebih dahulu. Mei pun langsung menuruti suruhan Xiao.
Ketika berada di dalam mobil, Xiao terlihat memejamkan mata untuk mencoba tidur. Jujur saja, matanya benar-benar butuh istirahat. Suara mesin mobil perlahan hanya terdengar sayup-sayup di telinganya.
"Xiao, kenapa kau mau menerima gadis itu? apa kau berniat membunuhnya?" suara berat Devgan berhasil mengganggu waktu tidur Xiao.
"Bisakah kau berhenti!" bentak Xiao sembari menegakkan badannya. Dia begitu dibuat geram dengan celotehan Devgan yang tak pernah berhenti.
"Maaf! aku terlalu terbawa suasana!" Mei yang tengah duduk di sebelah Xiao tiba-tiba bersuara, karena dia mengira Xiao marah kepadanya. Hal itu disebabkan sedari tadi Mei tak henti memandangi Xiao yang sedang terlelap.
"Apa?" Xiao mengernyitkan kening.
"Itu karena aku sudah terlalu lama tidak melihatmu, jadi aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menatapmu." Mei terus saja melakukan penjelasan, yang sebenarnya malah membuatnya mempermalukan diri sendiri.
__ADS_1
"Pffftt! hahaha!" Brian yang sedang duduk di kursi depan tak kuasa menahan tawa. Sebab ia tahu betul kalau Xiao tadi marah kepada Devgan.
Xiao sekarang hanya bisa mendengus kasar. Dia sudah terlalu lelah merespon kelakuan Mei yang salah sangka. Apalagi harus meladeni sindiran Brian, yang seringkali malah menimbulkan perdebatan.