
Tidak ada yang mudah, meski dilakukan secara perlahan.
***
Xiao melangkahkan kaki mendekati senjata yang dilihatnya. Dia perlahan menjongkokkan badan, dan mengulurkan tangan untuk mengambil benda itu.
Devgan yang melihat sontak melangkah mundur. Apalagi kala menyaksikan adanya binar kekaguman yang ditunjukkan Xiao terhadap pedangnya.
Perlahan Xiao menoleh ke arah Devgan, lalu berseringai. Devgan yang ketakutan lantas bertekuk lutut ketakutan. "Jangan bunuh aku Xiao, berilah aku kesempatan..." mohonnya dengan suara bergetar, tidak seperti nada bicaranya yang biasa.
"Tenanglah Devgan. Aku masih membutuhkanmu," kata Xiao, kemudian mengambil sarung pedang yang terpisah agak jauh. Dia segera menutup pedang gaib dengan sarung tersebut.
Selanjutnya Xiao, Chan dan Theo hanya perlu kembali ke dunia nyata. Xiao harus menemukan Spiderblood, agar bisa secepatnya menyelesaikan masalah yang melanda. Tetapi yang terpenting sekarang adalah menemukan jalan keluar dari dimensi lain.
"Ikuti aku!" ujar Theo, yang memimpin jalan lebih dahulu.
Xiao memegangi erat jari-jemari Chan. Dia mencemaskan gadis itu, karena terlihat sudah kelelahan. "Kau masih sanggup kan?" tanya-nya dengan tatapan serius. Chan hanya menganggukkan kepala sambil memberikan senyuman tipis, memastikan kalau dirinya memang baik-baik saja.
"Kita mungkin akan keluar dari dunia ini, tetapi belum tentu kita akan kembali ke rumah James." Theo memberitahu seraya terus menggerakkan kakinya maju.
"Kami tahu. Itu lebih bagus malah, karena tujuan kita memang bukan kembali pulang. Tetapi menemui Spiderblood!" sahut Xiao yakin.
__ADS_1
Tidak lama kemudian mereka menemukan sebuah batu dikelilingi cahaya, pertanda kalau itulah jalan keluarnya. Tanpa pikir panjang ketiganya pun bergegas menyentuh batu tersebut. Mereka seketika telah berada di dunia nyata.
Theo langsung mengedarkan pandangannya. Dia menyaksikan dirinya, Xiao dan Chan sudah berada di tempat yang tampak seperti kota. Parahnya keadaan kota tersebut terlihat porak poranda dengan pemandangan banyaknya jasad manusia tergeletak dimana-mana. Jelas sudah kalau komplotan Spiderblood juga sudah mencapai tempat itu.
"Aku rasa kita ada di kota Kopenhegen. Ibu kota Denmark!" kata Theo memberitahu, setelah melihat ada banner bertuliskan nama kota.
"Kita sebaiknya sembunyi," saran Chan sambil berjalan lebih dahulu ke salah satu bangunan yang menarik perhatiannya. Yaitu sebuah toko furniture dengan pencahayaan redup. Chan langsung merebahkan diri pada sofa empuk yang ada di sana.
"Sepertinya kau butuh istirahat, bukannya sembunyi!" tukas Xiao, berkacak pinggang. Dia menggeleng heran kala melihat Chan sudah memejamkan mata rapat-rapat.
"Chan benar, lebih baik kita beristirahat dahulu." Theo duduk di sofa yang ada di samping Chan. Dia mencoba menenangkan diri untuk sejenak. Sedangkan Xiao, melangkahkan kakinya kembali keluar. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri. Dia akhirnya berbalik lagi, karena teringat dengan buku kuno yang ditemukannya ketika di dimensi lain.
Xiao mengambil buku kuno dari ransel Chan. Dia membaca dan memahaminya dengan serius. Ternyata cara mengalahkah para devil hanya perlu memberikan sentuhan pedang ke tubuh mereka. Akan tetapi, berbeda dengan cara memusnahkan raja devil. Yaitu dengan cara menggoreskan pedang gaib ke sekujur badannya.
"Aku rasa begitu..." jawab Xiao malas. Pandangannya di edarkan ke sekitar tempatnya berada. "Kita sekarang sudah bisa memakai internetkan?" Xiao berjalan menuju ruangan karyawan yang kebetulan ada di toko tersebut.
"Sepertinya bisa." Theo mengiringi Xiao dari belakang. Keduanya telah memasuki ruangan dimana terdapat banyak komputer berada.
Xiao duduk di depan salah satu komputer. Kemudian bergegas memanfaatkan internet. Untung saja, koneksinya masih dapat tersambung dengan baik. Dia berusaha mencari keberadaan Spiderblood.
Setelah bertelusur, akhirnya Xiao menemukan sosok yang dicarinya. Namun dia agak terkejut dengan keberadaan Spiderblood sekarang. Lelaki bertopeng itu sedang ada di negaranya sendiri, yaitu Jepang. Xiao mendengus kasar ketika mengetahui kenyataan tersebut.
__ADS_1
"Astaga, lokasinya sangat jauh. Kita bahkan kesulitan mengemudikan pesawat untuk sampai ke sini," komentar Theo yang sedari tadi berdiri di belakang Xiao. Ikut mengamati layar komputer yang sama.
"Itulah masalahnya." Xiao memegangi jidatnya. Dia berusaha berpikir keras untuk mencari jalan keluar. Apalagi keadaan Chan sedang hamil sekarang, dia tidak bisa mengambil resiko dengan mudah.
"Bagaimana kalau kita memeriksa bandara terlebih dahulu," usul Xiao sambil bangkit dari tempat duduk. Penglihatannya langsung menangkap kehadiran Chan yang sudah berdiri di depan pintu. Nampaknya gadis itu sudah mendengar semuanya.
"Jadi kita harus pergi lagi?" tanya Chan dengan keadaan mata yang membulat.
"Kau tidak perlu. Lebih baik kau dan Theo kembali ke tempat James!" sahut Xiao tak acuh.
"Tidak! enak saja. Siapa bilang aku tidak mau ikut!" sergah Chan menegakkan badannya penuh keyakinan.
"Xiao benar Chan, kondisimu sedang--"
"Terserah kalian mau bicara apa. Tapi apapun yang terjadi aku tetap ikut. Jika kalian berdua nekat mengantarku ke tempat James, maka aku juga tidak akan segan-segan mengejar kalian lagi!" Chan sengaja memotong ucapan Theo. Dahinya terlihat mengukir kerutan. Dia bersikeras dengan tekadnya.
"Kau sangat keras kepala!" cibir Xiao, lalu beranjak pergi untuk mengambil tasnya.
Xiao, Chan dan Theo kembali melangkah menyusuri jalanan. Mereka menyempatkan diri terlebih dahulu untuk mampir ke sebuah mini market. Kemudian mengisi perut mereka di sana. Selanjutnya ketiganya segera menggunakan mobil yang bisa dipakai untuk berkendara. Mereka melanjutkan perjalanan menuju bandara.
Dari kejauhan, Theo mampu menyaksikan banyak orang-orang bertopeng. Dia otomatis memutar mobil untuk berbalik. Sebab sekumpulan orang bertopeng tersebut berjumlah lumayan banyak.
__ADS_1
"Kenapa kau berbalik? bukankah aku sudah punya senjata sekarang? aku bisa mengalahkan mereka!" ujar Xiao yakin.
"Kau benar..." Theo mengurungkan niatnya untuk kabur. Dia menjalankan mobilnya lagi ke arah orang-orang bertopeng. Sedangkan Xiao sudah siap mengeluarkan pedang gaibnya. Dia sudah tidak sabar mempraktekkan percobaan pertamanya.