
Ketenangan adalah kebahagiaan.
***
9 bulan kemudian....
"Ketua pemberontakan yang bernama Spiderblood telah terbunuh. Para bawahannya pun berhasil dikalahkan. Bahkan sebagian dari mereka ada yang menyerah. Semua ini karena usaha orang-orang bertopeng biru. Mereka telah berjasa sangat banyak membantu semua negara lepas dari ancaman psikopat. Kabarnya orang-orang bertopeng biru berasal dari kalangan tentara dan polisi, dan mereka..."
Kedatangan Hanami, mengalihkan atensi Chan dari televisi. Ucapan reporter berita sudah tidak didengarnya lagi.
"Ini untukmu. Teh hijau bisa sedikit menenangkanmu." Hanami menyodorkan segelas teh hijau untuk Chan.
"Terima kasih," balas Chan pelan. Mengukir senyuman tipi diwajahnya.
"Kau yakin, ingin tetap menyembunyikan identitasmu?" tanya Hanami. Melakukan tatapan menyelidik.
Chan mengangguk yakin. "Iya, sekarang aku hanya ingin hidup dengan tenang," tuturnya. Dia sekarang tengah duduk di hospital bed. Chan baru saja melahirkan seorang putra yang masih belum diberinya nama. Raut gadis itu tampak sangat sendu, karena mengingat tentang Xiao.
Ceklek!
Seorang lelaki dengan rambut yang dipotong sepunuk, mundul dari balik pintu. Dialah Theo, yang terlihat menunjukkan kepanikan diwajahnya. "Chan, Xiao telah sadar!" ungkapnya, yang sontak membuat Chan bergegas turun dari hospital bed-nya. Dia ingin lekas-lekas menemui ayah dari putranya. Namun gadis itu langsung kesakitan akibat luka bekas melahirkan yang belum pulih. Alhasil Hanami berinisiatif menyuruh Chan duduk di kursi roda.
Sementara itu, sebuah ruang ICU, Xiao telah membuka mata. Setelah koma dalam beberapa bulan, dia akhirnya tersadar. Sosok Devgan langsung menyambutnya.
"Xiao!" Devgan menampakkan ekspresi datar. Menatap dalam ke arah manik hitam Xiao. Matanya terlihat bergetar.
"Devgan..." lirih Xiao pelan. Dia perlahan merubah posisi menjadi duduk. Jujur saja, badannya terasa sangat kaku, akibat terlalu lama tidak digerakkan.
Bruk!
Pintu tiba-tiba terbuka. Muncul Chan dengan kursi rodanya. Gadis tersebut segera membawa Xiao masuk ke dalam pelukannya. Bulir-bulir air mata penuh haru berjatuhan dipipinya. Dia sangat senang bisa melihat Xiao kembali sadar.
Satu minggu berlalu. Xiao dan Chan memutuskan pergi ke pulau James berada. Mereka memilih ingin menjalani kehidupan yang tenang di sana.
__ADS_1
Sebelum menaiki pesawat, Xiao pergi ke tempat sepi karena ingin berbicara serius dengan Theo. Alasannya karena, Xiao masih belum sempat memusnahkan devil yang telah lahir di samping Theo.
"Ada apa?" tanya Theo dengan dahi yang berkerut heran.
"Aku ingin membunuh devilmu," ujar Xiao.
"Hah? aku punya devil?" respon Theo dengan mata yang membelalak.
"Tentu saja. Bukankah kau membunuh banyak orang malam itu?"
"Ah benar." Theo menepuk jidatnya. Kemudian mempersilahkan Xiao untuk memusnahkan devilnya.
Devgan yang sedari tadi berdiri di belakang Xiao membisu. Dia tahu gilirannya sebentar lagi akan tiba.
"Pergilah lebih dahulu, Theo!" saran Xiao, setelah berhasil memusnahkan devil Theo.
"Baiklah. Terima kasih!" sahut Theo. Kemudian beranjak pergi meninggalkan Xiao.
"Ya." Xiao menjawab singkat sambil menundukkan kepala. Entah kenapa semuanya terasa berat untuknya. Meskipun Devgan terkadang jahat kepadanya, akan tetapi Xiao tahu kalau devilnya itu juga telah banyak membantunya.
Xiao menghembuskan nafas dari mulut. Dia perlahan mengangkat pedang gaibnya dan mengarahkannya kepada Devgan.
Devgan hanya memekik pelan. Sedangkan Xiao memejamkan matanya rapat-rapat. Dia melakukannya agar belas kasihnya terhadap Devgan tidak menghantuinya. Lama-kelamaan, suara Devgan tidak terdengar lagi. Pertanda devil tersebut telah musnah sepenuhnya.
Xiao menatap kosong. Hatinya terasa sesak, energinya bahkan terasa menurun karena Devgan sudah menghilang sepenuhnya.
"Xiao!" panggilan Chan reflek membuat Xiao menoleh.
"Pesawat Theo sebentar lagi berangkat. Kita harus mengucapkan salam perpisahan kepadanya!" ucap Chan memberitahu. Dalam gendongannya terdapat bayi kecil yang tampan. Xiao lantas melangkahkan kaki dan segera menemui Theo.
"Terima kasih banyak untuk segalanya, Theo! tanpamu, aku tidak akan bisa menemukan pedang gaib," ungkap Xiao sambil menyalami tangan Theo.
"Tidak. Kita melakukannya bersama-sama!" balas Theo tersenyum lebar. Lalu menepuk pundak Xiao. Setelah mengucap salam perpisahan dengan Chan, dia pun benar-benar pergi. Kembali pulang ke negara asalnya.
__ADS_1
...༻❀༺...
Dua tahun kemudian...
Xiao dan Chan telah meresmikan hubungan dengan sebuah pernikahan. Mereka tinggal di pulau bersama dengan James sendiri dan juga Eva. Sedangkan Al memilih pergi jauh untuk melanjutkan kehidupannya di tempat lain. Namun spesial untuk hari ini, Al sengaja kembali ke pulau. Karena ada peringatan kematian untuk Brian, Fa, dan Feng. Kuburan ketiganya berdampingan di bawah sebuah pohon nan rindang.
Al berdiri sendirian memandangi kuburan Brian. Memorinya mencoba mengingat segala kenangan yang pernah dilaluinya bersama lelaki tersebut. Tetapi suara tangisan anak kecil membuyarkan lamunannya. Mengharuskan Al memeriksa keadaan anak yang tidak lain adalah putra dari Xiao dan Chan.
Anak tersebut terlihat baru saja terbangun dari tidurnya. Wajahnya meringis membentuk ekspresi tangisan. Dia terduduk sendirian di atas kasur bayi yang dikelilingi dengan penghalang berbentuk pagar.
"Astaga, Haocun... kenapa kau sendirian? ibu dan ayahmu mana?" ujar Al berusaha menenangkan. Dia lantas membawa Haocon ke dalam gendongannya.
Di sisi lain tepatnya pada sebuah hamparan rumput dengan ratusan bunga cosmos. Xiao dan Chan tengah asyik berciuman. Mulut mereka saling bertautan erat, dengan keadaan kedua tangan yang memeluk erat.
Desiran angin yang berhembus, membuat Chan perlahan melepaskan tautan bibirnya. Kemudian meletakkan kepalanya di pundak Xiao.
"Chan, aku rasa sudah saatnya kita pergi dari sini..." ungkap Xiao lirih.
Chan hanya tersenyum, sambil memejamkan matanya. Dia tengah merasakan ketenangan yang membuatnya bahagia.
Ilustrasi Xiao dan Chan sekarang :
...~TAMAT~...
..._____________________...
Hai guys, akhirnya setelah lebih dari seratus bab novel ini tamat. Pokoknya aku ucapkan terima kasih kepada semua pembaca setia cerita Xiao dan Chan ini. Baik itu pembaca yang nampak dan gaib 😆✌️. lalu juga untuk pembaca yang sudah ngevote, like dan komentar. Lope lope buat kalian 😘
Maaf kalau endingnya tidak begitu memuaskan. Karena novel ini ceritanya jauh dari sempurna. Terus maafkan juga jika banyak typo bertebaran dalam setiap babnya. Kemudian banyaknya plot hole yang tidak terjawab.
Ya udah itu aja, pokoknya sekali lagi aku ungkapkan terima kasih banyak kepada kalian 😘
__ADS_1