Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 70 - Berganti Pakaian


__ADS_3

Rehat sejenak, untuk menenangkan diri.


***


"Apa kau diberitahu oleh seorang lelaki asing di dalam mimpi itu?" Al memastikan.


"Iya, dia sepertinya berasal dari negara eropa atau sejenisnya. Dia memiliki kumis yang lumayan tebal!" Chan menuturkan.


"Bagaimana bisa sama begitu ya?" Al bertanya-tanya sambil memegangi dagunya sendiri dengan sebelah tangan.


"Entahlah, tetapi mimpi itu sedikit memberikanku harapan." Chan mengungkapkan.


"Aku tahu, itu karena kau hidup sendirian. Makanya kau tertarik melakukan perjalanan yang mungkin saja dapat merubah hidupmu menjadi lebih baik." Al menyimpulkan.


"Begitulah." Chan menjawab singkat.


"Mimpinya selalu datang berulang kali ya, tetapi setelah aku pergi dari rumah dan melakukan pencarian barulah mimpi itu berhenti."


"Benar sekali! aku rasa lelaki yang ada di dalam mimpi kita memang menyuruh kita mencari tempat perkumpulan rahasia!" ujar Chan sembari terus mengedarkan pandangan ke sekitar. Berharap dapat menemukan rumah sewaan yang menarik perhatiannya.


"Tetapi apa gunanya melakukan pencarian, jika sekarang mereka tiba-tiba menghilang. Bahkan tidak memberikan petunjuk lagi mengenai keberadaannya!" Al mengerutkan dahi, karena merasa kesal. Dia menendang kaleng soda yang kebetulan tergeletak di tengah jalan.


Klontang!


"Iya, itu memang aneh! seakan-akan mereka berubah pikiran!" balas Chan seraya mendengus kasar.


"Apa semuanya karena Xiao? apa mereka mengetahui dia sudah mempunyai devil di sampingnya?" pikiran Al kembali menerka-nerka.


Chan menatap malas ke arah Al dan berkata, "Kenapa kau selalu menghubungkan semuanya dengan cecunguk itu! berhentilah menyebut namanya, aku jadi membayangkan wajahnya lagi!"


"Astaga Chan, baru juga namanya yang kusebut. Coba kalau orangnya yang muncul, kau pasti tambah terbawa perasaan!" goda Al dengan senyuman yang mengejek.


"Kalau orangnya yang muncul, aku akan. . ." Chan mengangkat kepalan tinjunya ke arah Al. Seakan memberitahukan tentang apa yang akan dilakukannya jika bertemu dengan Xiao.


"Beneran ya? awas kalau malah ciuman! aku yang akan menonjokmu!" kali ini Al yang mengangkat kepalan tinjunya ke arah Chan.


"Apa-apaan kau!" Chan menggertakkan gigi kesal. "Ya sudah, ayo kita fokus cari rumah saja!" tambahnya yang sudah tidak ingin lagi membicarakan perihal Xiao.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong uangmu masih banyak?" Al menyamakan langkahnya dengan Chan.


"Yang jelas cukuplah untuk membayar uang muka sewa rumah, dan juga sekolah!"


"Kau harusnya berterima kasih kepada Xiao, karena dia meninggalkan semua uangnya kepadamu."


"Al! aku juga berhak memiliki uang itu, karena aku ikut andil mencurinya dari Shuwan!" balas Chan dengan kening yang mengernyit.


"Kau harusnya berterima kasih juga kepadaku, karena aku yang membawakannya saat kita kabur dari rumah sakit!" Al menyilangkan tangan di dada, sambil menatap Chan dengan sudut matanya.


Chan hanya merespon dengan helaan nafasnya. Dia tidak menyangka Al ternyata adalah gadis yang cerewet. "Al, meskipun uang kita masih banyak. Bukankah kita juga harus mencari pekerjaan terlebih dahulu?" ujarnya yang tanpa sengaja mengalihkan topik pembicaraan.


"Itulah yang mau aku bicarakan dari kemarin."


"Lalu kenapa tidak membicarakannya?"


"Tidak apa-apa! mungkin lupa." Al mengulurkan kedua tangan ke depan tanpa alasan. Chan yang melihat hanya menggeleng maklum.


"Apa kau berniat bekerja paruh waktu di kedai makanan atau minimarket?" Chan mengusulkan. Namun Al langsung menjawab dengan gelengan kepala.


"Tidak. Kita jadi cenayang saja, lebih mudah dan menyenangkan!" ujar Al seraya melakukan pose berkacak pinggang.


"Orang-orang di sini kebanyakan masih percaya takhayul, jadi pasti laku lah!" tutur Al yang terdengar lumayan meyakinkan. Hingga membuat Chan berpikir dan tertarik.


"Oh iya, kau bisa mendapatkan klien juga saat nanti bersekolah. Kau tahu kan, biasanya para remaja itu penasaran. Apalagi di jaman yang lagi ramai dengan internet ini, mereka rela membuat konten sampai ke hutan angker!" sambung Al lagi.


"Lumayan juga idemu. Ya sudah, nanti kita diskusikan lagi! lebih baik kita fokus mencari tempat tinggal dulu sekarang!" ajak Chan. Dia memimpin jalan.


Tidak lama kemudian, Chan dan Al menemukan rumah sewaan yang tepat. Keduanya juga tidak lupa menanyakan kepada sang pemilik rumah sewaan mengenai sekolah terdekat. Sehingga mereka di arahkan ke sekolah yang jaraknya hanya sekitar seratus meter dari rumah mereka.


"Wah, dekat juga sekolahnya!" ungkap Al. Dia dan Chan sekarang sudah berada di depan pintu gerbang sekolah.


"Lumayan, kau tidak ikut masuk ke dalam kan?" tanya Chan. Dia tidak mau Al mengekorinya masuk ke dalam sekolah.


"Masuk dong!" sahut Al, percaya diri.


"Apa-apaan? memangnya kau wali-ku?" Chan merasa bergidik ngeri.

__ADS_1


"Anggap saja begitu!" balas Al, yang dilanjutkan dengan berjalan tenang memasuki lingkungan sekolah.


"Al ternyata bar-bar juga!" gumam Chan pelan, saat Al sudah berjalan agak jauh darinya.


***


Xiao sengaja membeli tas baru untuk menyembunyikan dua kepala utuh yang dibawanya. Sekarang dia mulai merasa aman dengan penampilan bersih dari tas yang berisi bagian tubuh manusia itu.


Tidak lama kemudian, Shuwan muncul dari belakang. Dia terlihat sudah mengenakan pakaian yang dipilihkan Xiao untuknya.


"Kapan kita akan kembali?" tanya Shuwan dengan ekspresi cemberut. Bagaimana tidak? Xiao memilihkan kaos berwarna merah muda serta celana panjang berwarna kuning terang untuknya.


Xiao yang masih dalam keadaan membelakanginya lantas menoleh. Mulutnya langsung membentuk lengkungan dan menciptakan sebuah senyum remeh. "Pffft! kau tampak menyedihkan!" ejeknya. Hingga membuat Shuwan semakin merengutkan wajahnya. Dia ingin bersumpah serapah, namun sengaja ditahan agar dirinya bisa cepat-cepat kembali pulang.


"Brian mana?" tanya Xiao, yang sedari tadi tidak melihat batang hidung Brian.


"Itu!" Shuwan menunjuk ke arah toko elektronik. Di sana Brian terlihat celingak-celingukan untuk menyaksikan barang-barang canggih keluaran Jepang. Alhasil Xiao pun segera berderap menghampirinya.


"Bri! ayo kita berganti pakaian! bajumu juga masih basah kan?" ajak Xiao. Namun sama sekali tidak di acuhkan oleh Brian.


"BRIAN!" Xiao memekik lantang, dan sontak membuat Brian tersadar.


"Kau kenapa teriak-teriak begitu! telingaku jadi sakit!" geram Brian yang merasa terkaget dengan panggilan Xiao.


"Aku mengajakmu berganti pakaian. Kalau kau tidak mau ya sudah!" tukas Xiao. Dia merajuk dan segera lekas-lekas pergi meninggalkan Brian.


"Eh! ganti baju?" Brian menilik bajunya sendiri dari ujung kaki sampai kepala. Benar saja, pakaiannya tersebut masih terbilang agak basah. Dia lantas bergegas mengekori Xiao.


"Tuh anak, ternyata perhatian juga." Brian bergumam sambil melajukan langkahnya.


Xiao dan Shuwan berhenti di salah satu toko. Di sana ada pakaian yang membuat Xiao tertarik.


"Ya sudah, aku ingin ganti baju dahulu. Jagalah tas ini!" ujar Xiao yang segera beranjak pergi untuk berganti pakaian. Shuwan pun terpaksa menuruti perintah Xiao, wajahnya masih terlihat ditekuk. Bodohnya, Shuwan sama sekali tidak tertarik dengan tas yang sedang dipegangnya.


Shuwan memanfaatkan waktunya untuk mengedarkan penglihatannya ke segala penjuru. Dia berharap bisa bertemu dengan seseorang yang dikenal. "Aku mohon satu orang saja!" harapnya seraya menggerak-gerakkan sebelah kakinya. Tetapi bukannya menemukan orang yang dikenal, dia malah melihat beberapa orang Yakuza. Mata Shuwan sontak terbelalak, ia segera menjongkokkan badan, dan bersembunyi di antara kumpulan baju yang berjejer.


"Sialan Xiao! dia memberikan pakaian berwarna mencolok begini lagi!" gerutu Shuwan.

__ADS_1


"Hei bodoh! kenapa kau berjongkok di sana?!" tegur Xiao yang sudah selesai mengganti pakaian.


"Xiao! psssst!" Shuwan menyuruh Xiao untuk menutup mulut. Lelaki tersebut tampak memposisikan jari telunjuknya di depan bibir.


__ADS_2