Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 37 - Hubungan Yang Manis


__ADS_3

Kita bisa bahagia, jika tidak terlalu memikirkan masalah berlarut-larut.


***


Sinar matahari sudah terlihat lewat celah-celah ventilasi jendela. Chan membuka matanya pelan, dia segera menatap sosok lelaki yang tertidur di sebelahnya.


'Xiao, aku akan membuang ketakutanku jauh-jauh! toh setelah mengetahui hilangnya senjata Jonas aku tidak bisa melakukan apapun lagi.' batin Chan yang tak henti memandangi wajah menawan Xiao. Selanjutnya gadis itu pun mengubah posisinya menjadi duduk, lalu mengenakan pakaiannya kembali.


"Kau mau kemana?" tanya Xiao yang ternyata sudah terbangun.


"Aku mau ke kamar mandi!" jawab Chan.


"Boleh aku ikut?" goda Xiao dengan sedikit terkekeh.


Buk!


Chan menekan betis Xiao dengan kakinya. "Sudahlah Xiao, apa semalam masih tidak cukup!" Chan segera berlalu menuju kamar mandi. Sedangkan Xiao hanya bisa tertawa geli sambil memegangi area jidatnya.


Di sisi lain Fa bawahannya Yenn sedang bekerja keras untuk menemukan Xiao. Dia menyamar menjadi seorang wartawan. Gadis tersebut sekarang memeriksa CCTV di stasiun yang terakhir kali didatangi Xiao. Hingga Fa menemukan sesuatu yang menarik, yaitu kala Xiao mengambil tiket kereta.


"Tunggu! menuju kemana kereta yang akan berangkat di saat kerusuhan terjadi?" tanya Fa dengan mata yang membola.


"Guanxi!" jawab sang petugas keamanan.


"Terima kasih!" sahut Fa. 'Aku sekarang tahu dimana Xiao!' sambungnya dalam hati.


***


"Sekarang kemana tujuan kita selanjutnya?" tanya Chan yang sudah memasukkan semua barangnya ke dalam tas. Lalu duduk di ujung kasur.


"Entahlah!" Xiao terdiam sejenak. "Kau masih berniat pergi ke perkumpulan rahasia itu?" lanjutnya.


"Memangnya kau sudah tidak berniat lagi?" Chan berbalik tanya.


"Bukan begitu, hanya saja tempat disekeliling kita sangat berbahaya!" jelas Xiao yang sekarang ikut melayangkan pantatnya ke kasur.


"Kita hanya perlu ke Meksiko untuk mencari seseorang yang mengetahui tempat perkumpulan itu."


"Apa? Meksiko? jauh sekali!" Xiao terperangah.


"Yah, itulah masalahnya." Chan menghela nafasnya sejenak. "Mungkin ayah dan ibumu bisa membantu!" tambahnya. Xiao sontak menatap ke arah Chan.

__ADS_1


"Toh kau sekarang sudah mengetahui bakatmu yang sebenarnya. Bahkan sudah tidak takut lagi dengan devil, aku yakin sudah tidak apa-apa lagi untuk menemui ayah dan ibumu," ujar Chan pelan.


"Chan! kau benar, ternyata kepintaranmu itu tersembunyi ya!" sahut Xiao, yang segera mendapatkan pelototan dari Chan.


"Dasar bedebah!" sumpah Chan.


"Ayo, kita pergi dari sini!" titah Xiao seraya bangkit dan tak acuh dengan sumpah dari gadis di sampingnya. Dia dan Chan pun kembali melanjutkan perjalanan. Keduanya tengah mencari telepon umum, toh sudah lama mereka tidak menggunakan ponsel yang sengaja dimatikan demi keselamatan.


"Apa kau ingat nomor telepon rumahmu?" tanya Chan.


"Tentu saja! kau pikir aku bodoh!" ketus Xiao.


"Ish! tidak perlu kasar dong!" Chan mengerutkan dahi.


Xiao berusaha menghubungi kedua orang tuanya. Setelah beberapa kali mencoba, dia sama sekali tidak mendapatkan jawaban.


"Kenapa Xiao? apa mereka tidak mengangkat?" tanya Chan penasaran.


"Iya!" jawab Xiao singkat. Kemudian mendengus kasar. Akhirnya dia menyerah dan menutup teleponnya.


"Sekarang lebih baik kita ke rumahmu?" usul Chan yang mengangkat kedua alisnya.


"Sedikit!" respon Chan singkat.


"Aku membunuh seseorang lagi tadi malam. Dan aku merasakan sesuatu yang sangat berbeda," terang Xiao.


"Aku tahu, karena orang yang sudah memiliki devil tidak akan bisa membendung naluri itu. Aku tahu kita sudah kehilangan arah untuk menemukan senjata Jonas, tetapi setidaknya mungkin orang-orang di perkumpulan rahasia nanti bisa membantumu," tutur Chan. Xiao yang mendengar kepedulian Chan lantas menatap dengan binar di matanya.


"Kau tahu, aku sangat senang ketika kau berusaha menenangkanku seperti itu Chan." Xiao menangkup wajah Chan.


"Ish! jangan coba-coba!" Chan melepaskan tangan Xiao dari pipinya.


"Chan, bagaimana kalau kita bersenang-senang dahulu?" Xiao sekarang merangkul pundak Chan. "Mumpung Viera menghilang nih!" sambungnya.


"Kau benar! dia belum muncul sejak tadi malam, apa Viera marah kepada kita?" ujar Chan sembari memegangi bagian dagunya.


"Ish! dia itu bukan marah kepadamu, tetapi kepadaku!" Xiao terdiam sejenak, lalu berbisik. "Mungkin dia sangat membenci Devgan!"


"Xiao aku mendengarnya!" protes Devgan, yang lagi-lagi tak dihiraukan Xiao.


"Aku jadi penasaran dengan Devgan! dia banyak mempengaruhimu dari segala hal kan, termasuk. . ." Chan melirik area bawah perut Xiao.

__ADS_1


"Hahaha! Chan kau sedang melihat apa? masih belum melupakan kejadian tadi malam?" goda Xiao.


"Aku hanya ingin memastikan, apa benar semuanya bukan karena Devgan? maksudku alasan kau akhir-akhir ini terus mencoba menyentuhku," tutur Chan tanpa menatap lawan bicara.


"Chan! kau pikir semua itu karena Devgan?" Xiao menggeleng tak percaya. "Jika mengenai dirimu, ya tentu karena aku lah! bahkan saat di dimensi lain aku bisa membuat Devgan menyelamatkanmu!" jelasnya yang menatap Chan dengan sudut matanya.


Chan perlahan tersenyum tipis. Di ikuti oleh Xiao setelahnya. "Kalau begitu, ayo ikut aku sebentar!" Xiao menyeret Chan ikut bersamanya.


"Eh! aku nggak mau dipaksa makan di warung kumuh lagi ya!" Chan memperingati Xiao.


"Siapa yang mau ke sana." Xiao memutar bola matanya. Setelah berjalan tidak begitu jauh, Xiao dan Chan pun memasuki sebuah mall besar.


"Xiao, mau apa kita ke sini?" tanya Chan dengan dahi berkerut.


"Ya belanja lah! kau pikir aku mau mandi?" Xiao sedikit terkekeh. Dia mengajak Chan ke toko baju. Keduanya mencoba menilik produk baju yang ada di sekelilingnya.


"Xiao!" panggil Chan, lalu berjalan menghampiri Xiao. Gadis itu mencocokkan kemeja yang dipegangnya dengan badan Xiao. Chan terdiam dalam sesaat.


'Sebenarnya mau pakai apapun, Xiao tetap tampan!' batin Chan yang reflek tersenyum tipis.


"Chan?" panggil Xiao yang sontak menghentikan Chan dari lamunannya. "Terima kasih, aku akan mencobanya!" tukas Xiao seraya mengambil kemeja dari Chan. Dia segera masuk ke ruang ganti.


"Devgan aku bingung kenapa kau tidak berniat membuatku membunuh Chan," ucap Xiao sambil melepaskan kemeja lamanya.


"Awalnya aku memang tidak peduli padanya. Tetapi ternyata dia punya peran penting untuk dirimu!" sahut Devgan.


"Maksudmu?"


"Untuk memancing segala hal darimu. Gadis tersebut bisa sangat berguna!" Devgan tersenyum menampakkan gigi-giginya yang mengerikan.


"Jangan pernah mempengaruhi diriku untuk menyakitinya!" ancam Xiao. Namun hanya direspon dengan tawa kecil oleh Devgan. Selanjutnya Xiao segera keluar dari ruang ganti, dan penglihatannya sudah disambut dengan penampilan Chan. Gadis itu mengenakan dress berwarna merah yang dilengkapi dengan jaket jeans biru. Rambut panjangnya tergerai indah.


"Kenapa kau ganti bajunya lebih lama dariku?" kritik Chan sambil menyilangkan tangan di dada. Xiao yang jarang menyaksikan Chan mengenakan rok lantas terkesiap. Dia memegangi pipi kanan Chan, lalu menyentuh lembut bibirnya dengan ibu jari. Chan sontak menatap Xiao dengan binar di matanya.


"Kau cantik! tetapi sepertinya masih ada yang kurang!" ujar Xiao, yang kemudian melingus meninggalkan Chan.


'Apa-apaan itu, aku pikir dia ingin. . . ah! sudahlah!' gumam Chan dalam hati, lalu menggeleng maklum.


Tidak memakan waktu yang lama, Xiao kembali. Dia langsung menarik Chan mendekat. Kemudian mengambil sesuatu dari saku celana yang tidak lain adalah sebuah lipstik.


"Biar aku saja!" Chan merebut lipstiknya. Alhasil Xiao pun hanya bisa tersenyum tipis seraya melihat Chan mengenakan lipstiknya.

__ADS_1


__ADS_2