Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 12 - Hantu Toilet


__ADS_3

Kebohongan tidak bisa disembunyikan.


Jika kebenaran masih dapat terlihat.


***


Klik!


Xiao mengunci pintu toilet, kemudian dirinya langsung duduk di atas closet. Lelaki itu berusaha mengatur deru nafasnya. Tubuhnya sedikit gemetar.


'Sialan! semuanya gara-gara makhluk di samping Shuwan! kenapa begitu menyeramkan, apa Shuwan psikopat?' benak Xiao bertanya-tanya, dahinya mengukir kerutan di raut wajahnya. Dia merasa lega, setelah menahan rasa takutnya yang sedari tadi mengganggu.


Terbayang sosok devil yang selalu berjalan mengikuti Shuwan. Makhluk itu bertubuh jangkung dan kurus, memiliki dua kepala, bahkan lidahnya begitu panjang hingga menyentuh lantai. Jika dia menjilati Shuwan, maka jiwa pemberontak akan muncul seketika pada lelaki berambut tipis tersebut.


Dug! Dug! Dug!


Suara aneh berhasil membuat Xiao tersentak kaget. Dia sekarang dibuat penasaran akan sumber suara itu.


"Hiks... hiks... hiks... tolong..." terdengar suara tangisan lelaki dari arah sebelah kanan. Xiao melangkah dengan pelan untuk mendekat. Hingga pupil matanya membesar saat melihat seorang lelaki berlumuran darah sedang menjedotkan kepalanya ke dinding. Xiao yakin yang dia lihat bukanlah manusia.


'Aku harus pergi, sebelum dia menyadari aku bisa melihatnya!' gumam Xiao dalam hati. Saat ingin berbalik, tanpa diduga hantu misterius berseragam sekolah itu mencengkeram lengan Xiao.


"Tolong aku..." ucapnya dengan nada tertatih, wajahnya dipenuhi dengan cairan berwarna merah. Xiao berusaha sekuat tenaga melepaskan genggaman hantu tersebut.


Tanpa diduga dirinya malah berhasil mematahkan tangan hantu itu, sehingga membuat Xiao terjatuh dalam keadaan masih di cengkeram oleh sepotong tangan.


"Sialan!" keluhnya, dia berusaha melepaskan sepotong tangan yang masih menempel di lengannya. Sekarang hantu lelaki itu menyadari sepenuhnya, dengan keadaan Xiao yang bisa melihat dirinya.


"Ka-ka-kau bisa melihatku?" tanya-nya sembari berjalan mendekat. Xiao pun segera beringsut mundur untuk menjauhinya.


"Pergi! menjauh dariku!" pekik Xiao.


Ceklek!


Pintu toilet depan terbuka, terlihat Shuwan melangkah masuk dan langsung menatap Xiao dengan dahi yang berkerut.


Hantu lelaki yang tadinya menggangu Xiao hilang begitu saja dalam sekejap. Di ikuti dengan sepotong tangannya yang masih mencengkeram lengan Xiao.


"Xiao, kenapa lama sekali? apa yang kau lakukan?" Shuwan berjalan menghampiri Xiao.


"Shuwan, perutku sakit jadi..." sahut Xiao sembari berusaha bangkit dengan memegangi bagian perutnya. Dia berusaha bersikap tenang.

__ADS_1


"Oh... pantesan wajahmu terlihat pucat begitu"


"Pucat?... eh, benarkah?" Xiao mencoba mengusap keringat yang menetes di kedua pelipisnya.


"Ya sudah, temui kami di lapangan basket!" ujar Shuwan seraya beranjak pergi meninggalkan Xiao.


***


Chan memejamkan matanya sambil mendengus kencang. Kala itu dia sedang berdiri di depan cermin toilet untuk sekedar memperhatikan penampilannya sekali lagi.


'Begitu menjengkelkan melihat gadis-gadis alay itu berteriak tidak karuan saat melihat Xiao. Ingin sekali rasanya menjambak rambut mereka satu per satu. Xiao itu kan... astaga! apa yang aku pikirkan? sadarlah Chan! Xiao itu psikopat, dia bisa saja membunuhmu di waktu yang tak terduga! aku harus sadar!' gumam Chan dalam hati sembari menepuk-nepuk kedua pipi, untuk menyadarkan dirinya sendiri.


Ketika melihat ke cermin, mata Chan terpusat pada cairan merah yang menggenang di lantai tepat di belakangnya. Alhasil gadis itu pun berbalik untuk memastikan. Matanya membulat tatkala melihat darah semakin merembes liar keluar dari dinding.


Chan berjalan mendekati dinding tersebut. Dahinya mengernyit, saat tidak bisa menemukan jawaban dari sumber keanehan itu.


'Darah apa ini? apa seseorang di balik dinding ini sedang sekarat?... oh tidak!' Chan segera bergegas keluar dari toilet, untuk memeriksa ruangan di sebelah toilet yang tidak lain adalah gudang.


"Chan!" panggilan dari Xiao berhasil menghentikan langkah kaki Chan.


"Apa?..." tanya Chan dengan suara pelan.


"Xiao hentikan! bukankah kau bilang kita harus berpura-pura saling tidak mengenal!" Chan kesal dengan menggertakkan giginya, meskipun jantungnya agak sedikit berdebar tidak karuan.


"Tenang saja, tidak ada siapapun di sini, lagi pula benar-benar ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu!" imbuh Xiao yang sekarang memasang ekspresi seriusnya. Dia menyuruh Chan mendekatkan telinga.


"Aku melihat devil di samping Shuwan..." bisik Xiao, yang sontak membuat Chan membulatkan matanya.


"Jadi..." respon Chan yang tak percaya.


"Ngomong-ngomong kamu belum menjelaskan secara detail perihal devil kepadaku, kenapa mereka ada? kenapa Shuwan memilikinya, sedangkan aku tidak!"


"Itu karena kau belum pernah membunuh orang Xiao..."


"Berarti Shuwan... pernah melakukan pembunuhan?" tebak Xiao dengan pupil mata yang membesar.


"Apa kau melihat wajahnya! itu lucu sekali! haha!" tiba-tiba terdengar suara siswi sedang berceloteh yang perlahan mendekat. Chan segera menyeret Xiao ikut bersamanya ke dalam ruangan yang sedari tadi ingin dia periksa.


Trak...


Chan menutup pintu dengan pelan. "Aaaaarrkkhhh!!!" suara teriakan wanita yang melengking menyambut kedatangan Xiao dan Chan. Keduanya pun menutup telinga mereka dengan rapat.

__ADS_1


"Hihihi..." sekarang terdengar suara cekikikan yang tidak lain berasal dari hantu perempuan berseragam sekolah. Dia berdiri menatap ke arah Xiao dan Chan. Perlahan hantu itu mengukir senyuman diwajahnya.


"Astaga! Chan, kita harus per..."


"Tidak Xiao! diamlah!" tepis Chan yang menyela ajakan lelaki yang berusaha membawanya pergi.


"Kenapa kau di sini?" Chan berjalan mendekat pada hantu perempuan itu. Namun makhluk tersebut terdiam seribu bahasa seraya memiringkan kepalanya ke kanan.


"Sudahlah Chan! lebih baik kita pergi!" sekali lagi Xiao mencoba mengajak Chan pergi.


"Pergilah lebih dulu!" balas Chan, yang tentu saja membuat Xiao mengatup bibirnya rapat-rapat karena sudah kalah telak.


"Apa yang terjadi padamu? apakah mayatmu masih di sini?" tanya Chan. Perlahan hantu itu pun menganggukkan kepala. Sekarang tangannya menunjuk ke arah Xiao. Membuat Chan langsung ikut menoleh ke lelaki berambut pirang tersebut.


"Apa? kenapa kamu menunjuk ke arahku? aku tidak melakukan apapun!" timpal Xiao dengan kernyitan di dahi.


"Kenapa dengan Xiao?" Chan mencoba ikut bertanya untuk memastikan.


Hantu perempuan tersebut kembali tersenyum dan berucap, "Dia tampan, hihi!"


Chan yang mendengar langsung merasa geram, dia hampir melayangkan tinjunya kepada hantu berseragam sekolah itu.


"Pffft... terima kasih..." sahut Xiao dengan kekeh angkuhnya.


"Terserah! memang tidak ada gunanya mengajak hantu bicara!" keluh Chan sambil beranjak pergi keluar dari ruangan. Tetapi dirinya segera kembali masuk ketika melihat Mei keluar dari toilet.


"Lah, kenapa kembali?" tanya Xiao bingung.


"Ada Mei di luar!"


"Loh kemana dia?" sambung Chan lagi seraya mengedarkan pandangannya pada seluruh penjuru ruangan, untuk mencari hantu perempuan tadi.


"Booo! hihihi!" jantung Chan serasa disambar petir saat hantu perempuan itu muncul dengan tiba-tiba tepat dihadapannya.


"Maaf... hihi..." ujar sang hantu lagi.


"NGGAK LUCU!" bentak Chan dengan wajah yang sedikit memerah karena saking kesalnya.


"Aku lupa segalanya, aku melupakan apa yang telah terjadi... hiks! hiks!" hantu perempuan tersebut sekarang menangis dengan terisak. Dia terlihat frustasi, bahkan terbang berputar-putar di atas seakan tengah begitu kebingungan.


"Sudah ku-bilang Chan, jangan ikut campur urusan mereka," kritik Xiao sambil menatap Chan dengan sudut matanya.

__ADS_1


__ADS_2