
Semuanya bisa berubah, hanya karena satu kesalahpahaman.
***
Chan membuka mata secara perlahan. Penglihatannya langsung disambut dengan kehadiran Viera yang menatap dengan wajah hantu mengerikannya. Gadis itu sontak tersentak kaget, terlintas dalam benaknya bahwa dirinya telah berada di alam baka.
"A-a-apa aku sudah mati?" tanya Chan sembari mengerjapkan mata beberapa kali.
"Tidak! kau baru tersadar setelah melalui tahap operasi," sahut Viera sambil mundur dengan pelan.
"Dimana Xiao?" Chan mencoba mengubah posisinya menjadi duduk.
"Kau tidak usah memikirkannya lagi! dia sudah mengkhianatimu!" imbuh Viera. Dia menampakkan raut wajah cemberut.
"Apa yang kau bicarakan Vier?" Chan mengernyitkan kening.
"Dia menyetujui usulan ibunya untuk membunuhmu!" tutur Viera dengan nada penuh penekanan.
Chan menggeleng tak percaya. "Tidak mungkin! Xiao mencintaiku!" bantahnya.
"Entahlah, tetapi kau bisa melihat buktinya sebentar lagi. Bawahan Wong akan segera mencarimu dalam beberapa detik ke depan!" ungkap Viera. "Jadi, aku sarankan padamu untuk segera pergi secepatnya dari sini!" sambungnya.
"Tidak! aku tidak percaya kepadamu!" tegas Chan.
"Ya sudah, kalau begitu kau tanggung resikonya sendiri!" balas Viera yang segera menghilang dari pandangan Chan dalam sekejap.
Ceklek!
"Chan, kau sudah sadar ternyata!" Al tiba-tiba muncul dari balik pintu. Dia langsung menghampiri Chan dan duduk si sebelahnya.
"Al? kemana Xiao?" tanya Chan dengan suara paraunya.
"Oh, dia ikut bersama ibunya. Tetapi aku rasa dia akan kembali, kau tenang saja," sahut Al sembari tersenyum tipis.
"Benarkah? syukurlah. Berarti apa yang dikatakan Viera tidak benar." Chan merebahkan kembali badannya, dia merasa lega setelah mendengar penuturan Al mengenai Xiao.
"Viera? memangnya dia bicara apa kepadamu?" Al menatap penuh tanya.
"Viera bilang Xiao mengkhianatiku, bahkan mengatakan Xiao akan membunuhku. Apa itu masuk akal?" ujar Chan.
"Entahlah. . . bukankah tidak ada yang mustahil? kau juga harus berhati-hati Chan, meski dia adalah kekasihmu!" tutur Al yang merubah raut wajahnya menjadi sedikit gelisah.
__ADS_1
"Aku tidak berbohong Chan! sebentar lagi orang yang dikirim oleh Yenn akan tiba di sini!" Viera kembali muncul dengan tiba-tiba.
"Sudahlah Vier, aku sedang tidak ingin berdebat denganmu!" pekik Chan dengan suara yang seadanya. Dia memegangi area perutnya yang terasa sakit.
"Ada apa Chan? apa Viera memberitahu sesuatu lagi?" Al penasaran terhadap alasan dibalik gelagat Chan barusan.
"Iya, dia--"
Bruk!
Kalimat Chan terhenti tatkala pintu tiba-tiba terbuka. Muncullah Fa yang menatap tajam ke arah targetnya.
"Ka-kau?" Chan sangat dibuat kaget akan kedatangan Fa. Sudah lumayan lama dia melupakan kejadian kala dirinya gemar menatap Xiao dari jauh.
"Kau mengenalnya?" Al yang juga terkejut lantas bertanya. Dia bisa menyaksikan ekspresi Chan yang terlihat seolah sudah mengenal wanita berpenampilan sangar di depannya.
"Dia sepertinya salah satu bawahan keluarga Wong," jawab Chan. "Apa maumu?" lanjutnya yang sekarang mengubah lawan bicara.
"Aku hanya ingin nyawamu!" jawab Fa singkat.
"Apa-apaan?!" keluh Al seraya menggeleng tak percaya.
Chan yang menyaksikan aksi dari Fa sontak meringiskan wajah. Dia reflek beringsut mundur. Padahal dirinya sedang tidak berdaya untuk pergi kemana pun.
"Jangan sentuh dia!!!" pekik Al sambil berdiri menghalangi jalan Fa dari Chan.
"Sudah ku-bilang jangan ikut campur!!" pekik Fa. Dia langsung melayangkan pisaunya tepat ke arah Al. Namun sebelum itu, tangannya di cengkeram oleh tangan seorang lelaki. Dialah Brian yang memilih untuk kembali lagi.
"Brian?!" mata Al membulat sempurna. Dia merasa tidak percaya bisa melihat kehadiran karib seperjalanannya lagi.
Kretak!
Brian mempelintir tangan Fa dengan mudahnya. "Pergilah! sebelum aku yang membuatmu pergi!" tegas Brian. Dia mengunci kedua tangan Fa kebelakang. Tetapi Fa tidak menyerah semudah itu, dia langsung memutar tubuhnya dengan sigap dan memberikan tendangan tepat ke betis Brian. Sekarang dia mengeluarkan senjata lain, yaitu sebuah pistol revolver kesayangannya.
"Sekarang lihat, siapa yang akan pergi lebih dahulu!" Fa menodongkan pistolnya ke arah Brian.
"Chan sudah kubilang kan! dialah orang suruhan Yenn dan Xiao!" Viera terus mendesak Chan untuk percaya kepadanya.
"Tunggu! kenapa kau melakukan ini? apa Xiao yang menyuruhmu?!" Chan bertanya untuk memastikan. Fa perlahan berbalik dan tersenyum kepada Chan.
"Iya, Xiao yang menyuruhku!" jawabnya. Chan yang mendengarnya langsung membelalakkan mata. Dia merasa marah dan juga kecewa.
__ADS_1
"Apa kabarmu penguntit. Seharusnya dari awal kau--"
Dug!
Al tiba-tiba melayangkan pukulan tepat ke kepala Fa dengan bermodalkan vas bunga. Dia sudah tidak tahan mendengarkan celotehan wanita berpenampilan sangar itu. Fa lantas menjadi tidak sadarkan diri dan terjatuh ke lantai.
"Al! apa-apaan?!" Brian menatap tak percaya.
"Sudahlah! itu tidak penting. Sekarang lebih baik kita bawa Chan pergi dari sini!" kata Al sembari mencoba mencabut infus yang masih mengalir di urat nadi Chan.
"Ya sudah! aku akan membawanya!" usul Brian seraya mengangkat Chan dengan bermodalkan kedua tangannya. Selanjutnya mereka pun segera keluar dari ruangan, dan pergi meninggalkan rumah sakit.
***
Alarm berbunyi lumayan nyaring dan menusuk pendengaran Xiao yang masih tertidur pulas. Dengan wajah cemberut, akhirnya dia membuka mata dan segera mematikan benda yang telah menjadi penghancur lelapnya.
"Jam sialan!" gerutu Xiao sambil menggertakkan gigi. Dia sekarang mengerjapkan mata beberapa kali dan menghela nafas panjang. Perlahan dirinya merubah posisi menjadi duduk.
"Xiao, kapan kau akan memberiku energi?" ucap Devgan yang memecah kesunyian.
"Diaam!!!" pekik Xiao. "Bisakah kau diam iblis busuk!" cerca-nya yang sama sekali tidak peduli dengan ekspresi Devgan terhadap hinaannya.
"Dasar kau tidak tahu terima kasih! seharusnya aku bunuh saja Chan untukmu!" timpal Devgan yang sontak membuat Xiao teringat akan keadaan Chan sekarang.
"Chan!" Xiao langsung berdiri dan bergegas keluar. Dia mencoba mencari keberadaan Yenn, namun sama sekali tidak melihat batang hidungnya sedikit pun. Alhasil Xiao pun keluar dari markas. Dia pergi ke gudang penyimpanan mobil yang jaraknya tidak begitu jauh.
Dalam perjalanan Xiao dikejutkan dengan kehadiran Viera yang tiba-tiba duduk di sampingnya. "Vier? kemana saja kau!" tukas Xiao dengan dahi mengernyit.
"Hanya membiarkanmu dengan Chan bersama." Veira menjawab singkat.
"Apa kau tahu bagaimana keadaan Chan?" tanya Xiao.
"Aku ke sini hanya ingin memberitahumu kalau Chan sudah sangat membencimu!" tutur Viera.
Syuuut!
"Apa?! omong kosong macam apa itu?!" geram Xiao, sampai-sampai dia harus menghentikan mobilnya secara tiba-tiba.
"Aku tidak bisa menjelaskan rincinya. Yang jelas mulai sekarang, Chan ingin kau menjauh!" ujar Viera dengan nada tinggi.
Xiao tersenyum miring dan berkata, "Chan tidak akan bisa menjauh dariku Vier!" dia menambahkan gelengan kepala di bagian akhir kalimatnya.
__ADS_1