
Tidak ada salahnya mempersiapkan diri. Meskipun apa yang akan terjadi belumlah jelas.
***
Spiderblood dan bawahannya tengah bersiap-siap. Ikatan Shuwan bahkan sudah dilepaskan. Sepertinya Spiderblood memutuskan untuk membawa Shuwan menjadi bagian pasukannya.
Sebelum benar-benar keluar dari tempat persembunyian, Spiderblood terlebih dahulu melakukan pemberitahuan ke orang-orang yang telah setuju bekerja sama dengannya. Orang-orang itu sendiri kebanyakan adalah penggemar Spiderblood dari dark web.
Spiderblood melakukan pemberitahuan melalui pesan video. Selagi para Tenshi melakukan serangan dan menghancurkan pembangkit listrik, Spiderblood memberitahukan semua orang untuk bersiap.
"Setelah listrik benar-benar padam kita bisa langsung beraksi dan melakukan pembantaian. Dan ingat, jangan lupa untuk mengenakan topeng diwajahmu. Jadi, selamat bersenang-senang!" ucap Spiderblood dalam pesan videonya.
Parahnya Spiderblood tidak membatasi jumlah orang yang ingin menjadi bagian rencana besarnya. Dia memperbolehkan siapa saja untuk ikut, asal berani menanggung resikonya.
***
Xiao menyarankan semua orang untuk beristirahat di gudang penyimpanan mobil. Sebab jika listrik padam, maka otomatis udara di markas bawah tanah menjadi pengap. Otomatis orang-orang yang ada di dalamnya akan kesulitan bernafas.
Brian dan Fa sudah lebih dahulu berjalan menuju gudang. Berbeda dengan Al yang pergi entah kemana. Hanya Chan yang masih tertinggal di markas bawah tanah.
Awalnya Xiao mengira Al yang akan membawa Chan untuk keluar dari markas. Tetapi karena gadis tersebut tidak kunjung muncul Xiao pun turun tangan.
Xiao bergegas memeriksa keadaan Chan. Dia menggerakkan kaki menuju dimana gadis itu berada. Xiao berhenti di depan pintu. Memandangi dari jauh Chan yang sedang menunduk sendu.
"Chan, kita harus keluar dari sini!" ujar Xiao, yang tentu membuat atensi Chan teralih kepadanya.
"Baiklah. . ." lirih Chan sembari beringsut menuju ujung kasur. Pergelangan kakinya masih tampak memprihatinkan. Terdapat memar yang lumayan parah. Bahkan Chan belum sempat mengganti pakaiannya yang masih kotor.
"Kau mau mengganti pakaianmu dahulu? aku akan mengambilkannya untukmu," tawar Xiao dengan raut wajah datarnya.
"Boleh, kalau memang ada." Chan mengangguk pelan. Alhasil Xiao pun bergegas mengambilkan pakaian untuk Chan. Dia berjalan menuju ruangan milik Yenn. Di sana terdapat beberapa pakaian tersusun rapi dalam lemari.
Xiao mengambilkan kaos lengan pendek, celana jeans dan menambahkan jaket untuk Chan. Setelahnya dia segera menyerahkan setelan pakaian tersebut kepada Chan.
__ADS_1
"Aku akan menunggu di luar." Meskipun peduli, Xiao tetap berbicara dengan nada dingin kepada Chan. Dia segera beranjak keluar ruangan.
Xiao menghela nafas panjang. Dia menyandarkan badannya ke dinding yang ada di samping pintu. Terlintas dalam bayangannya mengenai tragedi besar yang telah dia lalui. Bahkan Xiao tidak pernah menyangka dialah yang menjadi asal-muasal tragedi di sekolah sebelumnya.
"Devgan, apa kau tahu kemana perginya makhluk kutukan itu?" tanya Xiao.
"Dia? mungkin mencari mangsa lain. Sebenarnya tragedi yang ada di sekolah itu memberikan dampak baik kepadaku dan juga makhluk kutukan tersebut." Penjelasan Devgan membuat Xiao tertarik. Sekarang Xiao menatap serius ke arah devil di sampingnya.
"Dampak baik?" Xiao mengernyitkan kening.
"Aku mendapatkan energi, dan dia terlepas dari kutukannya, karena sudah mendapatkan korban yang sesuai dengan targetnya."
"Dan kau sengaja menutupi semua ini dariku?!" dada Xiao mulai naik turun akibat amarah yang perlahan muncul.
"Aku melakukannya bukan hanya untukku, tetapi juga dirimu!" sahut Devgan sembari mengarahkan jari telunjuk besarnya ke arah Xiao.
"Omong kosong! aku sudah tidak percaya lagi kepadamu. Mungkin inilah saatnya aku mencari pedang Jonas!" kata Xiao yang merasa jijik dengan tipu muslihat Devgan.
"Tidak!" tegas Devgan.
Pintu tiba-tiba terbuka, dan menghentikan interaksi yang terjadi antara Xiao dan Devgan. Chan terlihat sudah berdiri di hadapan Xiao.
"Chan! kan sudah kubilang kalau sudah selesai panggil aku saja!" geram Xiao yang tidak habis pikir dengan Chan. Bagaimana tidak? Chan terlihat memaksakan kakinya untuk berjalan.
"Sekarang sudah sedikit baikan, karena Al tadi memijatnya dengan baik." Chan mengungkapkan.
"Tetap saja kan tidak sepenuhnya sembuh!" balas Xiao seraya membawa Chan masuk ke dalam gendongannya. Dan kali ini Xiao mengangkat Chan dengan gaya ala bridal style. Bahkan Chan tampak terkejut, matanya reflek membola. Padahal beberapa jam lalu Xiao sempat memarahinya.
"Kau mau membawaku kemana?" tanya Chan sambil melingkarkan kedua tangannya untuk berpegangan erat ke tengkuk Xiao.
"Pokoknya keluar dari markas ini."
"Kenapa? bukankah tempat ini adalah lokasi paling aman untuk bersembunyi?"
__ADS_1
"Listrik akan dipadamkan. Jadi berbahaya, jika kita terus berada di bawah sini," Xiao menjelaskan dengan tenang. Dia melangkahkan kakinya secara pelan.
Tidak lama kemudian Xiao dan Chan pun tiba di gudang. Xiao segera menurunkan Chan ke sofa bekas yang tersedia. Sedangkan Brian berinisiatif menutup dan mengunci pintu rapat-rapat.
Al meletakkan sebuah lentera di atas meja. Ternyata sedari tadi dia pergi karena berusaha mencari lentera. Al memang berniat berjaga-jaga kalau listrik tiba-tiba padam.
Semua orang dalam keadaan membisu. Keheningan sempat menemani suasana. Menunggu detik-detik rencana misterius yang akan dilakukan oleh Spiderblood.
"Aku benar-benar memiliki firasat buruk dengan apa yang akan terjadi. Rasanya aku ingin lekas-lekas pergi dari kota ini." Brian menuturkan dengan raut kegelisahan diwajahnya.
"Aku juga agak khawatir. . ." lirih Al yang menyahut.
Xiao dan Fa membisu. Xiao hanya sibuk menyandarkan diri ke sofa sambil menatap kosong ke arah langit-langit ruangan. Sedangkan Fa tampak duduk tenang sembari mengusap-usap layar ponselnya.
"Sepertinya polisi masih belum berhasil menemukan keberadaan Spiderblood. Padahal waktu sudah semakin habis, sebelum Spiderblood menjalankan rencananya!" terang Fa dengan dahi yang sedikit berkerut. Dia mengetahui informasi dari artikel yang kebetulan sedang dibacanya.
"Lagi pula polisi pasti tidak akan bisa berbuat apa-apa jika berhasil menemukan Spiderblood!" kata Brian yakin. Perlahan ia menatap Xiao dengan ujung matanya.
"Xiao, jangan penah berpikir untuk pergi sendiri lagi!" ucap Brian lagi. Namun Xiao tidak meresponnya dengan sepatah kata pun.
"Lebih baik kau khawatirkan keadaan Chan. Apa kau tahu? dia menderita begitu karena dirimu?" timpal Al yang sepertinya masih kesal dengan perlakuan Xiao terhadap Chan.
"Kau tidak usah ikut campur Al!" balas Xiao tanpa menatap ke arah lawan bicara. Al sontak terdiam dan hanya bisa mendengus kasar.
"Spiderblood? kalian membicarakan siapa sih? kenapa tidak ada yang memberitahukannya kepadaku?" Chan menatap semua orang yang ada di hadapannya secara bergantian. Dia tidak hirau dengan perdebatan yang terjadi di antara Xiao dan Al. Sepertinya rasa penasarannya terhadap Spiderblood lebih menggebu.
"Astaga Xiao, kau bahkan belum memberitahu Chan? lelaki macam apa kau!" timpal Al sembari menyalangkan mata.
"Cukup Al!!" Xiao memekik kesal.
"Bisakah kalian berhenti!!" Chan ikut meninggikan nada suaranya. Hingga semua orang menoleh ke arahnya. "Al, bisakah kau berhenti memanas-manasi Xiao? sekarang aku tidak peduli dengan sikapnya terhadapku!" lanjutnya.
"A-apa?! kau tetap membela Xiao?. . . waaaah!" Al terperangah sambil memutar bola mata tak percaya. "Ini yang namanya cinta buta ya!" tambahnya, lalu beranjak pergi untuk menjauh dari Chan.
__ADS_1
"Kau tidak marah kepadaku?" tanya Xiao. Chan hanya membisu, dan perlahan mengarahkan bola matanya untuk menatap Xiao. Keduanya saling bertukar pandang untuk sesaat.
"Fa, sebaiknya kita biarkan mereka bicara berdua!" celetuk Brian. Dia merasa tidak nyaman melihat keseriusan yang ada pada Xiao dan Chan. Alhasil Brian bangkit dari tempat duduknya. Di ikuti oleh Fa yang sepertinya setuju dengan sarannya. Mereka segera pergi menyusul Al yang berada tidak begitu jauh.