
Perjalanan kembali di mulai dengan sedikit orang-orang baru.
***
Malam sudah semakin larut, Brian terlihat mulai mabuk. Al yang melihatnya hanya bisa menggeleng tak percaya. "Aku rasa kali ini kau menyuruhku melakukan semuanya sendiri lagi!" gumam Al.
Di ruang vip, Xiao tengah kembali mengenakan pakaiannya. Hal yang sama juga dilakukan Chan. Gadis itu kembali merebahkan diri di sofa. Dia menselonjorkan kakinya ke atas paha Xiao.
"Chan, aku tidak ingin semuanya ini berlalu sangat cepat," ucap Xiao seraya mengelus kaki Chan lembut.
"Aku juga. . ." Chan bangkit dan segera duduk dipangkuan Xiao. Kemudian membawanya masuk ke dalam dekapannya. "Aku mencintaimu Xiao!" ujarnya, yang dilanjutkan dengan ciuman lembutnya ke rambut pirang Xiao.
"Chan, kau sekarang sudah berani ya! sampai sudah tidak malu lagi dengan para hantu, sebab aku melihat ada dua di sini," kata Xiao sembari melingkarkan tangannya ke pinggang Chan.
"Kau tahu, kalau hantunya cuman diam dipojokan ya tidak apa-apa. Tetapi kalau seperti Viera dan bisa bicara, itulah yang membuatku malu!" balas Chan. "Toh kau sudah terbiasa juga kan?" tambahnya yang mulai menguap karena mengantuk.
Ceklek!
Seorang gadis tiba-tiba membuka pintu. Membuat Xiao dan Chan harus menghentikan kemesraannya.
"Al!!" Xiao membelalakkan mata. Sedangkan Chan tampak bergegas bangkit dan kembali duduk normal di sofa.
"Maaf mengganggu, tetapi aku harus memberitahumu bahwa aku dan Brian akan menunggu di luar!" tutur Al, yang kemudian kembali lagi keluar.
"Brian? dia itu Al kan?" tebak Chan sambil memasang kembali jaket jeans-nya.
"Iya, dia Al!" sahut Xiao.
"Lalu apa kita akan melanjutkan rencana kita untuk mencari kedua orang tuamu?" Chan menatap serius.
"Tentu saja!" jawab Xiao yakin.
"Tetapi bagaimana dengan mereka?"
"Mungkin kita harus membawa mereka untuk ikut, perjalanan kita pasti akan mudah jika dengan bantuan Brian dan Al!" jelas Xiao.
"Kau benar! kita selalu kewalahan melakukan semuanya berdua!" ungkap Chan.
"Hahaha! jadi kau tadi kewalahan Chan?" Xiao memikirkan hal lain. Chan sontak mencerna alasan dibalik tawa geli Xiao.
"Xiao! maksudku bukan itu!" respon Chan yang sudah memahami maksud Xiao, dia kembali menggertakkan gigi. "Tetapi kita tidak bisa begitu saja mempercayai Brian dan Al!" tambahnya yang sengaja mengubah topik pembicaraan.
"Aku tahu, kita harus berhati-hati dengan mereka!" balas Xiao.
__ADS_1
Brian dan Al sudah menunggu di luar. Al mendudukkan Brian yang sedang mabuk di aspal. Gadis tersebut sudah kewalahan menopang badan lelaki yang berumur tiga puluh tahun itu.
Tidak lama kemudian, Xiao dan Chan pun datang. Chan yang belum pernah bertemu Al lantas segera berkenalan.
"Oh jadi kau yang memiliki bakat bisa berpindah ke dimensi lain itu, hebat!" kagum Al seraya menggelengkan kepala. "Tetapi juga berbahaya," lanjutnya.
"Iya aku tahu." Chan tersenyum tipis.
"Sepertinya kita tidak bisa langsung melanjutkan rencana jika kondisi Brian masih begitu!" celetuk Xiao sembari menatap Brian dengan sudut matanya.
"Justru itulah, kau bisa membawakannya ke tempat penginapan di seberang kan?" tawar Al yang sontak membuat Xiao meringiskan wajahnya.
"Idih! biarkan saja dia tidur di sana!" tolak Xiao. Dia langsung mendapat pelototan dari Chan.
"Xiao, kau itu laki-laki. Pasti lebih kuat menopang badannya!" terang Chan dengan dahi berkerut.
Dengan terpaksa akhirnya Xiao bersedia membawa Brian ke penginapan. Dan mereka sekarang sudah berada di depan meja resepsionis.
"Cepat! pesan kamarnya!" desak Xiao yang terlihat mulai tertatih.
"Pesan dua kamar ya!" ujar Al.
"Bisa cepetan nggak!!!" geram Xiao. Apalagi dengan keadaan Brian yang sekarang mual-mual dan ingin muntah.
Xiao mencoba merebahkan Brian ke atas kasur. Namun dirinya malah mendapatkan semburan cairan kental dari mulut Brian.
"Ughh!" respon Chan dan Al yang reflek menutup hidungnya.
"Ya sudah Chan, ayo periksa kamar kita!" ajak Al.
"Hah? Chan! bukannya kau akan satu kamar denganku?" protes Xiao.
"Jadi maksudmu aku harus satu kamar dengan Brian, begitu?" Al menyahut karena merasa tersindir.
"Chan!" Xiao menatap penuh harap. Namun Chan hanya merespon dengan gidikkan bahunya, lalu beranjak pergi bersama Al.
Ceklek!
Xiao masuk ke dalam kamar mandi. "Sial!" gerutu Xiao dengan dahi yang berkerut.
"Aku mulai tidak nyaman dengan gadis itu!" ucap Devgan.
"Gadis? maksudmu Chan?" Xiao menyunggingkan mulutnya ke kanan. "Memangnya kenapa?" tanya-nya sembari melepaskan kemejanya yang sudah kotor dengan muntahan Brian.
__ADS_1
"Dia bisa memberimu energi positif! itu akan membuatku dan dirimu lemah!" jelas Devgan yang menatap Xiao lewat pantulan cermin. "Sekarang aku tahu alasan dirimu bisa menahan naluri membunuhmu dahulu. Dan itu semua karena Chan!" tambahnya.
"Aku tahu, kau tidak perlu menjelaskannya!" sahut Xiao. "Seandainya ayahku tahu aku begini, mungkin dia akan menganggapku seorang pecundang!" lanjutnya yang menatap pantulannya sendiri di depan cermin.
"Kau memang pecundang! hanya karena seorang gadis kau bersedia membuang nalurimu jauh-jauh dan percaya kepadanya begitu saja!" Devgan menyeringai.
"Chan sebenarnya tawananku, awalnya aku berniat mengeluarkan semua naluri gilaku kepadanya. Tetapi karena Jonas, semuanya berubah!" Xiao kembali mengingat kenangan ketika dirinya pertama kali bisa melihat hantu dan devil. "Tetapi sebenarnya ketulusan Chan yang membuatku berubah!"
"Xiao! aku ingin kau seperti ayahmu! aku yakin kau bisa mengeluarkan nalurimu. Bahkan pembunuhan yang kau lakukan kemarin malam, itu masih belum seberapa. Seharusnya kau bisa melakukan lebih!" ucap Devgan serius.
"Tidak akan! kemarin pun aku melakukannya karena hanya ingin membayar janjiku!" balas Xiao yang menatap malas Devgan.
"Oke, kita lihat saja nanti!" sahut Devgan percaya diri.
Keesokan harinya Xiao, Chan, Brian dan Al akan melakukan perjalanan. Ketika Xiao hendak menjalankan motornya, tiba-tiba Brian berdiri di depannya.
"Hei! apa yang kau lakukan?" protes Xiao.
"Bukankah kita akan ke kota Metropolis?" Brian berbalik tanya. Xiao yang mendengar pertanyaan itu lantas memutar bola mata jengah.
"Kalau sudah tahu, kenapa kau tanya!" ketus Xiao, sepertinya dia masih marah dengan kejadian kemarin malam.
"Maksudku kota itu jauh, jadi kemungkinan kita akan menaiki kereta api. Lebih baik kau jual saja motornya!" Brian melipat tangannya di depan dada.
"Kau pikir aku bodoh? sekarang aku memang mau menjualnya!" balas Xiao yang kemudian segera menyalakan mesin motornya. "Kita bertemu di stasiun, Chan akan ikut denganku!" sambungnya.
"Oke!" respon Brian santai. Xiao dan Chan pun langsung beranjak pergi menaiki motor.
"Kau tahu, sepertinya anak itu masih belum mempercayai kita sepenuhnya," ungkap Al yang memposisikan dirinya berada di samping kanan Brian.
"Huh! padahal kita sudah berusaha mati-matian menyelamatkannya ketika berada di stasiun kota Ding Yang!" gerutu Brian.
"Anak muda memang begitu. Wajar kau sudah tua!" sarkas Al dengan santainya.
"Apa? enak saja! lihat dirimu, umurmu sudah dua puluh lima tahun!" Brian tak ingin kalah, namun sama sekali tidak digubris oleh Al.
Xiao dan Chan selesai menjual motornya. Keduanya sama-sama merasa berat melihat benda tersebut terjual.
"Padahal kau baru membelinya kemarin, nggak nyangka bisa langsung dijual keesokan harinya," imbuh Chan yang sedikit terkekeh.
"Memang begitulah takdir, tidak ada yang bisa menduga. Besok mungkin saja kita akan menikah!" goda Xiao, yang sontak membuat Chan melayangkan pukulannya. Gadis itu tidak bisa membendung sipu malu di raut wajahnya.
"Chan! harusnya kau menciumku, bukannya malah memukul!" tutur Xiao dengan dahi berkerut.
__ADS_1