Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 11 - Kembali Bersekolah


__ADS_3

Lakukan rencana dengan pelan.


Maka, semuanya akan berjalan mulus.


***


Tidak seperti biasanya, cuaca kala itu begitu cerah. Seakan mendukung rencana yang sudah disusun oleh Xiao dan Chan. Keduanya telah siap dengan seragam sekolahnya.


"Lihat sekolah ini... sangat mewah..." ucap Xiao sembari menatap kagum gedung yang ada di depan matanya.


"Iya, makanya kita tidak boleh gagal... kalau gagal, kamu tahu kan seberapa banyak kerugian yang kita tanggung! terutama aku!" Chan menatap Xiao dengan ujung matanya.


"Sudah kubilang, semuanya akan aku bayar dengan ciuman... atau mungkin tubuhku," sahut Xiao, yang sontak membuat Chan membulatkan matanya.


"Cih! apaan sih!" Chan meringiskan wajahnya. Dia sudah lelah dengan gombalan Xiao yang begitu-begitu saja.


"Bilang aja tertarik, iyakan?" Xiao melingkarkan tangannya ke bahu Chan. Alhasil dia langsung mendapatkan tepisan dari gadis itu.


"Sudah ah! ayo kita masuk!" ujar Chan sembari melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam lingkungan sekolah.


"Kau duluan saja, lebih baik kita tidak masuk bersama!" imbuh Xiao sambil menyilangkan tangannya di dada.


Chan melangkahkan kakinya menyusuri koridor. Kemunculannya memang menarik perhatian beberapa murid. Terutama Mei dan kedua temannya, salah satu geng anak orang kaya dan berkuasa di sekolah.


Kala itu perjalanan Chan masuk ke dalam kelas begitu mulus. Hingga akhirnya keadaan berubah, ketika Mei dan gengnya berjalan menghampirinya.


"Hei! anak baru ya?" tegur Mei sembari mengunyah permen karet di dalam mulutnya.


"Aaaarrkkhhh!" suara riuh teriakan terdengar dari luar kelas.


Tak! Tak! Tak!


"Mei! ada cowok baru ganteng banget!" seorang siswi tiba-tiba datang dengan gelagat histeris. Dia sepertinya salah satu teman dekat Mei.


"Xiao..." gumam Chan seraya menghela nafas panjang. Dia tahu betul, keberadaan Xiao akan menarik begitu banyak perhatian. Bahkan dirinya dulu pernah menjadi korban budak cinta lelaki itu saat masih di sekolah dasar.

__ADS_1


***


Baru beberapa langkah memasuki lingkungan sekolah, kedatangan Xiao sudah di sambut histeris oleh puluhan pasang mata. Bagaimana tidak, dengan penampilan barunya, dia memang tampak lebih menawan dari sebelumnya.


Dari jauh Xiao bisa melihat lelaki berambut tipis berjalan mendekat ke arahnya. Seringai langsung terukir di raut wajah Xiao, karena Shuwan Tao sudah ada di depan mata.


"Hei kenalkan aku Shuwan!" sapa Shuwan seraya menyodorkan tangannya untuk mengajak Xiao berkenalan. Gayanya terlihat begitu percaya diri, seakan Shuwan menyadari seberapa terkenalnya kekayaan klan Tao yang ia miliki.


"Kenai Liu," Xiao menyalami Shuwan dengan lembut. Dia memang sengaja memakai nama palsu, agar keberadaan dirinya tidak mudah untuk ditemukan oleh siapapun. Termasuk oleh kedua orang tuanya.


"Ayo kawan-kawan, kita antar dia ke kelasnya! cepat! cepat!" Shuwan bertitah kepada ke-lima temannya yang lebih tampak seperti berandalan tersebut.


Begitulah Shuwan, apa yang menurutnya bisa menarik perhatian ingin dia dapatkan secepatnya. Termasuk dengan menjadikan Xiao temannya. Shuwan melakukannya, karena ingin mengumpulkan orang-orang terbaik masuk ke dalam gengnya.


"Shuwaaan!... siapa dia?" Mei menghampiri Shuwan dengan menampakkan ekspresi yang menggemaskan, berharap Shuwan mau membocorkan informasi terkait siswa baru yang tadi dia ajak bicara.


"Mau tahu? nih..." balas Shuwan sembari mengarahkan jari telunjuk ke arah pipinya, untuk memberikan isyarat kepada Mei.


Plak!


Mei langsung melayangkan cap lima jarinya ke pipi Shuwan. Sontak gadis itu pun segera beranjak pergi meninggalkan Shuwan.


***


Takdir memang seringkali memberikan kejutan. Setidaknya begitulah yang di alami Xiao dan Chan, mereka tidak menduga akan berada di kelas yang sama. Alhasil keduanya pun diperkenalkan oleh guru kepada semua murid di kelas tersebut. Kemudian segera diperintahkan untuk duduk.


"Hei kenalkan aku Zhu," sapa seorang gadis yang duduk di sebelah kanan Chan. Penampilannya bisa dibilang cupu dengan kacamata dan rambut yang dikepang dua.


"Aku Jia," sahut Chan dengan senyuman tipisnya.


Di sisi lain, Xiao duduk berdekatan dengan Shuwan dan gengnya.


"Kenai, kau tinggal dimana? apa kau juga kaya raya seperti Shuwan?" tanya Ling salah satu dari anggota geng Shuwan kepada Xiao.


"Tidak juga, meskipun aku kaya, mungkin masih tidak akan sanggup untuk menandingi kekayaan yang dimiliki Shuwan!" sanjung Xiao dengan sengaja.

__ADS_1


"Kenai! bisa aja! jangan bikin aku semakin tertarik kepadamu!" respon Shuwan dengan senyum penuh percaya dirinya. Semua temannya pun langsung ikut menyanjungnya dengan berteriak begitu histeris. Hal itu sontak membuat Pak Chen yang tengah mengajar, memukul meja dengan keras.


BRAK!


"DIAM KALIAN!" titah Pak Chen dengan kening yang mengernyit.


"Ada apa ya tuan Chen?" timpal Shuwan sembari menyilangkan tangan di dada, lalu meletakkan kakinya di atas meja. Seakan dirinya memang berniat menggoda Pak Chen yang sedang mengajar.


"Shuwan hentikan! turunkan kakimu!" sekarang Pak Chen berjalan mendekati Shuwan dengan pelototannya.


"Ya sudah tuan Chen, nih aku turunin!" Shuwan hanya menurunkan satu kakinya. Sedangkan sebelah kakinya lagi masih ia biarkan tetap di meja.


"Sudahlah Pak Chen, jangan hiraukan Shuwan, ayo teruskan pelajarannya saja Pak, kami ingin cepat pulang!" Mei tiba-tiba ikut bersuara sembari menyilangkan pahanya yang hanya tertutupi dengan rok pendek, lalu menatap Pak Chen dengan memanyunkan bibirnya. Alhasil Pak Chen pun akhirnya berbalik dan kembali berjalan ke depan kelas.


"Doyan juga Pak sama yang bening! haha!" ujar Shuwan, yang direspon dengan tawa geli dari beberapa murid. Pak Chen mulai naik pitam, wajahnya berubah menjadi merah padam. Dia mengepalkan kedua tangannya dan menatap Shuwan dengan tajam.


"Jangan marah Pak, nanti keluarga Tao akan menarik semua sumbangannya untuk sekolah ini..." imbuh salah satu siswa yang sedang duduk di depan Pak Chen.


Suara bel pertanda istirahat berbunyi, Pak Chen pun keluar dari kelas dengan wajah yang cemberut. Sebab selama tiga jam mengajar tadi, dirinya tidak bisa memberikan pelajaran dengan baik. Akibat ulah Shuwan dan teman-temannya yang selalu bertindak sesuka hati.


***


"Eh Zhu! cepat ambilkan minuman segar untukku!" Mei tiba-tiba datang menghampiri Zhu, kemudian duduk di atas meja milik Chan.


"Tapi aku..." Zhu tampak menundukkan kepala, seolah tidak berani menatap wajah Mei.


"Ayolah Zhu, nanti aku kasih banyak uang, bukankah kamu sedang sangat membutuhkannya?" timpal Mei seraya mengangkat dagu Zhu dengan paksa.


Kala itu Mei memalingkah wajah ke samping untuk menatap Chan. "Hei anak baru, kita tadi masih belum sempat berkenalan dengan baik, kenalkan aku Mei!"


"Aku Cha... maksudku Jia..." Chan tersenyum kecut, karena hampir saja dirinya kelepasan menyebut nama aslinya.


"Oh Jia, kamu sepertinya dekat dengan Kenai ya? kok masuk ke sekolah ini barengan?" tanya Mei dengan tatapan yang begitu serius.


"Tidak! itu hanya kebetulan Mei, aku sama sekali tidak mengenal Xi... eh, maksudku Kenai!" tepis Chan berusaha memperlihatkan ekspresi yang meyakinkan.

__ADS_1


Berbeda dengan Chan, Xiao sekarang sudah menjadi salah satu anggota geng Shuwan. Tampaknya rencana yang telah ia susun berjalan dengan baik untuk saat ini.


Kala itu keberadaan Xiao semakin menarik perhatian. Selain karena ketampanannya, dia juga telah menjadi bagian kelompok paling populer di sekolah tersebut.


__ADS_2