Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 23 - Bersembunyi


__ADS_3

'Xiao. . . dia awalnya hanya cinta monyetku. Namun lama kelamaan berubah menjadi seseorang yang membuatku bersemangat menjalani hidup. Kala orang tuaku pergi, aku kehilangan segalanya tetapi semuanya berbeda ketika aku melihat Xiao dari jauh.' -Chan


***


"Shuwan!!!" Anming memanggil nama sang anak dengan ekspresi sangarnya, dia melangkah dengan tempo cepat untuk menghampiri Shuwan. Amarahnya sedang berapi-api seperti kobaran si jago merah yang tengah melalap rumahnya.


Anming segera mencengkeram erat kerah baju Shuwan, lalu melayangkan pelototan. "Apa yang sudah kau lakukan anak bodoh?!" geram Anming seraya menggertakkan gigi.


"Semuanya karena Kenai Ayah!" Shuwan berani menatap mata ayahnya. Anming mulai melonggarkan cengkeramannya dan bertanya, "Siapa dia?"


"Dia murid baru di sekolah," jelas Shuwan.


Plak!


Anming melayangkan pukulan ke pipi Shuwan. Kemudian memberikan tinjunya beberapa kali, hingga membuat sang anak jatuh tersungkur ke tanah. "Persetan dengan dia, yang jelas semuanya ini adalah salahmu! jangan pernah kembali sebelum kamu membawa anak itu!!!" nafas Anming mulai naik turun, dia sekarang menendang tubuh putranya dengan beringas. Shuwan hanya bisa meringkuk di tanah dan terdiam sambil berusaha menahan rasa sakit di badannya.


"Ngapain diam! cepat pergi!!!" bentak Anming, lalu menatap nanar ke rumahnya yang telah terbakar. Satu per satu pemadam mulai berdatangan, namun bagi Anming semuanya sudah terlambat.


***


Ngeeng! Ngeeng!


Dua mobil lewat dengan kecepatan tinggi. Seorang pria berperawakan bugar segera melipat koran yang menutupi wajahnya. Dia pun bangkit dari tempat duduknya. Perlahan tangannya merogoh saku celana-nya.


"Bos, aku sudah menemukan anakmu! benar dugaanku. Dia sedang mencoba mendekati keluarga Tao!" Feng berbicara kepada Hongli melalui ponsel jadulnya.


"Benarkah?" Hongli membulatkan matanya, dia merasa begitu dibuat kaget. "A-a-apa kau tahu yang telah dilakukan Xiao?" sambungnya lagi.


"Parah! dia sepertinya membakar rumah keluarga Tao, lalu mencuri mobilnya!" jelas Feng, namun malah tidak mendapat jawaban dari Hongli, panggilannya langsung terputus seketika.


"Halo? bos?" Feng memencet-mencet ponsel jadul-nya akibat dirundung kebingungan.


Di sisi lain, Hongli merasa sangat frustasi setelah mendengat kabar Xiao. Alhasil dia pun segera mempersiapkan diri untuk turun tangan langsung menemui sang anak.


***


"Xiao, aku merasa tidak tega menjual mobil itu." Chan menatap mobilnya dengan wajah sendu.


"Haiss! kau ternyata sama saja dengan cewek lainnya, nggak bisa lihat benda berkilau!" sindir Xiao yang segera mendapat tatapan jengah Chan. Keduanya baru saja melakukan transaksi jual beli. Selanjutnya mereka pun bergegas kembali pulang untuk mengambil barang-barang penting.


"Xiao, bukankah sebaiknya kita harus cepat-cepat pergi dari kota ini?" ungkap Chan.

__ADS_1


"Justru karena itulah! aku yakin Anming akan menutup semua jalur transportasi sekarang. Sebab itulah kita sebaiknya bersembunyi dahulu di tempat aman, toh kita cuman berdua pasti bakalan kalah melawan para pengawalnya!" jelas Xiao. Dia dan Chan tengah berjalan melewati gang kecil.


"Tapi, kalau kita cepat-cepat, bisa lolos kan?" ungkap Chan.


"Resikonya sangat besar, kita lebih baik menunggu mereka lengah saja," sahut Xiao yakin. Dia berjalan memimpin lebih dahulu.


"Kalau begitu, kita harus mencari tempat penginapan yang aman." Chan menyamakan langkahnya dengan Xiao.


"Bagaimana kalau motel?" usul Xiao, yang sontak membuat mata Chan membola.


"Kenapa kaget begitu Chan?" Xiao tersenyum smirk, dia bisa menerka apa yang sedang ada dipikiran Chan.


"Kaget? eng-enggak kok! siapa yang kaget!" bantah Chan, pandangannya meliar kemana-mana akibat salah tingkah.


"Udah, aku bukan cowok yang jahat kok, kan kamu tahu." Xiao merangkul pundak Chan.


"Untuk saat ini sih begitu." Chan mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian segera mengukir senyuman.


Xiao dan Chan terus berjalan menyusuri gang. Keduanya sedang mencari tempat penginapan yang agak tersembunyi agar tidak mudah ditemukan. Hingga atensi Chan tertuju pada sebuah penginapan kecil yang sepi dari keramaian.


"Xiao, lihat itu!" Chan menunjukkan Xiao apa yang sudah dilihatnya.


"Selamat malam Kek! apa ada kamar yang kosong?" tanya Xiao kepada lelaki tua penjaga penginapan.


"Tentu, tetapi hanya tersisa satu kamar!" lelaki tua itu langsung mengambilkan kunci kamar untuk Xiao dan Chan.


"Sa-sa-satu kamar?" mata Chan membulat sempurna. "Xiao! lebih baik kita cari tempat lain saja," ujar-nya lagi seraya memegangi lengan baju Xiao.


"Cih! apaan sih Chan! takut betul. Aku nggak bakalan ngapa-ngapain kamu kok!" balas Xiao dengan sedikit terkekeh. Sang lelaki tua ikut tertawa kecil melihat tingkah laku Chan. Kemudian segera berjalan untuk menunjukkan kamar.


Bruk!


Xiao merebahkan diri lebih dahulu ke kasur. "Hedeh, capeknya. . ." lirih-nya.


"Xiao, jangan masuk ke kamar mandi ya! aku mau mandi!" titah Chan sembari mengambil handuk dari ranselnya. Xiao hanya merespon dengan mengacungkan ibu jari tangannya.


***


"Apa kau menemukan sesuatu?" tanya Shuwan kepada Peng. Dia sedang berada di rumah kontrakan bekas Xiao dan Chan.


"Tidak ada jejak sama sekali!" Peng menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Sialan!!!" pekik Shuwan sambil menendangi benda-benda yang ada di sekitarnya. "Cepat cari lagi! kenapa diam saja! kalau perlu cari ke seluruh tempat yang ada di sini!" titah-nya lagi. Alhasil semua pengawalnya pun mulai berlarian untuk mencari keberadaan Xiao.


Malam itu keluarga Tao dan pengawalnya tersebar ke seluruh penjuru kota Ding Yang. Kebanyakan dari mereka berjaga di jalur transportasi. Viera yang melihat keadaan tersebut segera berniat pergi menemui Xiao dan Chan.


"Viera. . ." perhatian Viera teralihkan, saat dirinya mendengar sayup-sayup suara seseorang yang memanggilnya.


"Viera. . ." sekali lagi suara itu kembali terdengar, lantas Viera yang penasaran segera mencari tahu sumber suara tersebut. Dia terbang begitu jauh hingga meninggalkan kota Ding Yang.


***


Ceklek!


Chan keluar dari kamar mandi, dia langsung disambut dengan penampakan Xiao yang sedang tertidur. Dia melangkah dengan pelan, untuk mencoba memperhatikan wajah Xiao yang terlelap.


Deg!


Jantungnya mulai berdegub kencang. Dirinya tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah tampan itu.


"Booo!" Xiao sengaja membuat Chan kaget. Usahanya tersebut berhasil membuat Chan hampir jantungan.


"Nggak lucu!" timpal Chan yang tidak terima dengan perlakuan Xiao.


"Maaf Chan! kau lucu sekali. Ayo kita tidur!" Xiao sedikit bergeser untuk memberikan ruang untuk Chan.


"Ih! kamu nggak mau mandi dulu?" Chan meringiskan wajahnya.


"Ah! ngapain, aku mau mandinya setelah selesai tidur denganmu saja," goda Xiao, yang sontak membuat pipi Chan memerah bak kepiting rebus. Gadis itu mematung di tempat.


"Terserah kalau nggak mau, tidur di lantai saja gih!" kata Xiao, yang segera membuat Chan tidak punya pilihan lain selain merebahkan diri di sampingnya.


"Chan, boleh aku bertanya?" ungkap Xiao seraya memejamkan mata.


"Apa?"


"Sejak kapan kau hidup sendirian?" Xiao tampaknya melontarkan pertanyaan serius.


"Lumayan lama. . ." jawab Chan dengan lirihnya, dia melirik Xiao sejenak. Kemudian ikut-ikutan memejamkan mata.


"Kau hebat bisa bertahan sejauh ini. Ternyata keputusan Viera untuk menyelamatkanmu tidak salah," ucap Xiao.


'Iya, Viera memilihku karena aku adalah sasaran empuk untukmu, yang mungkin akan selalu berada disampingmu. Tetapi memang begitulah kenyataannya,' Chan menjawab dalam hati. Keduanya pun perlahan terlelap, karena kantuk dan lelah yang tidak tertahankan lagi.

__ADS_1


__ADS_2