
Apa yang tersembunyi pasti akan terungkap. Meski harus menunggu puluhan tahun lamanya.
***
Bruk!
Spiderblood menjatuhkan Anming ke lantai. Kemudian segera menutup pintu rapat-rapat. Hongli yang tidak sengaja mendengar keributan itu, perlahan membuka matanya. Indera penglihatannya sontak terbelalak kala menyaksikan rivalnya sedang terbaring lemah di hadapannya.
'Anming? apa dia juga ditangkap orang-orang sinting ini?' batin Hongli, mencoba mencari jawaban.
"Apa kau terkejut tuan Wong? hahaha!" ujar Spiderblood sambil menggosok-gosokkan telapak tangannya. "Harusnya kau senang, karena aku bawakan seorang teman!" tambahnya. Dia terlihat menyeret badan Anming dan menjeratnya dengan rantai besi.
"Kalian dipersilahkan saling bertatapan, mungkin itu bisa mengingatkan kesalahan besar yang pernah kalian lakukan!" sambung Spiderblood lagi. Setelah melepaskan penutup mulut Hongli dan Anming, ia langsung keluar dari ruangan.
Hongli menatap tajam ke arah rivalnya yang terkulai lemah.
"Ternyata. . . kau. . . juga. . . di sini. . ." Anming bersuara dengan seadanya. Namun Hongli hanya terdiam, ia hanya menggertakkan giginya.
"Anakmu. . . semuanya, gara-gara dia. . ." Anming kembali melanjutkan, sekarang ia berusaha mengubah posisi menjadi duduk. Dia mengangkat tubuhnya perlahan, meski disertai rintihan seolah kesakitan.
"Kurang ajar! beraninya kau menyalahkan Xiao. Dari awal sudah jelas salahmu! kenapa orang Jepang itu membunuh kita, dan kenapa Xiao mencoba menghancurkanmu." Hongli mengingat kesalahan Anming cukup detail. "SEMUANYA SALAHMU!!!" dia menambahkan dengan pekikan yang penuh akan ketegasan.
Membuat Anming tak kuasa membendung patrian cemberut diwajahnya. Dia sepertinya tidak terima kalau dirinya disalahkan. Sekarang dia dan Hongli saling bertukar tatapan tajam, mata mereka seakan memancarkan kilatan penuh akan kebencian.
"Apa kau lupa orang pertama yang menjadi tawanan kita?!" tanya Hongli dengan nada penuh penekanan. Dia tahu betul sejak Anming mengajak dirinya untuk menjadi pembunuh bayaran, mereka memiliki seorang sasaran yang berasal dari Jepang. Hongli yakin, Spiderblood mempunyai hubungan khusus dengan korban yang pernah menjadi tawanannya itu.
Ceklek!
Tanpa disangka Spiderblood kembali lagi. Dia menatap Hongli dan Anming secara bergantian. Dia tampak memegangi sesuatu di tangan kirinya. Dia berdiri di tengah, tepat di antara dua tawanannya.
"Apa kalian mengingat wajahnya?" Spiderblood sekarang menunjukkan benda yang dipegangnya. Ternyata itu adalah sebuah foto seorang wanita.
Benar dugaan Hongli, karena sosok di dalam foto tersebut adalah korban yang pernah dibunuhnya dan Anming. Terutama ketika keduanya masih saling bekerjasama.
__ADS_1
***
Xiao mengangkat kedua alisnya. Seringai terukir di raut wajahnya kala mendengar kalimat yang di ucapkan Chan. Dia mendekatkan wajahnya, hingga membuat mata gadis di hadapannya membola.
"Jangan menyentuhku!" tegas Chan. Namun Xiao malah menyunggingkan mulutnya ke kanan, kemudian mencium puncak kepala Chan. Bibirnya menempel cukup lama. Jantung Chan menjadi berdebar tidak karuan akibat ulah Xiao. Dia sempat terpaku untuk sejenak.
"Anggap itu salam perpisahan dariku!" ucap Xiao sembari menjauhkan diri dari Chan. Sedangkan Chan tampak beberapa kali mengerjapkan mata karena berusaha menenangkan diri. Setelah mendengar ucapan Xiao, ia hanya terdiam dengan kepala menunduk.
"Berhenti di persimpangan itu Bri! kita turunkan Chan di sana!" ujar Xiao sambil melepaskan ikatan yang menjerat badan Chan. "Kau tidak mau mengucapkan kalimat perpisahan?" tanya-nya. Namun Chan hanya membuang muka, dan tidak mengatakan apapun.
Mobil perlahan berhenti. Chan lantas segera keluar dan berderap menyusuri jalanan sendirian, ia tidak menoleh sedikit pun ke belakang.
Xiao keluar dari mobil ia menatap punggung Chan yang semakin menjauh. Kedua tangannya tampak dimasukkan ke saku celananya.
"Sudahlah bro! jangan terlalu dipikirkan. Kalau Chan masih cinta denganmu, dia pasti kembali. Sebab aku bisa melihat ekspresi terkesima Chan, saat kau membenamkan wajahmu ke keningnya!" celetuk Brian yang mendadak sudah berdiri di sebelah Xiao.
"Kau!" Xiao menyalang ke arah lelaki di sampingnya tersebut. Dia dibuat kaget, ternyata Brian menontoni apa yang dilakukannya bersama Chan saat ada di mobil tadi. "Bagaimana kau. . . oh! kau sepertinya tidak menggeser cerminmu itu ya!" tambahnya.
"Aku tidak peduli!" jawab Xiao tak acuh.
"Kau lihat itu?" Brian menunjuk sebuah mobil yang tidak jauh dari keberadaannya. Xiao lantas memusatkan atensinya pada benda yang ditunjukkan oleh Brian.
"Sepertinya mereka mengikuti kita sejak turun dari pesawat!" jelas Brian, yakin.
"Aku tahu. Mereka anak buah Ibuku."
"Kenapa kau diam saja?" sahut Brian.
"Berpura-pura saja tidak melihat mereka, aku ingin tahu hasilnya akan seperti apa!" Xiao berjalan memasuki mobilnya. Brian terlihat memperhatikan Chan yang makin mengecil akibat saking jauhnya sudah ia berjalan.
"Aku harap Al bertemu dengannya," gumam Brian, lalu masuk ke dalam mobil.
"Kau sepertinya benar-benar melepas Chan? jadi kau tidak akan menyuruhku untuk membuat dia kembali padamu kan?" tanya Brian pada Xiao.
__ADS_1
"Untuk sekarang, abaikan saja dia!"
"Kau yakin? sudah ku-bilang, semua orang sudah tahu bahwa dia adalah gadis yang berharga untukmu!"
"Aku tahu. Tetapi aku ingin mempercayai Chan, bahwa dia mampu menjaga dirinya sendiri," ujar Xiao yang tampak meyakinkan.
"Oh sepertinya kau sedang mengabulkan keinginannya tadi ya? ughh! romantisnya, haha!" goda Brian yang di akhiri dengan gelak tawanya. Menyebabkan Xiao harus melayangkan tinjunya ke perut lelaki tersebut.
Syuut!!
Brian reflek menghentikan mobil tepat di tengah jalan akibat serangan Xiao. Dia sontak memegangi area perutnya yang terasa ngilu. Lelaki itu melotot ke arah Xiao.
"Kenapa?" Xiao mengangkat dagunya. "Bukankah kau yang mulai? hah!" geramnya yang tak terima dirinya dipelototi.
Bip! Bip! Bip!
Mobil-mobil di belakang melakukan aksi protes, karena mobil Brian dan Xiao menghalangi jalanan. Alhasil Brian pun lekas-lekas menjalankan mobilnya lagi.
Di sisi lain, Chan terus melajukan langkahnya. Entah kenapa hatinya merasa sangat sesak dan kesal dengan apa yang telah terjadi kepada dirinya.
"Aaarrkhhhh!!!" Chan tidak sengaja mengeluarkan kekesalannya melalui teriakan. Hingga menyebabkan dirinya menjadi pusat perhatian orang-orang di jalanan trotoar. Namun sepertinya gadis tersebut sama sekali tak peduli dengan puluhan pasang mata yang menatapnya. Dia hanya kembali melanjutkan jalannya memasuki area yang agak sepi.
Tes. . . Tes . . . Tes. . .
Gerimis menemani kekalutan yang sedang di alami Chan. Sekarang gadis itu berhenti untuk membiarkan tetesan-tetesan kecil membasahi tubuhnya. Dia mendongakkan kepala agar pikirannya bisa lebih tenang dengan bulir air dingin yang menyentuhnya.
Raut wajah Chan mendadak memunculkan semburat rengekan. Dia kembali tidak mampu membendung air mata yang ingin menetes. Chan menangis sejadi-jadinya. "Kenapa kau sangat murahan Chan! hiks!" dia mengumpat dirinya sendiri sampai sebelah kakinya menghentak ke tanah.
Chan sepertinya tidak mampu berdiri lagi, dia sekarang berjongkok dan semakin meratapi nasibnya. 'Aku harus bagaimana sekarang?' batinnya.
Tiba-tiba sepasang kaki muncul di hadapannya. Penampakkan sepatu itu terlihat tidak asing. Chan sontak menghentikan tangisannya. Dia perlahan mendongakkan kepalanya untuk memastikan sosok di hadapannya.
"Kau kemana saja Chan? apa kau tahu? aku mencarimu kemana-mana!" ujar sosok misterius itu. Mata Chan membulat sempurna tatkala menyaksikan wajahnya.
__ADS_1