
Bahkan satu kata pun bisa menyakiti hati orang. Jadi, berhati-hatilah terhadap omonganmu sendiri.
***
Chan semakin mengeratkan pelukannya, dia menenggelamkan wajahnya di pundak Xiao. Entah kenapa dirinya sangat merindukan sentuhan lembut dari seorang Xiao.
"Tinggallah bersamaku Chan," ucap Xiao sembari mencuri kesempatan untuk membaui helaian rambut gadis yang ada dalam pelukannya.
"Xiao!" tiba-tiba terdengar suara seorang gadis yang sepertinya berhasil memergoki kegiatan Xiao dan Chan. Dialah Olive yang sebenarnya sedari tadi mencari-cari keberadaan Xiao.
Chan dan Xiao pun reflek saling melepaskan pelukannya. Chan mendengus kesal kala menyaksikan kemunculan Olive. Dia segera melayangkan tatapan penuh arti kepada Xiao. Berharap Xiao lekas-lekas bertindak untuk menjauhkan Olive.
"Kau sedang apa bersama gadis ini?" Olive menatap Chan sinis.
Xiao yang mengerti dengan tatapan Chan tersenyum tipis. "Olive, kita putus saja!" ujarnya, yang sontak membuat Olive terperangah.
"Kenapa tiba-tiba?! jangan bilang gara-gara gadis jal*ng ini?!" balas Olive yang tak terima.
"Apa kau bilang? jal*ng?!" Chan menyahut dengan penuh amarah.
"Iya! wajahmu itu sangat mirip seorang pelac*r yang kukenal!" Olive mendekati Chan dengan sorot mata yang menyalang. Mendengar hal itu, Chan langsung melayangkan tamparan ke pipi Olive.
Plak!
"Sialan!" geram Olive sembari memegangi pipinya yang sakit, giginya menggertak kesal. Dia pun mengangkat sebelah tangannya karena berniat membalas tamparan Chan. Namun Xiao segera menahan tangan Olive dengan sigap.
"Kenapa kau berada di pihak gadis murahan ini! aku yakin dia sudah memberikan setiap jengkal badannya kepadamu. Sebab dia hanya punya itu untuk menarik perhatianmu. Kaya pun tidak, bahkan wajahnya tidak secantik diriku, hidup sebatang kara lagi, benar-benar menyedihkan! gadis itu tidak pantas--" ucapan Olive terjeda kala Xiao mencengkeram helaian rambutnya dengan kasar. Namun Chan ingin membalasnya sendiri, sehingga akhirnya ia pun menarik rambut Xiao untuk menjauh dari Olive.
"Aaaa!" Xiao reflek merintih. Tangannya perlahan melepaskan helaian rambut Olive.
Bruk!
Xiao sontak langsung terjatuh ke lantai. Dia terkejut dengan kekuatan yang dimiliki Chan. Mungkin amarahnya lah yang otomatis membuat Chan bertindak begitu.
Tanpa pikir panjang, Chan segera menjambak rambut Olive dengan beringas. Hingga dia dan Olive terhempas ke lantai. Olive yang tak ingin kalah tentu membalas dengan cara yang sama. Sekarang keduanya saling jambak-menjambak rambut satu sama lain. Bahkan Chan tak segan-segan mencakar bagian wajah Olive.
__ADS_1
"Dasar jal*ng!!!" pekik Olive kesal, dia akhirnya ikut melayangkan kukunya ke wajah Chan.
"Kau yang jal*ng!!!" balas Chan yang tak kalah nyaring. Dia berusaha menghindari serangan Olive dengan cekatan.
Melihat keributan tersebut, Xiao lekas-lekas untuk mencoba melerai. "Bisakah kalian berhenti!" titahnya seraya melepaskan cengkeram Chan dan Olive yang sedang saling menyerang.
"Menjauhlah Xiao!" Olive mendorong Xiao menjauh sekuat tenaga.
"Xiao jangan ikut campur masalah wanita!" Chan menegaskan, tanpa sengaja tangannya menggeplak wajah Xiao.
"Aaaa!" lagi-lagi Xiao mengerang kesakitan. Karena dorongan dan pukulan dari kedua gadis yang berkelahi itu berhasil mengenainya.
"Biarkan saja Xiao!" usul Devgan.
"Ternyata pertengkaran wanita mengerikan juga!" keluh Xiao sambil mendengus kasar.
Lama-kelamaan keributan yang ditimbulkan Chan dan Olive mulai menarik perhatian murid lainnya. Mereka sekarang bergerombol untuk menonton pertikaian tersebut.
Xiao mengacak-acak rambut frustasi. Sekali lagi dia mencoba melerai Chan dan Olive. Namun kali ini ia meminta bantuan teman-temannya.
"Kalian sedang apa? hah?!" seorang guru akhirnya memergoki perkelahian Chan dan Olive. Dia pun segera turun tangan untuk menghentikan keributan tersebut.
Sekarang Chan dan Olive langsung dibawa ke kantor guru. Keduanya ditanyai mengenai alasan pertengkaran yang telah terjadi.
"Dia mengataiku gadis murahan Bu!" tutur Chan. Rambut dan seragamnya terlihat masih acak-acakan.
"Itu kan memang benar! sebab kau sudah menjual semua harga dirimu kepada pacarku. Sampai-sampai dia langsung memutuskan hubungan denganku, dasar sialan!!" balas Olive, yang tentu saja berhasil membuat kemarahan Chan kembali tersulut.
"Justru kaulah yang murahan!" Chan bangkit dari tempat duduknya.
"Apa! jelas-jelas kau!" Olive sontak ikut berdiri.
"HENTIKAN!!" Bu Ming sudah tidak kuat lagi mendengar perdebatan Chan dan Olive. Dia segera menyarankan kedua anak didiknya tersebut untuk duduk kembali.
"Kalian tahu kan sekolah kita sedang banyak masalah. Kenapa kalian malah menambah masalah baru, hanya karena memperebutkan seorang lelaki?!" Bu Ming menghentikan kalimatnya sesaat. "Kalian masih punya masa depan yang panjang, kenapa mau membuang waktu kalian hanya untuk seorang lelaki yang mungkin sama sekali tak peduli," sambungnya sambil menatap ke arah Chan dan Olive secara bergantian.
__ADS_1
"Tentu karena cinta-lah Bu, dia padahal baru saja mengajakku berpacaran kemarin. Tetapi karena gadis ini, hari ini dia langsung memutuskanku!" rengek Olive, yang sontak membuat Chan memutar bola mata jengah.
Bu Ming menggeleng tak percaya ketika mendengar pernyataan Olive yang terkesan berlebihan. Sekarang dia menatap serius ke arah Chan dan bertanya, "Apa itu benar kau sengaja merebut pacarnya?"
Chan terperangah, dia sebenarnya ingin menjelaskan mengenai cerita panjang hubungannya dan Xiao. Namun urung karena hanya akan membuang waktu. Dan mungkin saja Bu Ming tidak akan mempercayainya.
"Aku hanya berteman dengannya." Chan menjelaskan singkat.
"Bohong! jelas-jelas aku melihatmu berpelukan dengan Xiao!" timpal Olive dengan keadaan dada yang naik turun karena merasa kesal lagi.
"Kau bahkan tidak membiarkanku memberikan penjelasan!" sahut Chan seraya melotot ke arah Olive.
"Sudah! cukup!" tegas Bu Ming. Karena merasa tidak tahan, dia pun bangkit dari tempat duduknya dan menyuruh Pak Hao untuk menjaga Chan dan Olive sementara.
"Kalian tunggulah, aku akan bawakan lelaki yang sudah membuat kalian bertengkar!" ucap Bu Ming sembari keluar dari ruangan.
'Pffft! aku penasaran dengan apa yang akan dikatakan Xiao nanti,' batin Chan yang perlahan mengukir senyuman miring.
"Hehh! kenapa kau senyum-senyum sendiri? segitu tergila-gilanya kah dengan Xiao. Jangan bermimpi!" sinis Olive. Tetapi hanya direspon Chan dengan senyuman remeh, karena dia tahu betul Xiao akan selalu berada di sisinya.
Tiba-tiba dari depan pintu muncul Li-Jun yang sepertinya mengkhawatirkan Chan. Dia berdiri sambil menatap Chan, lalu menanyakan keadaan dengan bahasa tubuhnya.
Chan hanya meresponnya dengan senyuman dan menunjukkan jempolnya, pertanda ia sedang mengatakan bahwa keadaan sudah membaik.
"Hehh! kau sudah menyerahkan diri ke berapa cowok sih?!" tukas Olive yang ternyata menyadari adanya interaksi antara Chan dan Li-Jun.
"Bisakah kau tutup mulutmu itu. Pantas saja dia tersulut emosi, karena kau menggunakan mulut itu tanpa sopan santun. Jika aku mendengarnya lagi, aku tidak akan segan-segan memberikan poin negatif ke nilai kesopananmu!" ancam Pak Hao geram. Dan berhasil membuat Olive terdiam seribu bahasa.
Di sisi lain Bu Ming sudah menemui Xiao. Dia menyuruh lelaki tersebut untuk mengatakan sesuatu kepada Chan dan Olive.
"Xiao, kau tidak menyukai kedua gadis itu kan? Jadi untuk menjadikan keadaan kondusif lagi terhadap mereka, kau lebih baik beralasan kepada mereka bahwa dirimu ingin fokus pada pendidikanmu. Oke?" saran Bu Ming seraya berjalan berbarengan dengan Xiao.
"Baiklah." Xiao menjawab malas.
'Enak aja ngatur-ngatur, terserahku mau ngomong apalah,' gumam Xiao dalam hati.
__ADS_1