Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 26 - Mencari Cenayang


__ADS_3

Jika sendirian, kita hanya bisa mengandalkan diri sendiri.


***


Xiao terus mencoba mencari Chan, namun seberapa besar usahanya dia tidak akan berhasil. Karena gadis yang dicarinya berada di dimensi lain.


"Hei! apa kau melihat gadis seumuranku barusan di sini? tapi tidak di dunia ini," tanya Xiao kepada salah satu hantu berambut panjang yang berada di sekitar jembatan. Hantu itu tidak bisa bicara, tetapi menganggukkan kepala.


"Benarkah? kemana dia? apa kau bisa membantuku masuk ke dimensi lain?" Xiao tampak gelagapan. Namun hantu yang dia tanya hanya terdiam dan melotot ke arahnya.


"Tidak mudah untuk hantu se-level dia mampu membawamu ke sana!" hantu seorang wanita tua menyahut dari belakang.


"Kau?" mata Xiao membola melihat kehadiran hantu wanita tua dengan suara seraknya. "Apa Chan baik-baik saja?" Xiao meneruskan pertanyaannya.


"Entahlah, yang pasti dia sudah dibawa oleh hantu pengejar," sahut si hantu wanita tua.


"Apa kau bisa membantuku untuk kembali lagi ke sana?" Xiao mengernyitkan dahi.


"Aku juga bukan hantu yang mampu membawamu ke sana. Teman gadismu itu memang punya bakat yang luar biasa, tetapi sangat berbahaya untuknya." Hantu wanita tua tersebut melayang mendekati Xiao.


"Terus, bagaimana aku menyelamatkannya?" Xiao menatap dengan binar getir di matanya.


"Mungkin kau bisa bertanya dengan cenayang," usul sang hantu wanita tua. Lantas Xiao pun segera melangkahkan kaki keluar dari tempat dirinya berada sekarang.


"Ingat anak muda, tidak semua cenayang itu asli. Kau mungkin akan kesulitan mencari-nya!" hantu wanita tua itu mencoba mengingatkan Xiao.


"Itu mudah!" jawab Xiao singkat sembari melajukan lari-nya.


"Viera kemana sih saat aku dan Chan sedang membutuhkan-nya?" gumam Xiao seraya memakaikan tudung hodie-nya ke kepala.


'Aku tidak peduli sekarang, yang jelas aku akan membunuh siapapun yang menghalangiku. Aku tidak bisa terus mengandalkan orang lain. Saatnya aku bertindak dengan caraku sendiri!' tekad Xiao membulat dalam benak. Dia menyimpan sebilah pisau di saku celananya.


Kala itu Xiao mengenakan pakaian serba hitam, termasuk ranselnya. Dia memakai masker untuk menutupi sebagian wajahnya, agar bisa menghindari orang-orang Tao. Satu-satunya orang yang ingin Xiao tanyai adalah wanita paruh baya pemilik laundry yang dirinya temui tempo hari. Dia menyusuri jalanan dengan lancar.

__ADS_1


Kling! Kling!


Gemerincing suara lonceng berbunyi saat Xiao memasuki toko laundry. Dia perlahan membuka masker hitam yang menutupi hidung dan mulutnya. Wanita paruh baya yang sedang tertidur sontak langsung terbangun.


"Eh kau lagi? kenapa pagi-pagi buta ke sini? mau nagih pekerjaan itu ya?" tanya sang wanita paruh baya yang sering di sapa pelanggannya dengan sebutan bibi Anchi.


"Tidak kok! aku hanya ingin menanyakan sesuatu!" ujar Xiao.


"Baiklah. . ." bibi Anchi menatap Xiao curiga. Dia mengelus-elus dagunya sendiri dengan jari telunjuknya.


"Apa kau tahu seorang cenayang yang bisa dipercaya?" tanya Xiao yang menampakkan raut wajah serius.


"Hahahaha! kau ke sini hanya mau menanyakan perihal itu?" bibi Anchi menganggap remeh pertanyaan yang dilontarkan Xiao.


"Cepat! aku tidak ingin basa-basi!" Xiao mengambil pisau dari saku celana dan mengarahkannya tepat ke leher bibi Anchi. Sorot matanya sangat mengancam wanita paruh baya yang sedang berdiri di depannya.


"A-a-anak muda, a-a-apa yang kau--"


"Cepat! katakan saja! aku tidak punya waktu!" bentak Xiao kepada bibi Anchi yang perlahan mengangkat kedua tangannya.


"Siapa dia? dimana aku bisa menemuinya?" tanya Xiao yang sudah tidak sabar.


"Namanya Br-Bri-Briam? Brian? mungkin," ucap bibi Anchi dengan penuh keragu-raguan.


Lidah Xiao berdecak kesal. "Jadi Briam atau Brian?" geram-nya.


"Aku lupa! tapi aku akan mencarikan selembar kertas yang cenayang itu berikan padaku, tapi kau harus turunkan ini dahulu." Mata bibi Anchi menatap ke pisau. Alhasil Xiao pun perlahan menarik kembali pisaunya.


"Cepat carikan!" titah Xiao, yang segera membuat bibi Anchi bergegas mendekati bak sampah di dekatnya.


"Kau-membuangnya?" dahi Xiao berkerut.


"Iya, karena aku tidak pernah mempercayai para cenayang!" imbuh bibi Anchi sambil mengobrak-abrik tempat sampahnya.

__ADS_1


Setelah lumayan lama menunggu, akhirnya bibi Anchi menemukan apa yang dicarinya. Lantas dia segera memberikannya kepada Xiao. "Ini dia, sekarang per-pergilah!" ujar bibi Anchi yang berusaha menjaga jarak dari keberadaan Xiao.


"Oke, terima kasih. . ." Xiao menunduk sejenak, lalu melanjutkan, "berhentilah berbicara omong kosong, jika bertemu orang yang tidak sabaran. Kau mungkin sudah dibunuh!" Xiao langsung melingus pergi keluar dari toko laundry.


"Apa cenayang sepenting itu? sampai kau tega mengarahkan pisau ke leher seseorang?" geram bibi Anchi, yang hanya berani berbicara ketika Xiao sudah pergi.


Xiao memperhatikan dengan seksama selembar kertas yang diberikan oleh sang wanita paruh baya. Kertas itu berisi info mengenai identitas dan juga alamat seorang cenayang. Tertulis nama Brian dan Al sebagai cenayang yang bisa membantu masalah gangguan makhluk halus. Xiao mengambil ponselnya yang sudah sejak lama dimatikan, dia segera menghubungi nomor telepon yang tertera.


"Halo? apa aku bicara dengan Brian?" Xiao berbicara dalam sebuah panggilan telepon.


Dari seberang telepon, seorang lelaki yang berumur tiga puluh tahunan menyeringai dan berkata, "Benar sekali. . ."


"Karena kau-cenayang aku rasa kamu sudah tahu maksud tujuanku!" sahut Xiao.


"Tentu, datang saja ke alamat yang tertera di kertas yang kau pegang. Toh keberadaanmu sekarang tidak begitu jauh!" kata suara lelaki yang didengar Xiao.


Setelah panggilan berakhir, Xiao segera membuang kartu seluler yang telah ia gunakan. Ponselnya kembali dalam mode mati.


Hari semakin siang, masyarakat di kota Ding Yang mulai melakukan aktivitas keseharian mereka. Termasuk ikut andil dalam memenuhi jalanan trotoar. Dengan begitu Xiao akan mudah untuk berbaur.


Entah sudah berapa puluh orang Tao yang sudah Xiao lihat dalam perjalanan. Namun dirinya tidak hirau bahkan takut. Yang paling penting sekarang adalah bisa membawa Chan kembali ke dunia nyata.


Xiao melambatkan langkahnya ketika sudah berada di tempat yang ia tuju. Atensi-nya segera teralih dengan kemunculan Viera, yang tiba-tiba keluar dari bangunan di depannya.


"Viera! kau kemana saja?" tanya Xiao seraya menggertakkan gigi.


"Maaf Xiao! mereka memanggil dan membuatku terperangkap di sini!" sahut Viera.


"Apa? maksudmu?"


"Brian adalah teman Jonas, orang yang sudah dibunuh kedua orang tuamu. Lelaki yang pernah kau beri nama Kenai, kau tidak lupa kan?" terang Viera yang sontak membuat Xiao sangat dibuat kaget.


Xiao menggeleng, dia segera menepis kekhawatirannya karena wajah Chan terlintas dalam pikirannya. "Terserah! yang paling penting kita harus bisa menyelamatkan Chan!" ungkap Xiao sambil melangkah masuk ke rumah Brian.

__ADS_1


"Xiao, aku bisa membantu mencari Chan. Tetapi suruh Brian untuk menghapus pembatas yang menghalangiku." Viera terbang melayang di samping Xiao.


"Aku akan mencoba." Xiao perlahan mendorong pintu yang ada di hadapannya.


__ADS_2