Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 124 - Renggutan Kematian


__ADS_3

Warning! episode ini mengandung gore, dan tidak untuk ditiru. Kepada anak di bawah umur dan yang merasa tidak nyaman dengan adegan darah-berdarah dilarang membaca!


...-----...


Waktu terus berlalu, satu per satu, orang-orang menghilang dan pergi.


***


Suara gemercik hujan beserta derap langkah menderu hebat. Suasana merah temaram. Jika dibandingkan dengan kegelapan, mungkin suasana tersebut dua kali lipat lebih mengerikan. Darah yang terpancar dari tumbangnya manusia pun tak terlihat. Dikarenakan warnanya telah menyatu dengan air hujan.


Feng sudah kehabisan pelurunya. Beberapa orang bertopeng pun terlihat berjalan semakin mendekat. Mereka menyebar dan berusaha masuk ke rumah James.


Fa yang ada di samping Feng, berusaha melindungi rekannya sebisa mungkin. Dalam genggaman kedua tangan perempuan itu terdapat pistol. Beberapa peluru meluncur dengan begitu dahsyatnya.


"Aaaaaarkkkhhh!!!" Fa mengerang hebat sambil terus menarik pelatuk pistolnya. Teriakannya menunjukkan bahwa dia tengah mengeluarkan energi terbaiknya. Tubuhnya bergetar hebat akibat kekuatan senjata api yang dipegangnya.


Lama kelamaan nafas Fa mulai tersengal-sengal. Satu peluru berhasil mengenai bagian lengannya. Fa sontak meringis kesakitan. Tangannya reflek memegangi bagian tubuhnya yang sakit.


Feng bergegas membantu, dengan cara mengambil alih pistol dari Fa. Dia sekarang yang bertugas melindungi rekannya. Mereka kebetulan masih berada tidak jauh dari bibir pantai, dan sudah berhasil menumbangkan separuh musuh. Namun sekarang keduanya mulai diserang balik, karena Feng kembali kehabisan peluru. Saat itulah salah satu orang bertopeng berjalan mendekat. Kebetulan dia memiliki badan yang sama besarnya dengan Feng. Di tangan kanannya terdapat kapak sebagai senjata andalan.


Wush!


Lelaki yang memakai topeng scream tersebut melayangkan kapaknya, dan berhasil mengenai sasaran. Feng dan Fa terjatuh secara bersamaan.


"Pergilah Fa!" titah Feng kedua tangannya terlihat menahan kapak yang sedang membidik lehernya. Dia beradu kekuatan dengan sang lelaki bertopeng.


"Maafkan aku Feng..." sahut Fa dengan suara yang sedikit bergetar. Dia yang merasa terdesak, akhirnya mencoba melarikan diri.


Dor! Dor!


Dua tembakan seketika menyebabkan pelarian Fa gagal. Perempuan tersebut terjatuh ke tanah. Sekarang tiga peluru bersarang di dalam tubuhnya. Fa pasrah dengan apa yang akan terjadi, toh dia sudah tidak mampu untuk berdiri dan berjalan. Dirinya hanya bisa mendongakkan kepala.


Terlihatlah Brian dan Al berjalan mendekat. Keduanya terus menembakkan peluru ke arah musuh. Termasuk orang bertopeng yang sedang melawan Feng.

__ADS_1


"Al, kau selamatkan Fa. Biarkan aku menghadapi mereka semua!" ujar Brian dengan nada penuh ketegasan. Dia terus berderap maju, meski puluhan peluru menghantam badannya.


Al bergegas menyelamatkan Fa yang sedang sekarat. Dia berusaha membopongnya, akan tetapi Fa tetap tidak sanggup dan semakin tidak berdaya.


"Fa, kau pasti bisa. Kumohon!" ucap Al memberi semangat.


Fa beberapa kali menggelengkan kepala dan mengucapkan kata tidak. Dia malah menyuruh Al untuk segera menyelamatkan diri. Keadaan tersebut membuat Al meneteskan cairan bening dari matanya. Bukan hanya akibat takut, tetapi dia juga merasa cemas dengan semua teman-temannya.


Tidak lama kemudian, Fa akhirnya pingsan karena tubuhnya terlalu banyak mengeluarkan darah. Al semakin tidak sanggup membawanya. Hingga karena terlalu terfokus dengan Fa, dia tidak tahu ada lelaki bertopeng lainnya sedang berjalan ke arahnya. Sebuah pedang membidiknya dari belakang.


Syut!


Pedang menyayat punggung Al dengan intens. Hingga gadis tersebut sontak membelalakkan mata dan berteriak kesakitan. Rasanya begitu perih.


Dor! Dor! Dor!


Brian menembaki lelaki bertopeng yang telah berhasil melukai Al. Selanjutnya dia langsung memerintahkan Al untuk segera pergi.


"Cepat pergilah! kau tahu aku bisa mengatasinya!" suruh Brian dengan suara yang memekik lantang.


Di lokasi perlindungannya, Al berusaha bertahan dengan luka dipunggungnya. Dia mencoba terus menahan kesedihan yang tengah dirasakan. Apalagi saat menyaksikan Fa sudah tidak berdaya. Al merasa kalau nyawa Fa sudah pergi.


Sementara itu, Brian masih berjuang seorang diri. Dia terus melindungi Feng dari berbagai serangan. Lama-kelamaan semakin banyak orang bertopeng yang mengepungnya. Sebab mereka sadar, kalau Brian adalah orang yang kuat. Puluhan serangan yang tidak membuat Brian tumbang, menyebabkan orang-orang bertopeng itu tahu kelebihannya.


"Bergabunglah bersama kami. Aku rasa kau salah satu anggota yang terlewat direkrut oleh Spiderblood," ujar salah satu lelaki bertopeng yang memegang celurit di tangannya.


"Cuh! aku tidak sudi!" Brian menolak mentah-mentah. Cercaan meludahnya membuat para orang bertopeng geram. Mereka sekarang berdiri mengelilingi Brian dan menyerang satu per satu.


Kesibukan Brian, menyebabkan sang lelaki bertopeng yang memegang kapak punya kesempatan. Dia memanfaatkan peluangnya untuk menghabisi Feng. Diayunkannya kapak ke udara, kemudian dibidiknya salah satu kaki Feng.


Jleb!


"Aaaarkkhhh!" Feng berteriak kesakitan. Matanya terpejam rapat. Sekarang salah satu kakinya telah buntung, merembeskan cairan merah nan kental. Belum sempat dirinya membuka mata, satu bacokan kembali menyerang kaki terakhirnya. Satu pekikan penuh kesakitan kembali keluar dari pita suaranya.

__ADS_1


Feng sekarang terbaring di tanah, menatap bulir air merah yang perlahan mereda. Semua tetesan itu seolah melambat seperti detak jantungnya yang juga ikut berdegub pelan. Deru nafas Feng menggema di telinga. Wajah istri dan anak perempuannya terlintas dalam bayangannya.


Orang bertopeng tiba-tiba muncul di penglihatan Feng. Dia tampak kembali mengayunkan kapaknya.


Jleb!


Sekarang leher Feng terputus akibat bacokan kapak. Matanya terlihat masih terbuka meski terus dihantam oleh tetesan air merah. Bawahan paling setia Xiao itu sudah tergeletak tak bernyawa. Mati dalam keadaan persis seperti kedua atasannya.


...***...


Brian terus mendapat serangan. Namun seperti biasa, kulitnya terus memulihkan lukanya sendiri. Hingga pada akhirnya salah satu orang bertopeng terpikir untuk menyerang kedua bola matanya. Dua bilah pisau akhirnya ditancapkan ke kedua indera penglihatan Brian.


"Aaarrgghhh!!" Brian sontak berteriak. Kakinya reflek melangkah mundur. Hingga dia pun terjatuh ke tanah sambil memegangi kedua matanya yang telah berlumuran darah.


Sang lelaki bertopeng pemegang kapak kembali beraksi. Dari balik topengnya terukir seringai. Karena dia merasa kalau kemenangan sudah berada dipihaknya. Akan tetapi sebelum dirinya sempat mengayunkan kapak, puluhan tembakan bertubi-tubi menghantam badannya. Sang lelaki bertopeng pun kesakitan, namun dia tetap mengerahkan tenaga untuk menghantam bagian pinggul Brian.


Jleb!


Kapak telah dijatuhkan ke arah Brian. Sekarang benda tajam itu menancap di bagian perut Brian. Sang lelaki bertopeng terjatuh, karena terlalu banyak terkena serangan peluru dari wanita yang tidak lain adalah Eva.


James juga terlihat memegangi shotgun. Dia ikut membantu memberantas orang-orang Spiderblood yang tersisa. Satu per satu mereka tumbang karena serangan tembakan dari James dan Eva yang tidak terhentikan.


Pada akhinya para orang bertopeng tampak tergeletak tak bernyawa di tanah.


Al bergegas keluar dari tempat persembunyian. Dia segera menghampiri Brian yang sedang sekarat. Tangisnya pecah seketika. Hatinya terasa teriris dan pilu, menyaksikan rekan seperjalanannya sedang mempertahankan deru nafasnya.


"Brian, kau adalah orang terkuat yang pernah kukenal! kau pasti bisa bertahan, aku yakin itu, hiks. . . hiks. . ." cairan bening memenuhi wajah Al. Kedua tangannya menangkup wajah Brian yang sudah dipenuhi linangan darah. Cairan merah kental terus keluar dari sudut matanya akibat tertancap pisau.


"Al. . . a-aku rasa. . . i-inilah akhirku. . ." ucap Brian terbata-bata. Suaranya sudah tercekat akibat detak jantung yang kian melambat.


"Tidak! kau lelaki paling kuat! aku tahu itu!" pekik Al sembari menarik kapak yang tertancap di perut Brian. Al dibuat begitu kaget saat menyaksikan beberapa organ tubuh Brian keluar. Sebab kapaknya telah berhasil memotong setengah bagian perutnya.


Al menangkup mulut dengan kedua tangannya sendiri. Dia meneruskan tangisannya. Apalagi mulut Brian tampak sudah ternganga. Kulit lelaki itu juga mulai terasa dingin dan mengeras.

__ADS_1


Al tidak bisa berkata-kata lagi. Dia hanya berbicara lewat tangisannya yang histeris. Karena dirinya tahu bahwa Brian tidak bisa diselamatkan lagi.


__ADS_2