
Jangan dengarkan bisikan yang membuatmu hancur, dan berlari ke jalan yang salah!
***
Matahari sudah menghilang dari peredaran. Kicauan burung berganti menjadi lantunan suara jangkrik. Xiao dan Brian masih berjalan beriringan menelusuri hutan.
"Brian, kaulah penyebab kematian kedua orang tuamu. . . kau bersalah!" Brian mendengar suara bisikan misterius di telinganya. Ingatannya mulai menunjukkan kilas balik masa lalunya. Terutama memori mengenai tragedi kecelakaan yang pernah menimpa dirinya dan kedua orang tuanya.
"Xiao! ayo kita kembali saja," Brian kembali mengusulkan, dia reflek menghentikan langkahnya. Kepalanya mulai diserang rasa pusing.
"Kalau tidak mau ikut, kau kembali saja sana!" balas Xiao tanpa menoleh sedikit pun ke belakang. Dia terus menjalankan kakinya, hingga semakin menjauh dari posisi Brian.
"Xiao, kau ditakdirkan sebagai pembunuh kejam. Apa kau tidak takut akan membunuh orang yang kau sayang dengan tanganmu sendiri?. . ." hantu dengan wujud transparan mulai berbisik untuk mengganggu Xiao.
"Tidak!" Xiao menjawab ketus.
"Suatu hari kau akan membunuh banyak orang Xiao, kau seorang penghancur yang tak pantas hidup. . ." bisikan kembali terdengar namun berasal dari hantu yang berbeda.
"Dev! apa kau tidak bisa mengusir mereka?!" ujar Xiao kepada Devgan yang sedari tadi membisu.
"Sudah ku-bilang, aku tidak bisa menyelamatkanmu dari bisikan. Tetapi percayalah padaku, orang sepertimu akan mampu menghadapinya. Hanya manusia dengan mental lemah-lah yang akan mudah terpengaruh terhadap bisikan itu!" sahut Devgan yakin. "Oh, Brian salah satunya!" tambahnya, hingga menyebabkan Xiao sontak mengalihkan pandangan ke belakang. Benar saja, dia tidak melihat sama sekali keberadaan Brian.
"Devgan! kenapa kau tidak memberitahuku dari awal?!" geram Xiao.
"Biarkan saja, toh Brian tidak bisa menyakiti dirinya sendiri!" ucap Devgan santai.
"Sialan!" Xiao mengerutkan dahi sembari kembali melangkah melalui jalan yang sudah dilewatinya tadi. Dia bermaksud mencari Brian, karena tanpa lelaki berusia tiga puluh tahun itu, Xiao tidak bisa menemukan ayahnya.
Brian sekarang terduduk di tanah. Dia menutup kedua telinganya rapat-rapat. Rasa bersalah dan ingatan buruk serasa terus menghantuinya.
"Brian, ayo ikutlah dengan kami nak. . ."
__ADS_1
"Ikutlah dengan kami Brian, bukankah kau selalu sendiri?" suara yang sangat mirip dengan kedua orang tua Brian kembali menghasut.
"Tidak! ini tidak nyata!" tepis Brian. Sekarang dia berusaha berdiri dan menggerakkan kakinya.
Xiao melajukan jalannya. Bisikan dan beberapa penampakkan terus mengganggunya.
"Xiao, suatu hari kau akan membuat gadis yang kau cintai terbunuh! jika kau mencintainya, bukankah lebih baik kau saja yang mati? apa kau tidak punya hati nurani. . ." bisikan kali ini berhasil membuat Xiao berpikir dan menghentikan pergerakan kakinya.
"Xiao, apa bisikan itu mengganggumu? kalau iya, kau seorang pecundang!" Devgan menimpali. Dia mencoba membuat Xiao tidak terpengaruh.
"Xiao. . . hatiku sangat sakit. . . hiks! kau sudah menyakiti perasaanku, jangan bilang kau nanti akan menyakiti bagian tubuhku juga. . . hiks!" Xiao menyaksikan penampakkan seorang gadis yang persis seperti Chan. Dia tampak menangis dan menampakkan wajah sedih.
"Dia bukan Chan!" Devgan meyakinkan Xiao.
Sekarang hantu yang sangat mirip Chan tersebut berjalan mengitari Xiao. "Matilah Xiao! lakukanlah demi diriku!" ucapnya dengan bunyi suara yang berdengung. Kalimat itu terus terdengar berulang-ulang, hingga menusuk indera pendengaran Xiao.
"Aaaaaaarkkkhhh!!!" Xiao yang sudah tidak tahan akhirnya memekik lantang. Teriakannya menyebabkan beberapa ekor burung terbang menjauhinya.
Spiderblood yang kebetulan berada di luar mengernyitkan keningnya, karena mendengar suara teriakan dari arah barat.
"Hmmm. . . tetapi suara teriakannya agak berbeda dari biasanya." Spiderblood berpendapat.
"Benarkah?" Tenshi terheran.
"Terkesan lebih ke arah orang yang sedang kesal. Biasanya kan kita mendengar suara teriakan ketakutan?" Spiderblood menggaruk-garuk bagian dagunya.
"Apa kau ingin memeriksanya?" tanya Tenshi.
"Tidak perlu, nanti kita bisa melihatnya melalui kamera pengawas. Lebih baik kita melepas tawanan kita dahulu. Cepat bawa mereka! aku ingin bermain-main!" titah Spiderblood. Tenshi pun langsung melakukan apa yang disuruhnya. Dia dan salah satu rekannya membawa Hongli dan Anming keluar. Kedua mata mereka tampak ditutupi dengan seutas kain hitam.
"Tadaa!" Spiderblood membuka penutup mata Hongli dan Anming secara bersamaan.
__ADS_1
Anming yang bisa menyaksikan pepohonan terlihat mendengus lega, karena merasa agak sedikit bebas dengan pemandangan yang ada. Sedangkan Hongli tampak sibuk celingak-celingukan untuk mencari cara agar bisa kabur dari Spiderblood.
"Inilah kesempatan yang aku maksud. Kalian akan kami lepas, dan dibiarkan pergi sesuka hati. . ." Spiderblood menyilangkan tangan di dada.
"Kesempatan yang bagus. . ." lirih Hongli, yang masih kesakitan dengan luka dipahanya.
"Benarkan! haha! sudah ku-duga kau akan setuju. Tetapi kau harus ingat satu hal! jika kau mati, tidak akan ada orang yang mencarimu!" jelas Spiderblood. Menyebabkan Hongli mengerutkan dahi keheranan.
"Orang-orangku pasti akan mencariku!" yakin Hongli.
"Yah kalau di cari pun, kemungkinan mereka tidak akan menemukan jasadmu. Karena ada banyak mayat yang bertebaran di sini, terus jika aku berhasil menemukanmu, aku tidak akan segan-segan membunuh dan menghancurkan tubuhmu!" tegas Spiderblood. Kemudian menyuruh para Tenshi melepaskan ikatan yang menjerat Hongli dan Anming.
Tiba-tiba dari kejauhan nampak dua Tenshi tengah menyeret sesuatu. Mereka berjalan semakin mendekat.
"Kalian sudah menghabisinya?" timpal Spiderblood kepada kedua Tenshi-nya yang baru datang.
Bruk!
Kedua Tenshi tersebut langsung menunjukkan apa yang mereka bawa. Terpampanglah dua jasad dengan keadaan sangat mengerikan. Salah satunya adalah mayat seorang lelaki tua dengan keadaan tubuh melepuh, matanya masih dalam keadaan terbuka. Sedangkan mayat satunya lagi adalah seorang wanita cantik, bagian pribadinya tampak ditusuk dengan tombak yang tembus sampai ke dadanya.
Hongli dan Anming sontak terbelalak. Mereka juga psikopat, tetapi keduanya tidak pernah bertindak sejauh itu. Anming perlahan menelan saliva-nya sendiri.
"Hongli, katakan kepadaku, apa alasan mereka membawa kita keluar sini. . ." Anming terpaksa bertanya kepada rivalnya karena sedang berada dalam keadaan mendesak. Namun Hongli sama sekali tidak meladeni pertanyaannya. Alhasil Anming hanya bisa menggertakkan gigi kesalnya.
"Tuan Anming, aku punya hadiah spesial untukmu." Spiderblood mendadak menepuk-nepuk pundak Anming. "Ini!" dia menyodorkan tongkat kruk untuk Anming.
Puluhan Tenshi Spiderblood keluar satu per satu, mereka menodongkan pistol ke arah Hongli dan Anming. Dengan tujuan, agar kedua tawanan tersebut tidak menyerang balik pimpinan mereka.
"Ayo silahkan pergi!" Spiderblood benar-benar menyuruh Hongli dan Anming berjalan bebas. Kedua tawanannya pun terlihat mulai beranjak pergi.
"Hei! kalian juga diperkenankan saling membunuh loh!" Spiderblood meninggikan nada suaranya. Tangannya menelungkup dan mengitari area mulutnya. Selanjutnya ia pun segera berderap masuk ke dalam ruangan untuk memeriksa kamera pengawas.
__ADS_1
"Apa ada sesuatu yang menarik?" tanya Spiderblood pada Tenshi-nya yang sedang duduk di depan layar CCTV.
"Ini sangat menarik Tuan!" Tenshi menunjuk salah satu layar. Di sana terlihat Xiao sedang melakukan sesuatu terhadap seorang gadis. Spiderblood yang menyaksikan adegan itu menyeringai.