
Terkadang kita bisa sehati, meski tidak berada di tempat yang sama.
***
Al terbangun di tengah malam, dia melihat Chan sedang tertidur pulas. Gadis berusia dua puluh lima tahun itu memanfaatkan kesempatannya untuk menggunakan telepon. Sebelum melakukannya, Al menyiapkan sesajen lebih dahulu. Sebab dirinya tidak ingin obrolannya diganggu oleh Zhua.
Telepon terus berdering lumayan lama, karena Brian tak kunjung mengangkat. Al memprediksi lelaki tersebut pasti sedang terlelap. Namun Al tak ingin menyerah, hingga di percobaannya yang ke-lima akhirnya panggilannya di angkat.
"Halo? kenapa kau meneleponku di tengah malam begini?!" sahut Brian dari seberang telepon.
"Maaf Bri, hanya saja ini adalah waktu yang tepat untuk menghubungimu. Chan tidak memperbolehkanku berhubungan denganmu atau pun Xiao, jika aku ingin terus berada di sampingnya." Al menjelaskan. "Dia bahkan menugaskan seorang hantu untuk mengawasiku!" tambahnya.
"Sampai segitunya?!" Brian terperangah, dia terlihat mengerjapkan mata beberapa kali.
"Iya Bri, aku juga tak habis pikir dengannya. Dia bilang tidak ingin lagi berhubungan dengan Xiao. Tetapi entahlah sekarang, sebab kemarin dia mengetahui kebenaran kalau tempo hari Xiao sudah menolongnya dari kelicikan Viera!"
"Yah, aku yakin hatinya mungkin sedikit terbuka sekarang. Aku juga mau memberi kabar, kalau hubunganku tidak berjalan baik dengan Xiao. Kelakuan anak itu semakin menjadi-jadi Al! dia telah membunuh banyak orang. Bahkan orang yang baik kepadanya pun dibunuh begitu saja." Brian bercerita panjang lebar.
"Benarkah? kalau Xiao terus seperti itu, kemungkinan dia tidak akan tertarik lagi pergi ke perkumpulan rahasia. Bukankah kita harus melakukan sesuatu?"
"Mungkin kita bisa mendekatkan Xiao lagi dengan Chan. Aku pikir hanya gadis itu yang mampu!" Brian berpendapat.
"Yah itu jika kau hanya berpikir dari sisi Xiao, tetapi bagaimana dengan Chan? bukankah dia akan menjadi korban yang mungkin saja tersakiti?" balas Al. Dia sebenarnya sangat memperdulikan Chan.
"Kau ingin ke perkumpulan rahasia atau tidak? lagi pula Xiao dan Chan saling mencintai!"
"Entahlah, jika Xiao semakin terikat dengan devilnya maka orang yang dicintainya pun bisa menjadi korban."
"Haah! jadi kau tidak berniat pergi ke perkumpulan--"
"Tentu saja aku masih ingin ke sana!" Al segera bersuara untuk mengemukakan keinginannya.
"Ya sudah, kalau begitu kita harus lakukan sesuatu terhadap Xiao. Setidaknya sampai dia berpikir ingin menemukan senjata gaib Jonas!"
"Ya sudah, apa kau punya rencana?"
"Bolehkah aku bertanya mengenai kesibukan Chan? mungkin kita bisa membuat mereka tidak sengaja bertemu."
"Chan akan sekolah besok, aku dan dia juga akan menjadi cenayang agar bisa mendapatkan penghasilan."
"Oke, yang penting aku sudah tahu. Aku akan berusaha sebisa mungkin, nanti aku akan hubungi lagi!" ujar Brian.
__ADS_1
"Tidak! biar aku saja yang menghubungimu. Takutnya Chan akan memergokiku!" tegas Al. Pembicaraan keduanya berakhir di situ. Setelahnya mereka kembali melanjutkan tidurnya.
***
Tok! Tok! Tok!
Xiao terbangun dari tidurnya karena ada suara ketukan dari pintu. Meskipun begitu, ia tetap merebahkan kembali kepalanya. Bahkan matanya ikut dipejamkan.
"Xiao, ini aku!" ujar Yenn yang sedari tadi mengetuk pintu kamar putranya.
"Hahh! astaga!" keluh Xiao yang terpaksa bangun karena sang ibu semakin bersuara nyaring. Dia lantas bangkit dari kasur dan membukakan pintu dengan wajah merengut.
"Ayo ikut aku!" titah Yenn, ketika Xiao sudah membukakan pintu.
"Kemana?! ini masih pagi!" protes Xiao yang masih mengantuk.
"Xiao, ini sudah jam sepuluh siang!" Yenn menyilangkan tangan di dada, seolah terus mendesak Xiao.
"Mau kemana?!!" geram Xiao sembari mengerutkan dahi.
"Memperbaiki penampilanmu itu, apa kau lupa dengan janjimu untuk melanjutkan sekolah?" timpal Yenn.
"Yang benar saja! aku sudah pintar, untuk apa sekolah lagi!" ketus Xiao dengan mata yang memutar malas.
Yenn langsung melayangkan cap lima jarinya ke kepala sang putra. Xiao sontak meringiskan wajah karena merasa sedikit sakit.
"Cepat!!" pekik Yenn yang sudah tak ingin lagi menunggu. Alhasil dengan langkah malasnya Xiao segera bersiap-siap untuk pergi bersama ibunya. Dia hanya butuh waktu beberapa menit untuk bersiap-siap. Sekarang lelaki tersebut sudah berada di dalam mobil bersama Yenn.
"Ibu tidak tertarik membicarakan perihal ayah kepadaku? anehnya kau malah lebih tertarik menyekolahkanku." Xiao menatap Yenn dengan dibarengi kernyitan dikeningnya.
"Kita akan bicarakan itu nanti saja. Toh aku ingin memperbaiki keadaan terlebih dahulu. Apalagi wilayah kekuasaan kita semakin luas setelah jatuhnya klan Tao!" sahut Yenn.
Trak!
Pintu mobil belakang mendadak terbuka. Ternyata itu Brian yang tampak sudah rapi. Dia sepertinya ingin ikut pergi bersama Xiao.
"Kenapa kau selalu mengikutiku? seperti anak ayam sama induknya saja!" sarkas Xiao sinis.
"Mungkin saja kehadiranku dapat membantu. Memangnya kalian mau kemana?" tanya Brian seraya mencondongkan kepalanya di antara posisi Xiao dan Yenn. Dia sudah memposisikan dirinya duduk di jok belakang.
"Xiao harus sekolah!" jawab Yenn singkat, yang sontak membuat mata Brian melebar.
__ADS_1
'Sekolah? takdir apa ini? benar-benar sangat kebetulan!' batin Brian sembari melirik ke arah Xiao.
"Apa lihat-lihat?!" timpal Xiao yang merasa tak nyaman dengan tatapan Brian.
"Tidak apa-apa. ngomong-ngomong kau sudah menentukan sekolah mana yang akan dimasuki?" tanya Brian.
"Masih belum." Yenn kembali menjawabkan pertanyaan Brian.
"Ya sudah!" Brian terlihat manggut-manggut saja.
"Memangnya kenapa?" tanya Xiao curiga.
"Tidak apa-apa. Hanya bertanya," ucap Brian sambil merekahkan senyuman tak berdosa.
Trak!
"Bolehkah aku ikut juga?" Mei ikut-ikutan mengikuti tindakan Brian. Dia menatap ke arah Xiao dan Yenn dengan binar penuh harap.
"Bole--"
"Tidak! kau di sini saja!" Xiao memotong ucapan sang ibu secara sengaja. Alhasil Mei pun kembali menutup pintu dengan perasaan kecewa. Selanjutnya mereka pun segera berangkat.
Pertama-tama Yenn mengajak Xiao terlebih dahulu ke salon. Dia berniat memulihkan rambut Xiao yang pirang.
"Apa-apaan ini? bukankah kita akan ke sekolah?!" protes Xiao.
"Bukankah kau harus jadi anak yang baik, agar bisa menjadi murid teladan?" sahut Yenn, lalu melangkahkan kakinya untuk memasuki salon.
Xiao memutar bola mata jengah, sejujurnya ia ingin kabur saja dari sang ibu. Lelaki itu masih mematung di tempat.
"Ayolah Xiao! apa salahnya juga. Ngomong-ngomong kau bisa memperbaiki hubunganmu dengan Chan saat di sekolah!" ujar Brian sembari mendorong paksa Xiao untuk berjalan maju.
Xiao yang mendengar pernyataan Brian langsung membalikkan badannya. Dia sepertinya tertarik, karena mendengar nama Chan ikut disebutkan.
"Apa maksudmu?" Xiao memastikan.
"Aku mendengar kabar kalau Chan juga akan bersekolah. Kalian memang selalu sehati ya, meskipun sedang tidak bersama. Aku bahkan sangat kaget!" tutur Brian yang sedikit tertawa kecil.
"Dia sekolah?!" Xiao melebarkan mata, mulutnya perlahan mengukir senyuman.
"Kenapa? kau senang?" Brian mendadak merangkul pundak Xiao. Namun perlakuannya tersebut malah membuat Xiao merasa tidak nyaman. Dia langsung melepaskan tangan Brian jauh-jauh dari pundaknya.
__ADS_1
"Xiao ayo!!" Yenn mendesak putranya agar segera menyusulnya. Sehingga pembicaraan di antara Xiao dan Brian pun terhenti secara tak terduga.
Xiao lantas berderap memasuki salon. Dengan wajah cemberut ia terpaksa harus mengubah warna rambutnya kembali menjadi hitam. Yah, Xiao harus melakukannya, karena sekarang dia sudah tidak akan di kejar-kejar lagi oleh komplotan mafia.