Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 116 - Rencana Pelarian


__ADS_3

Dalam keadaan bahaya, tempat yang aman adalah hal terpenting!


***


Setelah Spiderblood memerintahkan semua orang untuk keluar, Feng menyelinap menaiki sebuah mobil. Dia ingin lekas-lekas menemui Xiao. Sebab Feng yakin sekarang Xiao pasti bersembunyi di markas bawah tanah.


Feng segera menjalankan mobil saat merasa keadaan sudah aman. Namun satu hal yang tidak diketahuinya, Spiderblood telah mengutus Tenshi untuk mengawasinya.


Dalam perjalanan, Feng jelas sadar dengan mobil yang terus mengikutinya dari belakang. Dia menyadarinya saat sudah berada di jalanan sepi. Tepatnya dijalanan sepi menuju markas bawah tanah. Feng lantas menambah kecepatan mobilnya.


Tenshi yang melihat mobil Feng melaju, sontak melakukan hal yang sama. Aksi kejar-kejaran pun terjadi. Sesekali Tenshi menembakkan peluru ke arah mobil Feng.


Dor! Dor!


"Sial!" geram Feng yang merasa terkejut dengan serangan Tenshi. Dia berusaha menghindar dari tembakan sebisa mungkin. Mobilnya meliuk-liuk kesana kemari untuk menghindari peluru.


Tidak terasa, Feng sudah sampai di wilayah markas bawah tanah berada. Dia sontak menginjak rem secara tiba-tiba.


Syuuuut!!!


Mobil Feng terputar dan mendecit di jalanan beraspal. Sedangkan mobil Tenshi tampak sudah berhenti, tepat sebelum menabrak mobil yang dikendarai Feng.


Tenshi segera keluar dari mobil. Lelaki bertopeng itu berniat menjemput Feng. Ditangannya tergenggam pistol yang sedari tadi digunakannya untuk menembak.


Feng bergegas keluar dari pintu yang berlawanan. Dia segera berlari menjauh sebisa mungkin.


"Berhenti!" pekik Tenshi sembari melajukan langkahnya mengikuti Feng. Alhasil dia harus menarik pelatuk pistolnya kembali. Kemudian menembakkan peluru tepat ke kaki Feng.


Dor!


Feng seketika tumbang dan jatuh ke tanah. Tenshi pun melanjutkan langkahnya untuk menghampiri Feng. Namun sebelum ia tiba, sebuah peluru tiba-tiba menghantam kepalanya.


Dor!


Tenshi langsung meregang nyawa, karena peluru sudah bersarang di dalam otaknya. Dari belakangnya terlihat Fa yang sudah menurunkan pistolnya. Dia segera menolong Feng yang sedang kesakitan. Kemudian membawanya pergi ke gudang.


Sedangkan Brian memeriksa keadaan jasad Tenshi yang sudah tidak bernafas. Dia menemukan sesuatu yang menarik. Hingga membuat dirinya sedikit merasa panik. Sebab Brian menemukan alat pelacak di saku celana Tenshi.

__ADS_1


Xiao, Chan, dan Al langsung kaget saat melihat keadaan Feng. Apalagi setelah mendengar cerita lengkap mengenai rencana Spiderblood. Feng memberitahukan apa yang sudah terjadi di kota. Dia menyarankan untuk segera pergi.


"Tetapi aku yakin kita akan aman jika sembunyi di sini," ujar Fa yakin.


"Aku rasa tidak Fa." Brian muncul dari balik pintu. Dia memperlihatkan alat pelacak dalam genggaman tangannya. "Sebab aku menemukan ini pada jasad bawahan Spiderblood. Kita harus pergi dari tempat ini!" tambahnya.


"Menurutmu dimana tempat paling aman?" tanya Al.


"Mungkin kita bisa pergi keluar negara, aku rasa itu lebih aman," ucap Xiao masuk dalam pembicaraan.


"Aku terpaksa mengakui, kalau kali ini aku setuju dengan Xiao!" ungkap Al.


"Apa bandara aman?" tanya Xiao kepada Feng.


"Entahlah, aku tidak yakin," sahut Feng sembari meringiskan wajah akibat masih menahan rasa sakit dikakinya.


Akhirnya Xiao dan yang lain memilih untuk pergi dari markas bawah tanah. Mereka akan berangkat setelah Feng selesai di obati.


Fa mempersiapkan dua mobil untuk perjalanan menuju bandara. Dia juga tidak lupa menyiapkan banyak senjata sebagai pertahanan diri.


Pergelangan kaki Feng telah dibalut dengan perban. Al telah berhasil mengeluarkan peluru dari kakinya.


Xiao dan Al bertugas menyetir. Mobil mereka berjalan beriringan. Yang mana mobil yang dikendarai Xiao-lah berjalan lebih dahulu untuk memimpin jalan.


Perjalanan terasa sangat lancar saat berada di jalanan sepi. Namun ketika sudah hampir mencapai lokasi kota, Xiao reflek menghentikan mobilnya.


"Xiao, kenapa kau berhenti?" tanya Brian. Dia menatap Xiao yang sedang mematung. Xiao terlihat membulatkan mata seolah merasa sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya.


"Xiao!" panggil Brian sekali lagi.


"Bri, aku rasa Xiao sedang melihat Devil. Kau dengarkan cerita Feng tadi? Spiderblood tengah melakukan pembantaian besar-besaran!" Chan dapat menebak apa yang sedang dikhawatirkan Xiao sekarang.


"Kau benar, kalau begitu biarkan aku saja yang menyetir!" tawar Brian.


"Tidak. Aku masih bisa!" akhirnya Xiao bersuara, kemudian menjalankan mobilnya dengan pelan. Di ikuti oleh Al yang ternyata turut menghentikan mobil saat melihat mobil Xiao berhenti.


Xiao dan yang lainnya telah memasuki area kota. Dapat terlihat beberapa gedung telah hancur dan terbakar. Puing-puing bangunan berhamburan dimana-mana. Bukan saja itu, yang lebih mengerikan adalah pemandangan jasad manusia bertebaran di jalanan.

__ADS_1


"Apakah kiamat seperti ini..." lirih Al yang merasa sangat miris.


Anehnya tidak ada terlihat orang-orang bertopeng berkeliaran. Suasana kota sangat sepi seolah telah menjadi kota mati. Lalu dimana Spiderblood dan semua bawahannya?


"Kenapa sepi? apa kau tahu mengenai ini?" Fa bertanya kepada Feng.


"Tidak, yang aku tahu Spiderblood akan melakukan serangan besar-besaran. Mungkin sekarang dia berada di tempat lain?" Feng mengutarakan pendapatnya.


"Iya, mungkin saja begitu," balas Fa sambil mengangguk pelan.


Al mengedarkan pandangannya ke segala arah. Dia mengendarai hanya dengan kecepatan sedang. Mata Al langsung membola saat melihat sebuah toko dengan banner tidak asing di depan mata. Dia sangat yakin toko tersebut adalah tempat yang sama persis seperti di mimpinya.


Al memutuskan menghentikan mobil tepat di depan toko bernama Xen-xen itu. Sedangkan Xiao yang sama sekali tidak memahami maksud Al, memilih terus menjalankan mobilnya.


"Kenapa kau berhenti?!" protes Fa.


"Ada yang harus kuperiksa!" sahut Al seraya keluar dari mobil.


"Hei! tetapi sekarang tempat ini tidak sedang dalam keadaan aman!" Feng memperingatkan. Namun Al tak acuh. Dia terus berjalan masuk ke toko.


"Kau tinggallah di sini!" titah Fa kepada Feng. Dia terpaksa mengikuti Al karena merasa cemas.


Di sisi lain Xiao terus mengendarai mobilnya tanpa menunggu Al. Dia tidak sengaja memisahkan diri.


"Xiao, kenapa kau tidak menunggu Al? dia sudah tertinggal jauh!" protes Chan yang sesekali menoleh ke arah belakang.


"Aku hanya ingin cepat-cepat keluar dari tempat ini!" jawab Xiao.


Dari kejauhan terlihat beberapa orang bertopeng berdiri. Mereka semua sama-sama menatap mobil Xiao. Sekujur badan mereka tampak dipenuhi dengan percikan darah.


Xiao yang melihat otimatis berusaha memutar mobilnya. Namun dia tidak menyangka akan melihat lebih banyak bawahan Spiderblood di belakangnya. Ada sekitar lima orang bertopeng sudah berdatangan.


"Tabrak saja Xiao, kita tidak punya pilihan lain!" saran Brian yang juga merasa kaget. Alhasil Xiao pun menurut dan segera melajukan mobilnya dalam kecepatan tinggi.


"Aaaaarggghhh!!" Xiao memekik lantang saat kakinya terus menekan pedal gas. Sedangkan Chan yang merasa tidak kuat menyaksikan, segera menutup mata dan telinganya rapat-rapat.


Brukk!

__ADS_1


Xiao berhasil menumbangkan dua orang bertopeng. Mobilnya seperti bola bowling yang menghantam beberapa pin.


__ADS_2