Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 94 - Pesan Dari Spiderblood


__ADS_3

Untuk menjadi semakin kuat, selalu ada resikonya.


...-----...


[Flashback On]


Di hari yang sama ketika Li-Jun memergoki Xiao di toilet.


Xiao datang ke toilet karena Lien-lah yang menyuruhnya datang. Saat sudah tiba, penglihatannya langsung disambut dengan keberadaan Lien. Gadis yang telah dirasuki itu tangannya berlumuran cairan berwarna merah dan berbau amis. Korbannya sendiri adalah kedua sahabat yang sering bersamanya.


"Lien, bukankah mereka temanmu?" tanya Xiao tak percaya. Lien tersenyum miring. Dia menatap Xiao dalam keadaan kepala yang sedikit menunduk.


"Tidak perlu protes, nikmati saja apa yang aku berikan kepadamu!" balas Lien. Kemudian berlalu pergi keluar dari toilet.


Xiao sekarang mematung dengan pose berkacak pinggangnya. Tatapannya tertuju pada dua siswi yang sudah kehilangan nyawa tepat di bawah kakinya. Pada saat itulah Li-Jun datang. Jujur saja, Xiao merasa sangat terkejut akan kedatangannya.


Setelah Li-Jun terburu-buru keluar dari toilet, Xiao pun segera mengambil darah dari dua jasad siswi di dekat kakinya. Lalu membawa kedua mayatnya keluar dari toilet. Dia bersembunyi ke belakang sekolah dan membuang jasad kedua siswi ke dalam bak sampah yang besar.


Xiao menutupi kedua jasad siswi itu dengan dedaunan kering yang kebetulan ada di tempat sampah. Selanjutnya ia pun bisa pergi dengan tenang.


"Luar biasa Xiao, aku merasa sangat bersemangat sekarang!" ucap Devgan girang. Xiao meresponnya dengan senyuman tipis.


[Flashback Off]


...-----...


Chan sekarang sendirian berada di dalam kamar. Kebetulan Yenn memang menyuruhnya tidur di kamar khusus yang telah disiapkannya. Pupus sudah keinginannya yang dari awal menginginkan tidur bersama dengan Al.


Sedari tadi Chan melingkarkan tangannya sendiri ke badannya. Jujur saja, hantu-hantu yang ada di sekitarnya membuatnya bergidik ngeri. Hawa ruangan juga terasa sangat dingin untuknya.


Chan meringiskan wajahnya tatkala banyak menyaksikan hantu berkepala buntung. Selain itu juga terdapat banyak potongan-potongan tubuh yang berusaha bermain-main dengan badannya. Makhluk-makhluk gaib tersebut seakan meminta pertolongan kepada Chan. Suara tangisan dan teriakan gaib yang mendengung juga terkadang terdengar.

__ADS_1


'Bagaimana Xiao bisa sanggup tinggal di sini?' batin Chan, yang sekarang berusaha menutup rapat-rapat kedua telinganya.


Karena merasa sudah tidak tahan lagi, Chan pun keluar dari kamar. Tanpa diduga dia tidak sengaja menabrak seorang gadis yang kebetulan lewat. Dialah Mei yang langsung menyalangkan mata.


Chan sontak ikut melotot. Dia sekarang saling bertukar tatapan tajam dengan Mei.


"Aku yakin kau sudah mempertaruhkan segalanya kan demi mendapatkan hati Kenai, dasar jal*ng!" Mei mengejek sambil menyilangkan tangan di depan dada. Bukannya tersinggung, Chan malah tergelak mendengar perkataan Mei.


"Cih! kau bahkan masih belum mengetahui kalau Kenai bukanlah nama aslinya!" remeh Chan.


"Apakah itu penting?!" balas Mei.


"Aku sarankan kau lebih baik kembali saja ke kota asalmu!" Chan mendekatkan wajahnya seraya memasang raut wajah mengancam. Mei yang sama sekali merasa tidak terancam menggertakkan gigi kesal.


"Ada apa ini?" Yenn mendadak muncul. Dia terlihat melepas sarung tangannya yang belepotan dengan darah. Chan reflek meringiskan wajah.


"Apa dia mengganggumu Chan?" tanya Yenn yang sekarang sudah berdiri di hadapan Chan dan Mei.


Tanpa pikir panjang, Yenn segera mencengkeram leher Mei. Kemudian memojokkannya ke dinding. Mei tentu saja merasakan tenggorokannya tercekat. Hal itu sontak membuat Chan dibuat begitu kaget.


"Jangan! kau tidak perlu berbuat berlebihan!" ujar Chan sembari mencoba melepaskan tangan Yenn dari leher Mei. Namun tenaganya tidak cukup kuat untuk menandingi kekuatan yang tengah dikerahkan oleh Yenn.


Mei semakin terlihat tercekik. Tenaganya juga sama sekali tidak mampu menjauhkan tangan Yenn dari lehernya.


"Bisakah kau berhenti!!" pekik Chan menegaskan. Dia berhasil membuat Yenn segera melepaskan cengkeramannya, meskipun dengan cara yang kasar.


"Kau sepertinya memang harus banyak belajar ya?" ucap Yenn kepada Chan. "Kau lebih baik pergi sana!" sambungnya lagi, yang sekarang berbicara dengan Mei. Dengan perasaan kesal dan kecewa, Mei pun segera beranjak pergi menjauh.


Sekarang Yenn mengalihkan pandangannya ke arah Chan. "Kau lebih baik beristirahat dahulu, karena acara pertunangan akan segera digelar malam ini!" ujarnya yang tentu membuat mata Chan langsung membola.


"A-apa? malam ini?!" Chan terperangah.

__ADS_1


"Kenapa kau sangat terkejut? jangan bilang kau masih ragu?" timpal Yenn.


"Bukan begitu, hanya saja semuanya terasa sangat mendadak. Bahkan aku dan Xiao belum menyelesaikan sekolah!" balas Chan. Dia mulai merasa terancam dengan perlakuan Yenn terhadapnya.


"Haha! kau tidak perlu khawatir, lagi pula hanya acara pertunangan kan? toh aku dan semua bawahanku juga ingin merayakan keberhasilan kami setelah berhasil menjatuhkan Klan Tao. Aku juga tidak mau terlalu lama berkabung dengan kematian ayahnya Xiao!" Yenn menjelaskan panjang lebar.


Mata Chan kembali terbelalak. Sebab dirinya baru mengetahui kebenaran mengenai meninggalnya ayahnya Xiao. Pantas saja dirinya sejak awal tidak menyaksikan keberadaan Hongli. Dia juga baru tahu bahwa Klan Tao telah jatuh ke tangan Klan Wong.


"Ayahnya Xiao sudah meninggal?" Chan memastikan.


"Iya, apa Xiao tidak memberitahumu?" Yenn mengernyitkan kening. Chan hanya menjawab dengan gelengan kepalanya.


"Ya sudah, kau lebih baik masuk ke kamarmu lagi!" titah Yenn.


"Tidak, aku ingin mencari Al saja." Chan segera menepis, karena ia tidak mau berada di kamar sendirian. Alhasil Yenn pun mengiyakan saja keinginan Chan.


Di sisi lain, Xiao sebenarnya sedang berada di dalam kamarnya. Kala itu dia menatap ke layar komputer di hadapannya. Terdapat sebuah video yang ditontonnya. Video tersebut memang ditujukan khusus untuknya. Siapa yang menyangka, Spiderblood berani muncul. Dia seolah melupakan perlakuan sadisnya terhadap Hongli.


Dalam video itu, Spiderblood duduk di sebuah kursi. Di belakangnya terdapat dua orang Tenshi-nya yang berdiri. Mereka semua tentu saja menggunakan topeng khas mereka sendiri.


"Hai anak muda, mungkin aku telah melakukan kesalahan besar. Tetapi aku tidak bisa membendung ketertarikanku terhadap dirimu. Aku mau mengajakmu bekerjasama untuk melakukan rencana besar yang telah ku-rancang. Aku akan menunggu balasanmu secepatnya, dan jika kau tidak membalas lebih dari dua hari, maka aku menganggap kau menolak tawaranku." kata Spiderblood tenang. Setelahnya video pun berakhir dengan glitz.


"Kurang ajar!" Xiao mengepalkan tinju di kedua tangannya. Dia tentu masih merasa kesal pada orang yang telah membunuh ayahnya sendiri.


"Perlukah aku memanfaatkan kesempatan ini agar bisa melakukan balas dendamku?" Xiao membangun tekad.


"Aku sarankan tidak Xiao! dia terlalu berbahaya, dengan devil sebesar itu di sampingnya. Aku yakin dia lebih licik dan sadis, kau tidak bisa menduga dengan apa yang akan dilakukannya terhadapmu!" Devgan memperingatkan.


"Lalu bagaimana caranya aku menghancurkannya?!" sahut Xiao sambil menghentakkan sebelah kakinya.


"Tentu saja dengan memberikanku lebih banyak energi. Buatlah aku lebih besar dari devil milik Spiderblood!" Devgan menyeringai.

__ADS_1


Xiao yang mendengar hanya membuang mukanya. Dia tampaknya tertarik dengan usulan Devgan. Perlahan dia pun menyunggingkan mulutnya ke kanan.


__ADS_2