
Setelah ketegangan mereda, bisakah kita meredakannya sejenak dengan kehangatan?
***
Meskipun cuaca sedang dingin, mentari tampak bersinar cerah di sore hari. Seorang lelaki berambut pirang telah selesai memilah-milih baju dan mantel untuk persediaannya.
"Terima kasih karena memilih toko ini. . ." ucap seorang kasir wanita sembari sedikit membungkuk. Xiao sama sekali tidak merespon, dia langsung mengambil kantong plastik belanjaannya.
"Viera sepertinya tidak suka denganmu ya, makanya dia semakin jarang muncul!" ucap Xiao. Dia menatap Devgan yang sedang celingak-celingukan. "Devgan, kenapa kau diam saja?" lanjutnya, yang sontak segera membuat Devgan tersenyum.
"Tidak apa-apa," sahutnya pelan. Xiao yang mendengar hanya menggeleng tak percaya. Dia kembali berjalan menuju rumah sakit dimana Chan sedang dirawat.
Ceklek!
Xiao masuk ke dalam kamar Chan. Gadis itu masih terbaring dengan infus yang mengalir ke tubuhnya. Xiao perlahan duduk di samping kasur, dia menatap Chan terus-menerus. Entah sudah berapa lama, hingga gadis yang ditatapnya akhirnya terbangun.
Chan mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu mengubah posisi menjadi duduk. Dia langsung dibuat kaget ketika melihat wajah Xiao yang berjarak hanya beberapa senti darinya.
"Xi-xi-xiao kau membuatku kage--" Chan tidak bisa melanjutkan kalimatnya saat Xiao tiba-tiba mencium bibirnya. Mata Chan membulat sempurna. Dia bergegas mendorong Xiao untuk menjauh.
"Xiao, jangan gila! aku baru saja bangun, dan kau sudah memperlakukanku begini?!" timpal Chan.
"Itu karena aku merindukanmu! bukankah kau juga mencintaiku?!" balas Xiao yang merasa kecewa. Dia segera menjauhkan diri dari Chan.
"A-a-aku. . ." Chan meragu untuk menjawab.
Xiao yang mendengar hanya memutar bola mata jengah. Kemudian memposisikan diri duduk di kursi yang ada di dekatnya. Hening menyelimuti suasana untuk beberapa saat. Xiao yang tadinya merasa bersemangat dengan kesadaran Chan, tiba-tiba dirundung rasa kesal. Sebab lagi-lagi dirinya mendapat penolakan dari Chan.
"Xiao, aku hanya tidak ingin semuanya terjadi terlalu cepat." Chan berterus terang.
"Sudah jangan dipikirkan. Kau kembali tidur saja dan istirahat!" suruh Xiao dengan nada ketus. Chan pun segera merebahkan diri kembali dan memejamkan mata. Hal yang sama juga dilakukan Xiao.
Tok! Tok! Tok!
Seorang perawat mengetuk pintu kamar Chan. Karena bingung melihat lampu yang masih belum dinyalakan. "Halo? ada orang di dalam?" tanya-nya sembari mencoba mengintip dari jendela. Namun dia tidak mampu melihat apapun, dikarenakan adanya tirai yang menutupi. Alhasil perawat tersebut hanya bisa menggidikkan bahu, lalu beranjak pergi.
__ADS_1
Setelah tertidur lumayan lama, Chan akhirnya terbangun. Penglihatannya langsung disambut dengan kegelapan, akibat lampu yang masih belum dinyalakan. Dia juga melihat penampakan Xiao yang sedang asyik terlelap. Gadis tersebut merekahkan senyuman.
Chan mencoba turun dari kasur. Dia berniat menyalakan lampu. Namun tanpa sengaja gadis itu malah terjatuh dan menimbulkan bunyi berisik. Suaranya berhasil membangunkan Xiao yang tadinya tertidur.
"Chan!" panggil Xiao khawatir. Dia segera membantu Chan untuk berdiri, lalu bergegas menyalakan lampu.
"Aku harus ke toilet!" imbuh Chan, yang sekarang sudah duduk di ujung kasur.
"Sini, biar ku-bantu!" Xiao memegangi infus Chan.
"Xiao, aku bisa sendiri!" tepis Chan seraya menundukkan kepala, wajah merahnya masih belum padam sedari tadi.
"Kau yakin bisa?"
"Iya!" Chan merebut kantong infusnya dari tangan Xiao, dan segera melangkah memasuki toilet.
"Ya sudah, sana!" balas Xiao yang sudah tidak mau peduli. Dia segera duduk ke atas hospital bed yang tadi ditempati Chan. Lelaki tersebut melepaskan semua kancing bajunya karena merasa kepanasan dengan suhu ruangan yang ada.
"Devgan, apa boleh aku tahu bagaimana caramu memberikan energi untukku?" Xiao menatap ke arah Devgan.
"Kau tidak perlu tahu, nikmati saja!" lagi-lagi Devgan tersenyum lebar.
Ceklek!
Xiao masih belum mengancing bajunya kembali, apalagi dia tampak sedang duduk santai di atas kasur dengan melipat sebelah kakinya. Sang perawat segera mengambil suntikannya. Dia lalu mencoba menyuntik lengan Xiao.
"Eh! aku bukan pasien!" tegur Xiao yang sedikit tertawa kecil.
"Ma-ma-maaf, terus pasiennya mana?" balas si perawat yang sekarang mengedarkan pandangannya.
"Dia sedang ke toilet!" imbuh Xiao. "Oh iya, apa alat pemanasnya rusak? aku kepanasan!" sambungnya sembari menjadikan tangannya kipas.
"Mu-mungkin saja, nanti aku akan panggilkan orang untuk memperbaiki." Sang perawat masih merasa salah tingkah.
'Ya ampun, dia tampan sekali!' batin sang perawat yang sejenak terkesiap, lalu menggelengkan kepala untuk menyadarkan diri. "Ya sudah, aku nanti akan kembali lagi!" tambahnya sambil mencoba melangkahkan kaki. Namun segera dicegah oleh Xiao dengan cara menggenggam lengannya.
__ADS_1
"Kenapa? kok ketakutan gitu? aku membuatmu takut ya?" Xiao menyunggingkan mulutnya ke kanan.
"Ti-tidak!"
Brak!
Suara hempasan pintu toilet menggelegar. Terlihatlah Chan dengan raut wajah merengut. Alhasil Xiao pun langsung melepaskan cengkeramannya. "Nah itu tuh pasiennya dah nongol," tuturnya seraya menunjuk ke arah Chan.
"Oh iya!" sang perawat tersenyum. Tetapi tidak untuk Chan, gadis tersebut masih cemberut. Alhasil Xiao pun menghampirinya dan mencoba membawanya ke kasur.
"Aku bisa sendiri!" Chan kembali menolak. Xiao hanya bisa mendengus kasar.
Di sisi lain, Yenn telah sembuh dan bisa kembali beraktifitas. Dia mencoba mencari suaminya, namun tidak bisa menemukannya dimana-mana. Akhirnya dia pun mendengar bahwa Hongli telah menghilang beberapa hari yang lalu. Misinya sekarang adalah menemukan keberadaan Hongli dan Xiao secepatnya. Apalagi setelah mengetahui Feng dan bawahannya ditangkap oleh orang-orang Tao.
"Kita tidak bisa diam saja, lebih baik kita mencari tempat aman terlebih dahulu. Kemudian bisa merencanakan semuanya dengan baik!" ucap Yenn kepada bawahannya yang juga seorang perempuan.
"Baik Nyonya!" sahut sang bawahan.
Malam yang larut berubah menjadi pagi yang gelap. Viera tiba-tiba sudah muncul tepat di samping Chan yang sedang mencoba tidur.
"Vier, sejak kapan kamu di sana?" Xiao baru saja datang entah dari mana.
"Pokoknya saat aku datang, aku tidak melihatmu!" sahut Viera. Dia sesekali menatap sinis ke arah Devgan yang selalu berada di belakang Xiao.
"Oh," sahut Xiao singkat.
"Xiao, kau belum mencoba mencari senjata Jonas?" tanya Viera.
"Belum, aku ingin mencarinya kalau Chan sudah sembuh. Takutnya terjadi sesuatu lagi kalau kami berpisah!" terang Xiao.
"Senjata?" Devgan menatap penuh tanya.
"Bukan apa-apa, kau tidak perlu tahu. Nikmati saja!" balas Xiao dengan seringainya.
"Apa dia benar sedang tidur?" Viera menatap Chan yang sedang memejamkan mata.
__ADS_1
"Nggak tahu, mungkin satu ciuman bisa membangunkannya!" kata Xiao, yang perlahan mencondongkan kepalanya ke arah Chan. Sebab lelaki itu tahu Chan tengah berpura-pura tidur.
"Xiao!" pekik Chan, yang sontak membuat Xiao terkekeh. Di ikuti oleh Viera, yang tidak bisa mengelak mengenai betapa lucunya tingkah Chan.