
Sama seperti penyesalan, pengkhianatan juga selalu datang belakangan.
***
"Jia yang melaporkannya!" bisik Mei kepada Shuwan. Lantas lelaki berambut tipis itu segera memalingkan wajah kepada Chan.
Bahkan saat pelajaran telah dimulai, Shuwan tak henti menatap ke arah Chan dan Zhu. Hal itu tentu saja membuat kedua gadis tersebut merasa risih.
"Jia, Shuwan terus memelototi kita dari tadi. . ." ucap Zhu dengan nada pelan.
"Aku tahu! kamu tidak usah khawatir Zhu, kamu tidak sendiri!" sahut Chan, mencoba menenangkan Zhu.
"Tapi. . ." Zhu tampak meremas jari-jemarinya akibat rasa gugup yang ia rasakan.
Teng! Teng! Teng
Lonceng pertanda pulang berbunyi. Zhu merapikan tasnya dengan cekatan, kemudian segera bergegas pulang tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Eh Zhu?" Chan menatap Zhu dengan penuh tanya. Dia pun ikut beranjak pergi keluar kelas.
Shuwan tampak berdiri dari tempat duduk dan mengumpulkan teman-temannya, termasuk Xiao. "Ayo cepat! nanti sasaran hari ini keburu pulang!" ujar Shuwan dengan tekadnya.
"Kau mau apa?" Xiao mengerutkan dahi.
"Hari ini aku ingin kasih pelajaran sama Qibo, setelahnya baru gadis bernama Jia itu!" terang Shuwan.
Deg!
Jantung Xiao berdegub kencang, karena mendengar nama samaran Chan disebut oleh Shuwan. "Jia? kenapa dia juga jadi sasaranmu?" tanya Xiao serius.
Brak!
"Dialah yang memberitahukan semuanya kepada si tua bangka Huan!" geram Shuwan sembari memukul meja dengan keras.
"Shuwan kenapa kau begitu marah? toh ayahmu pasti akan selalu memihakmu! kenapa kau mau repot-repot turun tangan!" ungkap Ling, dia merasa tidak habis pikir dengan Shuwan yang selalu bersikap semena-mena.
"Ling! menghukum dengan tangan sendiri itu berbeda!. . . pokoknya aku merasa sangat puas!" Shuwan menyeringai.
"Shu-shu-shuwan, aku tidak ingin terlibat lagi kali ini. . ." balas Ling yang sekarang terlihat gemetaran.
Bug!
Shuwan melayangkan tinjunya ke wajah Ling. "Siapa lagi yang tidak suka dengan rencanaku?!! katakan!!!" pekik Shuwan menatap pada temannya yang lain secara bergantian, bahkan Xiao sekali pun.
"Tenanglah Shuwan, Ling mungkin sedang kelelahan," ujar Xiao sambil mencoba merangkul pundak Shuwan, namun segera mendapat tepisan.
"Ayo kita pulang! tinggalkan saja dulu cecunguk ini! cuih!" kata Shuwan, lalu meludah ke arah Ling yang masih terduduk di lantai memegangi wajahnya.
***
Saat Xiao dan ke-empat temannya hendak memasuki mobil, tiba-tiba saja Shuwan menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Xiao penasaran.
"Lihat! itu gadis yang bernama Jia!" Shuwan menunjuk ke arah Chan yang sedang berjalan mendekat. Lantas mata Xiao langsung membola, dia berharap Shuwan tidak melakukan hal yang buruk pada gadis tersebut.
Sekarang Chan tengah berjalan melewati Xiao dan Shuwan. Gadis itu terus menatap ke depan, dia tak hirau dengan Shuwan yang sedari tadi menatapnya tajam.
Plak!
Shuwan memukul bokong Chan secara tiba-tiba. Nahasnya dia malah tertawa geli saat melakukannya. "Haha! lumayan juga!" sekarang ketiga temannya ikut-ikutan tertawa.
Namun berbeda dengan Xiao, pitamnya sedang naik. Kedua tangannya mengepalkan tinju, dia melotot ke arah Shuwan. Ketika Xiao hendak melayangkan tinjunya,
Plak!
Chan menampar Shuwan lebih dulu. "Aku tidak takut padamu!!!" bentak Chan, lalu segera melingus pergi.
Shuwan berusaha menahan amarahnya, demi rencana yang telah dia susun untuk ketiga sasarannya. Yang tidak lain adalah Qibo, Zhu dan Chan. "Kita lihat saja nanti!" Shuwan menggertakkan gigi, lagi-lagi dia menatap Chan dengan binar kebencian.
"Ayo kita per. . . loh! mana Kenai?" Shuwan mengernyitkan dahi, tatkala baru menyadari Xiao sudah menghilang.
***
Tak! Tak! Tak!
Xiao berlari menyusuri gang kecil, dia berniat mengejar Chan. Dirinya memang sengaja lewat jalan pintas agar tidak ketahuan oleh Shuwan.
"Hei Xiao! lama tidak bertemu!" Viera tiba-tiba muncul, dia menyamakan lajunya dengan Xiao.
"Hei Viera! kemana saja kamu?" tanya Xiao di tengah-tengah larinya. Peluh mulai bercucuran di wajah tampannya.
"Ya sudah aku pulang duluan saja!" sambung Viera, yang tiba-tiba menghilang dalam hitungan detik. "Dasar setan!" gumam Xiao seraya melambatkan larinya, karena sudah melihat gadis yang ia cari dari kejauhan.
"Chan!!!" panggil Xiao.
"Xiao?" Chan segera berjalan ke arah Xiao, dan membawanya ke tempat tertutup.
"Loh! kenapa membawaku ke sini?" tanya Xiao dengam nafas yang ngos-ngosan.
Chan memutar bola mata malas. "Zhu sedang ada di apotek!" jelasnya seraya menunjuk ke arah toko yang menjual beraneka ragam obat. Tempat itu tepat berada di seberang jalan.
"Huffhh! aku kira apa tadi. . ." lirih Xiao.
"Kau kenapa berkeringat gitu? terus tumben pulang cepat!" ujar Chan sambil menyilangkan tangan di dada.
"Kau tidak apa-apa kan?" raut wajah Xiao tampak serius.
"Oh yang tadi. . . sebenarnya agak kesal sih! tapi mau bagaimana lagi, aku kan seorang wanita, sudah sering mengalami pelecehan. Yang bisa aku lakukan, ya. . . cuma menamparnya!"
"Kau mau aku membunuh Shuwan? aku akan lakukan untukmu Chan!"
"Xiao! kau sudah gila, jangan menambah kegilaaanmu!" kritik Chan. Xiao mendengus kasar, sekarang dia meletakkan kedua tangannya ke pinggang.
__ADS_1
"Xiao, ada yang ingin aku katakan. . ." ungkap Chan.
"Apa?"
"Tabunganku sudah hampir habis, kita harus melakukan sesuatu untuk mendapatkan uang! aku rasa, kita harus bekerja paruh waktu," ucap Chan dengan kernyitan di dahi.
"Apa? paruh waktu?. . . capek Chan! itu pekerjaan yang melelahkan dengan gaji yang minim. Lebih baik kita berhutang saja!" tukas Xiao santai.
"Hah?" Chan menjeda perkataannya untuk menggelengkan kepala sejenak dan meneruskan, "mudah sekali kau mengatakannya, sama mudahnya saat kau bilang ingin merebut warisan Shuwan. Jujur Xiao, itu terdengar sangat bodoh! kenapa kita tidak mencuri bank saja sekalian. Kenapa harus repot-repot menyamar hanya untuk menjebak Shuwan!"
Mendengarnya Xiao menggertakkan gigi, dan mendekatkan wajahnya perlahan pada Chan. "Kau akan tahu alasannya nanti, kenapa aku bersikeras ingin menghancurkan keluarga Tao!" ucap Xiao, yang membuat Chan terhimpit ke dinding. Tatapan Xiao tampak sangat menakutkan dan mengancam.
"Xi-xi-xiao. . . baiklah, aku mengerti!" ucap Chan sembari memalingkan wajah dari Xiao.
"Chan, jika kamu tidak setuju dengan rencanaku, kau bisa pergi sekarang. Aku tidak ingin memaksamu." Xiao melangkah mundur.
"Apa maksudmu? siapa bilang aku ingin pergi!" balas Chan dengan sedikit terkekeh.
"Baguslah kalau begitu." Xiao tersenyum tipis.
"Tapi, jelaskan dulu dengan detail mengenai alasanmu yang bersikeras ingin menjatuhkan keluarga Tao!" imbuh Chan.
"Baiklah!. . . tapi lebih baik sekarang kita pergi cari uang dulu!" Xiao mengajak Chan berjalan.
"Tunggu! jangan bilang mencari uang yang kau maksud adalah berhutang?" Chan menghentikan kakinya.
"Lalu apa lagi? dari pada kita harus capek-capek kerja, mending ngutang kan? toh kita nanti bisa membayarnya dengan warisan milik Shuwan. . ." bisik Xiao ke telinga Chan.
"Percaya diri sekali kamu, kalau gagal baru tahu rasa!" timpal Chan.
"Karena itulah aku butuh dukunganmu gadis cantik. . ." goda Xiao sembari merangkulkan tangannya ke pundak Chan.
"Idih!" Chan melepaskan rangkulan Xiao dengan paksa. Keduanya kala itu sudah keluar dari gang.
Dari kejauhan Xiao melihat mobil sport Shuwan yang semakin mendekat. Berbeda dengan Chan, dia malah melihat Zhu menyebrang jalan, dan tengah berjalan menuju gang yang tadi dia masuki.
"Xiao! itu. . ." perkataan Chan terhenti karena Xiao tiba-tiba memegangi wajahnya, lalu memiringkan kepalanya. Sekarang jarak di antara keduanya hanya beberapa senti.
"Xi-xiao, apa-apaan ini?" tanya Chan dengan terbata-bata.
"Chan lebih baik kau bekerja sama, atau aku akan menciummu beneran!" titah Xiao.
Chan segera menyetujui dengan anggukan kepala, sekarang tangannya melingkar ke leher Xiao. Keduanya tengah berpura-pura berciuman ala Prancis. Mereka sebisa mungkin menutupi wajah satu sama lain dari Shuwan dan Zhu.
Disisi lain Shuwan dan teman-temannya tidak sengaja melihat penampakan tersebut. Alhasil mereka pun memelankan laju mobilnya. Salah satu temannya yang bernama Jay membuka kaca mobil dan menegur, "Lanjutkan Bro! aku suka gayamu! hahaha!" Shuwan dan yang lainnya ikut tertawa.
"Gila sekali mereka! ciuman di siang bolong begini!" ujar Shuwan.
"Bilang saja kau iri kan Shuwan! haha!" ejek Jay dengan kekehnya.
"Kurang ajar nih anak!" canda Shuwan seraya mengapit kepala Jay dengan ketiaknya.
__ADS_1
Berbeda dengan Zhu, dia langsung membulatkan matanya, kala melihat dua sejoli sedang bermesraan. 'Mengesalkan sekali! kenapa mereka melakukannya di tempat umum?' batin Zhu sambil berjalan melewatinya, kemudian masuk ke dalam gang kecil.
'Tunggu dulu, gadis itu terlihat tidak asing!' gumam Zhu dalam hati, dia menghentikan langkahnya. Lalu perlahan berbalik untuk memastikan firasatnya.