
Pemenang sejati adalah dia yang selalu belajar dari kekalahannya.
***
"Kenapa aku harus memilih senjata di sini?" tanya Chan yang masih bingung harus berbuat apa.
"Pilih saja!" balas Fa seraya menyilangkan tangan di depan dada.
Karena merasa terus didesak, akhirnya Chan memilih sebuah pistol. Dia perlahan mengambil senjatanya dengan tangan. Memang itu bukan pertama kalinya ia memegang pistol, tetapi tetap saja Chan merasa masih asing. Apalagi benda yang dikiranya sangat ringan tersebut lumayan berat.
"Pilihan bagus, aku yakin kau masih tidak terbiasa dengan senjata itu. Sekarang kemarilah!" ujar Fa. Chan pun menurut dan berjalan mendekatinya.
Fa menyuruh Chan untuk menembakkan peluru ke sasaran tembak yang telah tersedia. Dia ingin melihat seberapa hebat keahlian Chan.
Ilustrasi sasaran tembak :
"Hufh!" Chan mencoba menenangkan diri dengan cara mengeluarkan nafas dari mulut. Kemudian diangkatnya pistol yang ada dalam genggamannya. Ia terlihat gemetaran. Pistolnya menjadi bergetar-getar tidak karuan.
"Dasar! padahal ini baru latihan loh. Belum lagi kau disuruh menembakkan peluru ke kepala orang!" ucap Fa, yang sontak membuat Chan membulatkan mata.
"Cepat!" Fa mendesak, dan tidak memperdulikan kekagetan yang ditunjukkan Chan.
"Aku sekarang sedang mencoba!" sahut Chan. Selanjutnya ia pun segera menarik pelatuk senjata apinya. Matanya reflek terpejam.
Dor!
Sebuah peluru meluncur menuju sasaran tembak. Akan tetapi tembakan Chan jauh dari sasaran yang seharusnya. Sehingga Fa menyuruhnya untuk menembakkan peluru kedua.
"Apa? lagi?" Chan merasa tak percaya. Tangannya tampak masih menggetarkan pistol dalam genggaman.
"Ugh! mana ada orang di dunia ini menembakkan peluru sambil memejamkan mata!" Fa memegangi tangan Chan, agar tidak gemetar lagi. Namun usahanya sia-sia, karena Chan masih saja seolah ketakutan dengan senjata yang dipegangnya.
"Ya sudah, bagaimana kalau aku membuatmu lebih bersemangat dengan caraku," kata Fa. Dia berhasil mencuri perhatian Chan.
"Jika kau berhasil mengenai sasaran maka latihan kita bisa langsung selesai hari ini. Tetapi bila kau tidak mampu mengenai sasaran, bertarunglah denganku!" Fa mendekatkan wajahnya untuk menunjukkan kesangarannya. Chan hanya memundurkan badannya karena merasa sedikit terancam.
__ADS_1
"Aku punya berapa banyak kesempatan?" tanya Chan yang sepertinya tertarik untuk menerima tantangan.
"Sampai pelurunya habis!" jawab Fa santai sambil mendudukkan dirinya ke atas meja.
Chan kembali bersiap-siap untuk menembakkan peluru kedua. Dia kembali gagal mengenai sasaran, dan membuat Fa menggeleng remeh.
Setelah gagal, Chan tidak menyerah. Dia mencoba menembakkan lagi peluru berikutnya. Hingga kegugupan dalam dirinya pun hilang. Pistolnya tidak terlihat bergetar-getar lagi. Namun sayang, masih belum ada tembakan yang mengenai sasaran. Tibalah waktunya dengan satu peluru yang tersisa, atau lebih tepatnya kesempatan terakhir Chan untuk membuktikan kelihaiannya.
Dor!
Chan menembakkan peluru terakhir tanpa memejamkan mata. Tetapi dia langsung menghela nafasnya, sebab peluru yang diluncurkannya kembali tidak mengenai sasaran.
Prok! Prok! Prok!
Fa bertepuk tangan untuk Chan. Entah apa tujuannya. Bisa saja memuji atau mengejek, dan yang pasti dia sekarang harus berhadapan Chan. Fa terlihat menggelar sebuah matras. Kemudian membuka pakaiannya. Hanya tersisa singlet dan juga celana pendek di atas lututnya. Dia tampak sudah melakukan pemanasan.
Chan mengedip beberapa kali. Dia masih membeku di tempatnya. Namun ia tidak punya pilihan lain selain menghadapi Fa.
"Aku dengar kau hebat karate, mungkin kau bisa saja mengalahkanku!" ujar Fa.
"Kau yakin akan tetap mengenakan pakaian lengkap, nanti--" Fa tidak menyelesaikan kalimatnya, karena Chan tiba-tiba membuka pakaiannya. Tampilannya sekarang sama persis seperti Fa. Akan tetapi dia sama sekali tidak memiliki otot lengan yang berisi seperti Fa.
"Ayo kita mulai, aku ingin melihat seberapa hebat keahlian bela dirimu!" Fa mulai memasang kuda-kuda untuk menyerang. Sedangkan Chan terlihat masih sibuk mengikat rambutnya. Tanpa diduga Fa melakukan serangan pertama tepat ke betis Chan.
"Aaa!" Chan kehilangan keseimbangan dan langsung terjatuh. "Kau curang! aku bahkan belum mengatakan kalau aku siap!" geramnya menatap tajam ke arah Fa. Sepertinya Chan tidak bisa menahan kesabarannya lagi dengan tingkah angkuh Fa.
"Kau harus selalu bersiap dengan serangan tak terduga!" sahut Fa sembari mengukir seringai remeh.
Karena melihat raut wajah Fa yang tampak menjengkelkan, Chan pun akhirnya berdiri dan mencoba melakukan serangan balasan. Dia melayangkan tendangan ke wajah Fa dengan gesit. Namun orang terlatih seperti Fa dapat menghindarinya begitu saja.
Fa yang tidak ingin kalah akhirnya menunjukkan keahliannya yang sebenarnya. Dia membanting tubuh Chan ke matras. Alhasil Chan pun kembali mengerang kesakitan.
"Kau makan berapa kali hari sekali? sampai-sampai badanmu seringan itu." Fa mengejek sambil melakukan pose berkacak pinggangnya.
Chan menggertakkan gigi kesal, lalu meraih kaki Fa dengan sigap. Kali ini dia berhasil membuat Fa terjatuh ke matras. Meski hanya membuatnya terjatuh dalam keadaan terduduk.
Perlawanan Chan semakin membuat Fa terpicu untuk menang. Hingga dia melakukan serangan bertubi-tubi, dan menjatuhkan Chan berkali-kali.
__ADS_1
"Baiklah, aku kalah! apa kita sudah selesai?" ucap Chan dengan nafas yang tersengal-sengal dan peluh yang membasahi badannya.
"Tidak! kita belum selesai!" kata Fa setelah menenggak air dari botolnya.
"Tapi--"
Ceklek!
Pintu mendadak terbuka, dan menjeda perkataan yang hendak diucapkan Chan. Nampaklah Xiao yang berjalan menghampiri keberadaan Chan dan Fa.
"Chan, kau tidak apa-apa?" tanya Xiao yang agak khawatir dengan keadaan Chan.
"Xiao!" Chan bergegas untuk berdiri. Dia seolah menemukan secercah harapan untuk bangkit. Chan berharap Xiao dapat membantunya berhenti dari semua siksaan yang dilakukan oleh Fa.
"Aku sangat kelelahan!" ungkap Chan seraya memegangi lengan Xiao lembut. Dia menampakkan tatapan nanar dalam binar matanya. Xiao pun segera menatap ke arah Fa.
"Hentikan Fa, pergilah!" titah Xiao.
"Tapi ibumu menyuruhku untuk melakukan ini!" balas Fa tak terima.
"Pergilah!" Xiao bersikeras. Alhasil Fa pun tidak punya pilihan lain selain pergi keluar dari ruangan. Sebelum itu, ia tentu saja mengenakan pakaiannya terlebih dahulu.
"Fiuhh! terima kasih Xiao. . ." lirih Chan yang sudah merasa lega.
"Sekarang lawanlah aku Chan!" Xiao tampak melepaskan pakaiannya. Dia sekarang bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek.
Chan yang mendengar begitu dibuat kaget. Matanya terbelalak. "Xiao! bukankah sudah kubilang bahwa aku sudah kelelahan?!" tegasnya.
"Sepertinya tidak, buktinya kau masih bisa berdiri. Ayolah Chan, kita tidak pernah saling bertarung." Xiao terkekeh.
"Sudah kuduga, haha!" ucap Fa, yang ternyata masih ada di depan pintu. "Semoga berhasil Chan!" tambahnya, lalu benar-benar beranjak pergi.
Atensi Chan yang sempat teralih ke arah Fa, sekarang dialihkan kepada Xiao. "Tolong katakan kalau kau hanya bercanda!" mohonnya penuh harap.
"Sebentar saja!" balas Xiao.
"Sudah pasti aku akan kalah!" keluh Chan seraya kembali memposisikan diri untuk berdiri di atas matras. Dia terpaksa melakukannya.
__ADS_1