
Tidak ada yang mustahil.
Bahkan menurut sejarah, laut bisa terbelah menjadi dua.
***
Bukannya segera melepaskan Xiao, makhluk itu malah semakin mengerahkan semua kekuatannya untuk menarik Xiao. Hal itu tentu saja membuat Chan kewalahan. Tangannya mulai gemetaran, bahkan dia mengerang lumayan lama. Pertanda gadis itu memakai semua tenaganya untuk menyelamatkan Xiao.
"Cepat pergilah dari sini!" Viera tiba-tiba datang dari belakang Xiao. Dia segera mengganggu makhluk yang menarik kaki Xiao, yang tak lain adalah makhluk dengan kepala pelontos sebelumnya.
"Aaaarrgghhh!!!" Makhluk botak itu berteriak dengan penuh amarah. Xiao mencuri kesempatan tersebut untuk berlari bersama Chan. Hingga akhirnya mereka berdua berhasil menembus cahaya yang ada di depan mereka.
"Haaa!!" Xiao langsung terbangun dengan mata membulat dan deguban jantungnya. Dia sangat kaget melihat dirinya sendiri sudah berada kembali terbaring di lorong apertemen. Lelaki itu langsung berdiri dan segera pergi menemui Chan.
"Chan!!" pekik Xiao sembari membuka pintu apertemen Chan. Matanya langsung membola tatkala dirinya melihat Chan kembali terbaring lemah di atas kasur.
"Bagaimana..." tanya Xiao yang terlihat begitu kebingungan.
"Apa kau pertamakalinya melalui pengalaman tadi?" Chan berbalik tanya, yang dijawab Xiao dengan satu anggukan penuh keyakinan.
"Tadi itu jiwa kita Xiao, makhluk itu membawa jiwamu ke tempatnya," jelas Chan.
"Benarkah? apa mau dia?"
"Aku tidak tahu, yang jelas dia merupakan salah satu jenis makhluk gaib paling berbahaya!"
"Lebih berbahaya dari pada makhluk yang ada bersama kedua orang tuaku?" perasaan Xiao mulai dipenuhi dengan tingkat penasaran yang menggebu.
"Tidak Xiao, makhluk tadi berbeda dengan makhluk yang ada bersama dengan ayah dan ibumu!"
"Apa ini!! aku semakin pusing! ... aku tidak ingin lagi memiliki bakat ini! ... Chan kumohon bantulah aku!" ujar Xiao yang tiba-tiba terduduk memeluk lututnya di lantai. Lelaki itu tampak begitu frustasi.
"Xiao... tenanglah!" Chan mencoba menenangkan Xiao seraya merubah posisinya menjadi duduk. "Aaaa!" alhasil gadis itu mengerang kesakitan, karena lebam dan luka di tubuhnya belum juga diobati.
"Chan!!" Viera tiba-tiba datang, makhluk itu langsung melotot ke arah Xiao.
"Viera! ... Xiao sedang ketakutan, aku rasa dia butuh waktu untuk menerimanya..." kata Chan yang masih tampak pucat, dia mencoba melindungi Xiao dari amarah Viera.
__ADS_1
"Tapi bagaimana dengan dirimu, kau sekarat Chan!" balas Viera bersikeras.
"Maafkan aku! ... aku akan segera ke apotik!" Xiao menyahut dengan nyaring sembari berdiri dari tempatnya.
"Aku akan menemanimu!" imbuh Viera sambil terbang melayang mendekati Xiao.
***
Dua hari telah berlalu, Xiao masih menemani Chan di apertemennya. Gadis itu perlahan mulai pulih dari lebam dan juga lukanya.
Kala itu langit tampak begitu hitam. Perlahan hujan pun turun dengan begitu derasnya. Xiao duduk di depan jendela, termenung sembari melihat bulir-bulir air yang menetes di kaca jendela.
"Xiao..." panggil Chan lirih seraya menarik bangku dan segera duduk di samping Xiao.
"Chan?" sahut Xiao, dia memberikan senyuman tipisnya untuk gadis itu.
"Kau mau?" tawar Chan sembari menawarkan segelas kopi yang ada di tangannya.
"Tidak, kau minum saja..." jawab Xiao santai, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke arah jendela.
"Ada yang ingin aku beritahukan padamu..." Chan meletakkan gelas kopinya di atas meja. Xiao pun langsung menatap gadis itu, seakan mendesaknya untuk segera mengatakan apa yang ingin dia beritahukan.
"Apa itu?" Xiao mengerutkan dahinya.
"Aku tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya padamu, yang jelas kau juga ditakdirkan untuk ikut ke perkumpulan!"
"Perkumpulan? apa maksudmu?"
Chan langsung menggaruk kepalanya, karena tampaknya gadis itu kebingungan untuk memberikan penjelasan.
"Cepat beritahu Chan!" desak Xiao.
"Jadi begini..." Chan menarik nafasnya sesaat dan langsung kembali bicara dengan nada sangat pelan.
"Orang-orang yang ditakdirkan bisa melihat makhluk tak kasat mata seperti kita, itu punya misi untuk mengalahkan raja devil, dan perkumpulan itu dilakukan di sebuah pulau rahasia..."
"Pulau rahasia? kenapa harus di sana?" Xiao langsung melempar pertanyaan sebelum Chan selesai menjelaskan. Hal itu sontak membuat Chan berdecak kesal, gadis itu langsung menepuk bahu Xiao dengan keras.
__ADS_1
"Kenapa? kok malah marah!" gerutu Xiao, yang tak terima bahunya ditepuk.
"Kamu sih! orang aku belum selesai ngomong juga!" Chan mengernyitkan dahi.
"Ya sudah! cepat lanjutkan lagi!"
"Ok! ...... dilakukannya pertemuan kecil di pulau terpencil, itu agar raja devil dan semua anak buahnya tidak bisa mengganggu kita di sana. Karena ada tetua yang menjaga kita!" raut wajah Chan tampak serius.
"Terus, kenapa kita harus melawan raja devil?"
"Itulah yang aku tidak tahu... aku hanya diberitahu bahwa hal tersebut adalah misi kita!"
Perlahan Xiao pun terkekeh, karena dia merasa Chan berusaha mempermainkannya. Dan sekali lagi lelaki itu harus kembali menerima pukulan Chan. Gadis itu juga menggertakkan giginya, seakan menegaskan bahwa apa yang dibicarakannya adalah hal yang serius.
"Tapi aku yakin Xiao! imbalan dari misi itu, pasti akan membuatmu tergiur!" perkataan Chan tersebut langsung membuat Xiao menatap tajam gadis di sampingnya. Raut wajahnya berubah menjadi serius seketika.
"Imbalannya adalah, bakat yang akan kau miliki sekarang bisa di hilangkan untuk selamanya..." bisik Chan pelan.
Mata Xiao langsung membelalak ketika mendengarnya. Dia mulai tertarik dan percaya dengan apa yang dikatakan Chan.
"Baiklah... aku akan memberimu waktu Xiao, jika kau-setuju maka kau bisa ikuti rencanaku!" ucap Chan seraya bediri dari tempat duduknya, lalu kembali mengambil gelasnya yang berisi kopi.
Saat itu Xiao masih terdiam menatap punggung Chan yang sedang berjalan menuju dapur. Sayup-sayup suara tetesan hujan perlahan mereda. Lelaki itu langsung berdiri dari tempat duduknya. Dia berniat ingin pergi ke super market untuk membeli segala kebutuhannya.
Matahari tampak muncul kembali, kala itu Xiao melangkahkan kakinya di jalanan trotoar. Dia sengaja memakai jaket hodie dan juga topi hitamnya. Dilengkapi juga dengan masker yang menutupi sebagian wajahnya. Hingga hanya mata dan dahinya saja yang bisa terlihat.
Xiao melayangkan pantatnya di kursi kereta bawah tanah. Kereta yang menggunakan sumber energi listrik itu melaju dengan cepat.
Sesekali Xiao menghela nafas panjang, karena masker yang menutupi hidungnya membuat dia agak kesulitan bernafas.
Hanya butuh waktu 10 menit, kereta itu pun telah sampai ditujuan. Xiao pun segera bergegas turun bersama kerumunan orang yang tampak terdesak-desak.
Xiao melangkahkan kakinya ke toilet, karena panggilan alam yang sudah tidak tertahankan. Di dalam toilet, dia bertemu dengan seorang pria aneh. Pria itu memiliki tubuh kekar dan terlihat sangar.
Xiao juga merasa, pria itu terus mengamati setiap gerak-geriknya. Hal itu sontak membuat Xiao langsung berpikiran yang tidak-tidak.
Karena merasa tidak nyaman, Xiao pun segera keluar dari toilet dengan langkah kaki yang lebih cepat. Dia sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan pria bertubuh kekar itu tidak mengikutinya.
__ADS_1
Deg!
Jantung Xiao langsung berdegub kencang ketika melihat pria itu sedang berjalan mengekorinya.