Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 60 - Sulit Untuk Percaya


__ADS_3

Warning! episode ini mengandung gore, dan tidak untuk ditiru. Kepada anak di bawah umur dan yang merasa tidak nyaman dengan adegan darah-berdarah dilarang membaca!


...-----...


Sekali dibohongi, maka seseorang akan sulit untuk mempercayai lagi.


***


Brak!


Seseorang sengaja membanting pintu rumah. Al yang mendengarnya lantas berlari dan mencari sumber suara itu. Penglihatannya langsung disambut dengan kehadiran Chan.


"Chan! kau kem--"


"Ambil ponsel-mu kembali!" Chan sengaja memotong kalimat Al sembari melemparkan ponsel dari genggamannya.


Al hanya membisu, dia menatap benda yang sudah terkapar di hadapannya. Setelahnya gadis tersebut segera menatap Chan yang sedang menampakkan mimik wajah cemberut. Sekarang Al sadar, bahwa Chan telah mengetahui semua rencananya.


"Gara-gara kau Viera pergi! apa maumu Al? kau selama ini berada di sisi Xiao, begitu?!" timpal Chan dengan nada tingginya. Al yang merasa cemas sontak berderap mendekat.


"Chan, Brian yang memintaku melakukan semua ini. Kau tahu kan kami melakukannya karena ingin pergi ke perkumpulan rahasia!" Al mencoba meyakinkan, seraya menggenggam lembut tangan Chan.


"Dengan cara membohongiku?" Chan menghempaskan tangan Al jauh-jauh darinya. Kemudian membalikkan badan dan beranjak pergi dari rumah hunian Al.


"Maafkan aku ya? aku berjanji tidak akan membohongimu lagi, Chan. . ." Al berusaha mengejar. Sebenarnya dia benar-benar merasa khawatir dengan gadis berambut panjang itu. Namun Chan sama sekali tak hirau, kakinya terus melangkah maju. Bahkan wajahnya hanya menunjukkan ekspresi datar.


"Chan kumohon!" Al terus menyamakan langkahnya dengan Chan.


"Oke! katakan apa mau-mu. Aku akan lakukan segalanya, asal kau memaafkanku!" ucap Al lagi, sekarang dia menghentikan langkahnya.


Chan yang berjalan lebih dahulu sontak menjeda pergerakan kakinya. Sepertinya tawaran Al membuat dirinya tertarik. Gadis itu menoleh ke belakang dan berkata, "Kalau begitu, berpisahlah dengan Brian dan ikutlah bersamaku!"


'Hanya itu? gadis ini mudah sekali. Pantas Xiao sangat menyukainya!' batin Al yang sengaja meremehkan gadis yang berdiri di depannya.


"Be-benarkah, kalau begitu aku akan mengambil semua barang keperluan terlebih dahulu!" lanjut Al yang sekarang bersuara melalui mulutnya.

__ADS_1


"Iya, tapi jangan bawa ponsel pemberian Brian itu!" titah Chan.


"Siap!" Al menunjukkan isyarat hormat dengan tangannya, lalu segera berlari kembali ke rumah.


Chan terlihat menyilangkan tangan di depan dada. Jujur saja, dirinya masih merasa tidak percaya dengan gelagat Al. Dia pun mencoba mencari cara untuk mengawasi tindakan gadis yang berusia lebih tua darinya tersebut.


Chan mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempatnya berada. Hingga dia menemukan rumah kosong yang dipenuhi hantu. Ada satu makhluk gaib yang menarik perhatiannya kala itu.


Sebelum melakukan aksinya, Chan terlebih dahulu membeli buah-buahan ke toko terdekat. Dia juga tidak lupa membeli beberapa dupa. Tanpa ba bi bu, Chan segera berjalan memasuki rumah kosong. Dia berhenti di ruang tengah, lalu duduk bersimpuh.


Klik!


Chan menyalakan pemantik dan membakar salah satu dupa yang baru saja dibelinya. Kemudian menancapkannya ke sela-sela lantai yang sudah retak. Satu per satu para makhluk gaib penghuni rumah kosong mulai berdatangan, termasuk hantu incaran Chan.


"Aku mencari hantu berpakaian serba putih dan berambut panjang selutut, tetapi tenang saja aku menyiapkan sesaji untuk yang lain!" Chan memperlihatkan buah-buahan yang dibawanya.


"Waaah!"


"Terima kasih, sudah lama kami tidak mendapatkan sesaji!"


"Untuk apa kau mencari hantu penempel itu? dia sangat perasa dan menyebalkan!"


Chan menerima berbagai respon dari para penghuni gaib rumah kosong. Kebetulan hantu-hantu di sana tidak ada yang berbahaya, itulah alasan Chan berani memberikan sesajennya. Dia hanya merespon celotehan para hantu dengan senyumannya.


"Kau mencariku?" hantu yang dicari Chan menampakkan dirinya. Chan yang sedari tadi duduk sopan di lantai langsung mengubah posisi menjadi berdiri.


"Bolehkah aku menanyakan siapa namamu?" tanya Chan.


"Zhua. . ." sang hantu berambut panjang menjawab lirih.


"Aku ingin kau mengikuti seseorang, dan ini tidak akan berlangsung lama. Cuman sampai aku mengetahui kebenaran, agar aku bisa mempercayainya!" tutur Chan pelan.


"Itu mudah, tetapi kau harus--"


"Tenang saja, aku akan terus memberimu sesaji seminggu sekali!" Chan sengaja menyambar ucapan yang hendak dilontarkan Zhua, karena ia mengetahui lebih dahulu maksud dari hantu tersebut.

__ADS_1


Zhua menggeleng pertanda menolak. "Tiga hari sekali. Kalau kau melanggar, aku akan pergi!"


Usulan Zhua menyebabkan Chan harus menghela nafas panjang. Namun dirinya tidak punya pilihan lain. "Ya sudah kalau begitu, sekarang pergilah ke rumah yang ada di ujung gang. Pokoknya rumah dengan pohon pinus kecil di depannya, dan ikutilah gadis yang bernama Al!" ujarnya sembari menunjukkan ke tempat yang dimaksud. Zhua mengangguk setuju, lalu terbang melayang menembus dinding.


***


Spiderblood kembali lagi, setelah beberapa menit meninggalkan Hongli dan Anming dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Dia membawa dua bawahan Tenshi-nya, dan menyuruh mereka membalut luka kedua tawanannya.


"Untuk apa kau membalut lukanya, kalau pada akhirnya kami memang akan dibunuh!" tukas Hongli dengan tatapan getirnya.


Spiderblood memutar bola matanya dan berucap, "Tidak menyenangkan kalau langsung dibunuh kan? bukankah kau juga merasa begitu saat membunuh tawananmu, hah?" dia memegangi dagu Hongli, karena bermaksud mendongakkan kepala tawanannya itu.


"Pokoknya setelah luka kalian diperban, aku akan memberikan kesempatan untuk kalian, ayo tepuk tangan dahulu!" ujar Spiderblood, kemudian dilanjutkan dengan memunculkan suara dari pukulan kedua telapak tangannya yang menyatu.


Prok! Prok! Prok!


Kedua Tenshi ikut bertepuk tangan karena mengikuti pimpinannya. Hongli hanya bisa melayangkan tatapan tajamnya ke arah Spiderblood. Berbeda dengan Anming yang tampaknya masih kesakitan dengan luka di sekujur badannya.


"Apa maumu. . ." Anming akhirnya bersuara. Spiderblood yang mendengar lantas memiringkan kepala bingung.


"Dia bilang--"


"Eits cukup Tuan! aku tidak butuh penerjemah sepertimu. Karena sekarang aku punya alat penerjemah di telingaku, oke?!" Spiderblood memperingatkan Hongli terlebih dahulu.


"Cih! kenapa baru sekarang memakainya!" sarkas Hongli dengan nada pelan, hingga hanya terdengar samar-samar di pendengaran Spiderblood.


"Kau bilang apa?!" Spiderblood bertanya untuk memastikan. Namun Hongli hanya terdiam sambil mengalihkan pandangannya.


"Oke, aku akan teruskan saja untuk menjelaskan maksudku. Terutama mengenai kesempatan yang akan kalian dapatkan!" Spiderblood terlihat menjelaskan dengan penuh semangat. "Aku akan membawa kalian keluar dari ruangan, bagaimana? menarik bukan? yeay!" lanjutnya.


Hongli menyeringai, dia tentu tidak mempercayai sepenuhnya ucapan Spiderblood.


"Kau kenapa terus melawan hah! mentang-mentang bisa mengerti bahasaku. Kau benar-benar angkuh Tuan Hongli. Oh. . . atau mungkin, luka-mu sekarang terlalu sedikit. Bagaimana kalau aku menambahkannya?" Spiderblood tersenyum lebar dari balik topengnya.


Hongli tampak sama sekali tidak takut, ia malah kembali menyalangkan mata. Spiderblood yang sudah tidak tahan lagi menyaksikan tingkah Hongli, akhirnya mengambil pisau dapur. Tanpa pikir panjang dia pun langsung menusukkan pisau tersebut ke paha Hongli. Kemudian menarik benda tajam itu secara perlahan. Spiderblood menjalankan pisaunya, bagaikan memotong sebuah kue ulang tahun.

__ADS_1


"Aaaaaarkkkhhhh!!!" Hongli hanya mampu merintih kesakitan.


__ADS_2