
Kematian seseorang dapat menciptakan kesedihan dan juga dendam.
***
Setelah ledakan terjadi, Al segera berlari menghampiri Xiao dan Chan. Dia mencoba memastikan keadaan. Hingga Al pun berinisiatif membantu Chan untuk bangkit. Sebab Chan terlihat sedang menahan rasa sakit dikakinya. Berbeda dengan Xiao yang terlihat baik-baik saja, dan mampu berdiri sendiri.
"Kau bisa berjalan kan?" tanya Al yang sudah dalam keadaan menopang badan Chan.
"Harusnya kau tadi lari saja lebih dahulu! kenapa malah menungguku?!!" ujar Xiao, yang terdengar seperti memarahi Chan. Nafasnya masih tersengal-sengal akibat kelelahan dan merasa khawatir.
Chan hanya terdiam dan menatap Xiao dengan nanar. Dia sepenuhnya paham alasan lelaki itu marah kepadanya. Dengan kematian Yenn dan juga hancurnya markas Klan Wong, Xiao pasti dibuat begitu furstasi.
"Tenanglah Xiao! kita lebih baik pergi dari sini secepatnya! ledakan tadi pasti akan menarik banyak perhatian orang untuk datang ke sini!" ujar Brian mengingatkan.
"Benar! lebih baik untuk sementara kita bersembunyi di markas yang ada di hutan!" saran Fa sembari masuk ke dalam mobil lebih dahulu. Alhasil Xiao dan yang lain pun mengikutinya.
Ketika dalam perjalanan semua orang membisu. Chan, Al dan Brian duduk bertiga di belakang. Sedangkan Xiao duduk di samping Fa yang sedang sibuk mengemudi. Entah sudah berapakali mobil yang mereka naiki berpapasan dengan kendaraan polisi. Sepertinya para pihak keamanan tengah bergegas menuju lokasi ledakan. Tidak heran, ledakan yang terjadi memang lumayan besar dan dapat dilihat dari kejauhan.
Xiao menyandarkan badannya ke belakang. Matanya menatap kosong ke arah jendela mobil. Dia sepenuhnya mencoba menenangkan diri. Seujujurnya semuanya terasa seperti mimpi untuk Xiao. Acara pertunangan yang dia kira akan menjadi awal kebahagiaannya, ternyata adalah permulaan semua tragedi di mulai.
Tidak lama kemudian, tibalah Xiao dan yang lain di markas bawah tanah. Mereka segera menghentikan mobil di depan gudang yang letaknya tidak jauh dari markas.
"Kalian masuklah lebih dulu, aku mau melakukan sesuatu." Xiao berucap dengan nada malas. Kemudian berjalan menuju bagasi mobil. Dia mengambil kepala utuh sang ibu. Nampaknya Xiao berniat memakamkan ibunya secara baik-baik.
"Aku akan membantu!" Brian mengekori Xiao. Dia terlihat mengambil peralatan yang dapat digunakan untuk menggali tanah.
"Xiao, aku--"
__ADS_1
"Istirahatlah Chan!" tegas Xiao yang memotong ucapan Chan. Dahinya mengukir kerutan.
"Xiao benar! setidaknya kakimu harus di obati terlebih dahulu," ujar Al seraya membopong Chan masuk ke markas bawah tanah. Di sana suasana sangat sepi. Hal itu dikarenakan markas tersebut memang hanya dikhususkan untuk keadaan mendesak dan sebagai tempat bersembunyi.
Al segera mendudukkan Chan di sofa terdekat. Sedangkan Fa tampak bergegas mengambilkan kotak P3K, lalu diserahkan kepada Al.
"Memar dikakimu lumayan parah!" ucap Al ketika sedang memeriksa keadaan pergelangan kaki Chan. Dia langsung mengoleskan salep dan memberikan pijatan yang pelan.
Di sisi lain, Xiao dan Brian sudah selesai mengubur kepala utuh Yenn. Keduanya sekarang sama-sama terpaku menatap batang kayu yang dijadikan sebagai nisan. Xiao perlahan menjongkokkan badannya. Dia merasa sangat kehilangan. Perasaannya terasa dalam dibandingkan ketika dirinya mengetahui kematian Hongli.
"Sekarang apa rencanamu Xiao?" Brian menatap Xiao dengan ekor matanya.
"Yang hanya ingin aku lakukan adalah menghabisi Shuwan dan Spiderblood." Xiao bertekad. Kedua tangannya membentuk kepalan tinju.
"Aku siap membantumu Xiao!" sahut Devgan yang setelah sekian lama tidak bersuara.
"Kalau kau dan yang lain keberatan, aku tidak masalah! aku bisa melakukannya sendiri!" kata Xiao yakin. Sepertinya rasa marah dan dendam yang ada pada dirinya tengah menggebu. Hingga logika yang ada dalam kepalanya diabaikan begitu saja.
Brian yang mendengar lantas menggeleng tak percaya. Dia sebenarnya ingin mengajak Xiao untuk segera mencari senjata gaib. Namun Brian tahu betul, sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk membicarakannya. Apalagi suasana hati Xiao sedang berada di tingkat terburuk.
"Lebih baik kita istirahat dahulu. Mungkin kau bisa menjernihkan pikiranmu." Brian merangkul pundak Xiao pelan. Akan tetapi dia langsung mendapat penolakan kasar dari Xiao. Meskipun begitu, Xiao mengikuti arahannya untuk segera masuk dan beristirahat ke dalam markas.
Al terlihat sudah tertidur di sofa. Di sebelahnya ada Fa yang juga sudah asyik menjelajahi alam mimpinya. Xiao meneruskan langkah kakinya lebih dalam untuk menuju ke kamar terdekat. Tepat dimana Chan berada. Dia hendak berbicara empat mata dengan gadis tersebut.
"Xiao?" Chan yang sedari tadi tidak mampu tertidur, langsung menegakkan badannya saat menyaksikan Xiao di depan pintu. Xiao lantas berjalan menghampiri dan memposisikan dirinya untuk duduk di sebelah Chan. Raut wajahnya terlihat tidak bersahabat. Pikiran Xiao sebenarnya sedang berkalut memikirkan orang-orang yang ada di sekelilingnya. Terutama Chan.
"Apa kau sudah selesai mengubur jasad ibumu?" tanya Chan. Tangannya perlahan menggenggam lembut jari-jemari Xiao. Namun perlakuannya malah ditolak mentah-mentah oleh Xiao.
__ADS_1
"Kau kenapa?" protes Chan dengan kening yang mengernyit.
"Pergilah Chan. . ." lirih Xiao yang benar-benar serius dengan ucapannya.
"Apa? jangan bercanda Xiao, sekarang bukan waktu yang tepat untuk melakukannya!" Chan menampik perkataan yang dilontarkan Xiao untuknya.
"Aku serius! kita berpisah saja mulai sekarang!" balas Xiao sambil menarik paksa tangan Chan. Kemudian mengambil cincin yang tersemat di jari manisnya.
"Apa-apaan! kau sangat tidak tahu malu. Aku sudah banyak melakukan segalanya untuk membantumu, dan inikah balasannya?!" mata Chan mulai berpendar. Hatinya terasa benar-benar sakit. Namun lelaki yang ditatapnya hanya menampakkan ekspresi datar seolah tidak peduli.
"Aku ingin kau pergi Chan!" tegas Xiao.
"Tidak! aku tidak mau! bukankah sudah puluhan kali aku menolak?!!" ujar Chan yang perlahan meneteskan cairan bening dari matanya. Xiao yang sudah tidak tahan lagi bergegas berjalan menuju pintu.
"XIAO!" Chan memaksakan dirinya untuk berjalan, hingga pada akhirnya dia pun jatuh tersungkur ke lantai.
Kaki Xiao pun reflek berhenti. Dia terpaksa berbalik dan membantu Chan. "Dasar bodoh!" ejeknya seraya membawa Chan kembali ke atas kasur.
"Apa?!" Chan yang sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan Xiao, segera menarik ribuan helai rambut lelaki itu. "Kenapa kau lakukan ini kepadaku hah?! aku sangat kecewa!" sambungnya dengan deraian air mata yang terus mengalir.
"CHAN!" Xiao lekas-lekas melepaskan cengkeraman tangan Chan dari rambutnya.
"Tarik kembali perkataanmu tadi!" timpal Chan sembari menggertakkan gigi kesal.
"Tidurlah!" balas Xiao yang sengaja tidak merespon perkataan Chan untuknya. "Dan hapus air matamu itu, wajahmu sangat jelek saat menangis!" tambahnya. Kemudian beranjak pergi begitu saja.
Chan tak bisa berkata-kata lagi. Kepalanya menunduk pelan, lalu memperhatikan jari-jemarinya sendiri.
__ADS_1
'Aku yakin, alasan Xiao menyuruhku pergi karena mengkhawatirkanku. Dia pasti takut aku akan mengalami nasib yang sama seperti ibunya. . .' batin Chan yang sepenuhnya mengerti dengan keputusan Xiao.