Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 121 - Persiapan Menuju Dimensi Lain


__ADS_3

Pilihan ada dua. Pertama adalah dipaksa dan yang kedua, memilih atas keinginan sendiri.


***


James muncul dari belakang Xiao. Dia segera ikut bertengger di balkon. Lelaki paruh baya itu hendak mengajak Xiao berbicara serius perihal pencarian senjata gaib. Meskipun dirinya diliputi perasaan cemas. Tetapi James tidak punya pilihan lain selain melakukannya.


"Jika aku pergi ke dimensi lain, apakah aku akan pergi sendirian?" tanya Xiao sembari menoleh ke samping. Tepatnya ke arah James berada. Sorot matanya dirubah menjadi lebih serius.


"Tentu saja tidak. Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian. Setidaknya ada satu orang yang harus menemanimu."


"Jadi semua orang yang ada di sini tidak bisa ikut?"


James menghela nafas kasar dan berucap, "Tidak bisa, itu terlalu beresiko. Lagi pula kita membutuhkan orang untuk melihat situasi di dunia nyata."


Xiao yang mendengar terdiam seribu bahasa. Sebelah tangannya memegangi area kepala. "Jadi, kapan aku bisa pergi?"


"Kita harus menunggu Theo," sahut James, yang sontak menyebabkan dahi Xiao berkerut.


"Siapa dia?" Xiao menuntut jawaban.


"Theo salah satu orang yang mengetahui banyak hal tentang dimensi lain. Ditambah, dia juga berhasil menemukan buku kuno. Yang pasti, Theo akan menjadi teman seperjalananmu nanti." James menerangkan pelan.


"Apa-apaan! maksudmu aku harus pergi ke dimensi lain dengan orang yang tidak kukenal? bagaimana aku bisa mempercayainya?!" Xiao merasa tak percaya. Dia menginginkan orang yang ikut dengannya adalah rekan-rekan terdekatnya.


"Aku pastikan, Theo adalah orang yang dapat kau percaya!" James mencoba meyakinkan. Namun Xiao melingus pergi begitu saja meninggalkannya.


Semuanya menjadi semakin rumit bagi Xiao. Walaupun dia tahu, satu-satunya jalan ketenangan untuk dirinya sendiri adalah mencari senjata gaib.

__ADS_1


Satu hari berlalu. Di pagi yang cerah, James mengumpulkan semua orang di meja makan. Sekaligus menikmati hidangan sarapan, James juga ingin memberitahukan rencana mengenai pencarian senjata gaib. Dia memberitahukan mengenai kedatangan Theo.


Hanya Fa dan Feng yang masih tidak paham dengan semua pembicaraan James. Semua perkataan James terasa ganjil bagi orang awam seperti mereka. Meskipun begitu, keduanya tidak kuasa menyanggah segala penjelasan James. Mereka lebih menunggu kejelasan dari Xiao, yang sudah berjanji akan memberitahu segalanya.


James mengatakan kalau pulau rahasia tidak akan menjadi tempat yang selamanya aman. Jadi, mereka harus tetap bersiap dengan segala bahaya yang akan terjadi. Tidak menutup kemungkinan para pembantai akan mendatangi setiap jengkal sisi sepi dunia. Orang-orang haus darah dengan devil di samping mereka, tentu tidak akan pernah puas membunuh. Setidaknya, kehadiran Fa dan Feng juga akan sangat membantu. Meskipun keduanya tidak memiliki bakat indigo apapun.


Setelah selesai sarapan, James menyuruh Xiao dan Chan untuk ikut dengannya. Mereka sekarang duduk mengitar seperti titik segitiga.


"Kalian berdua sudah beberapa kali masuk ke dimensi lain kan?" tanya James seraya menatap Xiao dan Chan secara bergantian.


"Iya, hanya sekitar tiga kali. Mungkin..." jawab Chan sambil mengangkat kedua bahunya sekali.


"Tunggu, jangan bilang kau memilih Chan untuk menjadi orang yang ikut denganku?" Xiao menyanggah sebentar. Sebelum James sempat mengucapkan satu patah kata. Lelaki berkumis keperakan tersebut seketika membisu. Sepertinya tebakan Xiao benar. Jadi, dia tidak mampu mengelak.


"Aku tidak mau, James! aku tidak bisa pergi dengan Chan!" tegas Xiao dengan gelengan kepala cepat, seolah menolak mentah-mentah pilihan James.


"Chan, kau pernah terjebak di dimensi lain? kau mau itu terjadi lagi?!" balas Xiao tidak ingin kalah. Dia dan Chan berdebat di hadapan James.


"Sekarang berbeda, ada James yang bisa membantu kita!"


"Tapi--"


"Theo!" pekikkan James seketika menghentikan perdebatan yang terjadi di antara Xiao dan Chan. "Dia akan membantu kalian. Jadi, kalian tidak hanya berduaan pergi ke dimensi lain," lanjutnya memberikan penjelasan lebih lengkap.


Xiao meminta alasan kenapa Chan terpilih untuk ikut bersamanya. Sedangkan Al dan Brian sama sekali tidak menjadi bagian kandidat tersebut. James pun menjawab dengan sederhana. Bahwa tanpa Chan, baik Xiao atau Theo, tidak akan mampu pergi ke dimensi lain. Xiao sontak terdiam, setelah mendengar penjelasan yang masuk ke dalam logikanya.


"Aku butuh waktu!" ujar Xiao seraya bangkit dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Ya, kau gunakanlah waktu sebelum Theo tiba," balas James, dan membiarkan Xiao beranjak pergi begitu saja. Sekarang bola matanya mengarah kepada Chan.


"Aku jelas akan setuju untuk ikut. Aku tidak perlu berlama-lama berpikir!" tukas Chan yakin. Dia menambahkan senyuman yang menular kepada James. Selanjutnya gadis tersebut segera pergi keluar dari ruang makan.


Di halaman depan, Xiao, Fa dan Feng berkumpul. Xiao membayar janjinya untuk memberikan penjelasan. Tentu saja dia harus mendapatkan tawa gelak dari dua bawahan setianya itu.


"Haha! Xiao, sejak kapan kau percaya hantu?!" Fa tergelak sambil memegangi bagian perutnya.


"Ya, baru kali ini aku mendengar, kalau pembunuhan bisa dipengaruhi oleh iblis? devil?" Feng ikut cekikikan bersama Fa. Xiao yang sudah dari awal memiliki mood buruk, pitamnya semakin naik. Dia langsung berdiri, dan membanting kursi yang tadi didudukinya. Lidah Fa dan Feng seketika menjadi kelu. Untuk mengucapkan satu kata pun mereka sudah ketakutan.


Fa dan Feng seakan menyaksikan Hongli hidup kembali dalam diri Xiao. Ledakan amarah tersebut begitu khas dalam keluarga Wong.


"Apa kalian percaya sekarang?" Xiao menyalangkan mata ke arah Fa. Entah kenapa dia memilih perempuan itu untuk dipelototi.


"Maaf Xiao... ha-hanya saja semua penjelasanmu sangat sulit dipercaya..." sahut Fa menciut. Tatapannya begitu canggung. Hingga ia pun memilih menundukkan kepala.


Xiao berdiri dengan gaya berkacak pinggang. Dia menengadah ke atas, agar amarahnya tidak semakin melonjak. "Jika kalian tidak percaya, lebih baik pergi, aku melepaskan kalian sepenuhnya!" titahnya kepada Fa dan Feng.


"Tidak. Bagaimana mungkin kami bisa meninggalkanmu!" Fa menolak saran Xiao dengan tegas. "Iyakan Feng?" lanjutnya yang sekarang berbicara kepada Feng. Matanya menampakkan binar penuh harap. Seakan memohon Feng untuk setuju dengan pernyataannya. Akan tetapi lelaki berbadan besar itu terlihat begitu sendu. Xiao yang menyaksikannya lantas mengerti.


"Aku yakin kau teringat dengan anak dan istrimu kan?" Xiao sekarang menatap iba ke arah Feng.


"Tetapi sekarang, aku tidak tahu keadaan mereka..." lirih Feng bermuram durja.


"Kau-nya saja yang bodoh. Bukannya langsung mendatangi keluargamu, tetapi malah berlari mencariku?" Xiao mengendus nafasnya dari mulut.


"Xiao, kau kenapa bicara begitu!" Al menyahut dari belakang. Ternyata sedari tadi ia tidak fokus membaca akibat mendengar perdebatan Xiao.

__ADS_1


"Pergilah Feng, jika itu maumu. Aku tidak akan memaksa siapapun ikut denganku!" ujar Xiao yang sama sekali tidak memperdulikan teguran Al. Kemudian segera pergi meninggalkan Feng dan Fa. Sepertinya dia mencoba memberikan kesempatan kedua bawahannya itu untuk berpikir.


__ADS_2