Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 13 - Seatap Berdua


__ADS_3

Semakin dekat orang yang kita cinta,


Otomatis jantung kita akan berpacu lebih cepat.


***


Chan berjalan sendirian sambil memegangi tas ranselnya. Dia mendengus kasar saat mengingat hari pertama yang dia jalani di sekolah. Baik manusia atau pun hantu tidak ada yang memperlakukannya dengan baik.


'Kenapa harus Xiao? padahal perangainya lebih buruk dibandingkan aku!... dasar! semuanya sama saja, lebih mementingkan penampilan!' gerutu Chan dalam hati.


Klontang!


Kakinya menendang kaleng bekas yang terkapar di aspal.


"Jia!" panggil seorang gadis yang tak lain adalah Zhu si cupu.


'Aduh... kenapa malah si cupu ini sih yang tertarik berteman padaku, dia kan korban bully! kalau aku berteman dengannya otomatis akan memiliki nasib sepertinya juga,' batin Chan sembari menghela nafas kasar sekali lagi. Dia menatap ke arah Zhu dengan malas.


"Ada apa Zhu?" tanya Chan dengan nada datar.


"Jia! aku tidak menyangka, sepertinya rumah kita satu arah ya, hehe!" ujar Zhu dengan cengiran di raut wajahnya. Alhasil mata Chan langsung membola, sebab kalau Zhu tahu dirinya tinggal satu rumah dengan Xiao bisa hancur semua rencananya.


"Be-benarkah?... lalu dimana rumahmu Zhu?" Chan bertanya dengan gelagat canggung.


"Udah dekat kok! tuh yang ada toko kelontong di depannya!" sahut Zhu santai.


Chan sekali lagi dibuat kaget dengan keberadaan rumah Zhu yang berseberangan dari rumahnya. Gadis itu menggigit bibir bawahnya, dia mencoba berpikir untuk selamat dari pergokan Zhu.


"Kenapa Jia? apa ada sesuatu yang mengganggumu?" Zhu mengernyitkan dahi.


"A-a-ah tidak kok!" respon Chan yang masih agak canggung.


"Kalau rumah kamu dimana?" Zhu menyamakan langkah dengan Chan.


"Masih lumayan jauh, nanti aku ajak kamu ke rumah ya..." ucap Chan seraya memberikan senyuman tipis.

__ADS_1


"Oh ya?... senangnya... hehe," raut wajah Zhu tampak mengukir senyuman lebar dan kembali melanjutkan, "ya sudah! aku duluan Jia! bye!" dia berhenti tepat di depan rumahnya, dan melambaikan tangan kepada Chan.


***


Bruk!


Chan menghempaskan badannya ke kasur. "Benar-benar sial! aku harus berjalan jauh sampai Zhu masuk ke rumahnya! arrgghhh! menyebalkan sekali!" geram Chan sambil mengacak-acak rambutnya dengan tangan.


Siang sudah berganti malam. Chan tidak sengaja terlelap dengan masih mengenakan seragam sekolahnya. Namun tiba-tiba sinar yang menyilaukan dari jendela membangunkannya dari tidur. Gadis tersebut bisa mendengar samar-samar suara Xiao dari luar.


Chan beranjak dari kasur dan segera menutup tirai jendela, lalu sedikit mengintip keluar. Pupil matanya membesar tatkala melihat Xiao, Shuwan dan gengnya bersama. Selain itu juga tampak Mei tengah melingkarkan tangannya ke lengan Xiao. Gadis berbadan kurus itu bersikap sangat manja kepada Xiao.


"Kenai! ikut lagi dong, masa mau pulang sekarang?" ujar Mei dengan nada manja, yang sontak membuat Chan langsung meringiskan wajahnya.


"Mei sudahlah! masih ada aku setelah ini!" Shuwan menyahut seraya menyisir rambut tipisnya dengan jari-jemari.


"Cih!" Mei merespon dengan memutar bola matanya malas.


"Mei, aku harus pulang! nanti ibuku marah!" imbuh Xiao sembari melepaskan paksa tangan Mei dari lengannya.


"Ya sudah! selamat beristirahat kawan! ayo kita pulang Shuwan!" seru Ling yang masih berada di dalam mobil sport Shuwan.


Bruk!


Chan menghempaskan kepalan tangannya ke atas nakas. Dia juga menggertakkan giginya, karena begitu kesal melihat perilaku Mei. Akhirnya gadis itu pun berhenti mengintip dan kembali merebahkan diri ke kasur.


Ceklek!


Tidak lama kemudian Xiao masuk, dia langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan. Karena tidak menemukan Chan di ruang tamu, Xiao pun memeriksa keberadaan gadis tersebut ke kamar. Benar saja, dirinya melihat Chan sedang terbaring santai di kasur.


"Chan! jam berapa kau pulang tadi?" Xiao berjalan mendekati Chan.


"Entahlah... yang jelas lebih cepat darimu..." jawab Chan dengan nada malas sambil memejamkan matanya.


"Ya sudah, sepertinya kau sedang lelah, kita bicarakan nanti saja!" kata Xiao seraya berbalik menuju ke arah pintu.

__ADS_1


"XIAO!" pekik Chan yang sudah merubah posisinya menjadi duduk. Sontak Xiao pun kembali menoleh ke arah Chan.


"Kenapa kau berteman juga dengan Mei? dia kan bukan target kita!" dahi Chan berkerut.


"Memang, tetapi Shuwan sangat menyukai gadis itu. Makanya dia selalu ikut kemana pun Shuwan pergi!" terang Xiao.


"Tapi sepertinya Mei menyukaimu... eh!" Chan langsung reflek menutup mulutnya, karena tanpa sadar dirinya membicarakan hal yang tidak seharusnya.


"Pffft... memangnya kenapa?" Xiao melangkahkan kaki untuk menghampiri Chan, lalu ikut duduk di kasur bersama gadis itu, dan dia kembali berkata, "aku tahu kau cemburu kan?"


"Hah? a-a-apaan sih!" Chan gelagapan, pandangannya meliar kemana-mana karena salah tingkah. Selanjutnya dia berusaha berdiri dari kasur, tetapi Xiao menarik lengannya lebih dulu. Alhasil Chan sekarang berada begitu dekat dengan Xiao. Keduanya saling bertukar pandang untuk sesaat.


Chan mencoba melepaskan cengkeraman Xiao di lengannya. Namun lelaki tersebut tampaknya tidak mau melepaskan. Jantung Chan mulai bergemuruh bagaikan gendang yang di tabu.


Deg! Deg! Deg!


Jantung Chan berpacu lebih cepat tatkala bibir Xiao sudah menempel di bibirnya. Mata Chan sontak membulat, tubuhnya membeku untuk sesaat.


"Sudah kuduga ini akan terjadi!" Viera tiba-tiba datang.


Bruk!


Chan mendorong Xiao terlalu keras, hingga membuat lelaki itu terjatuh dari kasur.


"Pffft... hahaha!" Viera tertawa geli melihat kejadian tersebut. Suara tawa hantu wanita itu melengking.


"CHAN!" geram Xiao yang tidak terima dirinya terjatuh dari kasur.


"Maaf Xiao, a-a-aku tidak sengaja..." sahut Chan sembari menggaruk bagian belakang kepalanya, lalu langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi. Gadis itu sudah begitu kebingungan.


"Chan, dia begitu lucu kan Xiao! pilihanku tidak salah waktu itu untuk menyuruhmu menyelamatkannya," imbuh Viera.


"Entahlah Viera, tetapi sepertinya kau tahu kalau Chan memang sudah menarik perhatianku sejak di sekolah dasar!" Xiao bangkit dari lantai lalu kembali duduk di kasur.


"Tentu aku tahu, kau menyimpan semua barang pemberian Chan di dalam kamarmu. Dan hanya pemberiannya!... sedangkan pemberian dari gadis lain kau buang di tong sampah!" timpal Viera yang sontak membuat Xiao terkekeh malu.

__ADS_1


Terlintas dalam bayangan Xiao tentang memori bersama Chan, ketika mereka masih berada di sekolah dasar hingga ke sekolah menengah pertama. Gadis tersebut selalu memberi hadiah istimewa untuk Xiao. Terutama saat di hari-hari spesialnya, sebab itulah Xiao memilih Chan sebagai tawanan pertamanya.


"Aku tidak menyangka, sekarang Chan benar-benar menjadi tawananku secara sukarela... pffft..." gumam Xiao, yang segera membuat Viera meringis jijik dan berucap, "Dasar! sepertinya jiwa psikopatmu masih belum hilang, kalau kau mencoba menyakiti Chan, aku tidak akan tinggal diam!"


__ADS_2