
Warning! episode ini mengandung gore, dan tidak untuk ditiru. Kepada anak di bawah umur dan yang merasa tidak nyaman dengan adegan darah-berdarah dilarang membaca!
...-----...
Jika kita berteman dengan orang baik, maka kita akan berperilaku baik pula. Bahkan sebaliknya.
***
Xiao baru masuk ke kamarnya, dia sejenak mengistirahatkan dirinya ke kasur.
"Xiao, aku ingin menagih janjimu!" ujar Devgan. Xiao lantas mengernyitkan dahi dan mencoba mengingat janjinya kepada Devgan. Benar saja, dia sudah berjanji akan memberikan energi untuk devilnya.
"Cepat Xiao! kau harus mencari mangsamu terlebih dahulu. Ayo kita keluar dari sini!" kata Devgan, yang sontak membuat Xiao kembali bangkit.
"Baiklah, aku akan mencoba!" ucap Xiao ragu.
"Aku yakin kau bisa, toh kau menyukai darah kan?" sahut Devgan dengan seringainya.
"Kapan aku bilang begitu?!" Xiao menatap sinis ke arah devilnya.
"Kau tidak perlu mengatakannya pun aku tahu!" balas Devgan. Xiao hanya memutar bola mata malas, lalu berjalan keluar kamar. Dia mencoba memperhatikan kamar Chan, berharap gadis itu tidak mengetahui kepergiannya. Setelahnya Xiao pun melangkah memasuki elevator.
Ada seorang wanita berumur tiga puluhan bersama Xiao di dalam lift. Dia mengenakan dress ketat berwarna biru. Lipstiknya merah menyala dengan rambut sebahu yang tergerai, Sepertinya wanita tersebut ingin pergi ke sebuah klub. Sesekali ia melirik ke arah Xiao yang sama sekali tak hirau.
"Xiao, bagaimana kalau dia saja?" bisik Devgan.
'Sangat berbahaya jika aku melakukannya di tempat seperti ini,' batin Xiao.
"Hei anak muda, apa kau mau ke klub juga?" akhirnya wanita itu buka suara.
"Apa klubnya dekat?" Xiao berbalik tanya.
"Sangat dekat!" sahut sang wanita dengan tatapan sensualnya. "Kita bisa pergi bersama!" lanjutnya.
'Sepertinya Devgan benar! dia mangsa yang tepat!' ucap Xiao dalam hati, kemudian langsung menyetujui ajakan wanita yang berdiri di sebelahnya. Wanita tersebut sontak menggandeng lengan Xiao, sesekali ia mencoba menyentuh pipi Xiao.
'Sialan! menjijikan!' batin Xiao, yang tak terima dirinya terus disentuh. Sekarang Xiao tengah menyusuri jalanan bersama sang wanita.
"Bagaimana kalau kita lewat gang ini saja, aku suka tempat sepi!" ajak si wanita ber-dress biru.
"Sepi? oh aku juga suka!" Xiao menyeringai.
"Haha! awal yang sangat mudah Xiao!" ucap Devgan dengan tawa senangnya. "Cepat! aku sudah tidak sabar!" tambahnya.
__ADS_1
Xiao dan sang wanita berjalan memasuki gang sepi. Ketika sudah menemukan tempat yang dirasa tepat, Xiao mendorong wanita di sampingnya ke dinding dan menyudutkannya.
"Ternyata kau juga sudah tidak sabar ya!" imbuh si wanita yang sudah ngos-ngosan.
"Iya. . ." sahut Xiao, lalu mendekati sang wanita. Perlahan tangannya mulai mengambil pisau lipat di saku celana. Tanpa ba bi bu, Xiao segera membidik perut wanita ber-dress biru. Mata wanita itu membulat sempurna kala pisau Xiao masuk ke dalam perutnya lebih dalam. "A-a-apa yang kau lakukan?" tanya-nya sembari menahan rasa sakit.
Dikarenakan merasa terancam, sang wanita segera memukul Xiao dengan tas kecilnya sekuat tenaga. Dia membuat Xiao menarik pisaunya kembali. Wanita itu berusaha berlari sambil memegangi perut yang sudah dipenuhi darah.
"Cuih!" Xiao meludah sejenak, dan sengaja membiarkan wanita ber-dress biru sedikit berlari. Selanjutnya Xiao melayangkan pisaunya ke leher sang wanita tanpa ampun.
Sreett!
Prat!
Cairan kental berwarna merah langsung merembes dari lehernya. Tubuh wanita tersebut bergetar hebat akibat banyaknya darah yang keluar. Dia pun terjatuh dan menjadi tidak sadarkan diri.
Xiao berdiri menatap tubuh si wanita yang sudah berlumuran darah. Dia memejamkan matanya sejenak dan merasakan kepuasan tersendiri dalam dirinya.
"Bagaimana? nikmat bukan? Xiao jika energiku bertambah maka energimu juga akan bertambah," ujar Devgan dengan nada pelan.
"Aku harus lakukan sesuatu terhadap mayat ini!" balas Xiao, lalu segera mengangkat tubuh wanita ber-dress biru yang sudah tak bernyawa. Dia menemukan rumah kosong yang tidak begitu jauh dan menyembunyikan mayatnya dengan rapih. Setelah membersihkan segalanya, dia pun kembali ke penginapan.
***
'Tidak! tidak! Tapi bagaimana kalau Xiao sedang melakukan sesuatu yang lebih buruk?' batin Chan yang semakin khawatir. Dia lantas bergegas menuju kamar Xiao.
Tok! Tok! Tok!
Chan mengetuk pintu dengan pelan. "Xiao? ini aku--"
Ceklek!
Xiao langsung membuka pintu kamar setelah mengenali suara Chan. Dia tersenyum lebar menyaksikan gadis yang tengah berdiri di depan pintunya tersebut.
"Chan, sudah ku-duga kau akan secepatnya mendatangiku!" ungkap Xiao.
"Xiao!" Chan memegangi kedua bahu Xiao. "Apa yang telah terjadi kepadamu?" tambahnya dengan tatapan nanar.
"Kau kenapa Chan? aku baik-baik saja! justru kau lah yang aneh!" timpal Xiao. Chan perlahan menundukkan kepala dan mencoba mengingat penyebab Xiao memiliki devil.
'Tunggu, bukankah alasan Xiao melakukan pembunuhan karena dia berusaha mencariku? apa dia melakukannya karena aku?' Chan melangkah mundur dari hadapan Xiao. Dia tidak bisa mengelak bahwa berubahnya perilaku Xiao disebabkan oleh dirinya sendiri.
"Chan?" panggil Xiao. Perlahan Chan kembali mendongakkan kepalanya, kali ini dia menatap dengan penuh tekad. Namun atensinya teralihkan dengan bercak darah yang ada di baju Xiao.
__ADS_1
"Xiao, lihat bajumu!" Chan menunjuk bercak darahnya.
"Aku akan jelaskan!" tepis Xiao dia menatap ke arah Chan. Namun gadis yang ditatapnya terlihat biasa saja, dan sama sekali tidak takut. Malah ada binar yang berbeda dari sorot matanya.
"Tidak! kau bisa jelaskan nanti. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu." Chan menjeda sejenak. "Xiao, aku baru menyadari sesuatu, hingga kesadaran itu membulatkan keinginanku yang sebenarnya. Jika mungkin kau menganggap keberadaanku bersamamu adalah ambigu, tetapi kali ini aku ingin menegaskan bahwa aku akan selalu mengikutimu. Kau tahu kan alasannya?" lanjut Chan dengan panjang lebar. Dia menampakkan raut wajah serius.
"Apa?" tanya Xiao yang tak kalah serius.
"Aku mencintaimu!" jawab Chan. Xiao menyunggingkan mulutnya ke kanan.
"Kau tidak perlu mengatakannya lewat mulutmu, toh aku sudah tahu sejak lama. Jadi, kau tidak akan memarahiku kan perihal bercak darah ini?"
"Tidak! kali ini aku akan mempercayaimu!" tegas Chan.
"Chan, apa Viera mengatakan sesuatu tentangku?" Xiao mendekatkan wajahnya kepada Chan.
"Apa? mengenai perubahanmu?" terka Chan, yang langsung mendapatkan gelengan kepala dari Xiao.
"Tidak! tetapi perihal bahwa aku juga mencintaimu!" ucap Xiao yang sedikit melangkah mundur, lalu membuka pintu kamarnya lebar-lebar. Seakan memberikan perintah untuk Chan agar segera masuk.
Chan yang masih tersenyum simpul akibat pernyataan yang dilontarkan Xiao lantas memasuki kamar lelaki di hadapannya.
"Chan!" panggil Viera dari belakang, dia berusaha mencegah. Alhasil Chan pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Viera berada.
"Vier, jangan ganggu kami untuk saat ini," ucap Chan yang kembali melanjutkan langkahnya.
"Dia benar!" tambah Xiao sambil menutup pintu kamar rapat-rapat.
***
Anming sedang berada di sekitaran lingkungan sepi kota Metropolis. Masih melakukan pencarian orang-orang Wong yang tiba-tiba menghilang. Kebetulan saat itu dia sedang sendirian di toilet umum nan sepi. Hingga seorang lelaki bertopeng di belakangnya menarik perhatiannya.
Lelaki bertopeng itu mengenakan jaket. Topeng yang dipakainya agak mirip dengan topeng spiderman di film, tetapi lebih menyeramkan. Dia sekarang berdiri di sebelah Anming, dan ikut mencuci tangannya yang tampak ditutupi dengan sarung tangan.
Anming yang menyaksikan hal aneh tersebut lantas tertawa kecil. Sang lelaki bertopeng yang merasa risih sontak menoleh ke arahnya.
"Apa?!" ujar Anming dengan angkuhnya.
Tak! Tak! Tak!
Anming berjalan dengan santainya. Tetapi si lelaki bertopeng tidak diam, dia segera melayangkan sapu tangan yang sudah di olesi obat bius ke mulut dan hidung Anming.
Sebelum tidak sadarkan diri, Anming sempat mendengar kalimat sang lelaki bertopeng yang berkata, "Aku akan membawamu ke neraka!"
__ADS_1