
Tidak ada yang namanya bebas syarat.
***
Xiao berlari menembus kabut dengan di ikuti Viera dari belakang. "Xiao, kau mau kemana? lebih baik kita rencanakan sesuatu!" tegur Viera yang terbang dari sisi kanan.
"Rencana?" Xiao menghentikan langkahnya.
"Kau seharusnya tidak boleh masuk ke sini sebelum menemukan senjata Jonas. Takutnya dirimu malah ikut-ikutan terjebak!" terang Viera.
"Ini sudah terlanjur, jika sudah di sini lebih baik mencari Chan terlebih dahulu!" balas Xiao dengan dahi yang berkerut.
"Lalu apa sekarang? kemana kita akan mencarinya? kita bahkan tidak tahu arah yang benar!" geram Viera. Dia sepertinya masih kesal dengan tindakan Xiao yang selalu sesuka hati.
Xiao berpikir sejenak, hingga terlintas sesosok hantu yang mungkin bisa membantu. "Tunggu, kita harus mencari hantu lelaki tua! kata Chan hantu itu selalu mengatakan hal yang benar!" ujarnya yang segera mengedarkan pandang ke sekitar, meskipun masih terdapat kabut yang menutupi penglihatannya.
"Kemana?" tanya Viera.
"Aku akan menggunakan instingku saja!" jawab Xiao seraya kembali melangkah dalam tempo cepat. Lantas Viera pun tidak punya pilihan lain selain mengikutinya.
Xiao berjalan sudah sangat lama, hingga membuat dirinya mengacak-acak rambut frustasi. "Ternyata dunia ini tidak semudah yang ku-duga," keluhnya sambil mengeluarkan nafas dari mulut. Alhasil dia kembali berjalan dengan pelan tak tentu arah. Hingga dari kejauhan Xiao bisa melihat hantu lelaki tua, namun wajahnya berbeda dengan yang dirinya temui sebelumnya.
Tidak ingin membuang waktu, Xiao pun bergegas menghampiri sang hantu lelaki tua. "Tuan? bolehkah aku bertanya?" imbuhnya yang langsung dijawab dengan senyuman khasnya, yaitu lengkungan mulut yang tersenyum hingga menyentuh kedua telinga.
"Apa kau ada melihat seorang gadis yang dibawa hantu pengejar akhir-akhir ini?" tanya Xiao serius.
Hantu lelaki tua itu pun menjawab dengan suara yang seakan berbisik, "Baa. . .nyaak. . ."
"Sepertinya kau harus menanyakan dengan lebih spesifik!" ungkap Viera.
"Aku tahu! jangan ganggu!" hardik Xiao yang sudah tidak sabaran. Alhasil Xiao pun merogoh saku celana, dan mengambil dompetnya. Dia memperlihatkan foto yang dia selipkan di antara uangnya yang tidak begitu banyak. Di dalam foto tersebut terdapat dirinya dan Chan saat masih SMP.
"Ini dia gadisnya, apa kau melihatnya?" tanya Xiao sembari menunjuk gambar Chan yang ada di foto.
Si hantu lelaki tua mengangguk pelan. "Da. . .nau. . ." ucapnya.
__ADS_1
"Apa kau tahu letak dimana danau-nya?"
"Sa. . .ngat. . . ja. . . uh. . ." tangan hantu lelaki tua menunjukkan arah. Xiao pun bergegas kembali melangkah. Namun segera dicegah oleh hantu lelaki tua. "Aku. . . bi. . .sa. . . mem. . .ban. . . tu. . ." ucapnya.
"Membantu apa?" Xiao mengernyitkan dahi. Si hantu lelaki tua kembali menunjukkan arah, tetapi ke tempat yang berbeda. Tepatnya ke sebuah rumah hitam yang berada tidak jauh dari keberadaan Xiao sekarang.
"Sumpah Viera, apa maksudnya? aku sudah lelah mendengar jawabannya yang lambat!" ungkap Xiao.
"Tadi bukannya kau tidak ingin diganggu ya?" sindir Viera menatap Xiao dengan sudut matanya.
"Ayolah Viera, kita tidak punya waktu untuk berdebat!" Xiao mendengus kasar.
"Oke, aku akan jelaskan. Di rumah yang dia tunjuk itu ada sesuatu yang bisa menolongmu. Tepatnya alat kendara yang mampu membawa kita sampai lebih cepat ke danau dimana Chan berada," jelas Viera santai.
"Ya sudah, terima kasih Kek!" ujar Xiao, yang langsung berjalan ke rumah berwarnakan hitam.
Di sisi lain Shuwan yang masih kesakitan segera dibawa ke rumah sakit. Polisi dan para medis berdatangan ke stasiun yang sudah menjadi tempat pembantaian.
Anming yang melihat keadaan tersebut dibuat semakin geram. Apalagi setelah mendengar keterlibatan keluarga Wong terhadap kerusuhan yang terjadi. Amarah mengharuskannya untuk mengerahkan semua bawahan dan orang yang dia kenal untuk beraksi.
"Biarkan saja mereka! yang paling penting kita harus segera menindak ulah keluarga Wong terhadap kota ini dan juga anakku!" kata Anming dengan menggertakkan gigi, lalu mengepalkan tangan karena saking geramnya.
Kereta di samping Anming mulai berjalan. Terdapat dua orang di dalamnya yang tidak lain adalah Brian dan Al.
"Kau yakin Xiao sudah berangkat ke Guanxi?" Al bertanya dengan raut wajah serius. Dia perlahan melepaskan wig penyamarannya.
"Yang jelas aku yakin kita akan bertemu dengannya di sana!" jawab Brian yakin sambil melepaskan kumis palsunya.
***
Di dimensi lain, Xiao sudah tiba di depan rumah yang ia tuju. Sebelum membuka pintu, lelaki itu mencoba mengintip terlebih dahulu melalui jendela. Dan kebetulan dirinya tidak melihat keberadaan siapapun di dalam rumah.
"Xiao, ternyata kau juga menyimpan foto Chan di dompetmu," goda Viera sambil menyunggingkan mulutnya ke kanan. Namun Xiao sama sekali tidak merespon, dan terdiam seribu bahasa.
Ceklek!
__ADS_1
Xiao membuka pintu, dan segera melangkah masuk. Rumah yang dia masuki hanya bersinarkan lampu pijar.
"Ngomong-ngomong kau tahu bentuk alat kendara yang kita cari?" tanya Xiao.
"Entahlah, aku tidak yakin. Yang pasti kendara itu hanya bisa dikemudikan oleh supir khusus," sahut Viera yang menyamakan terbangnya dengan langkah Xiao.
"Hah? maksudmu?" Xiao mengernyitkan dahi.
"Ada sopir khusus yang mengantarkan kita!" terang Viera singkat.
"Firasatku mulai tidak enak," keluh Xiao yang sesekali mengusap peluh yang menetes di pelipis.
"Yah, memang kau harus menyediakan imbalan jika ingin di antar. Hukum di sini hampir sama dengan dunia nyata!" imbuh Viera.
"Terserah, yang penting kita harus bergegas!" balas Xiao sambil mencelingak-celingukkan kepalanya.
Xiao dan Viera memeriksa setiap ruangan yang ada di rumah hitam. Hingga akhirnya Xiao tidak sengaja bertemu makhluk berkepala pelontos. Makhluk tersebut memiliki lidah seperti ular, yang juga terdapat sisik di beberapa bagian tubuhnya. Dan dia tidak memakai sehelai benang pun untuk menutupi tubuhnya.
"Ada yang bisa dibantu?" ucap makhluk itu dengan suara cemprengnya. Alhasil Xiao yang mendengarnya merasa begitu dibuat kaget.
"Ka-ka-kau tidak akan menyakitiku kan?" tanya Xiao seraya berusaha menjaga jarak.
Sang hantu bersisik menggeleng. "Semua makhluk di sini itu berbeda-beda. Ada yang langsung menyerang dan ada juga yang menyukai imbalan," tuturnya.
"Imbalan? apa maumu?" ketus Xiao.
"Tenanglah, lebih baik kau jelaskan lebih dahulu keperluanmu. Oh sebelumnya perkenalkan namaku Bork!" balas makhluk bersisik itu.
"Aku sedang mencari temanku. Dia dibawa oleh hantu pengejar ke sebuah danau!" terang Xiao.
"Hmmm. . ." Bork menggaruk dagunya sambil mencoba mengingat sesuatu. "Danau ya, satu-satunya hantu pengejar yang tinggal di danau adalah Sidra. . . " gumamnya dengan nada pelan, hingga terdengar begitu samar di telinga Xiao.
"Kau bilang apa?" Xiao mencoba memastikan.
"Aku mengetahui danau yang kau maksud." Bork terdiam sejenak dan menambahkan, "sekarang aku akan memberitahukan imbalan yang aku mau. Aku ingin sedikit darah darimu!" Bork meletakkan sebuah gelas di atas meja.
__ADS_1