Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 82 - Kematian Pak Lim


__ADS_3

Mengungkap rahasia yang tersembunyi itu sangatlah sulit.


***


"Apa maksudmu barang terkutuk?" Chan menatap serius Li-Jun.


"Entahlah, pokoknya orang yang pernah menjadi korbannya akan menemukan benda misterius lebih dahulu. Jujur, aku memang penasaran, tetapi aku tak mau mengambil resiko! hii!" Li-Jun menggidikkan bahunya.


"Sumpah, aku malah semakin penasaran. Bolehkah aku menengok ke gudang itu?"


"Tidak! jangan coba-coba!" tegas Li-Jun.


"Lalu bagaimana cara kita menghentikan kutukannya? bukankah gudangnya harus ditutup lagi?"


"Aku sebenarnya tidak begitu tahu, tetapi katanya semuanya akan berakhir dengan sendirinya jika sebuah tragedi besar telah terjadi."


"Apa kau tahu insiden yang telah terjadi sebelumnya?" Chan terus melayangkan pertanyaan.


"Insiden kebakaran dan bunuh diri masal. Pihak sekolah sangat menutupi kasusnya, terutama mengenai bunuh diri masal yang pernah terjadi di sini. Butuh waktu yang lama untuk memperbaiki reputasi sekolah ini. Dan sepertinya--"


Prang!


Terdengar suara pecahan kaca yang disebabkan oleh sebuah bola. Chan dan Li-Jun sontak menatap ke arah siswa yang telah membuat kerusakan tersebut. Dia adalah Xiao, lelaki yang berhasil membuat Chan reflek meringiskan wajah.


"Sepertinya Xiao tidak sengaja berbuat masalah!" celetuk Li-Jun. Namun sama sekali tidak mendapatkan sahutan dari Chan.


"Dia baru beberapa hari masuk sudah sangat populer. Tampan sih! aku saja mengakuinya. Ngomong-ngomong kau tidak tertarik?" ucap Li-Jun lagi sembari memandang ke arah Chan.


"Aku--"


"Aaaaaarkkhhh!!" suara pekikan seorang siswi berhasil menyebabkan Chan harus menjeda kalimatnya. Dia dan Li-Jun segera bangkit dari tempat duduk. Kemudian bergegas berlari menuju sumber suara. Sekarang mereka tahu alasan siswi tadi berteriak sangat histeris. Ternyata dia menjadi orang pertama yang menyaksikan mayat Pak Lim sedang tersangkut di tiang bendera.


Chan dibuat begitu kaget dengan penampakan mengenaskan itu. "A-a-apa ini tragedi besarnya?" tanya-nya kepada Li-Jun yang sedang berdiri di sebelahnya.

__ADS_1


"Setahuku, ini masih permulaan. . ." lirih Li-Jun yang sebenarnya merasa berat untuk mengungkapkan.


Ada satu hal yang membuat Chan bertanya-tanya. Yaitu mengenai keberadaan Xiao yang tak pernah terlihat sedikitpun ketika insiden buruk terjadi.


Chan mengedarkan pandangannya untuk mencoba menemukan Xiao. Kakinyanya sampai berjalan berputar tiga ratus enam puluh derajat. Hingga atensinya pun terhenti kepada seorang siswa yang sedang duduk sendirian dipinggir lapangan. Chan sangat tahu betul lelaki tersebut adalah Xiao.


'Apa aku harus bertanya?' pikir Chan. Tetapi dia segera lekas-lekas menggelengkan kepala untuk menyadarkan diri. 'Tidak! aku tidak bisa menyimpulkan begitu saja tanpa adanya bukti!' tambahnya, yang pada akhirnya membuang jauh-jauh rasa curiganya.


Hari itu, semua murid langsung disuruh pulang ke rumah masing-masing. Kecuali Chan, dia bermaksud menyelidiki apa yang telah terjadi kepada Pak Lim. Gadis tersebut tak mampu membendung rasa penasarannya. Dirinya berniat menemui hantu sekolah yang telah menjadi korban bunuh diri masal akibat kutukan gudang terlarang.


Chan berderap menuju aula terbengkalai yang dikabarkan sebagai tempat bekas terjadinya bunuh diri masal. Benar saja, Chan menyaksikan banyak hantu berseragam sekolah di lokasi tersebut.


Baru juga menjejakkan kaki di wilayah itu, Chan sudah mendapat sambutan. Seorang hantu terus mencoba mendekatinya. Tampilannya sangat mengenaskan, dengan kulit pucat dan darah yang berceceran dipergelangan tangannya. Hantu tersebut terus meminta bantuan Chan.


"Kumohon tolonglah! Aku ingin kau beritahukan sesuatu kepada ibuku. Jujur, aku tidak pernah berniat membunuh diriku sendiri. . . hi-hi-hiks! hi-hi-hiks!" ujar sang hantu dengan suara tangisan yang memekakkkan telinga.


"Tenanglah itu hal yang mudah untukku. Asal kau tidak menyebutkan permintaan yang aneh-aneh!" sahut Chan. "Tapi kalau kau mau bantuanku, kau harus memberitahuku perihal gudang terlarang!" lanjutnya lagi.


"Kenapa? apa se-berbahaya itu?"


"Benar! dia sangat berbahaya!" tegas sang hantu berseragam sekolah yakin. "Tetapi aku hanya bisa beritahukan kalau makhluk tersebut sekarang mengincar seseorang di sekolah ini!" tambahnya dengan keadaan mata menyalang serius.


"Siapa?"


"Kau bisa mencari tahu sendiri. Karena jika aku memberitahumu, maka aku akan di usir dari wilayah ini," terang hantu berseragam sekolah itu.


"Apa kau punya info lain. . . mmmm. . ." Chan berpikir sejenak sambil mengarahkan bola matanya ke kanan.


"Bagaimana dengan insiden guru Matematika tadi? apa kau tahu alasan dibalik kematiannya?" ucap Chan lagi, yang berhasil mengingat insiden Pak Lim beberapa jam yang lalu.


"Mungkin seperti kematianku dan teman-teman. Kami mendapatkan banyak bisikan sebelum memutuskan untuk mengakhiri hidup!" jawab si hantu berseragam sekolah. "Jadi, kau akan membantuku kan?"


"Tentu. Kau mau memberitahukan apa kepada ibumu?"

__ADS_1


"Aku ingin kau menuliskanku sebuah surat untuknya. Karena sebelum meninggal, aku tak sempat membuatnya!" hantu berseragam sekolah tersebut berterus terang. Chan yang mendengar lantas tersenyum, dia membantu dengan sepenuh hati.


Setelah selesai menuliskan surat, Chan pun bergegas keluar dari aula terbengkalai itu. Ketika dia menyusuri koridor sekolah, tiba-tiba saja Li-Jun muncul dari arah barat. Tepat dimana gudang terlarang berada.


'Tunggu, kenapa dia dari sana? bukankah dia yang melarangku ke sana?' batin Chan. Dia lekas-lekas berlari mengejar Li-Jun. Namun sebuah tangan menggenggam erat lengannya. Dia sontak berbalik untuk menengok orang di belakangnya. Dan penglihatannya langsung disambut dengan kehadiran Xiao.


"Kau mau apa lagi?!" Chan berusaha menjaga jarak dari Xiao.


"Bicara!" sahut Xiao singkat.


"Tentang?"


"Hubungan kita! apa benar alasan kau marah kepadaku karena--"


"Xiao! aku sedang tidak berminat membahas mengenai hubungan kita. Pokoknya aku tidak mau lagi terlibat dengan masalahmu!" tegas Chan.


Hati Xiao serasa dihujam pisau tatkala mendengar kalimat menusuk dari Chan. Xiao akhirnya mengalah dan melepaskan cengkeramannya. Chan pun segera kembali melanjutkan larinya, namun otaknya baru saja peka kalau Xiao masih berada di sekolah. Dia merasa aneh saja dengan keberadaan Xiao yang tak kunjung pulang. Padahal semua murid diharuskan kembali ke rumah masing-masing.


Chan berhenti dan kembali menatap ke arah Xiao. "Kau kenapa belum pulang?" tanya-nya memberanikan diri. Karena sepertinya Xiao sudah marah dengan kalimat yang di ucapkannya barusan.


"Bukannya kau juga belum pulang?!" sinis Xiao seraya melingus pergi melewati Chan.


Xiao sekarang berada di dalam mobilnya. Dia memandang ke arah Chan yang tengah mengobrol bersama Li-Jun.


"Apa kau ingin membunuhnya?" tanya Devgan.


"Dev, ngomong-ngomong aku sekarang melihat ada dua mata kecil di lehermu!" ujar Xiao yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Devgan.


"Aku mengakuinya sekarang, karena tanganku merasakan ada dua bulatan kecil di leher!" Devgan tampak memegangi area lehernya.


Lidah Xiao berdecak kesal lalu berucap, "Kau akan membuat masalah apa lagi Dev?! jujur saja, setelah ada kau di sampingku, aku semakin kesusahan mengendalikan diri!"


"Siapa bilang? aku hanya menyarankan yang terbaik dan memberikan energi untukmu!" tepis Devgan, yang berhasil membuat Xiao tak mampu menjawab, sebab memang benar adanya, kalau Xiao merasa lebih kuat ketika Devgan ada bersamanya.

__ADS_1


__ADS_2