
Sekeras apapun kehidupan, terkadang bisa tunduk dengan cinta.
***
Xiao kembali menemui Shuwan yang masih disekap dalam ruangan. Kali ini ia tampak membawa sebuah tas ditangannya. Sedangkan Shuwan terlihat sudah terkulai lemas di lantai.
"Kau. . . mau apa lagi. . . hah!" ujar Shuwan dengan suara seadanya.
"Aku punya hadiah kedua untukmu, dan kali ini lebih spesial dari sebelumnya." Xiao menjelaskan pelan.
"Dasar keparat! lebih baik langsung saja kau bunuh aku!" sahut Shuwan dengan nafas yang naik turun karena amarahnya.
"Cih! jangan harap aku akan membunuhmu semudah itu!" sahut Xiao sambil berseringai, lalu segera mengeluarkan isi dari tas yang dibawanya. Sekarang Shuwan dapat melihat dengan mata dan kepalanya sendiri kepala utuh Anming.
"Aaaarrgghh!! APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN! HAHH!!" Shuwan memekik penuh amarah. Dia berusaha melakukan serangan terhadap Xiao. Namun karena dijerat dengan rantai, ia tak mampu meraih keberadaan Xiao.
"Yang jelas bukan aku yang melakukannya!" ujar Xiao yang tampak tenang.
"Dasar pembohong!" Shuwan tak percaya, dia tetap bersikukuh mempercayai bahwa Xiao-lah yang telah membunuh ayahnya.
"Terserah kalau kau masih tidak percaya. Toh kau tidak bisa melakukan apapun dengan kondisi begitu. Menyedihkan!" cibir Xiao, kemudian segera berderap keluar ruangan. Dia sekarang berada di luar bangunan karena ingin menghirup udara segar. Di sana ia bertemu dengan Al yang kebetulan sedang merokok.
Xiao duduk di tempat yang tidak begitu jauh dari keberadaan Al. Hening terjadi beberapa saat. Setelahnya Al pun memulai pembicaraan, karena menyaksikan ekspresi Xiao terlihat berbeda.
"Kau mau?" Al menawarkan rokoknya. Namun ia malah mendapat tatapan sinis dari Xiao.
"Berhentilah menghisap benda itu!" Xiao menyarankan.
"Bwahaha! sejak kapan kau peduli?" remeh Al setelah tertawa untuk sesaat. Namun langsung direspon Xiao dengan tatapan malasnya.
"Bagaimana hubunganmu dan Chan sekarang?" tanya Al yang tiba-tiba serius.
"Semakin memburuk. Dia sepertinya sudah sangat membenciku!" jawab Xiao. Hingga membuat Al kembali tergelak.
"Mungkin cara pendekatanmu salah bodoh!" tukas Al, yang berhasil membuat raut wajah Xiao seketika berubah menjadi cemberut.
"Biar ku-tanya, apa kau sudah bicara baik-baik kepadanya?" lanjut Al lagi.
__ADS_1
"Hahh. . . " Xiao menghela nafas panjang sejenak. "Bukannya begitu, Chan sangat sulit diajak bicara. Jadi aku lakukan saja ke intinya!" jelasnya.
"Maksudnya?" Al mengernyitkan kening seraya mengeluarkan kepulan asap rokok dari mulutnya.
"Kau tahu-lah!" balas Xiao sembari mengalihkan pandangannya dari Al. Dia berharap Al paham dengan maksudnya.
"Maksudmu kau langsung main nyosor aja gitu?" tebak Al, yang sontak berhasil membuat Xiao merasa tertangkap basah dan membisu seketika.
"Sepertinya begitu! pfffft!" Al melakukan tatapan menyelidik ke arah Xiao.
"Lebih baik kau menyerah saja dengan Chan! kau sepertinya tidak bisa mendapatkannya kembali!" tiba-tiba Devgan ikut berpendapat. Tetapi Xiao tak menghiraukannya sama sekali.
"Xiao, bukan begitu caranya memperlakukan seorang gadis seperti Chan. Aku memang paham dengan kehidupan beringasmu itu, tetapi jika kau ingin mengambil hati Chan, kau harus membuatnya luluh." Al memberikan saran panjang lebar.
"Cih! apa-apaan. Chan saja menyukaiku cuman karena obsesinya!" balas Xiao yang yakin. Karena dia sudah mengetahui perihal cerita Chan yang suka mendatanginya ke rumah secara diam-diam.
"Benarkah?" Al mengerutkan dahi bingung. Xiao lantas menceritakan semuanya kepada gadis tersebut, mengenai bagaimana sikap Chan saat masih satu sekolah dengannya dahulu.
Sejak SD Chan sudah menetapkan diri menjadi salah satu penggemar berat Xiao, dan selalu memberikan hadiah hampir setiap hari. Ditambah setelah lulus dari SMP, Chan sering menatap Xiao diam-diam dari jauh. Dikarenakan ketika SMA, Chan dan Xiao tidak berada di sekolah yang sama.
Al melebarkan matanya, karena dia merasa ikut terkejut kala mendengarkan kebenaran tentang Chan.
"Sebenarnya sudah tiga kali dia melihatnya!" Xiao berterus terang.
"Sial! pantas saja! menyerah sajalah sudah. Kau sepertinya juga masih ingin banyak bermain dengan perempuan lain kan?" sinis Al.
"Entahlah, aku merasa tidak bersemangat ketika dengan perempuan lain selain Chan. Benar-benar aneh!"
"Bodoh! itu namanya cinta. Dasar psikopat!" timpal Al.
"Jangan menghinaku!" balas Xiao ketus.
"Kau mencintai Chan, tetapi karena kau seorang psikopat jadi caramu memperlakukannya salah! belajarlah kepada orang yang normal! pfffft!" Al kembali mengejek.
"Untuk apa aku belajar perihal itu! membuang waktuku saja. Lebih baik aku mencoba pacari gadis lain saja untuk membuat Chan cemburu buta!" sahut Xiao sambil beranjak pergi meninggalkan Al.
"Dasar kurang ajar kau Xiao!" sumpah Al. "Arrrghh! aku ingin sekali menghajarnya!" gerutu Al yang mulai merasa mengkhawatirkan Chan.
__ADS_1
'Aku jadi merasa kasihan dengan Chan. Apalagi dia sekarang sedang sendirian,' batin Al yang sekarang termenung sendirian. Selanjutnya ia pun segera bangkit dari tempat duduknya.
***
Keesokan harinya tepatnya di lingkungan sekolah. Sedang terdapat berita hangat mengenai terbukanya gudang terlarang. Semua orang mulai merasa agak takut, apalagi dengan sudah terjadinya insiden Pak Lim kemarin. Beberapa orang percaya, kalau akan terjadi lagi tragedi besar berikutnya.
Chan yang juga mendengar kabar tersebut ikut penasaran. Dia pun segera menemui Li-Jun agar bisa mendapatkan informasi lebih banyak. Sekarang dia dan Li-Jun sedang duduk berdua di kursi tribun. Kebetulan juga suasana di sana tengah sepi.
"Kau mau bicara perihal apa?" Li-Jun menatap serius. "Jangan bilang kau jatuh cinta kepadaku?" terkanya percaya diri.
"Apaan sih! aku cuman mau bertanya perihal gudang terlarang!" balas Chan tegas.
"Oh, bilang dong dari tadi. Bikin malu aja, terus kau mau menanyakan apa?"
"Sebenarnya apa yang ada di dalam gudang?" tanya Chan, yang langsung mendapat gelengan kepala dari Li-Jun.
"Tidak ada apapun!" ungkapnya. Alhasil Chan pun mengerutkan dahinya.
"Benarkah? tapi--"
"Tapi. . . di sana banyak barang kuno dan terkutuk. Dan," Li-Jun terdiam sejenak lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Chan. "Makhluk yang menjaga barang tersebut sangat berbahaya, makanya lebih baik menjauhi tempat itu saja!"
Tanpa diduga kegiatan yang dilakukan Chan dan Li-Jun tersebut terlihat oleh Xiao. Dia kebetulan sedang berlatih olahraga di lapangan. Xiao hanya memutar bola mata jengah, namun sebenarnya hatinya merasakan kesal yang teramat sangat.
Dug!
Xiao meluapkan amarahnya kepada bola di hadapannya. Dia menendang dengan kekuatan penuh.
Prang!
Bola yang ditendang Xiao berhasil memecahkan kaca dan menembus ruang guru.
"Xiao! apa yang kau lakukan!" protes salah satu teman Xiao.
"Ku-rasa kau akan mendapat masalah!" kata temannya yang lain lagi.
Bruk!
__ADS_1
"Aaaaaarkkhhhh!!!" tidak lama setelah kejadian Xiao, terdengarlah suara keributan lain. Tepatnya dari seorang siswi yang kebetulan menjadi orang pertama yang menyaksikan mayat Pak Lim.
Semua penghuni sekolah lantas berlarian untuk melihat penampakan itu. Termasuk Chan dan Li-Jun. Mereka bergegas masuk ke dalam kerumunan penonton. Tetapi tak perlu dari dekat untuk menyaksikan mayat Pak Lim. Karena jasad guru Matematika tersebut tersendat tiang yang menusuk tubuhnya. Pak Lim meninggal karena terjatuh dan tidak sengaja mengenai tiang bendera. Darahnya berceceran mengikuti gravitasi. Mulutnya menganga dengan keadaan mata yang masih terbelalak.