
Kita lihat rencana siapa yang lebih dahulu berhasil. Devgan atau James?
***
Seorang pria paruh baya membuka matanya lebar-lebar. Dia langsung mengubah posisinya menjadi duduk. Kemudian bergegas mengambil barang-barang pentingnya untuk dimasukkan ke dalam koper.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu membuat sang lelaki paruh baya menghentikan kegiatannya. Dia segera berderap untuk membuka pintu. Muncullah seorang wanita yang tidak lain adalah Eva.
"Kau mau kemana James?" tanya Eva saat melihat pakaian James tampak rapi. Seakan hendak pergi ke suatu tempat yang jauh.
"Anak itu Eva!" ujar James dengan tatapan getirnya.
"Ada apa dengannya? apa kau tidak bisa memperingatkannya lagi lewat mimpi?"
"Benar! ada sesuatu yang terus menghalangiku. Sekarang kita tidak punya pilihan lain selain menemuinya secara langsung!" jelas James dengan nada penuh penekanan.
"Berarti kau akan pergi ke Hongkong?" Eva memastikan. Hingga James menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Aku ikut!" ucap Eva lagi.
"Baiklah!" James langsung setuju.
"Tapi kita tidak tahu dimana tepatnya anak itu tinggal!" Eva meragu.
"Kau tidak usah mencemaskannya, karena aku punya cara sendiri untuk menemukannya." James meyakinkan. Selanjutnya dia dan Eva segera melakukan perjalanan. Jarak dari tempat tinggal mereka ke Hongkong sangatlah jauh. Mereka pasti akan melakukan perjalanan yang panjang.
Di sisi lain, Chan tengah menatap malas ke arah Xiao. Badannya benar-benar terasa pegal, akibat sudah beberapakali mendapat hempasan dari Fa. Sedangkan Xiao sudah terlihat mempersiapkan diri untuk menyerang.
"Kau sudah siap kan?" tanya Xiao, yang dilanjutkan dengan menghampiri Chan, lalu membanting tubuhnya ke matras.
Chan tidak melakukan perlawanan sedikitpun seolah sengaja mengalah. Gadis itu dalam keadaan terbaring di atas matras. Dia memegangi area perutnya dan menunjukkan ekspresi sedang kesakitan.
"Ugh! sakit sekali," keluh Chan. Kemudian menatap tajam ke arah Xiao. "Kau keterlaluan! kenapa kau memaksaku untuk bertarung?!" geramnya.
__ADS_1
"Aku hanya ingin melihat keahlianmu!" terang Xiao seraya mengangkat bahunya sekali.
"Oke kalau itu maumu!" Chan pun berdiri, kemudian berlari untuk menyerang Xiao. Pertama-tama dia melayangkan pukulan lutut beberapa kali, dan melanjutkan dengan cara menjambak rambut Xiao sekuat tenaga.
"Aaaa!. . . Chan! aku tidak yakin kalau ini adalah salah satu jurus karate?" protes Xiao yang merasa agak kesakitan dengan perlakuan Chan.
"Aku tidak peduli! bukankah kau ingin aku mengalahkanmu?!" sahut Chan yang masih saja belum berhenti menarik ribuan helai rambut Xiao. "Sumpah aku kesal sekali sekarang padamu!" tambahnya seraya menggertakkan gigi kesal.
"Kenapa kau tidak membalasnya Xiao! bukankah itu sangat mudah?!" ujar Devgan yang merasa heran. Xiao lantas memegangi kedua tangan Chan. Lalu menguncinya ke belakang badan gadis tersebut.
"Aduh!!" Chan merasa tangannya dipegangi terlalu kuat, hingga raut wajahnya kembali meringis. Dia mendadak menangis, dan membuat Xiao mulai sedikit khawatir.
"Sakit. . . hiks! hiks!" rengek Chan yang tengah berusaha mengeluarkan air matanya.
"Sejak kapan kau menjadi cengeng begini?" Xiao mengernyitkan kening, tanpa sengaja ia lengah dan melonggarkan pegangannya. Saat itulah Chan berbalik dan menendang betis Xiao. Dia berhasil membuat lawannya tumbang.
Xiao terjatuh ke matras. Namun ia malah tersenyum puas tatkala Chan melakukan perlawanan terhadapnya. Dia sekarang berusaha untuk bangkit, akan tetapi Chan menahannya dengan cara meletakkan sebelah kakinya ke dada Xiao.
"Diamlah!" titah Chan sembari mengenakan pakaian atasannya. Xiao mengalah dan diam diposisinya. Pandangannya hanya tertuju kepada gadis yang ada di hadapannya.
"Melakukan apa?!" geram Chan.
"Jangan berlagak tidak mengerti!" balas Xiao, yang hanya direspon Chan dengan putaran bola mata malasnya.
"Apa aku mengganggu?" Brian tiba-tiba muncul dari balik pintu. Di belakangnya terlihat Al yang merasa enggan untuk masuk. Atensi Xiao dan Chan sontak teralih ke arah pintu.
"Tentu saja Bri, lebih baik nanti saja!" Al mengusulkan. "Lihat saja mereka, sepertinya sedang sibuk bemesraan!" sambungnya sembari mencoba menyeret Brian untuk ikut keluar.
"Al, jangan berlebihan. Kami hanya sedang berlatih bela diri!" jelas Chan sembari mengangkat kakinya, hingga Xiao dapat berdiri kembali.
"Chan benar, dasar otak mesum!" cerca Xiao kepada Al.
"Apa kau bilang?!" respon Al dengan tatapan tajamnya ke arah Xiao. Namun dia langsung mengalihkan pandangannya akibat tidak fokus dengan tampilan Xiao yang sekarang bertelanjang dada.
"Kau kenapa?" tanya Brian yang terheran dengan gelagat Al.
__ADS_1
"Tidak apa-apa!" sahut Al dengan nada tingginya.
"Kalian memangnya mau mengatakan apa?" tanya Chan yang terlihat sudah mengenakan pakaian lengkapnya.
"Aku hanya ingin memberitahukan Xiao, agar tidak berurusan dengan makhluk kutukan yang ada di sekolah itu," Al menatap ke arah Xiao yang tengah mengenakan pakaiannya kembali.
"Kau tidak ada berhubungan sedikit pun dengan makhluk itu kan?" tanya Brian.
"Aku sarankan jangan beritahukan mereka yang sebenarnya Xiao, jika kau ingin belati glorix itu berfungsi!" ujar Devgan memperingatkan tuannya. Xiao melirik ke arah Devgan selintas, kemudian mengalihkan fokusnya ke arah Brian dan Al yang sedang berdiri bersebelahan.
"Memangnya kenapa?" tanya Xiao serius.
"Aku memang tidak tahu alasannya. Tetapi aku mendapatkan informasi dari buku yang kubaca bahwa makhluk kutukan sangatlah berbahaya!" jelas Al yang terlihat begitu yakin.
Xiao tampak datar saja dan berkata, "Kalian tenang saja, aku bisa mengurus diriku sendiri." Dia kemudian berlalu pergi begitu saja.
"Tenang saja Al, toh sebentar lagi ujian. Aku dan Xiao tidak akan mendatangi sekolah itu lagi!" ucap Chan. Al pun mengangguk pelan karena mempercayai perkataannya.
"Ngomong-ngomong, berapa hari lagi ujiannya akan dilaksanakan?" tanya Brian penasaran.
"Sekitar satu minggu lagi," jawab Chan, yang tiba-tiba menepuk jidatnya sendiri. "Aku belum belajar sedikitpun!" keluhnya.
"Ah! untuk apa belajar, aku yakin sekolahnya pasti akan ditutup karena banyak terjadi insiden buruk. Lagi pula kenapa kau tiba-tiba sangat peduli dengan sekolah. Hal seperti itu tidak penting untukmu!" tukas Brian, dia langsung mendapat pukulan di kepala dari Al.
"Tentu saja penting!" tegas Al.
"Aku hanya berusaha memanfaatkan waktuku," ungkap Chan yang perlahan menndukkan kepala. "Awalnya tujuanku kembali bersekolah adalah agar bisa mendapatkan hidup yang normal. Tetapi. . ." lanjutnya yang tak kuasa menyelesaikan kalimat akhirnya.
"Tapi Xiao datang!" tebak Al, yang langsung mendapat anggukan dari Chan.
"Kau harus tahu Chan, kalau Xiao tidak akan bersekolah di tempatmu, jika Al tidak memberitahu!" ucap Brian. Sekali lagi dia mendapat pukulan dari Al.
"Diamlah!" geram Al kepada Brian.
Chan yang melihat hanya tertawa kecil. Dia sebenarnya sudah tahu sejak lama mengenai keterlibatan Brian dan Al, kalau mereka adalah orang yang berusaha membuatnya berbaikan lagi dengan Xiao.
__ADS_1