Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 74 - Merindukan Chan


__ADS_3

Rindu itu selalu datang di waktu yang tak menentu.


***


Chan dan Al tiba di rumah barunya. Tiba-tiba saja ada seorang wanita misterius yang datang menghampiri mereka. Mata Chan membulat sempurna kala menyaksikan wajah wanita itu.


"Apa kau mengenalnya?" Al berbisik ke telinga Chan. Namun gadis berambut hitam tersebut hanya membisu, seolah merasa sangat terkejut dengan kehadiran wanita yang telah berdiri di hadapannya. Dialah Nuan, yang merupakan ibu kandung Chan.


"Kata pemilik rumah ini, ada penghuni baru. Jadi aku datang ke sini untuk sekedar menyapa, dan kebetulan aku membuat dimsum," ucap Nuan lembut sembari menyodorkan hidangan yang sedari tadi dibawanya.


Chan langsung merengut, jujur saja dia sangat membenci Nuan. Dikarenakan sudah menelantarkan dirinya selama bertahun-tahun.


'Aku benar-benar tidak habis pikir! kenapa dia muncul! aku yakin pasti dia punya alasan. Mustahil wanita itu kembali tanpa adanya sesuatu yang dia inginkan dariku!' pikir Chan, dia segera beranjak pergi memasuki rumah tanpa menghiraukan sama sekali sapaan ramah Nuan.


Berbeda dengan Chan, Al malah tersenyum ramah kepada Nuan. Toh dia merasa tidak nyaman jika menolak niat baik wanita tersebut.


"Terima kasih!" ujar Al sembari menerima dimsum yang diberikan Nuan.


"Apa kau teman dekatnya Chan?" tanya Nuan.


"Begitulah." Al menjawab enggan. "Kau mengenal Chan?" lanjutnya dengan tatapan penuh tanya.


"Iya, tetapi kami sudah lama tidak bertemu, jadi..." Nuan tidak menjelaskan kalimat akhirnya. Tetapi Al paham apa maksudnya, dia sekarang mengerti kenapa Chan berlalu pergi begitu saja.


"Ya sudah, sampai jumpa lagi. Kalau punya waktu mampirlah ke rumahku!" ungkap Nuan sambil menunjuk ke arah rumahnya yang berada tepat di sebelah tempat tinggal Chan dan Al.


"Iya, terima kasih!" balas Al yang tengah memaksakan dirinya tersenyum. Dia pun segera berderap memasuki rumah dan menemui Chan.


"Kau sepertinya benar-benar mengenalnya. Kenapa kau terlihat marah begitu?" Al langsung melayangkan pertanyaan ketika dirinya sudah tiba di depan pintu kamar Chan.


"Dia adalah ibuku." Chan menjawab singkat dan berhasil membuat mata Al membola.


"Benarkah? pantas saja wajahnya agak mirip denganmu." Al memperhatikan raut wajah Chan yang masih saja cemberut.


"Berapa lama dia pergi meninggalkanmu?" Al kembali bertanya.


"Sejak aku berada di sekolah dasar. Ironis bukan? aku harus menjalani keseharianku sendirian di usia semuda itu." Chan mendudukkan dirinya ke atas kasur sambil menghela nafas panjangnya. Gadis itu memainkan jari-jemarinya tanpa alasan.


Al segera duduk di samping Chan dan berkata, "Kau hebat Chan, bisa melewati semuanya sampai berada di titik ini! kau memang gadis yang tangguh!"


"Terima kasih, sekarang aku mau mandi dahulu!" Chan segera berdiri dan mengambil handuknya.


"Ngomong-ngomong kau terlihat tidak sedih sama sekali, setelah berhasil bertemu dengan ibumu," celetuk Al, yang sontak menyebabkan langkah kaki Chan terhenti.

__ADS_1


"Itu karena aku sudah menganggapnya sebagai orang asing!" sahut Chan, lalu kembali melanjutkan pergerakan kakinya menuju kamar mandi.


Al memanfaatkan waktu sendirinya untuk menggunakan telepon. Namun entah kenapa benda-benda di sekitarnya berjatuhan dengan sendirinya.


Al sempat bingung, tetapi ia akhirnya ingat mengenai hantu yang digunakan Chan untuk memata-matainya.


"Siapapun dirimu, aku tahu kau di sini. Bagaimana kalau aku memberikan sesajen yang lebih banyak dari Chan? kau tidak akan mengadukanku kan?" tawar Al. Dia tak mampu melihat wujud Zhua. Hantu wanita itu sebenarnya sedang berada tepat di sampingnya.


Zhua tampak berpikir, dia sebenarnya merasa tertarik dengan tawaran Al. Akhirnya hantu tersebut berbisik ke telinga Al dan berucap, "Kau akan memberikan seberapa banyak?"


Bulu kuduk Al langsung meremang. Matanya relfek terbelalak, namun dia sudah terbiasa dengan hal itu.


"Katakan, berapa banyak yang kau inginkan?" tanya Al seraya meliarkan bola matanya kemana-mana.


"Aku ingin setiap hari..." bisik Zhua dengan suara yang sekali lagi membuat sekujur tubuh Al merinding.


Al menghela nafasnya, dia merasa persyaratan hantu wanita tersebut terlalu berlebihan. Namun terlintas dalam pikirannya, kalau dia tidak akan benar-benar melakukannya.


'Oke, aku akan melakukan syaratnya. Tetapi hanya sekitar seminggu saja. Setelah itu, aku tidak peduli lagi dengan apa yang dilakukan Chan terhadapku!' gumam Al dalam hati.


"Baiklah! aku akan melakukannya!" ucap Al yang terdiam dalam beberapa detik. "Apa sekarang aku boleh menelepon?" tanya-nya yang merasa tidak sabar.


"Silahkan, asal setelah ini kau harus langsung memberikanku sesajennya!" Zhua kembali bersuara di telinga Al.


"Halo?" Brian bersuara dari seberang telepon.


"Bri! ini aku Al!" balas Al.


"Al! kau! kenapa baru menghubungi sekarang? hah?!" timpal Brian.


"Aku akan menjelaskannya nanti, yang terpenting aku akan memberitahumu dimana lokasi kami. Sekarang kami berada di gang X, tepatnya di bagian utara kota Metropolis!"


"Tapi--"


Brian menjeda kalimatnya karena Al sudah mematikan panggilan secara sepihak. Hal tersebut dikarenakan Chan sudah keluar dari kamar mandi. Al pun bergegas duduk di sofa, seolah tidak ada yang terjadi.


***


Xiao telah tiba di markasnya, setelah memastikan Shuwan dikurung dalam ruangan, barulah dia bisa tenang untuk beristirahat.


Ketika Xiao hendak masuk ke kamarnya, Mei mendadak muncul dan menghentikan pergerakannya.


"Kau mau apa?" tanya Xiao ketus.

__ADS_1


"Ya beristirahat bersamamu lah!" Mei menggandeng lengan Xiao. Dia bertingkah sangat manja dan senyum-senyum sendiri. Xiao yang merasa geram sontak menggertakkan gigi, dia segera mendorong kepala Mei dengan paksa. Hingga membuat gadis tersebut hampir saja terjerembab ke lantai.


"Aku memang menerimamu, tetapi bukan berarti menjadikanmu tuan putri. Sialan!" gerutu Xiao, dia langsung masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu.


Bruk!


Xiao menghempaskan tubuhnya ke kasur. Tangannya tampak direntangkan dan berhasil memenuhi seluruh wilayah ranjangnya.


"Aku jadi merindukan Chan. Dia memang menyukaiku, tetapi dia tidak pernah bertindak seperti gadis murahan. Itulah yang aku suka darinya... ugh! aku rindu berciuman dengannya!" Xiao bergumam sambil memegangi area jidatnya.


"Kau ternyata tipe lelaki yang setia ya, berhati-hatilah! itu bisa membuatmu lemah!" Devgan berkomentar.


"Aku tidak bermaksud setia, hanya saja Chan membuat jantungku berdebar sangat antusias. Dan aku sangat menyukai perasaan itu."


"Ya sudah! ayo kita temui dia!" usul Devgan, dan sontak membuat Xiao mengubah posisinya menjadi duduk.


"Kau benar-benar aneh Dev! kenapa kau malah ingin Chan dekat denganku? apa kau sedang merencanakan sesuatu?!" Xiao melayangkan tatapan serius.


"Tidak ada. Kali ini aku ingin membuat Tuanku bahagia, dan gadis itulah yang mampu melakukannya!" sahut Devgan sambil menyentuh area lehernya. "Aku merasa ada sesuatu di leherku. Bisakah kau memeriksanya?" sambungnya yang tidak sengaja mengubah topik pembicaraan. Dia sekarang mendekatkan diri kepada Xiao.


"Apa ada sesuatu?" tanya Devgan selagi Xiao sibuk memeriksa bagian lehernya.


"Apa aku salah lihat?" Xiao terlihat mengerjap-ngerjapkan matanya untuk memastikan apa yang sedang dilihatnya.


"Apa?!" Devgan semakin penasaran.


"Ada sebuah mata kecil di lehermu!" Xiao memberitahu.


"Jangan bercanda!!" Devgan tidak ingin mempercayai.


Xiao mendengus kesal. "Untuk apa aku membohongimu!!" balasnya dengan nada penuh penekanan lalu kembali merebahkan diri ke kasur.


Benar saja, terdapat sebuah mata kecil yang tumbuh di leher Devgan. Tetapi Devgan sama sekali tak mampu menyaksikannya sendiri, dia masih bersikukuh tidak ingin mempercayainya.


...-----...


●Epilog Spesial Bab 74


[Flashback On]



[Flashback Off]

__ADS_1


__ADS_2